Abah abah abah itu kata yang terus terulang dari lisanku, sejak pukul dua-dua lewat tiga belas menit waktu indonesia bagian tengah. Layar gawaiku mendapat telfon (WA) dari nomer yang belakangan cukup akrab aku hubungi.
Darinya, aku dapati kabar bahwa Abah sedang kritis. “Mohon didoakan bapaknya mas, saturasinya turun ke 73-75 persen,” kata perawat di rumah sakit Abdul Wahab Sjahranie (AWS) malam itu.
Dadaku sesak, pikiranku kacau. Setiap detik, menit terasa genting. Sudah sepekan Abah terdaftar jadi pasien di rumah sakit bergengsi milik Pemprov Kaltim sekaligus rumah sakit kebanggan rakyat kota Samarinda ini.
Hari per-hari begitu lambat, tempo yang seminggu terakhir pelan sekejab berubah cepat berdebar, suasana mendung tanda tahun akan berganti.
Menjelang pukul kosong-kosong nomor akrab itu menelfonku. “Innalillahi wa Innailahi Rajiun, beberapa menit yang lalu bapak sudah menghembuskan nafas terakhirnya mas, kami sudah berusaha maksimal untuk menolong bapak, kami mohon maaf mas,” ucap orang yang tak aku kenali itu.
Masjid rumah sakit menjadi saksi piluku. Begitu kudapati kabar Abah dalam kondisi kritis, tanpa ba-bi-bu aku sudah di teras masjid. Kubasuh wajahku, kudirikan shalat dua rakaat lalu kupanjat tanganku.
Disinilah perjanjianku dengan rabbku, “Ya Allah beri kesempatan hambamu ini untuk bisa menemaninya, membersamainya sekali saja, menebus banyak hal,” lirihku, sedikit dari permohonanku yang amat banyak padaNya kala itu
Heningnya masjid berubah menjadi ramai oleh isakan seorang pendosa, seorang yang datang tidak tahu diri, lagi angkuh. Seorang itu berjanji dan berjanji. Kutenangkan jiwaku berlipat kali, dengan pedenya seolah permintaanku terijibah.
Desau angin dilingkupi gelap, bajuku sudah basah oleh peluh, tubuhku terhunyung, rambut aku sibakkan, telingaku pekak, mulutku bergumam, wajahku berkali-ku usap. Banyangannya membungkus imajinasiku.
Mulai tenang, sampai akhirnya ponselku bergetar. KABAR ITU, KABAR YANG SAMPAI DETIK INI PUN BELUM BISA BETUL-BETUL AKU IKHLASKAN, YA KHALIQ AMPUNI DAKU YANG TERNYATA BELUM BISA MENERIMA TAKDIRMU.
Setahun persis bah, Allah memanggilmu pulang, Rabbuku tau, aku banyak menahan diri, memendam kekecewaan ini. Melawan perasaan sakit ini, kenapa, mengapa ya Allah engkau pisahkan aku dengannya begitu cepat. Bahkan aku belum berbuat baik sedikitpun kepadanya.
Layak? Seandainya yahhhh..
Siang dihari itu, aku menuliskan pesan WhatsApp, ungkapan itu hanya sebagai penanda, seperti biasa aku mengirimkannya. Diwaktu pagi, aku selalu berbicara dengan Abah. “Gulanya masih tinggi zim, tensi dan darahnya udah normal,”itu untaian yang selalu beliau laporkan padaku.
Aku tak menyangka, ternyata pagi itu adalah percakapan terakhirku. Dan siang itu, ternyata juga menjadi pesan terakhirku.
Abah harus berjuang untuk bisa sembuh bah, semangat bah jangn mau kalah sama sakitnya abah. Sejauh ini bah kita udah lewati bersama, insyaallah tidak akan lama lagi bah, aku yakin sekali abah bisa lewatin ujian ini. Aku percaya sekali abah cukup kuat bertahan dan sembuh.
Bah jangan pernah nyerah bah. Hari ini seminggu abah d RS rasanya lama sekali, bah bismillah sejak awal abah dibawa ke RS aku sudah sangat percaya ini akan menguras tenaga pikiran dan banyak hal, tapi bah kita harus bisa sama-sama keluar dari masalah ini. Bah yang semangat yah.
“Semoga akhir pekan ini semuanya membaik dan abah bisa pulang, aamiin,” begitu aku tutup beberapa saat setelah pesan sebelumnya terkirim. (Kamis 19 November 2020)
“Zim sibuk kah? Abah telfon ya.” Aku kangen pesan WA abah yang seperti ini. Maaf bah, 🙏🏻🙏🏻