Sometimes we have to carefuly choose the right word to tell the truth because not everyone deserves it.
I'd rather be in outer space 🛸
hello vonnie
almost home
Mike Driver
macklin celebrini has autism

JBB: An Artblog!
RMH
wallacepolsom

ellievsbear
todays bird
Cosmic Funnies

JVL
occasionally subtle
NASA
Game of Thrones Daily
Stranger Things
sheepfilms
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Love Begins
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Philippines
@autumnowll
Sometimes we have to carefuly choose the right word to tell the truth because not everyone deserves it.
Tulisan: Mereka yang Mendahului Takdirnya
“Tingkat akhir dari usaha hati seseorang adalah saat ia lebih dulu ikhlas, menerima dan menyerahkan semua keputusan kepada-Nya, jauh sebelum Allah memberikan jawaban dan takdir akhir untuknya. Jawaban iya atau tidak bukanlah hal yang penting baginya, sebab yang ia cari adalah keberkahan”
“Bukankah hidup tanpa keberkahan itu seakan manusia yang berjalan tanpa hati? Ia tidak bisa membedakan mana yang baik dan benar. Bukankah hidup tanpa keberkahan itu seperti manusia yang berjalan tanpa jiwa? Raganya menikmati tapi ruhnya mati.”
Bukan ia ragu pada usahanya, bukan pula ia berlepas diri dari mengencangkan ikhtiar dunia, tapi ia sadar bahwa tidak mungkin memasuki urusan yang bukan wilayahnya. Ia jauh lebih dulu berprasangka baik sebelum niat di hatinya berbuah menjadi perbuatan.
Tidak banyak orang sepertinya, karena hari ini kebanyakan kita tidaklah siap dan mau menerima hasil akhir dari apa yang kita usahakan bertahun-tahun lamanya. Kita lupa soal pemegang hasil akhir adalah Dia, bukan tangan dan relasi manusia.
Melangitkan rasa dengan doa. Iya, untuk kebaikan bersama, aku dan kamu.
@jndmmsyhd
"Salah satu bentuk penerimaan terbaik adalah dengan menerima bahwa kita tidak mungkin bisa memiliki segalanya."
Adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya, dalam konteks pribadi ini juga berarti menempatkan solusi yang tepat ketika kita mempunyai masalah.
Perasaan adalah hal gaib yang seringkali tak bisa dijelaskan dengan logika, maka solusinya pun haruslah melibatkan sesuatu yang gaib pula. Jika kemudian ada masalah dengan hati dan perasaanmu, cobalah menepi sejenak dari hiruk-pikuk duniawi yang cenderung melalaikan, tenangkan dirimu, dan dengan pikiran yang tenang itu tanyakanlah pada hatimu siapakah/apakah sesuatu yang menjadi nomor satu disana? Apakah itu harta atau angan-angan hidup nyaman? Apakah itu jabatan, popularitas, atau bahkan keinginan untuk dihormati orang? Ataukah itu seseorang yang begitu kau dambakan sehingga kau rela mengorbankan apapun untuk memperjuangkan dirinya?
Sahabat, sebelum engkau jatuh lebih jauh ingatlah kembali bahwa ada ikrar suci yang kita ungkapkan, yang mengikat kita dengan suatu amanah yang akan dipertanggungjawabkan dalam kehidupan setelah kematian. Ikrar yang menyatakan bahwa tidak ada satu pun yang berhak diprioritaskan kecuali satu, yang menyatakan tidak ada apapun yang berhak menjadi tujuan kecuali satu, yang menyatakan bahwa tidak ada contoh yang lebih baik kecuali satu.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Asyhadu alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah. Aku bersaksi bahwa tiada Illah (Tuhan) selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW. adalah utusan Allah.
Oleh karena itu, pastikan lagi bahwa dalam hatimu tidak ada Illah selain Allah. Tidak ada sesuatu pun yang engkau kejar kecuali keridhoan-Nya. Tak ada sesuatu yang berhak diprioritaskan melebihi Dia. Sesungguhnya harta yang bertumpuk akan sirna, kecantikan akan semakin pudar digerus masa, tahta dan jabatan tak ada yang selamanya jaya, keluarga, pasangan, dan sahabat pun juga punya batas usia. Justru jadikanlah hartamu, tahtamu, pasanganmu, fisikmu sebagai jalan untuk mendapatkan keridhoan darinya.
Tidak ada yang ekspektasi berlebihan yang engkau gantungkan melebihi keyakinanmu pada-Nya. Sungguh sepahit-pahitnya hal adalah berharap kepada manusia. Bagaimana mungkin engkau bisa mengharapkan kepastian dari insan yang bahkan tidak bisa memastikan bagaimana nasibnya pada dua menit kedepan? Maka sudah seharusnya kita hanya berharap kepada-Nya karena hanya Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, hanya ditangan-Nya lah terdapat kebenaran yang hakiki.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Iyyaka na'budu wa iyyaka nastaiinu (Q.S. 1 :5) Hanya kepada-Mu lah aku mengabdi, dan hanya kepada-Mu lah aku memohon pertolongan
Bismillah. Semoga engkau bisa istiqomah.
Berpikir dari yang Besar, Memulai dari yang Kecil
Perlu kita yakini terlebih dahulu kalau tidak akan ada hal besar yang terjadi di dunia ini tanpa di dahului oleh hal-hal kecil. Sebuah perusahaan raksasa yang eksis saat ini dimulai usaha kecil-kecilan yang dijalankan dengan konsisten. Pada hierarki pengendalian bahaya, kita dapat melihat bahwa sebuah insiden kecelakaan kerja pasti merupakan dampak atas kondisi atau aktivitas berbahaya yang dibiarkan hanya karena saat itu masih selamat. Pun sama halnya dengan ideologi atau tujuan.
"Think global, act local"
Dalam memperjuangkan sebuah tujuan bolehlah kita berandai-andai membayangkan hasil akhir yang akan terwujud seandainya tujuan itu tercapai, namun hal tersebut perlu juga diimbangi dengan tindakan aktual untuk mewujudkannya.
Secara kasat mata seringkali tindakan-tindakan tersebut memang seolah tak terlihat berkorelasi dengan tujuan yang ingin dicapai. Kembali pada contoh perjalanan Bandung-Jakarta, bila realitanya kita tidak memiliki uang untuk membayar transportasi atau untuk servis kendaraan, maka perlu untuk mencari uang terlebih dahulu, bisa dengan bekerja, berjualan, berbisnis, dsb. Ketika bekerja ia lapar, maka ia akan makan. Ketika bekerja ia haus, maka ia akan minum. Ketika bekerja ia lelah, maka ia akan beristirahat.
Dengan perumpamaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tindakan aktual untuk mewujudkan tujuan sampai di Jakarta tidak hanya terbatas sekadar perjalanan Bandung-Jakarta saja, tapi sekecil aktivitas seperti makan, minum, istirahat, bekerja, berbisnis, dan berjualan pun juga merupakan bentuk keseriusan kita dalam mengusahakan tujuan tersebut.
Berproses Secara Utuh
Begitu banyak orang diluar sana yang sangat antusias ketika berdiskusi mengenai sebuah tujuan (termasuk saya). Banyak ide-ide yang terlontar dalam sebuah diskusi tentang bagaimana seharusnya sebuah komunitas yang sehat dibangun, bagaimana bisnis seharusnya dijalankan, bagaimana masalah-masalah sosial masyarakat harus diselesaikan.
Namun betapa sedikit orang-orang yang memilih untuk bergerak mencapai hal tersebut, jauh lebih sedikit lagi mereka yang konsisten dalam jalan juangnya tersebut.
Sejenak kita membahas mengenai konsep "Golden Circle" milik Simon Sinek. Semakin dekat dengan inti, maka pembahasan akan menjadi semakin konseptual, sebaliknya semakin luar maka akan menjadi semakin teknis.
Lingkaran paling dalam bicara mengenai "Why" yang merupakan tujuan atau fundamental dari aktivitas seseorang. "How" membahas mengenai prosedur atau langkah-langkah supaya tujuan itu bisa tercapai, dan "What" lebih menjelaskan teknis pelaksanaan prosedur tersebut.
Seringkali orang-orang loncat ke area how bahkan langsung ke what tanpa mendalami terlebih dahulu why-nya sehingga sebuah aktivitas berjalan tanpa ada jiwa didalamnya, luntang-lantung tanpa arah. Biasanya hal tersebut terjadi karena sesuatu telah menjadi budaya atau kebiasaan pada komunitas tersebut. Sementara itu bagi sebagian kalangan terdidik bicara mengenai hal-hal konseptual dan fundamental di area "Why" terdengar lebih seksi daripada mengerjakan perintilan-perintilan teknis yang lebih dekat dengan lingkar "What".
Perlu diluruskan kembali bahwa golden circle tersebut merupakan lingkaran yang utuh dan karenanya satu bagian tidak lantas menjadi lebih eksklusif dibandingkan bagian yang lain. Why, How, What sama pentingnya sehingga bila kita kehilangan salah satu komponen tersebut tidaklah akan terbentuk lingkaran yang utuh.
Kembali pada perumpamaan perjalanan Bandung-Jakarta, bolehlah kita mencari tahu mengenai alasan atau urgensi pergi ke Jakarta karena misal di Jakarta akses lebih mudah, gaji lebih tinggi, tinggal lebih nyaman, dsb. Namun perlu juga kita mempersiapkan keberangkatan, membeli tiket kendaraan, menyiapkan bekal, packing pakaian, menyewa kosan, apartemen, atau hotel, dsb.
Alih-alih biasanya dialokasikan untuk main badminton, minggu lalu ada sebuah agenda yang tidak biasa. Diskusi minggu malam tersebut lagi-lagi kembali memberikan sebuah tamparan terhadap diriku sendiri.
Hasil diskusi tersebut akan kubuat menjadi beberapa seri tulisan.
Ideologi dan Realita
Dalam menjalani hidup seseorang haruslah mempunyai sesuatu yang benar-benar ingin dia capai, sesuatu yang menjadi landasan sehingga setiap aktivitasnya, waktunya, dan resource yang dia miliki dicurahkan untuk mencapai tujuan tersebut, sesuatu yang menjadi bahan bakar dikala ia bersemangat dan menjadi alasan untuk bangkit dikala ia sedang terpuruk. Sesuatu itu bolehlah kita sebut sebagai ideologi atau tujuan.
Namun pemahaman tentang sebuah ideologi haruslah dibarengi dengan kemampuan untuk membaca realita, bagaimana sebenarnya kondisi aktual sekarang dan bagaimana kita bisa mencapai tujuan tersebut.
Misalkan tujuan seseorang adalah ingin pergi dari Bandung ke Jakarta, tentulah ia harus menyadari bahwa ada jarak yang harus ditempuh untuk mencapai Jakarta sehingga ia perlu mempersiapkan kendaraan menuju kesana. Dengan melalui jalur darat tentulah kereta menjadi pilihan terbaik, seandainya ada masalah pada jalur kereta maka gunakanlah mobil, bila mobil tidak ada maka gunakanlah motor, kalau motor pun tak punya maka tempuhlah dengan jalan kaki, apabila tak mampu berjalan maka merangkaklah sekalian.
Maka kuat-tidaknya sebuah ideologi tertancap pada seseorang hendaknya dapat terlihat dari bagaimana ia mengusahakan tercapainya ideologi tak peduli sepelik apa realita saat ini.
Untukmu yang Merasa Jalan di Tempat dan Tertinggal di Belakang
Orang-orang yang dulu di belakang, sekarang ada yang udah satu perhentian bareng kita, ada juga yang udah jauh di depan.
Ini bukan cuma soal siapa yang start duluan. Ini soal kecepatan.
Percuma kalau start duluan, di tengah jalan hilang arah karena ngerasa di atas angin jadi leha-leha. Banyak istirahat, alasannya buat self reward.
Sementara ada orang lain, start belakangan, kendaraannya gak bagus-bagus amat, tapi konsisten, gak istirahat kecuali kalau bener-bener capek. Dia sadar dia tertinggal di belakang. Kayuhannya makin lama makin kuat.
Ujian orang yang ada di depan adalah silau sama prestasi diri sendiri. Kelamaan bersolek di depan cermin karena saking kagumnya sama diri sendiri. Gak sadar kalau dunia terus berubah. Akhirnya ketinggalan. Terus panik harus mengejar dari mana.
Ujian orang yang di belakang adalah kerja keras. Berkorban waktu, tenaga, dan apapun yang bisa dikorbankan.
Gak usah sombong kalau kamu udah di depan. Kesalip dua tiga orang itu gak kerasa. Ntar baru kerasa kalau kamu udah bener-bener ketinggalan di belakang sendirian.
Gak usah putus asa kalau kamu masih di belakang. Maju aja terus. Jalan masih panjang. Garis finish belum kelihatan. Terlalu dini buat menyimpulkan kamu sudah kalah.
Udah, maju aja.
—Taufik Aulia
Apakah perlu merendahkan diri sedemikian rendah supaya kaulah yang terlihat lebih tinggi?
Rasanya langit tak perlu membuktikan dirinya tinggi, dan takhta Sang Singa tak akan pernah bisa digoyahkan sekalipun oleh 1000 ekor Hyena
Random Thought #1
Bisakah kita fokus untuk sejenak, menyelesaikan urusan satu persatu sebelum berpindah kepada urusan lain? Jangan sampai loncat-loncat bukannya membuatmu banyak belajar, tetapi malah banyak lupa.
Sesungguhnya apa yang hanya dikerjakan setengah-setengah maka ia tidak akan mendapatkan manfaat darinya kecuali hanya sedikit. Hakikatnya ketika kita belajar, maka niatkanlah ilmu itu untuk diamalkan bukan hanya sebagai pemuas pengetahuan atau penambah wawasan.
Kalau memang ingin serius memantaskan diri, maka pantaskanlah dirimu untuk menggapai keridoan Allah sehingga proses memantaskan diri itu tidak berakhir ketika akad telah terucap.
Adhipramana. 2021
Jangan terlalu banyak mengunggah kesuksesan di sosial media. Kita tidak pernah tahu apa yang orang lain pikirkan. Bisa jadi lebih banyak yang ingin kita gagal, selebihnya tidak peduli, mungkin hanya sedikit sekali yang malah terinspirasi
Sekalipun itu hanyalah bentuk candaan, namun apa yang keluar dari lisan atau tulisan, maka itu pulalah yang ada pada hati dan pikirannya.
Unggahlah seperlunya, tidak semua orang perlu melihat setiap proses yang kita jalani.
Back day, I was amazed to my senior because of his vast knowledge about organization, leadership, and people development. I imagine how wonderful and organized his life is, how everything in his life will goes right. He is a kind of perfect person for me.
Four years later, as a senior, I can see my juniors see me in the same amazement i have back then to my senior, even thought I was not perfect as they seen. I feel like a hypocrite person who looks perfect outside but still broken inside.
I wonder, is it the same feeling that my senior has back then ? .
Memiliki dan Dimiliki
Tulisan ini kupersembahkan untuk seorang teman yang tengah mendapat cobaan beberapa bulan kebelakang, sebuah cobaan yang tentunya tak biasa untuk dialami oleh orang-orang seumurannya.
Saat itu waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi. Kereta tengah melintas di atas jembatan rel daerah Nagreg, seharusnya pemandangan dari atas jembatan ini sangatlah indah dengan hamparan alam cantik yang membentang hingga ke carkawala. Sayang sekali kegelapan malam menyamarkan itu semua sehingga yang terlihat hanyalah selimut gelap malam yang merangkul setiap sudut pandangan.
Dalam kegelapan jendela kereta itu, setiap orang bisa mengartikan apa yang ada di luar sana menurut opininya masing-masing. Bagaimana pun butuh cahaya supaya mata bisa melihat apa yang seharusnya menjadi realita.
Seandainya tak ada anomali dalam arus waktu, maka hari akan bergerak dari kegelapan menuju cahaya dan semua keindahan itu akan kembali nampak.
Bismillah. Allahu waliyyulladziina aamanuu yukhrijuhum minadz dzulumaati ilannur.
The first step to deal with yourself is to understand who you are, what kind of man do you want to be, what do you need, not what do you want. Then evaluate what aspect you are lacking for. Try to fix it consistently.
Burn Out
Akhir-akhir ini media sosial tengah ramai dengan berbagai macam berita konflik yang isinya seolah mengadudomba satu pihak dengan pihak lainnya. Masing-masing pihak mengklaim dirinyalah yang paling benar dan paling bisa dipercaya. Cuitan dari para sampah demokrasi alias buzzer bayaran sama sekali tidak membantu memecahkan persoalan. Meskipun fakta menunjukkan bahwa buzzer tersebut memang kurang cerdas, hanya modal opini provokatif ngotot dengan alur berpikir yang kacau loncat sana-sini, masih ada saja orang yang percaya dengan kata-kata mereka.