Mau menuliskan sedikit tentang buku yg pernah kubaca; Perempuan Di titik Nol karya Nawal El Saadawi—seorang aktivis, doktor dan psikiater yang banyak menulis tentang perempuan dalam Islam.
Ini barangkali bisa menjawab pertanyaanmu tadi malam. Maaf karena keterbatasanku dalam menyampaikan sesuatu secara langsung. Tapi semoga kamu paham, aku lebih leluasa menguapkan 'isi' melalui tulisan.
Ketika kamu bertanya bagaimana pendapatku mengenai kesetaraan perempuan dalam menyampaikan suatu pendapat. Yang langsung terlintas di pikiranku novel ini. Maka kujawab sebisaku sekarang.
Sebelum membahas keterkaitan novel yang kubaca dengan pertanyaanmu, aku ingin menuliskan kilas balik tentang bagaimana Islam datang dengan mengangkat derajat perempuan. Sudah menjadi rahasia umum banyak dari kita yang mungkin sudah tahu, bagaimana menderitanya perempuan sebelum datangnya Islam. Sebelum datangnya Islam, perempuan menjadi kecacatan bagi keluarga, saking tidak dinilainya derajat perempuan, seringkali terjadi penguburan hidup-hidup atas anak perempuan, dan masih banyak lagi perlakuan buruk terhadap perempuan seperti tidak diberikannya hak waris dan hak-hak lain pada umumnya dinikmati laki-laki.
Belum lagi penindasan yang dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh Masyarakat Jahiliyah. Kenyataan sejarah demikian, menunjukkan betapa perempuan tidak mendapatkan kedudukan, bahkan sedikitpun tidak dihormati dalam lingkup sosial oleh kaum laki-laki. Berbagai masa kegelapan perempuan tersebut menjadi wajar ketika menyadari bahwa
paradigma yang dipegang dan berkembang di Masyarakat Arab adalah menganggap perempuan hidup untuk dan senantiasa bergantung kepada laki-laki.
Dan isu ini belum juga usai, hingga melahirkan gerakan yang memperjuangkan hak-hak perempuan dalam menetapkan kesetaraan. Salah satunya yang dilakukan oleh Nawal El Sadaawi, ia menulis banyak sekali tulisan mengenai polemik yang berkaitan tentang hak perempuan. Seperti dalam novel yang kubaca diatas, penulis mengisahkan sisi gelap yang dihadapi perempuan-perempuan Mesir ditengah kebudayaan Arab yang kental dengan nilai-nilai patriarki. Seperti yang sudah kusinggung sebelumnya bahwa Masyarakat Arab dalam budayanya sering kali menempatkan perempuan tidak setara dengan laki-laki, Arab Saudi—tempat lahirnya Islam bahkan sampai saat ini mungkin belum bersikap leluasa atas kebebasan perempuan diruang publik. Berbeda dengan Indonesia, kurasa bangsa kita sudah keluar dari kultural Arab, bisa dilihat dengan banyak nya perempuan-perempuan yang eksis berperan dalam lingkup sosial dan politik.
Kembali lagi, Nawal kemudian menceritakan dalam novel tersebut kisah nyata yang dialami oleh Firdaus (nama samaran) yang sedari kecil sudah hidup ditengah keluarga patriarkat—dimana kerap ia melihat dan merasakan seorang ayah diperlakukan seperti seorang raja oleh istri dan anak-anaknya, seperti individu nomor satu diantara individu-individu lainnya. Ini menunjukkan adanya ketidaksetaraan didalam sebuah keluarga. Ada salah satu dialog dalam novel tersebut dimana Firdaus mengutarakan keinginannya untuk belajar di El Azhar Kairo mengikuti jejak pamannya, namun ia tidak diperbolehkan belajar disana karena ia adalah seorang perempuan. Bahkan pamannya yang mendengar hal itu tertawa dan menjelaskan bahwa El Azhar hanya untuk kaum laki-laki saja.
Dengan banyak nya ketimpangan relasi ini, tak jarang perempuan dibatasi ruang geraknya antara privat dan publik. Yang dimaksud privat menurutku bermuara pada wilayah rumah tangga yang stereotipnya diperuntukkan bagi perempuan, seperti falsafah yang sering kita jumpai bahwa perempuan ketika sudah menikah ruang lingkupnya hanya "Dapur, Sumur, Kasur". Kemudian wilayah publik seperti pekerjaan dan urusan negara (politik) diperuntukkan hanya bagi laki-laki.
Selanjutnya ini aku ingin mengutip salah satu ayat Al-Qur'an yakni surat An-Nisa ayat 34;
Artinya : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Kalau hanya dipahami secara maknawi, tidak melihat Tafsir, Asbabun Nuzul, juga hadist-hadist Nabi yang berkaitan dengan ayat ini—seperti yang sering kamu bilang; 'tentu akan memicu kontradiksi' antara laki-laki dan perempuan dimana ada ungkapan ar-rijal qawwamuna ala al-nisa. Ayat ini kalau tidak dipahami secara keseluruhan dapat menjadi superior bagi laki-laki. Tapi apabila dijabarkan secara luas, tentunya akan sangat panjang. Jadi mungkin kamu sudah lebih paham mengenai interpretasi dari ayat tersebut.
Menurutku, kesetaraan perempuan dalam menyuarakan pendapatnya juga sangat penting khususnya dibeberapa lingkup, seperti dalam rumah tangga. Karena keduanya (laki-laki dan perempuan) akan menjadi satu kesatuan atau satu anggota tubuh dimana laki-laki berkedudukan sebagai kepala sedangkan perempuan berkedudukan sebagai badan. Karena itu tak layak kalau satu anggota itu merasa super terhadap anggota lainnya, sebab masing-masing mempunyai tugas dalam hidup atau masing-masing memiliki haknya. "..Mereka (perempuan) adalah pakaian bagimu dan kamu pun pakaian pula bagi mereka". Ditambah pentingnya komunikasi dua arah dalam rumah tangga, ini menunjukan bahwa memang perempuan sangat berhak bersuara atas pendapatnya. Tidak seperti Firdaus dalam novel yang hilang "identitas" nya sebagai perempuan karena dibentuk oleh lingkungan yang patriarki, karena suaranya tidak diterima sama sekali oleh kaum yang menganggap dirinya individu nomor satu yakni, laki-laki.
Meski kuakui, ini pun menjadi pr besar untukku yang masih takut mendengar pendapat orang lain ketika aku mengutarakan isi pikiranku.