"..dan kadar ilmu pada seorang hamba bergantung kepada seberapa besar pengagungannya terhadap ilmu itu sendiri."
Nasihat yang dalem & timeless untuk penuntut ilmu dari ustadz Abdullah Roy hafidzahullah ta'ala.
occasionally subtle

bliss lane
official daine visual archive
YOU ARE THE REASON
hello vonnie
Show & Tell
★
No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
No title available

Game Changer & Make Some Noise

Jar Jar Binks Fan Club
Claire Keane
One Nice Bug Per Day

No title available

#extradirty

Jimmy Eat World

gracie abrams
Noah Kahan
Interview Vampire Daily
seen from Ukraine

seen from Israel

seen from Argentina
seen from Costa Rica

seen from Indonesia
seen from Ecuador

seen from Germany

seen from Belgium
seen from United Kingdom
seen from China
seen from Colombia

seen from Puerto Rico
seen from United States

seen from Philippines

seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from Kazakhstan
seen from Puerto Rico
@bersoraksorai
"..dan kadar ilmu pada seorang hamba bergantung kepada seberapa besar pengagungannya terhadap ilmu itu sendiri."
Nasihat yang dalem & timeless untuk penuntut ilmu dari ustadz Abdullah Roy hafidzahullah ta'ala.
Bentuk penjagaan kehormatan perempuan adalah ‘diamnya’ di media sosial.
Diam dalam artian tidak sembarangan memberitahu publik mengenai dapur rumah tangganya.
Salah satu nasihat suami saat kami berboncengan malam hari menuju rumah dari belanja bulanan di supermarket terdekat, kala itu.
Pasrah
Malam ini hujan datang rintik-rintik. Sungguh syahdu, menemani mata yang mulai kriyip-kriyip. Padahal tadi udah berniat akan:
Cuci piring dan beberes dapur
Masukin piranti-piranti dapur ke storagenya masing-masing
Skincarean
Pillowtalk
Dan dari semuanya nggak ada yang terlaksana. Badan sudah terlampau lelah, energi udah habis. Mungkin efek dari pagi sampai siang tadi Haydar rewel (rupanya kembung, buibu). Sambil ngetik ini sambil menyipitkan mata.
Aduhai, setelah jadi ibu rasanya lebih mudah berdamai dengan kebiasaan menurunkan ekspektasi. Kalo banyak yang belum selesai, yaudah istirahat dan lanjut besok lagi. Nggak muluk-muluk. Nggak mau dibikin susah. Karena setelah menjalani, dengan cara inilah ibu bisa tetap waras💅🏼💆🏻♀️.
Pulang
Aku pulang, kataku dalam hati sebelum memantapkan hati memegang gagang pintu yang permukaannya berdebu dan dilumuri karat.
Bunyi pintu menyeruak ke penjuru ruangan tanpa sekat. Keheningan pun berhembus keluar dan seolah menyapa, seakan-akan tahu aku akan datang hari ini.
Tidak ada yang berjanji akan datang hari ini
Tidak ada yang berjanji untuk kembali ke sini
Bisikku pada dinding rumah ini yang masih terlihat kokoh meski catnya mulai memudar.
Aku duduk di tepi jendela sambil mengamati seisi rumah yang lekat akan aroma masa lalu, tak ubahnya isinya yang kental akan memori. Pahit, getir, bahagia, semuanya masih ada. Utuh.
Hanya satu yang tidak utuh dan sesekali hendak rubuh: aku.
Sore itu dalam diam aku tenggelam. Bersama rumah ini kami khidmat menunggu matahari yang sebentar lagi berpamitan. Tak banyak obrolan antara kami waktu itu. Rumah ini tahu aku tidak datang membawa kepastian. Rumah ini tahu aku hanya datang membawa setumpuk kegelisahan sebagai buah tangan. Tapi tetap, aku masih ditawarinya sebuah tempat untuk berbagi kenyamanan.
Dan terimalah keadaan jika kamu benar merasakan lelah. Maka istirahatlah sebentar, menepilah ke sini. Apa salahnya?
Meski sudah bertaut, terkadang kita lupa bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang berkuasa untuk membolak-balik hati dua insan.
Manusia hanya makhluk yang lemah. Dititipkan amanah berupa hati dan segenap perasaan tetapi tidak sepenuhnya mampu mengendalikan.
Jika datang padamu fase itu -dimana engkau seperti hilang kendali atas hatimu sendiri- maka acungkan senjatamu sebagai seorang hamba. Yakni dengan berdoa.
Tidak ada yang lebih baik daripada mengembalikan dan menyandarkan sesuatu kepada pemiliknya langsung, bukan?
Menyelam.
pertanyaan yang sama kembali saya ajukan kepada diri sendiri: mau sampai kapan hanya beristirahat dan enggan beranjak untuk mengembangkan diri?
hanya meratapi tumpukan karya-karya lama dan tersenyum getir.
ayolah,
menyelamlah!
“Nasihat”
—
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan berkata,
“Aku wasiatkan kepadamu (para pemuda) untuk menuntut ilmu yang bermanfaat di hadapan para ulama. Hendaknya kamu tidak menenggelamkan diri dan sibuk membicarakan keburukan manusia, ghibah, namimah, tajriih dan tasyhir (menyebar-nyebarkan kesalahan orang).
Sungguh semua ini adalah keburukan yang telah memecah belah para pemuda ummat, membuat mereka menjadi berkelompok-kelompok dan berhizb-hizb. Semuanya disebabkan CELAAN kepada manusia.
Diantara para pemuda itu ada yang kesukaannya hanya Fulan berkata begini dan Fulan berkata begitu. Engkau tidak ada urusan dengan si Fulan, Urusanmu adalah menuntut ilmu untuk mengetahui kebenaran. Adapun jika engkau sibuk menyalahkan orang lain sebelum belajar, engkau berkata Fulan berkata begini dan begitu, hati-hatilah dengan si Fulan, semua ini bukanlah manhaj yang selamat.“
(Taujiihaat Muhimmah li Syabaab al Ummah, Majmu Rasa`il, hal. 357)
Mereka adalah Laki-laki (2)
Belum selesai di sana. Semakin besar, semakin pula saya menyadari bahwa ‘kedua kakak saya adalah laki-laki yang hebat’. Mereka punya kemampuan menimbang masalah dengan sangat rasional yang baik, mereka bisa mengambil keputusan yang punya mashlahat bagi banyak pihak, mereka punya keinginan belajar yang sudah menjelma menjadi hobi mereka. Semakin hari, saya semakin ciut sebab tidak bisa sehebat mereka.
Belum selesai sampai disitu. Kesadaran tentang betapa hebatnya makhluk Allah yang Ia ciptakan sebagai lelaki itu semakin meningkat di bangku kuliah yang hakiki ini. Sistem pembelajaran di kampus yang memisahkan antara laki-laki dan perempuan di ruangan yang sama sekali jauh terpisah ini membuat sistem 'teleconference’ dilaksanakan. Kami hanya bisa melihat dan mendengar penjelasan dosen-dosen lewat layar kecil yang ada di bagian depan kelas. Dan sejak saat mengenal sistem pembelajaran ini saya semakin sadar, betapa ganasnya para thullab (mahasiswa) itu.
Saat kami para akhwat belum bisa mencerna baik-baik apa yang dosen sampaikan, mereka sudah bertanya pada dosen mengenai hal-hal yang tak sampailah pikiran kami kesana. Mereka bertanya tentang apa yang dikatakan kitab satu dengan kitab lainnya. Mereka bertanya tentang masalah-masalah yang barangkali tak akan pernah terbersit di benak kami, atau lebih tepatnya saya.
Belum belum, belum selesai. Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti sebuah kajian perdana, namanya Kajian Strategis yang diadakan oleh salah satu departemen organisasi yang saya ikuti. Karena memang saya tidak terbiasa dengan yang namanya 'diskusi’, pertemuan kemarin menjadi tempat dimana saya sadar betapa memang laki-laki dan perempuan Allah ciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. 'Ciptakan narasi baru’, 'bangun semangat perubahan’, 'raih kejayaan islam’, rasanya hidup mereka tak pernah lekang dari kalimat-kalimat visioner ini.
Saya sadar, bahwa bagaimana pun cerdasnya seorang perempuan, akal yang dimiliki oleh makhluk yang bernama laki-laki itu akan lebih tajam. Lebih melihat kedepan. Lebih logis dan realistis. Dan saya, sebagai seorang perempuan, sama sekali tidak ada apa-apanya di bidang ini. Saya sadar, bahwa bagaimanapun, laki-laki dan perempuan punya spesialisasinya masing-masing, yang mana islam sudah mengatur hak dan kewajiban mereka dengan sedemikian sesuai dengan porsinya.
Ingat kisah Nabi Sulaiman dan Ratu negeri Saba’? Saya kira itu bisa jadi salah satu referensi bagaimana cara laki-laki dan perempuan bekerja. Nabi Sulaiman, cepat sekali mengambil keputusan saat mendengar kabar yang dibawa oleh burung Hud-hud.
“Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan” (An Naml: 28)
Sedangkan saat Ratu negeri Saba mendapat surat dari Nabi Sulaiman, beliau membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengambil keputusan. Salah? Bukan, tapi memang laki-laki dan perempuan punya titik-titik perbedaan. Itu saja.
Lalu, apa yang sebaiknya seorang perempuan lakukan?
(25/02/19)
This.
[Di Bawah 3,3]
Sebagai orang yang biasa-biasa saja dalam bidang akademik, saya tidak kecewa ketika melihat IPK saya, saya sadar diri sih lebih tepatnya.ehehe
Entah kenapa dari awal kuliah saya tidak pernah terpaku dengan IPK yang harus diatas 3,5. Yang penting saya sudah berusaha, hasilnya nanti diserahin ke Allah.
Saya juga tidak mau memaksakan kemampuan saya, saya lebih ingin menikmati hidup sebagai mahasiswi. Mahasiswi yang punya banyak kenalan dari organisasi yang saya ikuti.
——————————
Selepas lulus kuliah, saya menjalani rutinitas seperti orang-orang biasanya. Mencari kerja.
Masukin CV ke beberapa perusahaan, di tolak di beberapa perusahaan juga (hehe) entah sudah berapa CV, foto, dan copyan ijazah yang saya sebar ke beberapa perusahaan. Paling mentok tuh sampai interview doang. Setelahnya ya gitu (hahaha)
Pernah saking downnya di tolak di banyak perusahaan saya mikir “mungkin IPK saya terlalu rendah?” Saya juga sempat menyesal kenapa sih saya ga fokus akademik aja waktu kuliah, kenapa sih waktu kuliah ga gini, ga gitu. Dan beberapa alasan yang mendukung saya untuk lebih down lagi.
Tapi saya berpikir, kalau saya seperti ini terus bagaimana saya bisa berhasil? Saya kembali bangkit dengan mencoba lagi melamar pekerjaan sana-sini. Tapi hasilnya nihil.hehe
Saya kembali merenung, apasih yang buat saya gagal terus?
CV sudah dibuat semenarik mungkin, saya juga selalu menonton channel agar bisa mengembangkan diri saya lebih baik lagi, berharap HRD memberikan saya kesempatan bekerja.
Hasilnya…..
Masih gitu-gitu aja.
Sampai satu hari saya merenung “apa sih yang membuat saya gagal terus untuk mendapat pekerjaan?”
Saya mendapatkan jawabannya ketika ada suatu tragedi yang sukses membuat saya sadar, bahwa apa yang selama ini saya lakukan belum berjalan dengan semestinya.
Saya berusaha memperbaiki kesalahan itu, dan Alhamdulillah anak dengan IPK 3.11 ini diberi kesempatan untuk mengikuti seleksi salah satu perusahaan BUMN, hingga saya Alhamdulillah sekarang sudah sampai ditahap wawancara psikologi. Mengalahkan orang-orang yang mempunyai IPK 3.5 keatas.
————————-
Dari pengalaman saya ini, saya berniat untuk membuat sebuah project buku “Di Bawah 3,3”
Saya ingin membuktikan pada anak-anak muda di Tanah Air, bahwa “Kesuksesan itu milik semua orang yang mau berusaha dan berdoa”
Kita yang punya IPK dibawah 3,3 pun BERHAK sukses. Karena kesuksesan bukan hanya milik mereka yang punya IPK 3,5 keatas.
Untuk menjalankan project ini, saya butuh bantuan kalian untuk reblog atau share informasi tentang project ini, agar mereka yang telah merasakan manisnya kesuksesan namun dulunya punya IPK hanya 3,3 kebawah dapat berbagi kisah inspiratif melalui project ini dengan mengisi form
Project ini dibuat sebagai inspirasi anak-anak muda di Indonesia yang terlalu terpaku dengan IPK yang harus diatas 3,5. Dengan project ini,
Bantu saya menemukan 100 orang tersebut untuk menjalankan project ini.
Kalau ada yang ingin kalian tanyakan ttg project ini, kalian bisa langsung tanya saya dengan menggunakan fitur Ask atau Message yah:)
Atau kalian bisa langsung follow ignya @dibawah3.3 untuk mengetahui secara detail apa sebenarnya project di bawah 3,3 itu?
Yuk menjadi contoh yang baik!😊
“Kuliah, pusing. Mau nikah aja.”
“Kerja, pusing. Mau nikah aja.”
“Nanti nikah pusing juga, mau nikah lagi?”
Bukan. Bukan begitu. Menikahlah bukan karena lelah dari kehidupan. Tapi menikahlah karena butuh diringankan dan meringankan beban pada saat yang sama.
Bukan. Bukan begitu. Menikahlah bukan karena ingin lari dari kenyataan. Tapi menikahlah karena ingin saling menguatkan hadapi kenyataan.
Bukan. Bukan begitu. Menikah bukanlah tentang kamu saja yang harus dijaga perasaan dan dibahagiakan hidupnya. Menikah adalah tentang sama-sama menjaga perasaan dan sama-sama membahagiakan.
Menikah bukanlah pelarian yang akan melepas beban-beban hidupmu. Menikah adalah tentang penyatuan dua kekuatan untuk membawa beban yang sudah ada sebelumnya. Menikah adalah tentang berkawan, saling berbagi dan menerima. Menikah adalah tentang membangun masa depan dan mencapai impian sama-sama.
Maka bayangkan, apa jadinya bila dua orang yang saling lari dari kenyataan hidup kemudian bertemu dalam satu bingkai pernikahan? Ya, barangkali mereka akan saling melarikan diri pada akhirnya.
— Taufik Aulia
Ini konsepnya baru dua manusia. Juga diingat menikah itu mengikat dua keluarga (besar). Jangan fokus pada kehidupan berdua saja ;)
Just thinking about people making year-end summaries of their accomplishments and also about reasons to keep yourself alive through the next year. Sorry, it’s a bit of a sappy comic.
[ patreon | commissions | eevachu.com ] do not remove comment
Ingin menangis :)
Yang kurasakan kemampuan kita untuk tak mudah membandingkan diri dengan orang lain adalah salah satu sebab akibat dari pahamnya kita akan konsep qadar, rizq, dan penerimaan.
Saat kita paham bahwa ketetapan Allaah adalah mutlak, tak bisa diganggu gugat kecuali pada beberapa hal itupun hanya jika Ia mengizinkan, maka saat itu kita akan lebih mudah menerima.
Saat kita mengerti bahwa rezeki tak pernah sama, butuh diupayakan dan butuh disyukuri, saat itu pula kita sungguh mengerti bahwa antara kita dengan makhluk lain tak perlu ada perbandingan.
Satu satunya parameter yang layak menjadi bahan perbandingan serta evaluasi diri kita adalah diri kita di hari kemarin dan masa lalu.
Lalu, pemahaman tentang konsep diatas adalah rezeki. Karenanya, jangan lupa untuk pada Allaah agar diberikan hati yang paham dan mudah mengilmui setiap keadaan yang kita alami.
QLC
Di rentang usia ini, kita akan dihadapkan pada kebingungan meniti karir. Bertanya-tanya tentang pekerjaan apakah yang tepat untuk kita jalani seumur hidup. Di tengah kebingungan tersebut, ada banyak kesempatan yang datang silih berganti. Kesempatan yang kamu tahu, penuh dengan pengorbanan, tinggal kamu mau berkorban atau tidak.
Ada juga orang-orang yang memanfaatkan kebingunganmu dengan menyediakan janji bahwa kamu bisa menjadi blablabla dengan mengikuti jejaknya. Seolah-olah, dengan menjejaki jalan yang sama kamu pasti akan menjadi sepertinya.
Jangan terlambat menyadari bahwa akar dari kebingunganmu adalah karena kamu tidak mengenal dirimu sendiri, apa yang sebenarnya kamu cari?
Di rentang usia ini, selalu temukanlah alasan paling mendalam mengapa kamu menjalani pekerjaan yang ada saat ini. Alasan-alasan yang mungkin tidak lagi terikat dengan duniamu, tidak terikat dengan dirimu.
Seperti kamu bekejar untuk membantu keluarga, membantu adik, membantu orang lain, dan hal-hal di luar dirimu. Saat itu kamu tahu, bahwa pekerjaanmu saat ini benar-benar mengalahkan egomu. Dan pertarungan antara egomu dan keadaan itulah yang membuatmu bimbang, kan?
Di rentang usia ini, selalu temukanlah alasan untuk bersyukur meski sulit. Dalam keadaan sulit, keadaan yang tidak sesuai dengan ekspektasi dan kehendak hati, bersyukur adalah hal yang tidak mudah. Tapi justru sebenarnya di situlah letak jalanny, bagaimana membuat hati kita lebih tentram dalam menjalani kebingungan ini.
Pernah tidak kamu mensyukuri hal-hal lain di luar kebingunganmu soal pekerjaan?
Orang tua yang utuh, tidak bercerai meski kamu masih bersitegang soal masa depan dengannya. Finansial keluarga yang cukup bahkan lebih sehingga kamu tidak perlu pusing memikirkan keuangan saat menempuh pendidikan. Pendidikan dalam keluarga spt moral dan agama yang baik dari orang tua, sebab mereka cukup paham tentang itu dan itu menjadi bekal kepribadianmu saat ini. Tidak terlilit hutang sampai menceria-beraikan impianmu untuk berkorban lebih bagi keluarga. Menikah dan mendapati pasangan yang baik, yang mendukung tujuan-tujuanmu. Mental yang sehat dan lingkungan yang kondusif untuk terus bertumbuh.
Pernah tidak di tengah kebingungan soal pekerjaan, kita berhasil menempatkan rasa syukur kita tersebut? Sesuatu yang mungkin tidak pernah dimiliki oleh orang lain saat ini, di saat kita mengalami fase yang sama. Yogyakarta, 11 Januari 2019 | ©kurniawangunadi
“Waktu yang paling baik untuk menghafal adalah waktu sahur, waktu pagi untuk penelitian, tengah hari untuk menulis, dan malam untuk menelaah serta mudzakarah (mengulang).”
— Imam ibn Jama’ah
Stop worrying about what other people think of you. Worry about who you actually are. When your Lord raises you on the day of judgment, He will not be swayed by public opinion. He knows who you are without the titles and likes. So focus on building your character instead of your reputation.
Omar Suleiman
This..
Strive to make a habit of these before bed every night.
Sleep with a clean heart and mind, forgive the ones who wronged you and set your matters straight. Make amends with anyone on bad terms with you because death does not announce its arrival.
Make wudu.
Pray witr (or pray before fajr).
Dust the bed.
Recite Surah Al-Mulk.
The Prophet ﷺ said: “There is a soorah of the Qur’an, with thirty verses, that interceded for a man until he was forgiven; it is ‘Soorah Tabaarak Alladhi bi yadihi’l-mulk (Blessed is He in Whose Hand is the dominion)’ [al-Mulk 67:1].” - Abu Dawood (1400)
Recite the last two verses of Surah Al-Baqarah.
The Prophet ﷺ said: “Whoever recites the last two verses of Soorat al-Baqarah at night, they will suffice him.” - Muslim (2714).
Recite the last three Surahs of Quran
It was narrated from ‘Aa’ishah (may Allaah be pleased with her) that when the Prophet ﷺ went to bed every night, he would hold his hands together and blow into them, and recite into them Qul Huwa Allaahu Ahad, Qul a’oodhu bi rabb il-falaq and Qul a’oodhu bi rabb il-naas. Then he would wipe them over whatever he could of his body, starting with his head and face and the front of his body, and he would do that three times. Narrated by al-Bukhaari (5017).
Recite Aayat al-Kursiy (al-Baqarah 2:255).