Pulang
Sejak meninggalkan kampung halaman, saya bertekad dalam hati suatu saat saya harus kembali. Ya meskipun saya bukan siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa disana, setidaknya ada mereka yang menjadi tujuan saya. Ayah Ibu. Jujur, rasanya akan seperti pindah ke kota baru dan merintis semua hal dari nol jika tiba waktu nya. Namun, keyakinan akan segala hal yang terjadi sudah diatur Yang Maha Kuasa adalah pegangan saya sekarang.
Semua skenario hidup bergulir dengan sendirinya seperti yang sudah Ia rencana. Seperti skenario yang saat ini saya hadapi. Seakan Allah menantang keyakinan saya akan kebulatan tekan diatas. Allah telah buka tanda-tanda untuk saya agar kembali...kembali pulang.
Saat ini, alasan untuk saya kembali sudah benar-benar pantas. Menemani ayah ibu di kampung halaman. Hanya saya yang paling dekat diantara 2 saudara lainnya. Dekat, meski harus ditempuh minim 4 jam perjalanan tol (terimakasih untuk pemerintah atas proyek tol nya btw). Sedangkan namanya juga perantau, keluarga disana pun tak ada. Ada pun satu dua dan tak dekat secara hubungan.
Dengan segala kondisi orang tua dan keinginan-keinginan mereka (terutama Ibu). Maka saya putuskan untuk mengupayakan supaya saya bisa berkumpul dengan mereka. Apakah semudah itu ? tentu tidak. Keputusan ini akan berdampak besar kedepan. Apalagi ditempat saya saat ini, semua sudah tersusun sedemikian rupa. Tinggal menjalani saja.
Seperti yang saya ungkapkan diatas, keyakinan saya sedang diuji. Banyak hal yang saya tinggalkan kelak. Karir, relasi, harta, bahkan keluarga besar (disini asal ayah ibu). Banyak hal pula yang tidak pasti akan terjadi.
Hal ini mengingatkan saya akan kondisi dahulu ketika pertama memutuskan kembali dari Jakarta ke Surabaya. Sempat menyesal, mengapa tidak berkarir di sana. Kesempatan terbuka luas, karena menjadi tempat bagi banyak perusahaan berpusat. Sedang di Surabaya rata-rata cabang dan faktanya lowongan bidang saya tak sebanyak di Jakarta.
Hal yang melegakan hati kala itu adalah, konsep bahwa rezeki tak terbatas dimana tempatnya. Termasuk apapun bentuk dari rezeki tersebut. Perlahan, saya sadari bahwa ada hal lain yang tak berwujud materi yang menjadi rezeki saya disini. Konsep ini yang saat ini sedang saya perjuangkan untuk menjadi mindset apabila kelak saya berpindah ke Jogja.
Semua juga sudah paham bahwa perbandingan upah kerja di Surabaya dan Jogja sangat berbeda. Sekali lagi hal tersebut adalah materi. Jujur saya memang butuh materi. Saya juga ingin membangun keluarga yang cukup materi kelak. Namun, rasanya rezeki utama saya di Jogja adalah waktu yang bisa saya habiskan dengan orang tua. Hal yang mungkin bagi saudara saya yang lain tidak dapatkan.
Saya ingin ayah ibu bisa seperti kakek nenek lainnya yang bisa bertemu cucu cucu nya seminggu sekali (atau tiap hari). Sering berinteraksi dengan mantunya. Ataupun merencanakan liburan bersama di akhir pekan. Benang merahnya sama, bahagiakan orang tua.
Langkah yang saya upayakan saat ini masih kecil. Perlahan. Namun saya yakin bahwa suatu saat nanti terwujud. Bismillah untuk yang akan terjadi esok dan nanti.














