“Semoga lekas menemukan; bukan yang sempurna, tapi dengannya kau hampir tidak mengenal sakit hati.”
— Faris (via mbeeer)

JVL
he wasn't even looking at me and he found me

No title available

No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
art blog(derogatory)
No title available

Origami Around
occasionally subtle

@theartofmadeline
will byers stan first human second
No title available
Stranger Things
Alisa U Zemlji Chuda

if i look back, i am lost
Jules of Nature

Discoholic 🪩
No title available
Today's Document

tannertan36

seen from Mexico
seen from Romania
seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Lithuania

seen from Malaysia
seen from Hungary

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Saudi Arabia

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Russia

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Canada
@ayudiaw
“Semoga lekas menemukan; bukan yang sempurna, tapi dengannya kau hampir tidak mengenal sakit hati.”
— Faris (via mbeeer)
“Yang belum sanggup disanggupkan-Nya. Yang belum siap dibuat jadi siap oleh-Nya. Yang belum cukup akan dicukupi oleh-Nya. Yang belum berani diberi-Nya kekuatan. Jangan lupa, Allah Maha Menolong.”
—
Takut kok dipelihara, Din.
Ketawain Aja, Sayang
Kalau tenaga sudah habis kau perah, kalau pikiran sudah habis kau asah, namun belum tuntas masalah, ketawain aja lah.
Pada akhirnya, memang bukan usaha kita yang menghasilkan penyelesaian, melainkan pertolongan Allah. Jadi jika ujian tak juga teruraikan, ketawain aja, sambil nunggu pertolongan datang. Semua ada masanya, semua ada jatahnya. Sembari menunggu, coba gugurkan dosa dahulu.
Tak perlu susah - susah berpikir bagaimana menyelesaikan masalah. Tenanglah, pergilah lihat taman, lihat bocah berkeliaran, dan tertawalah bersama semua pemandangan. Sebab hanya Allah Penggenggam Kuasa, maka minta Dia yang mengilhamkan solusinya. Pada akhirnya, kita harus menyerah pada kenyataan, bahwa kita bukan apa-apa tanpa pertolongan.
Dunia ini terlalu pintar untuk kita kendalikan, jadi senyum saja sambil lihat dia berputar. Ketawain aja, Sayang.
Sekarang atau nanti, bisa saja kamu ditinggalkan atau meninggalkan seseorang. Hanyalah Allah yang tak kemana. Hanyalah Allah yang tak lekang mengawasimu. Hanyalah Allah yang tak jeda menghidupimu. Dan hanya saja kamu yang enggan peduli.
— Taufik Aulia
Bila kamu sedang bimbang, diantara bertahan atau pergi, maka pilihlah pergi supaya kamu tidak repot mencari-cari alasan mengapa harus bertahan.
Walaupun akan begitu banyak yang menyalahkanmu, setidaknya kamu benar. Kamu ingin pergi karena Allah, bukan karena siapapun. Dan kamu akan membuktikannya.
Biarlah waktu yang menjawab, bahwasanya pilihanmu itu memang tepat. Kamu tidak akan menyesal, percayalah aku.
Ku beritahu sesuatu.
Sesuatu hal buruk yang kamu tinggalkan, yang kau relakan hanya karena Allah, sekalipun kamu masih berbuat dosa, tetap akan Allah ganti dengan yang jauh lebih baik. Setidaknya, kamu telah berniat dan berusaha. Allah yang lihat usahamu, bukan orang lain. Jangan dengarkan apa kata orang.
Yakinlah, bahwasanya sesuatu yang baik itu dimulai dari permulaan yang baik pula. Maka pilihlah sesuatu yang diridhoi Allah.
Tapi jangan berharap bahwa jalan yang kau lalui akan begitu mudah. Sulit. Aku tidak akan berbohong kepadamu. Banyak sekali rintangannya, banyak sekali ujiannya, tapi dalam semua duri itu, ada janji Allah yang akan perlahan menghapuskan dosa kita.
Begitulah Allah yang Maha Adil. Ia tidak memberikan ujian melainkan akan memberikan hiburan kepada hamba-Nya.
Bila kamu masih saja ragu karena sudah terlalu lama bergantung. Kamu tau bahwa bergantung pada sesuatu yang salah itu perlahan akan rapuh juga? Bagaimana caranya bertahan bila kamu bertahan pada sesuatu yang tidak mengetahui apa apa, sementara Allah adalah Yang Maha Mengetahui?
Kuasa-Nya akan mengalahkan rencanamu.
Tanya lagi hatimu, kamu masih mau bertahan karena apa? Bila itu bukan sesuatu yang tidak mendekatkanmu kepada Allah, lepaskanlah. Dan kalau sesuatu itu adalah yang kamu anggap sebuah ibadah, maka seharusnya ia tidak akan membuatmu bergantung kepada sebuah ketidakpastian.
“Menyusahkan diri karena perasaan yang tidak pasti adalah pembinasaan.”
— Kamu kuat, tapi terkadang kamu sering memilih lemah. Kamu cerdas, tapi terkadang kamu lebih tertarik menjadi bodoh.
Hubungan kita berakhir di kata seharusnya.
Seharusnya tidak bertemu. Seharusnya tidak jatuh cinta. Seharusnya tidak perlu merasakan luka padahal belum pernah bersama.
Namun apakah hati mampu berhenti begitu saja? Jika bisa, sudah kulakukan dari jauh hari ketika kau masih ada.
Aku tau kau memang bukan milikku. Tidak memilihku. Tidak menganggap perasaanku ada. Bahkan hadir dan peduliku tak lebih dari sekedar perasaan hangatnya pertemanan belaka.
Hubungan kita benar-benar berakhir di kata seharusnya. Seharusnya dari awal aku sadar, hanya karena aku merasa kau yang selama ini aku cari, bukan berarti kau mau untuk berhenti sebentar lalu mencoba mengerti.
“Tak ada yang lebih menyakitkan ketimbang tidak dipilih padahal selalu ada. Tidak dijadikan pilihan padahal selalu menjaga. Ditinggal pergi, oleh apa yang selalu dipertahankan sepenuh hati.”
— (via mbeeer)
“Allah Maha Baik. Ia ingin mengabulkan doa hamba-Nya lebih dari hamba-Nya ingin doanya untuk dikabulkan.”
— (via muhzulfikar)
Yakin Lalu Lihat Sekarang tugas kita adalah beramal salih terus menerus, tanpa bertanya apa...
Yakin Lalu Lihat Sekarang tugas kita adalah beramal salih terus menerus, tanpa bertanya apa hasilnya. Karena nanti ada masanya ketika kita dihitungkan hasilnya tanpa bisa beramal lagi Seringkali dakwah yang kita lakukan seolah tak terlihat hasilnya hingga kita merasa seolah dakwah ini sia-sia, padahal kita melakukan dakwah bukan untuk hasil, tapi karena Allah Bertumpu pada hasil bisa jadi kita kecewa, karena bisa jadi ia terlihat sekarang, bisa besok, lusa, sepekan, setahun, bahkan bisa jadi ia baru nyata setelah ratusan tahun Maka cukup bagi kita meluruskan niat dan membenarkan amal, ikhlas karena Allah dan sesuai dengan syariat Islam. Setelahnya kita serahkan urusan hitung-hitungannya pada Allah Balasan itu past ada, hanya soalan kapan, seberapa banyak, dan dalam bentuk apa. Jangan silau dengan pencapaian orang lain, atau hasil yang sudah dia tuai Tapi pikirkan dan sadari, bisa jadi sujudnya lebih lama, bangun dia di malam hari lebih banyak, lebih tahan dia dengan lapar dan puasa, lebih menahan maksiat dari kita Tumpuk-tumpuk amal salih kita, di dunia ini tidaklah lama, hanya sekedar menumpang mempersiapkan balasan yang sebenarnya nanti. Bersabarlah dalam perjuangan Orang kafir dan munafik harus melihat dulu barulah yakin, sedangkan kita meyakini dahulu lalu melihat. Yakinlah, insyaAllah apapun yang Allah sampaikan, akan nyata
(RSS generated with FetchRss)
Pesona Kematangan
Ditulis oleh Anis Matta
Chemistry yang biasanya mempengaruhi hubungan cinta antara laki-laki dan wanita sebenarnya hanya menegaskan satu fakta: ketika cinta yang genuine bertemu dengan motif lain dalam diri manusia, dalam hal ini hasrat atau syahwat biologis, hubungan cinta antara laki-laki dan wanita memasuki wilayah yang sangat rumit dan kompleks. Banyak fakta yang tidak bisa di pahami dalam perspektif norma cinta yang lazim. Lebih banyak lagi kejutan yang lahir di ruang ketidakterdugaan. Namun itu tidak menghalangi kita menemukan fakta yang lebih besar: bahwa dengan memandang itu sebagai pengecualian-pengecualian, seperti dalam kasus Muawiyah bin Abi sufyan dengan gadis badui yang tidak dapat mencintainya, kakuatan cinta sesungguhnya tetap dan selalu mengejawantah pada kematangan kepribadian kita. Misalnya antara Utsman bin Affan dan istrinya, Naila. Para pecinta sejati tidak memancarkan pesonanya dari ketampanan atau kecantikannya, atau kekuasaan dan kekayaannya, atau popularitas dan pengaruhnya. Pesona mereka memancar dari kematangan mereka. Mereka mencintai maka mereka memberi. Mereka kuat. Tetapi kekuatan mereka menjadi sumber keteduhan jiwa orang-orang yang dicintainya. Mereka berisi, dan sangat independen. Tapi mereka tetap merasa membutuhkan orang lain, dan percaya bahwa hanya melalui mereka ia bisa bertumbuh dan bahwa pada orang-orang itulah pemberian mereka menemukan konteksnya. Kebutuhan mereka pada lain bukan sebentuk ketergantungan. Tapi lahir dari kesadaran mendalam tentang keterbatasan manusia dan keniscayaan independensi manusia. Pesona inilah yang dipancarkan Khadijah pada Muhammad. Maka selisih umur tidak sanggup menghalangi pesona Khadijah menembus jiwa Muhammad. Pesona kematangan itu pula yang membuat beliau enggan menikah lagi bahkan setelah Khadijah wafat. “Siapa lagi yang bisa menggantikan Khadijah?”, ucap Rasulullah saw. Tapi bisakah kita membayangkan pertemuan dua pesona kecantika serta pesona kecerdasan? Pesona itulah yang dimiliki Aisyah: muda, cantik, innocent, cerdas dan matang dini. Dahsyat, pasti! Pesonanya pesona. Dalam chemistery ini tidak ada pengecualian Muawiyah. Disini semua pesona menyatu padu: seperti goresan pelangi dil angit kehidupan sang Nabi. Dua perempuan terhormat dari suku Quraisy itu mengisi kehidupan pribadi sang Nabi pada dua babak yang berbeda. Khadijah hadir pada periode paling sulit di Mekah. Aisyah hadir pada periode pertumbuhan yang pertumbuhan yang rumit di Madinah. Khadijah mengawali kehidupan kenabiannya. Tapi di pangkuan Aisyahlah ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah menyelesaikan misi kenabiannya. Dalam jiwa Sang Nabi ada dua cinta yang berbeda pada kedua perempuan terhormat itu. Ketika beliau ditanya tentang orang yang paling ia cintai, ia menjawab: Aisyah! Tapi ketika beliau ditanya tentang cintanya pada Khadijah, ia menjawab: “cinta itu dikaruniakan Allah padaku.” cintanya pada Aisyah adalah bauran dari pesona kematangan dan kecantikan yang melahirkan syahwat. Maka Ummu Salamah berkata, “Rasulullah saw tidak bisa “menahan” dirinya untuk bertemu Aisyah.” tapi cintanya pada Khadijah adalah jawaban jiwa pesona kematangan Khadijah: cinta itu dikirim Allah melalui kematangan Khadijah.
setiap bicara Cinta, selalu ingat tulisan ini:
Para pecinta sejati tidak memancarkan pesonanya dari ketampanan atau kecantikannya, atau kekuasaan dan kekayaannya, atau popularitas dan pengaruhnya. Pesona mereka memancar dari kematangan mereka. Mereka mencintai maka mereka memberi. Mereka kuat. Tetapi kekuatan mereka menjadi sumber keteduhan jiwa orang-orang yang dicintainya. Mereka berisi, dan sangat independen. Tapi mereka tetap merasa membutuhkan orang lain, dan percaya bahwa hanya melalui mereka ia bisa bertumbuh dan bahwa pada orang-orang itulah pemberian mereka menemukan konteksnya. Kebutuhan mereka pada lain bukan sebentuk ketergantungan. Tapi lahir dari kesadaran mendalam tentang keterbatasan manusia dan keniscayaan independensi manusia.
negative vibes part 2
tulisan ini merupakan bagian kedua dari tulisan Negative Vibes, supaya nyambung, silakan baca bagian pertamanya di sini
Poppy si pollyanna dan Branch si negativis dalam film Trolls (2016) “Life is not only about rainbow and cupcakes”- Branch
source
dengan bantuan negative vibes alias bad vibes dalam diri saya, saya pun belajar memahami soal apa yang terjadi pada diri saya. kenapa saya mengalami masalah emosi yang begitu parah, kenapa saya merasa malu menceritakannya, kenapa saya merasa takut merusak hidup orang kalau saya ungkapkan ke orang lain, ke orang terdekat sekali pun. dan pikiran saya mengarah ke….
kecenderungan untuk sering menolak kejadian-kejadian negatif dan emosi negatif dan menutupinya karena merasa itu sebagai perusak suasana atau sekadar merasa gengsi, kayaknya jadi masalah bagi mayoritas orang di dunia ini. termasuk saya.
disadari atau tidak, kita sering diajari untuk terus merasa positif, sayangnya, tidak diimbangi dengan pemahaman yang benar. tentu merasa positif itu penting untuk kesejahteraan mental, tapi bukan berarti kita harus terus memaksa hidup kita dalam suasana positif, dan mengabaikan kejadian-kejadian susah dan menyakitkan yang nyata-nyata kita alami.
imbasnya, kita jadi sering lari dari kejadian-kejadian yang buruk karena itu menimbulkan emosi yang ngga kita sukai: sedih, marah, kecewa, cemas, dll, atau mengingatkan kita pada kejadian-kejadian buruk. kita juga terdorong untuk memanipulasi perasaan kita sendiri, bahwa kita baik-baik saja. media sosial juga mendorong kita untuk menampilkan sisi-sisi positif saja dalam hidup, menyembunyikan rapat-rapat apa yang menjadi kesedihan, kegelisahan, kemarahan, dan permasalahan lain yang kita alami dengan berbagai alasan. beberapa alasan yang sering saya dengar: saya lagi menguatkan diri sendiri, saya tidak ingin orang lain ikut merasa sedih, orang yang share hal negatif itu toxic! orang-orang lebih senang pada orang-orang yang menyebarkan positive vibes.
kalau diperhatikan, memang orang-orang lebih menyukai konten di media sosial yang bernuansa positive vibes seperti foto makanan enak dan liburan alih-alih konten yang bernuansa negative vibes seperti kesusahan hidup yang dialami. jadi masuk akal kalau kita bekerja dengan hukum aksi reaksi. ngejar likes itu emang ngga penting, tapi kalau dapet banyak likes tetep aja seneng, ya ngga? pemahaman bahwa negative vibes itu toxic, bahwa pengalaman atau perasaan negatif yang kita alami adalah yang harus disembunyikan apakah karena gengsi atau takut memberi pengaruh buruk ke orang lain, bahwa kita hanya boleh menceritakan hal yang hepi-hepi aja, dalam perspektif saya saat ini (bukan saya di masa lalu), semua itu justru adalah pemahaman yang toxic. kita ngga bisa tumbuh kuat kalau pertama-tama kita ngga menerima perasaan dan pengalaman negatif itu atau malah menutup-nutupinya dengan sesuatu yang positif. kita ngga akan dapat pertolongan kalau kita ngga membiarkan orang tahu perasaan dan pengalaman negatif yang kita alami. menolak untuk mengakui adanya perasaan dan pengalaman negatif mungkin berguna untuk jangka pendek, tapi bisa menimbulkan efek destruktif untuk jangka panjangnya, misalnya gini (contoh aja):
saya merasa sedih karena ditinggal seseorang, tapi saya menolak untuk mengakuinya. saya menguatkan diri bahwa saya baik-baik saja. saya mencari hal lain di luar saya yang bisa membuat saya senang, yang menutupi kesedihan saya. lalu, saya menemukan caranya: belanja! tiap kali saya merasa sedih, saya belanja untuk tetap merasa senang. belanja menjadi pelarian dari perasaan sedih saya. dan itu berhasil. so far so good, untuk sementara. iya, sementara, karena jangka panjangnya, saya jadi kena adiksi alias kecanduan belanja. yang tentu menimbulkan efek ngga sehat untuk kesejahteraan saya sendiri. bayangkan kalau yang jadi candu bukan belanja: it could be alcohol or drugs! di masa depan, saya bakal dapet tambahan kesibukan untuk menyelesaikan masalah kecanduan saya, selain masalah emosi yang saya hindari sebelumnya.
pelarian dan adiksi yang paling umum kayaknya sih hape ya. bosen, bete, sedih, cek hp, cek timeline. kali aja ada notifikasi penting yang terlewatkan, kali aja ada postingan yang bikin mood bagus balik lagi. tapi, yang tadinya mau senang-senang, eh malah jadi makin parah karena ngelihat pesona orang lain yang hidupnya enak-enak aja. udah tahu gitu, anehnya, tetep aja dilakuin, tetep aja scrolling, tetep aja stalking. namanya juga udah kecanduan.
source
sebenarnya, menurut pengalaman dan pengamatan, kebiasaan menghindari atau ngga mau mengakui adanya pengalaman dan perasaan negatif, apapun alasannya, bisa menimbulkan dampak ini: 1. melahirkan lingkaran setan negativistik. kita lari dari kejadian-kejadian yang engga menyenangkan, ngga mengakui adanya perasaan negatif, tapi itu malah bikin situasi kita semakin negatif. karena kita jadi takut menghadapi kejadian-kejadian seperti itu, kita jadi cemas, hiper-waspada sama ‘ancaman’ itu, pikiran kita jadi susah tenang karena selalu takut pada apa yang akan terjadi. which is sama aja jadinya, kita lari dari pengalaman negatif yang satu, tapi malah menimbulkan pengalaman negatif lainnya. lari lagi, lari lagi, tapi tetap saja bertemu. ngga ke mana-mana.
2. di mana kita bisa hidup kalau bukan dalam realita? pengalaman buruk adalah hal yang alami yang dihadapi semua makhluk. ngga ada hidup yang sempurna, yang tanpa masalah. menolaknya berarti menolak hidup dalam realita. menolak keserasian dan keseimbangan alam semesta. alam semestanya tetap baik-baik saja, tapi kita engga.
3. bikin kita gagap dalam mengatasi masalah. kalau seseorang, apalagi sedari kecil, terbiasa dijauhkan dari pengalaman sedih, kesal, jatuh, dsb, dia ngga punya memori otak dan memori otot untuk mengatasi permasalahannya di masa depan. akhirnya jadi terus menerus flight (menghindar), alih-alih fight (menghadapinya).
jadi harus bagaimana?
source
E M O S I pada dasarnya berfungsi untuk membantu kita mengevaluasi kejadian yang kita hadapi. emosi membuat kita tahu apa yang terjadi pada diri kita dan pada orang lain. singkatnya, emosi memberikan kita informasi. kalau kita merasakan emosi marah, artinya ada sesuatu yang ngga sesuai dengan keyakinan atau value kita, kalau kita merasakan emosi sedih, artinya ada sesuatu yang berjalan di luar rencana atau kehendak kita. dan seterusnya. Begitu pun dengan pengalaman-pengalaman negatif yang kita alami, mereka itu sama-sama merupakan informasi. paling tidak, itu menunjukkan bahwa kita masih menjadi manusia, dan bagian terpentingnya: masih hidup.
lalu, pendekatan seperti apa yang bisa kita pakai agar bisa melihat emosi maupun pengalaman negatif itu secara wajar?
penerimaan yang disadari terhadap keduanya merupakan langkah awal yang tepat.
penerimaan di sini bermakna: kita bersedia untuk merasakan semua yang negatif itu, membiarkannya menggulung kita dalam pusarannya, mengenalinya, dan menyebut namanya. toh semua perasaan itu ngga abadi. perasaan yang kita hindari itu, kalau kita hadapi, ujungnya juga akan berlalu.
dengan menerimanya, kita tidak perlu menghabiskan banyak tenaga untuk menutup-nutupi atau mengusir-usir perasaan itu. setelah itu, kita mulai bisa mempelajarinya: mengapa saya merasa begini, apa pencetusnya. sehingga di kemudian hari, ketika kita merasakan perasaan yang sama, kita bisa terbiasa. jika kita lari darinya, misalnya kita berusaha tetap senang dan ceria padahal kita baru saja mengalami kejadian menyedihkan, kita ngga sempat belajar. kita ngga bisa kan mempelajari sesuatu dengan menghindarinya.
selain itu, keberanian kita untuk merasakan semua perasaan negatif itu akan membuat kita sadar bahwa merasakan hal negatif dalam hidup bukanlah sesuatu yang buruk atau memalukan. perasaan-perasaan itu ngga bikin seseorang jadi lemah atau buruk. it’s just, we are human and we are alive. we’re broken, life is broken. why? karena emang begitu desainnya.
hidup itu semangkuk penuh berisi ketidaksempurnaan. meski pun kelihatannya banyak, tetap saja tidak sempurna, tetap saja tidak memuaskan ego. kalau kata Allah di Surat Almaidah ayat 3, nih Allah sudah menyempurnakan nikmat-Nya untukmu. nah, tapi kita salah memahami maksud “menyempurnakan” nya itu. dikira kita kita bakal menjalani hidup yang sempurna karena udah dijamin, padahal engga gitu. dari pendekatan linguistik, ayat tersebut punya tafsir yang keren.
untuk menyebutkan bagaimana Allah menyempurnakan nikmat-Nya buat hamba-Nya, digunakan kata “Atmamtu,” kalau diartikan ke bahasa Indonesia ya artinya menyempurnakan. tapi, dalam bahasa Arab Atmamtu itu maknanya: mengumpulkan beberapa hal yang tidak sempurna ke dalam satu wadah. jadi, kalau saya ngerasa kenapa saya ngga punya yang orang lain punya, itu karena ‘mangkuk’ yang dikasih Allah ke saya emang beda isinya. mungkin ada yang dikasih kesehatan paripurna, tapi ngga dikasih kekayaan berlimpah. ada juga yang dikasih kekayaan, tapi juga sakit-sakitan. karena yang Allah kasih ke mangkuk kita itu ya memang hal-hal yang tidak sempurna. tapi Allah kumpulkan jadi satu sehingga menjadi komplit. tapi, untuk menyebut bagaimana Allah menyempurnakan agama sebagai petunjuk buat kita, Allah menggunakan kata “Akmaltu.” yang maknanya: mengumpulkan beberapa hal yang sempurna ke dalam satu wadah. kesimpulannya silakan dicerap sendiri..
jadi kalau ngerasa broken, dapet pengalaman yang ngga menyenangkan, itu memang karena desainnya gitu. dan karena memang desainnya demikian, kenapa harus dihindari atau dianggap memalukan? it’s something normal, dude.
yang terakhir, ketika kita menerimanya dengan lapang dada, tanpa perlawanan atau penolakan, perasaan dan pengalaman negatif itu akan kehilangan dayanya untuk mengacaukan hidup kita. bagaimana bisa? maksudnya menyerah? bukan menyerah, tapi berserah.
“You cannot beat a river into submission. You surrender to it…” - The Ancient One (Dr Strange, 2016)
source
seorang perenang yang terjebak di arus bawah laut dan merasa bahwa ia akan terseret ke tengah laut seringkali panik sehingga ia berenang melawan arus ombak dengan semua kekuatannya.dan seringkali juga, jika itu terjadi, ia akan tenggelam karena kelelahan dan kehabisan energi. tapi ada juga perenang lain yang melakukan hal sebaliknya. menenangkan diri, dan membiarkan sang ombak membawanya ke laut. kemudian tak lama, ketika arus mulai melemah, sang perenang bisa berenang kembali ke pantai.
sama halnya dengan emosi yang kita alami: melawannya bisa membahayakan, tapi ketika kita menerimanya, ia akan berjalan dan akhirnya pun berlalu dengan sendirinya, kemudian kita mendapatkan kesempatan untuk juga melanjutkan perjalanan kita.
tulisan ini akan saya tutup dengan kisah akhir dari pengalaman negatif yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya.
saya ngga merasa menyesal telah mengalami pengalaman dan perasaan yang intensitas negatifnya besar seperti itu. tapi, saya menyesal karena dulu sekali, saya terlalu sering menutup-nutupi bahkan menolak perasaan negatif, menganggap itu harus disimpan sendiri, menganggap itu akan tergantikan dengan perasaan senang secara otomatis, menganggap sebuah kehinaan untuk mengakui bahwa saya stres, cemas, depresi, dan sebagainya, karena orang lain hidupnya terlihat baik-baik saja. menurut saya, itulah penyebab kenapa gunungan perasaan negatif itu tiba-tiba longsor menimpa saya: karena terlalu lama ditolak keberadaannya. mereka kembali dalam bentuk yang lebih buruk!
mungkin masalahnya, tipikal, saat kecil kurang diberi ruang untuk mengeksplorasi berbagai emosi. dijauhkan dari negative vibes, disuruh untuk berhenti menangis sebelum merasa lega, diminta untuk jadi anak penurut sebelum diberi ruang untuk kesal, marah, dan protes. tapi ya sudahlah, kita juga paham jadi orang tua itu ngga mudah. yang penting saat ini saya sudah lebih paham.
saya belajar untuk biasa saja mengakui bahwa hidup saya lagi ada masalah. bahwa saya sedih, marah, kecewa. sebagaimana saya belajar untuk biasa-biasa aja ketika merasa senang–ngga berlebihan. tidak menganaktirikan salah satunya.
saya menyukai bagaimana positive vibes membuat kita menjadi bersemangat dan optiimis, dan saya juga menyukai bagaimana negative vibes membuat kita lebih menapak tanah: realistis melihat suatu permasalahan dan membuat kita seutuhnya menjadi manusia. I love them both <3
Baca tulisan terkait: ‘How To’ Accept Negative Emotion
*kolom ‘Reply’ terbuka untuk diskusi dan sharing
Bersiap saja untuk kekecewaan yang kadarnya barangkali belum terbayangkan. Karena jika saatnya tiba, saat itulah kesetiaan benar-benar diuji. Diuji apakah memilih setia adalah pilihan yang tepat atau malah sebaliknya.
— Taufik Aulia
DIJAUHKAN
Ada hal-hal yang memang sengaja Tuhan jauhkan dari kita. Bukan karena hal itu tidak pantas untuk kita, namun bisa jadi karena belum waktunya saja kita menerima hal tersebut.
Pernah melihat seorang anak kecil dijauhkan dari pisau? Begitu juga dengan kita. Jangan sedih ketika urusan jodoh, rezeki, kesehatan, jabatan, serta hal yang kita inginkan, tidak kita dapatkan sekarang. Mungkin belum saatnya, perlu waktu hingga kita cukup dewasa menerimanya.
DIJAUHKAN Bandung, 22 Februari 2018
Gimana cara jemput jodoh yang baik dan benar kak?
CARA MENJEMPUT JODOH YANG BAIK DAN BENARJawabannya, ada pada pertanyaannya.
Yang pertama, yaitu menjadi diri yang Benar
Benarkan terlebih dahulu niat kita dalam menjemput jodoh. Apakah benar, kita sudah meniatkan hati kita untuk beribadah? Apakah benar, kita mencoba menjemput jodoh itu demi kebaikan?
Yang kedua, yaitu menjadi diri yang Baik
Baik ahklaknya, baik perilakunya. Ia yang kita sukai, belum tentu menyukai kita. Namun, siapapun orang yang kau sukai, tentu ia suka dengan orang-orang yang baik hati, serta akhlaknya. Menjaga tutur kata, serta tingkah lakunya, serta baik dalam menjaga keimanannya.
Yang terakhir, yaitu menjemputnya
Jemput (calon) jodohmu dengan cara-cara yang baik. Dengan istikharahmu, dengan doa-doamu, dengan menanyakan dirinya kepada orang-orang yang menjaga dirinya.
Jika kita sudah membenarkan niat kita, dan memperbaiki akhlak dan perilaku kita. Bisa jadi, jodoh itu datang, tak perlu dijemput. Mungkin, orangtuanya sendiri yang mengantarkan ke hadapanmu.
Percaya saya, orang-orang baik itu, akan diberikan yang baik juga.
Belajar dari Rumah Ibu Elly Risman
Nama Ibu Elly Risman pertama kali saya kenal dari sebuah poster seminar parenting yang saya lihat di media sosial saat saya masih di tingkat akhir perkuliahan. Siapakah beliau? Saat itu saya belum tahu. Hanya saja, semakin hari namanya semakin sering saya dengar, terutama ketika saya mulai berkenalan dan berkecimpung di dunia anak dan parenting.
Waktu berlalu, tapi kesempatan untuk bertemu dengan beliau belum juga tiba. Meminjam istilah cinta-cintaan ala anak zaman sekarang, saya hanya mengagumi beliau dari jauh, sambil kepo alias banyak mencari tahu tentang beliau dari media sosial: membaca artikel-artikel yang pernah dituliskan atau menonton video-video rekaman beliau ketika membahas isu-isu terkini tentang anak dan parenting. Satu hal yang saya dapat, berbekal ilmu yang tak terhitung banyaknya, beliau begitu serius mewakafkan diri untuk berkontribusi pada satu masalah ummat yang terjadi di negeri ini.
Sejujurnya, kesadaran saya untuk mulai mempersiapkan pernikahan dengan ilmu hadir dari beliau. Menikah perlu ilmu, perlu berdamai dengan diri sendiri dulu, perlu mengenal diri sendiri dulu, dan nasehat-nasehat senada nyata telah mengubah paradigma saya tentang jatuh cinta, menikah, dan menjadi orangtua.
Sejak bekerja di tempat dimana sekarang saya berada, meskipun rasanya satu fokus dengan apa yang Ibu Elly kerjakan, pertemuan itu belum juga datang. “Kapan yaa bisa ketemu dan cerita banyak sama Ibu Elly?” pertanyaan itu masih terus saya tanyakan. Hingga suatu ketika, kantor kami mendapat undangan eksklusif dari beliau untuk hadir di sebuah temu ilmiah dimana beliau akan mempresentasikan hasil penelitiannya tentang bagaimana pornografi berpengaruh pada perubahan otak. Maa syaa Allah, doa saya diijabah Allah. Lalu di akhir ketika berpamitan pulang, beliau memeluk saya sambil berpesan,
“Nak, pastikan kamu kelak menikah dengan ilmu, ya. Jangan terburu-buru, jangan asal jatuh cinta. Lihat negara kita banyak masalah, dan sebagian besar bermula dari pengasuhan yang salah.”
mendengarnya, saya mengangguk-angguk sambil menangis. Entahlah, haru sekali rasanya. Pesan yang sama masih selalu saya ingat sampai hari ini dan sebisa mungkin ingin selalu saya teruskan kepada orang lain, kepadamu juga yang membaca tulisan ini. Sejak pertemuan yang pertama itu, kesempatan bertemu dengan beliau semakin bertambah, meski tidak sering. Pernah sekali waktu saya menemui beliau di tempat praktiknya, dan pesan beliau masih sama: “Ayo dong, anak muda sebelum menikah itu melek pengasuhan!”
Hal yang paling menarik terjadi beberapa hari yang lalu, ketika saya dan teman-teman diundang ke rumah beliau untuk bertemu dan berdiskusi. Senang luar biasa. Rasanya seperti berlibur ke rumah nenek: mendengar banyak cerita tentang kehidupan nenek dan kakek di zaman dulu, sejarah bagaimana mereka akhirnya menikah dan tinggal di rumah yang masih ada sampai sekarang, cerita tentang betapa kayanya kebudayaan Indonesia, serta nasehat dan wisdom-wisdom kehidupan. Tak hanya itu, kami pun dijamu dengan masakan-masakan enak khas Aceh!
Sehari sebelum keberangkatan, saya bertanya kepada senior di lingkaran pekerjaan saya, “Pak, rumah Ibu Elly itu kayak gimana, sih?” Saya penasaran. Saya pikir, rumahnya mungkin akan seperti rumah-rumah pejabat yang pernah saya datangi: besar, mentereng, dengan barang-barang mewah di dalamnya. Tapi ternyata tidak. Senior saya itu menjawab, “Biasa aja, kamu engga akan takjub gimana gitu pas masuk rumahnya. Kalau Ibu mau, Ibu bisa saja bermewah-mewah, tapi Ibu lebih memilih untuk banyak bersedekah dan berwakaf daripada menghabiskan harta untuk kepentingan pribadi.”
Ketika tiba di rumah Ibu, apa yang senior saya bilang itu ternyata benar. Alih-alih mewah, rumah Ibu ini lebih tepat disebut bersahaja. Dengan segala kesederhanaan di dalamnya, rumah ini sangat hangat dengan atmosfer kekeluargaan yang terpancar dari berbagai sudut ruangannya, juga dari orang-orang yang tinggal di dalamnya.
“Teh, teteh udah ngerasa lagi kayak pergi ke Aceh belum?” bisik teman saya yang saat itu duduk tepat di sebelah saya ketika kami sedang berbincang-bincang dengan Pak Risman sambil mendengarkan logatnya yang unik khas Aceh itu. Ya Allah, saya tersenyum sambil menjawab pelan-pelan, “Ooh, begini kali ya rasanya kalau nanti pergi ke Aceh?” Teman saya itu pun tersenyum, rupanya ia teringat satu mimpi yang pernah saya bagi dengan teman-teman di kantor, yaitu pergi ke Aceh.
Obrolan pun jadi kesana-kemari, termasuk membicarakan masalah di negeri ini. Tak lupa, di sela-sela obrolan kami, Ibu pun menyampaikan,
“Nak, banyak masalah pengasuhan terjadi karena orangtuanya menikah asal-asalan dan tidak siap ketika menjadi orangtua.”
sebuah kalimat yang membuat saya dan teman-teman yang belum menikah menjadi bersyukur karena Allah ternyata masih memberi kesempatan bagi kami untuk bersiap dan belajar sebelum nanti dipinang oleh amanah peradaban.
Berkunjung langsung ke rumahnya, saya baru tahu kalau Ibu yang sering saya lihat di TV atau di acara-acara penting seputar anak dan keluarga ini ternyata pintar masak. Setiap harinya, beliau memasak 9 jenis makanan yang berbeda untuk suaminya. Maa syaa Allah, ini bukan hanya soal skill memasak, tapi juga tentang manajemen waktu dan kesediaan mengabdi sepenuh utuh kepada suami. Masakan Aceh yang Ibu buat hari itu adalah masakan Aceh pertama yang dirasakan lidah saya, dan ternyata … saya nambah tiga kali! Apalagi saat mencicipi Ayam Tangkap yang dilengkapi dengan daun salam koja itu, ditambah dengan sambal yang ternyata ditambah belimbing. Maknyus! Ibu pun berkali-kali bilang, “Ayo Nak, makanlah yang banyak. Mau apa lagi? Sini Ibu tambahkan.” Namanya anak muda, kami benar-benar literally makan banyak. Haha!
Banyak wisdom yang didapat dari kunjungan ke rumah beliau hari itu. Pak Risman berpesan kepada kami untuk menggenggam erat ketaatan kepada Allah dan kesungguh-sungguhan dalam berjuang, sementara Ibu Elly Risman berpesan tentang militansi untuk berjuang mengatakan kebenaran, melakukan kebaikan, dan tentunya persiapan pernikahan dan juga pengasuhan. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Semoga perjuangan yang tidak akan pernah selesai ini senantiasa diberi-Nya kemudahan. Selamat berjuang!
Dibalik kata “Rahmah”
@edgarhamas
Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu mawaddah (rasa kasih) dan rahmah.
(QS Ar Ruum 21)
Mengapa Allah tidak menggunakan kata mawaddah wa “mahabbah” (cinta), melainkan dengan kata “rahmah”?
“Karena rahmat itu luas, sangat luas, dan ternyata cinta hanya sebagian saja dari rahmat itu” tutur DR Hazimi, Guru Bahasa Arab kami, suatu hari dalam mata kuliah beliau.
Jika cinta saja, ia akan punya celah untuk berkurang bahkan hilang. Namun “rahmah” selalu hidup di nurani manusia, tak lekang oleh waktu. Mencintai tak selalunya sejati, kadang ia terbius paras atau silau harta.
Kenapa ada istilah “cinta sejati”? Karena orang-orang tahu bahwa ada cinta yang palsu. Namun adakah istilah rahmat yang sejati? Tidak ada, sebab manusia paham bahwa rahmat itu sejak awalnya memang selalu murni. Tak perlu ditambah kata “sejati.”
Namun rahmah, walau bertambah usia, walau badai mendera, tetap ada kasih sayang dan rasa saling melindungi. Itulah rahasia mengapa “rahmah” Allah gandengkan dengan mawaddah.