Karena belum bisa bobo dan barusan banget topik tentang cowo dan relationship masih hangat diperbincangkan antara gue dan si adik, gue mau sekalian tuang di sini deh ya.
So i was once in a relationship with someone who was okay with the term "open relationship", di mana ketika dia statusnya udah punya pasangan nih, dia juga akan buka lowongan buat cewecewe lain untuk deket sama dia dan yap betul pasangannya gak ada hak buat ngelarang.
Gue dikasih taunya setelah 8 bulan jadian dan awalnya respon gue masih B aja, di iya-iyain aja meski agak rumit dan lama juga aing mencerna why he had such, for me, a coward thought. Dan di bulan ke 11 terwujudlah open relationshipnya with another girl padahal beliau masih punya gue. Hebat. Dan yaudah, karena gue gak ada hak untuk ngelarang, gue pakailah hak gue yang lain; hak untuk putus.
Well, why did i use the term "coward"?
Jadi, alasan beliau kenapa membuka akses bagi wanita baik hati dan budiman di luar sana untuk bisa mashook ke dalam hubungan orang lain (kami) adalah....... karena dia merasa berhak untuk tau juga gimana orang lain tersebut; punya gak dia sifat sifat yang disukai, punya gak dia penerimaan yg besar atas kekurangannya, punya gak dia nilai nilai sebagai pasangan yang baik, which is...... hello! :)
Duh gue males menjelaskan bagian ini. Yaudah lah ya, cewe yang tau kalo si cowo udah punya pasangan tapi kekeuh mau nyempil di tengah tuh cewe baik baik kok. Si cowo yg buka aksesnya lebar lebar supaya cewecewe bisa mashook juga wah itu juga baik bangeeeett :))
Nah, karena dia merasa fine dengan sikapnya itu, yang menerima jajaran cewecewe yg ingin dekat sama dia ini, gue bisa menarik kesimpulan dong waah kalo gini berarti aing bukan lagi jadi satu-satunya, tapi menjadi pilihan. Waah berarti aing turun kasta nih, dijejerin lagi sama cewecewe ini buat dia pilih mana yg terbaik buat dia.
WAAAAAH NI MANUSIA SOKAP?!
Oke. Memang. Suka suka dia punya prinsip kaya gitu. Tapi gue terlibat di sini. Gue melihat dia sama sekali gak mempertimbangkan kalo dia bisa kehilangan gue, sama sekali gak menghargai keberadaan gue sebagai pasangannya, sama sekali gak menghargai perjuangan gue selama ini. Monmaap, lu boleh banget punya prinsip open relationship bahkan open married sekalipun, asalkan gak bersinggungan sama gue. Apalagi sampe bersikap seolah gue pantes dijadikan pilihan setelah jalan bareng-bareng dan berkorban banyak hal. Wow makasih loh gausah repot repot.
Orang seperti ini, yang merasa dirinya pantas akan banyak pilihan, merasa layak punya deretan opsi sehingga dia selalu merasa bisa memilih satu kapanpun dan siapapun yg dia suka, lalu mengulanginya saat dia sudah cukup dan kembali membuka pilihan padahal masih bersama orang yg sebelumnya dipilih, is the real coward in my eyes.
But no, i don't hate him. Gue hanya menyayangkan prinsip yg dia anut aja. Siapapun boleh kok, punya pemikiran kaya gitu. I appreciate it, as long as i'm not in the case. You know what? I've been tired enough with my life, so if you come in with such a thought and even plan, i will happily show you the exit door.
Yang bae bae aja lah berhubungan tuh. Ya? Dunia udah sakit, udah banyak banget hal yang bikin jatuh. Jangan ditambah sengaja menyakiti orang lain lagi. Bisa ya?