If I tell you that I miss you, would you be the same?
YOU ARE THE REASON
Game of Thrones Daily

Kaledo Art

❣ Chile in a Photography ❣
will byers stan first human second
we're not kids anymore.

blake kathryn
Sade Olutola
styofa doing anything
Show & Tell
Jules of Nature
ojovivo
Lint Roller? I Barely Know Her
RMH
Monterey Bay Aquarium
art blog(derogatory)
NASA
Cosmic Funnies
One Nice Bug Per Day
Three Goblin Art
seen from Spain

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United Kingdom

seen from Netherlands
seen from Brazil
seen from South Africa
@azkasfnh
If I tell you that I miss you, would you be the same?
really need to get off his name from my mind. a-s-a-p.
because I’m tired.
Kadang aku suka bingung, kenapa dulu milih jurusan arsitektur. Karena nyatanya, sekarang pun masih banyak arsitek-arsitek (terkenal) dunia yang aku ga tau. Tiap ditanya pasti jawabannya itu-itu terus.
That meaningful stare ♥
Hari Senin sore, karena udh pusing banget ada di rumah terus seharian akhirnya memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Tujuannya kali ini sebenernya cuma mau beli micron sama nyobain es kopi susu nok nok yanh di Jl. Riau. Akhirnya memutuskan untuk nekat berangkat meskipun langit mulai mendung.
Pertama, naik angkot sarijadi-st.hall, niatnya mau turun di jl.pajajaran tapi mang angkotnya stop di IP, karena nanggung, jadi memutuskan utk jalan kaki ke Jl. Pajajaran, tapi ditengah2 berubah haluan, jadi lgs jalan ke Jl.Cihampelas bawah (lewat jalan yg mau ke arah atas gatau nama jalannya apa lupa). Ke atm mandiri bentar yang sebrang ck lalu lanjut jalan (jalan kaki lagi ya) ke Jl. Wastukencana utk naik angkot kalapa-ledeng, tapi karena mau beli micron di gramedia, jdnya memutuskan utk jalan aja ke gramedia karena nanggung cuma bayar 2000 jaraknya deket banget (iya emang pelit✌). Sampe di gramed lgs keringetan dan lgs ngadem lama disana.
Setelah dari gramed dan membeli micron, lanjut lagi jalan kaki ke balkot, jalan2 dipinggir sungai. Liat monumen bandung sejarah, trs merhatiin mobil lewat, orang lalu lalang, kesibukan orang kantor pulang kerja, pak polisi ngatur lalu lintas, pegawai negri berseragam pada siap2 pulang, terus liat matahari mau terbenam :)
Abis dari balkot, mau nyobain es kopi nok nok yg di jl.riau, karena gaada angkot yg lgs ke jl.riau, jd akhirnya jalan dulu ke perempatan merdeka-riau-dago. Trs mikir (lagi2) nanggung banget cm naik angkot bentar, akhirnya memutuskan utk jalan kaki aja ke nok nok kopi (lokasinya di herritage riau). Abis sampe, nyobain es kopinya, ternyata ga seenak yang di jl.bungur/jl.progo/jl.burangrang hehehe tp karena haus dan capek, lgs abis aja deh itu es kopi. Dan beli gorengan 5000 buat nyemil di jalan.
Karena udh magrib, jd memutuskan utk solat di masjid salman. Karena angkot kalapa dago adanya di perempatan riau junction, akhirnya jalan kaki dulu kesana. Kaki lecet pula karena pake sepatu sendal tapi kekencengan jd lecet. Akhirnya naik angkot trs turun deh di Jl.Ganesha. Dago macet jam segitu, tapi seneng, lampu jalannya terang, bagus :)
Sehabis solat di masjid salman, laper, terus akhirnya mutusin utk makan angkringan narji. Pas lagi jalan ke angkringannya, diliat panuh banget banyak anak ITB, karena aku malu akhirnya ku berubah haluan, jadinya makan sushi boon aja deh. Terus jalan kaki ke sushi boonnya juga, naanggung banget kan tinggal naik keatas, dr pada ngeluarin uang 2000 dengan jarak super deket, mending ku jalan kaki aja, ngebakar kalori dan lemak jajan gorengan tadi :)
Setelah makan sushi boon, sempet gambar bentar, lalu pulang kerumah naik angkot. Lalu sampai rumah tepar, kecapean. Tidur deh. Sekian.
PS: cerita hari senin 4 September 2017. pengen sharing aja, kalo sebenernya pergi sendiri, jalan2 sendiri, makan sendiri itu wajar kok :)
Resah.
Aku hilang arah. Akhir-akhir ini aku merasa, aku semakin sendiri. Setelah bertemu teman-teman sepermainanku, lalu mereka pulang kembali ke tempatnya masing-masing dan menjalani kehidupan mereka, aku kembali sendiri. Menjalani hidupku dan berharap, semuanya akan baik-baik saja.
Namun aku tahu, didalam lubuk hatiku paling dalam, masih ada sepenggal perasaan yang terus menghantuiku yang tetap singgah di hatiku, entah sampai kapan rasa itu akan menetap.
Bandung, 1 September 2017.
Menangislah
Karena kamu manusia, maka akan selalu ada hari di mana kamu akan merasa hidupmu telah hancur. Akan selalu ada hari di mana kamu merasa hidupmu sudah sepenuhnya berantakan.
Karena kamu manusia, maka akan selalu ada hari di mana kamu akan merasa segalanya sia-sia. Akan selalu ada hari di mana kamu merasa sudah ingin menyerah.
Karena kamu manusia, maka akan selalu ada kegagalan. Akan selalu ada penyesalan.
Karena kamu manusia, maka segala hal-hal itu akan selalu ada.
Tapi percayalah bahwa tak ada yang kekal di dunia ini, bahwa segala hal hanyalah sementara. Dan di atas semua ketidak sesuaian hal dengan apa yang kamu harapkan, jika kamu ingin menangis, maka menangislah.
Sebab tangisan bukan untuk menunjukkan kamu lemah, sebab menangis hanya milik mereka yang memang terlalu kuat.
Hujan Mimpi
Sejauh-jauhnya orang berpergian, pasti ia akan kembali pulang ke tempat asalnya.
Fuji MDL 9 - Fujifilm C 200
Catching sunrise, because I love to. When the sun comes up, it means new day begins then hope will come as bright as the morning sun. It’s hypnotizing me.
“Too much thought will kill you, and I kill myself because of this”
Sometimes, being a melancholy phlegmatic person and INFP person is sucks. Everything inside my mind always makes me feel bad and I’m going through my days with all this sorrow deep down inside my heart.
Setelah 2 bulan menjalani hari-hari baru di Jakarta, banyak hal-hal baru yang aku alami. Dari mulai senang akhirnya bisa tinggal sendiri sampai drama nangis tiap malem di kamar kosan karena melewati hari buruk di kantor akibat kebodohan diri sendiri.
Sering aku berfikir, I need my comfort zone. Tapi aku terlalu egois kalau aku harus mewujudkan hal tersebut, seharusnya aku paham kalau tiap orang juga punya kehidupannya sendiri. Kalau tiap orang punya masalahnya sendiri. Dan pada akhirnya, (lagi-lagi) semuanya aku simpan sendiri. Aku ga mau merepotkan orang lain, aku ga mau buat orang lain sedih memikirkanku dan aku ga mau buat mereka tambah pusing dengan masalahku.
Dengan tipikal orang yang susah untuk cerita masalah sendiri (karena lebih sering aku menjadi pendengar untuk orang lain), untuk beberapa orang yang pada akhirnya mendengarkan cerita pribadiku, itu berarti sebuah keajaiban. Dan untuk beberapa orang dihidupku, semoga kalian bisa mengerti jalan pikiranku, memahami keadaanku, dan selalu men-supportku, apapun kondisiku.
Dan, jangan pernah tinggalin aku.
Bandung, 1 Juli 2017.
Deep-Down-Inside-My-Soul
FYI; Sedang merasa tidak nyaman dengan kondisi dimana paradigma orang akan diri saya mencuat belakangan ini, label yang mereka pilih untuk mendeskripsikan saya, menggeneralisasikan sifat saya, hingga memaparkan kesalahan saya. . . Saya orang yang pesimis terhadap diri saya, saya tidak pernah benar-benar mensyukuri diri saya yang seperti ini, terkadang saya merasa saya harus memberantas diri saya sendiri untuk menciptakan satu hal yang baru dan lebih baik di diri saya. Setiap hari bisa saya habiskan hanya untuk menyalahkan diri saya atas apa yang bahkan tidak saya perbuat, dengan mengkoneksikan aksi-reaksi lingkungan terhadap saya. Dan berujung pada fase kehancuran untuk diri saya sendiri. . . Saya sangat menghargai perbedaan dan hal baru diluar apa yang saya biasa tau, saya senang mempelajari hal-hal dari diri manusia, menciptakan interaksi yang mendalam untuk membuka mata saya akan hal yang tidak saya tahu; Alasan mereka hidup, keputusan mereka dalam bertindak, cara menyelesaikan masalah, dll. Saya belajar memahami apa yang tidak saya pahami, memaklumi apa yang disebut perbedaan, dan berakhir pada melemahkan diri saya dan lemahnya kepercayaan diri saya terhadap saya. . . Menjadi saya sang Introvert - Intuitive - Feeling - Prospecting - Turbulent dengan prosentase diatas rata-rata amatlah menyiksa saya, berorientasi pada diri saya sendiri dengan pengamatan mendalam akan suatu hal memicu kinerja otak saya akan permasalahan hingga ke akarnya, perasaan saya menjadi senjata utama yang bahkan tidak cukup kuat dan tidak cukup logis untuk digunakan, melihat permasalahan seperti belati bermata dua dengan segala pertimbangan yang tidak kunjung mendapat solusi yang tepat untuk segala aspek. . . Memaknai semua yang saya jalani selama ini benar-benar menguras energi, saya cukup evaluatif terhadap diri saya, memikirkan apa yang tidak seharusnya dipikirkan, memperdebatkan hal yang tidak harus diperdebatkan, semua itu hanya upaya saya mengenal manusia dan upaya saya mengenal diri saya sendiri. . . Saya lelah menjadi diri saya sendiri, dimana banyak orang bisa dengan mudah diterima oleh lingkungan disaat mereka benar-benar menjadi dirinya sendiri, sedangkan saya harus mulai beradaptasi dengan diri saya sendiri, tidak membiarkan orang lain untuk membiasakan dirinya dengan saya, karena saya tidak mau membawa orang lain terjerumus di lubang hitam saya. Saya memilih untuk mengenal dan memahami mereka, beradaptasi dengan membaca gerak gerik mereka, membaca jalan pikiran mereka, membuat mereka merasa nyaman ada disisi saya, membuat mereka merasa dihargai, memenuhi kebutuhan mental dan emosi mereka, dan bagi saya sepenuhnya hanya merefleksikan apa yang mereka inginkan, menyembunyikan diri saya sedalam-dalamnya. Karena saya yakin sulit pribadi seperti saya akan diterima. . . Saya menempatkan posisi saya berada di nomor 2, memberi kesempatan pada orang lain untuk tidak memprioritaskan saya, menjadikan saya opsi dalam hidup mereka, membiarkan saya tetap berada di bayang-bayang mereka disaat raganya bermandikan cahaya. Ironisnya diri saya. Menjadi orang dibelakang layar yang hanya mensupport kebutuhan orang lain, mengesampingkan kebutuhan saya. . . Melelahkan, saya bukan orang yang superior, berada di golongan yang khusus, memiliki kepercayaan diri tinggi, idealis, yakin dengan apa yang saya lakukan, merasa paling benar, dan memiliki ego yang tinggi. Saya inverse dari semua statement itu, saya hanya berusaha mempertahankan apa yang sudah mulai hancur didalam diri saya, menyisakan sedikit alasan untuk saya tetap bertahan hidup. Berharap ada beberapa orang dapat mengerti kondisi saya dan lebih baik untuk membantu saya keluar dari permasalahan diri saya. . . Saya orang yang mencoba open-minded atas segala kritik dan saran, jika dianggap benar dan baik bagi diri saya, saya terima. Saya hargai kalian yang berusaha membantu saya, semua ini petaka dan kutukan menurut saya, kritik dan saran tanpa tanggung jawab hanya akan semakin menambah beban saya dan opini kalian berada di tempat yang lemah. . . (Beberapa saat setelah tulisan ini terpublish, akan ada banyak merevisi texts postingan dan penyesalan dari diri saya karena telah membuka diri saya dan membiarkan dunia mengetahuinya, tapi ini upaya saya juga untuk meringankan beban saya tanpa harus membebani orang lain)
It’s true. And I’m pathethic.
Life in 22.
Beberapa hari ini jadi lebih suka sendiri, lebih banyak mikir dan lebih banyak ngerenung. Kejadian kemarin sempet bikin down banget, apalagi setelah tau ada temen yang ternyata lolos. Kalau misalkan gaada orang yang dikenal lolos sih mungkin rasa down gaakan sampe sesedih ini.
Selain itu, gagal berangkat EBC tahun ini makin-makin bikin sedih. Yang awalnya masih mikir2 ikut seleksi support EBC apa engga karena ada tawaran kerja dan akhirnya ngelepas tawaran kerja itu karena keterima jd support EBC dan ternyata ga jadi berangkat tahun ini, sedih banget. Apalagi proyek kerja itu sekarang udah jalan dan bulan ini bakal berangkat ke Kediri.
Dan, semakin banyak orang ninggalin Bandung. Semakin banyak orang-orang yang dulunya dekat, semakin menjauh karena kesibukan masing-masing. Semakin sendiri ngejalanin hari-hari sekarang. Sepi.
Semuanya bener-bener bikin sedih, bener-bener bikin down. Beberapa kali sempet diajak keluar rumah tapi tetep sedih, kalo ditanya gimana tesnya, udah kerja dimana, makin sedih. Di rumah juga makin sedih kalo inget-inget udah berapa lama nganggur. Ga enak sama ibu, ga enak sama bapak.
Jadi anak kuliahan enak sih, masih terikat sama universitas, gaada tanggungan kalo nganggur, paling ga enak aja kalau kuliahnya lama sedangkan orang tua pasti berharap kita lulus tepat waktu. Sedangkan beres kuliah tuh, ngerasa bebasnya diawal aja, setelahnya langsung pusing, langsung panik mau kerja dimana, mau jadi apa selanjutnya, mau langsung kerja apa sekolah lagi, dapetin uang gimana caranya, dan banyak banget pertimbangan-pertimbangan dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Dan balik lagi, sekarang cuma bisa banyak berdoa, ngebenerin portofolio, apply job sana-sini, berharap dapet kerjaan yang terbaik nantinya. Semoga kesedihan ini ga berlarut-larut, karena aku inget pesan salah satu teman baikku “our time, our clock”, semakin lama terpuruk di kesedihan, semakin lama pula bisa balik bahagia lagi. Semakin cepat move on, semakin cepet juga bisa lupa sama kesedihan ini dan cepet bangkit buat lanjutin kehidupan besok dan hari-hari seterusnya.
Oiya, hari ini terakhir diumur 22 tahun. Semoga besok, setelah 23, bisa ngelanjutin hari-hari lagi dengan semangat, ga sedih-sedih lagi dan semoga bisa dapet kerjaan terbaik sesuai dengan usaha selama ini. Aamiin..
Bandung, 14 April 2017, 13:50.
Ini pertama kalinya aku nonton konser sekeren, seseru, sebagus ini. Ya, aku nonton COLDPLAY! AKHIRNYA AKU NONTON BAND KESUKAANKUUU!!! Dari awal coldplay desas desus mau ke singapur udh mikir nonton ga yaa, dan akhirnya setelah berjuang untuk mendapatkan tiket, nyari sana sini, akhirnya dapet juga tiketnya!! Seneng banget akhirnya tanggal 1 April kemarin bisa langsung nonton band kesukaanku dari dulu secara LIVE!! dan....konsernya hebat banget, bagus banget, keren banget, gila banget, sampe nangis nontonnya saking seneng dan terharu dan sedih dan bahagianya bisa nonton langsung (yang biasanya cuma bisa liat di youtube aja).
semoga, setelah ku mendapat penghasilan sendiri, bisa nonton konser coldplay lagi selanjutnya. aamiin..
oiya, ini fotonya pake kamera pocket film aku, Fuji MDL 9, film nya pake Fuji Industrial.
Jangan pernah pelit sama ilmu yang kita punya, karena nanti kalau kita meninggal, ilmu kita gaakan dibawa
Seorang inspirator dalam briefing Kelas Inspirasi Bandung 5, Minggu 12 Febuari 2017
Clear your mind here
namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda