”Robot minds of robot slaves lead them to atomic rage plastic flowers, melting sun, fading moon falls upon dying world of radiation, victims of mad frustration Burning globe of oxy’n fire, like electric funeral pyre”

No title available
KIROKAZE
we're not kids anymore.
Game of Thrones Daily

shark vs the universe

Love Begins
Stranger Things
dirt enthusiast
Alisa U Zemlji Chuda
Peter Solarz
styofa doing anything

Kiana Khansmith

祝日 / Permanent Vacation

JVL
art blog(derogatory)

❣ Chile in a Photography ❣
h

No title available

Discoholic 🪩
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Qatar
seen from Algeria
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Brazil

seen from United States

seen from United States

seen from Brazil
@ayib
”Robot minds of robot slaves lead them to atomic rage plastic flowers, melting sun, fading moon falls upon dying world of radiation, victims of mad frustration Burning globe of oxy’n fire, like electric funeral pyre”
#354) Immortal Technique - Dance With the Devil
this song fucked me up when I first heard it
I’ll have prints of this at the Durham NC comic show. Colored by my friend Corin http://rinpin.tumblr.com/
The Hungarian Guggenheim by Krisztián Lakosi & Lakosi Richárd
[ Nasehat Jum'at ] Dahulu Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, bahwa tidak ada seorang pun bisa masuk surga, kecuali semata-mata karena rahmat Allah. Memang benar. Kita sama sekali tidak pantas masuk surga. Saya juga Anda. Kita semua... Mari coba kita urai penilaian Nabi Muhammad SAW tersebut dengan pikiran jernih. Semisal Anda itu rajin shalat 5 waktu, one day one juz, rutin sedekah satu juta rupiah per bulan, dan pernah naik haji, jangan pernah berpikir Anda sudah layak masuk surga. Serius. Sebab amalan-amalan Anda itu tidak istimewa. Menjadi tidak istimewa, kalau Anda bertanyanya ke hati nurani. Jangan ke setan di dalam hati Anda. Pasti isinya dipuji-puji, "Hebat! Sudah shaleh! Wah ahli surga ini!" Pasti setan bisikannya adalah pujian. Karena ingin Anda mabuk kepayang. Karena ingin Anda merasa tidak perlu meningkatkan ibadah. Juga karena ingin Anda segera menjadi sombong dan menyombongi orang lain yang tidak rajin ibadah. Coba pelan-pelan tanya ke hati nurani. Rajin shalat 5 waktu itu tidak istimewa, kalau kita mau memperbandingkannya dengan jumlah dosa sehari. 5 : 2 kah? 5 : 10 kah? Atau jangan-jangan dalam sehari kita berbuat dosa 30 kali (waktu)? One day one juz juga tidak istimewa, kalau kita mau memperbandingkannya dengan jumlah jam dalam sehari. Kalau misalnya Anda butuh waktu 3 jam untuk satu juz, berarti sisanya masih ada berapa jam? Anda gunakan apa saja? Rutin sedekah satu juta rupiah per bulan pun tidak istimewa. Apa hebatnya? Cobalah tanya ke akal yang jernih. Satu juta rupiah menjadi terasa sangat sedikit, kalau Anda mau jujur memperbandingkannya dengan "biaya kemewahan" hidup Anda. Coba bandingkan dengan biaya makan Anda, biaya belanja barang Anda, harga mobil Anda, dan harga rumah Anda. Contoh kasus terakhir, pernah naik haji. Jujur itu cuma masalah kesempatan saja. Anda yakin mampu naik haji kalau diberi "kesempatan" oleh Allah jadi tukang tambal ban? Anda yakin mampu rutin menabung sedikit demi sedikit selama 30 tahun? Anda yakin mampu puasa hawa nafsu selama 30 tahun demi naik haji? Jadi, maksud saya, kalau diurut-urut dan ditelaah satu per satu, aslinya kita semua tidak pantas masuk surga. Sekalipun sudah ahli ibadah. Sekalipun sudah menumpuk amal kebaikan sepanjang hayat. Sama sekali tidak pantas. Amal baik kita masih sangat sangat sedikit, kalau diperbandingkan dengan amal buruk kita dan tingkat ke-mubazir-an hidup kita. Silakan coba hitung sendiri dengan jujur. Seperti empat contoh kasus amal baik yang akhir-akhir ini dikira masyarakat muslim Indonesia adalah "luar biasa" tadi. Silakan coba. Maka dari itu, benarlah sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa kita jangan merasa bisa masuk surga dengan kendaraan amal baik. Luar biasa tidak pantas. Kita hanya bisa masuk surga dengan kendaraan rahmat Allah saja. Selain itu, mustahil bisa masuk. Kalau kita tidak dimaklumi dan disayangi Allah, saya juga Anda mustahil boleh masuk surga. Maka, mari kita rendah hati dalam beragama, jangan pernah sombong. Kalau kita itu rajin beribadah, ya sudah titik. Ibadah, titik. Ibadah, titik. Tidak usah pamer. Tidak usah merasa sholeh. Sifat sombong itu selendangNya. Jangan dipakai manusia. Tidak pantas. Selain menimbulkan kemarahan Allah, sifat sombong akan amal baik pada diri seseorang menimbulkan penyakit hati suka melaknati orang lain. Padahal rahmat Allah hanya bisa turun pada hati orang yang penuh rahmat. Rajin-rajinlah beribadah, tapi jangan sampai menggantungkan diri pada amal shalih.
- Gus Mus
vannieland:
Thought via Path
🔸Desain itu makin lama makin simple, se-simple-simplenya. Sampai bangsa timur ikutan meninggalkan semua identitasnya. Setelah itu, dengan seenak udelnya, barat kembali ke craftmentship timur yang tentu saja tidak simple. Kemudian bangsa timur kelabakan mencari identitasnya. Apa mungkin 'Simplicity' yang digagas oleh barat itu menjerumuskan?🔸 – Read on Path.
kadang kita diuji dengan masalah kecil. ketika kita bereaksi besar terhadap masalah kecil, berarti kita akan jadi kecil.
ada orang tercebur di got. ustadz 1, tetap menjaga kebersihan dirinya, dan mengajak orang di got itu untuk naik, membersihkan diri, seperti si ustadz. ustadz 2, ikut turun ke got sebentar, membantu orang kecebur itu naik dan membersihkan diri bersama, mengamalkan ajaran kebersihan si ustadz. *tiba-tiba kepikiran..
Produk X: dinilai secara menyeluruh sebagai satu produk. Produk Y: dinilai secara parsial, secara suku cadang, masing-masing komponen didalamnya. ------------- X: anda dinilai sebagai seorang seniman, orang tidak peduli harga karya anda, anda menghabiskan berapa kanvas, berapa bungkus cat minyak, orang hanya menginginkan karya terbaik anda. Y: orang menginginkan karya terbaik anda, dengan rasa ingin tahu, biaya cetaknya berapa, memakai berapa warna, butuh berapa rim kertas, untuk dicari efisiensi harganya.
menurut saya, yg asik dari MotoGP/balapan adalah tidak ada dikotomi mutlak benar dan salah, menang dan kalah, seperti permainan lain yg hanya mengadu dua belah pihak. pemenang balapan tidak hanya satu pihak, ada beberapa pihak, juara 1,2,3 dan 4. mindset seperti ini bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. dengan tidak hanya berpikiran benar dan salah, hitam dan putih, orang agama-A dan orang non-A. ingat, ada pula agama/suku/ras ABCD sampai Z. mari hidup dalam keberagaman, ke-ber-warna-an. Selamat Hari Kamis!
originalitas itu bukan yg utama. menjadi lebih baik itu lebih utama. invention (penemuan) itu baik, re-inventor akan lebih baik. walkman : di re-invent-kan jadi : iPod handphone : di re-invent-kan jadi : iPhone memperdebatkan originalitas itu kadang tidak penting.
anda harus menjadi orsng merdeka sehingga punya 'sidik paningal' (kejernihan dan ketepatan penglihatan). nanti puncaknya adalah 'putus pamriksa' (ma'rifat), dimana anda melihat sesuatu sampai ke ufuknya secara sangat jelas. jangan sampai anda melangkah lebih lanjut sebelum meyakini kepastian bahwa solusi yang anda lakukan sudah tepat. perkara gagal itu lain masalah, tapi ketepatan adalah nomor satu.
Cak Nun
apasih bedanya ciptaan manusia dan ciptaan alam/Tuhan? sederhananya, ciptaan manusia itu kecenderungannya, diciptakan dalam kondisi baik, semakin berjalan waktu, semakin tidak sempurna. contoh: mesin motor/mobil, semakin lama, performanya semakin menurun. mesih yang jarang dipakai, harganya malah mahal. ciptaan alam, kecenderungannya diciptakan dalam kondisi belum sempurna, semakin berjalan waktu, semakin sempurna. contoh: otak, semakin dipakai semakin baik. otak yang jarang dipakai harganya malah murah. otot kaki, semakin dipakai lari, semakin kuat. begitu kira2.. ketika ditanya facebook 'whats on your mind?' pagi ini :)
setiap ilustrator punya anutan realitas sendiri-sendiri. ada yang menganut realitas Tuhan, yang biasanya mengilustrasikan sesuatu persis seperti nyata, cenderung obyektif. ada yang menganut realitasnya sendiri, yaitu realitas menurut pendapatnya sendiri dan sangat subyektif. bagi orang awam, realitas obyektif kadang dianggap lebih unggul. padahal yang paling susah didalami adalah realitas subyektif, karena kebenarannya melebihi realitas obyektif.
ayib makmun
https://twitter.com/gusmusgusmu