advntn.blogspot.com
NASA
One Nice Bug Per Day

No title available

blake kathryn
🪼

Discoholic 🪩
AnasAbdin

❣ Chile in a Photography ❣
$LAYYYTER
taylor price

pixel skylines
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
noise dept.
Jules of Nature
Game of Thrones Daily

JBB: An Artblog!

No title available
dirt enthusiast

祝日 / Permanent Vacation

Origami Around

seen from United States

seen from Spain

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Netherlands

seen from Canada

seen from United States
seen from Ecuador

seen from United States
seen from South Africa

seen from United States

seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Japan
seen from Vietnam

seen from Bahamas

seen from Netherlands
@bijiduren
advntn.blogspot.com
Tanah Perjanjian
Hari ini bukan haru yang hangat, bukan juga yang cerah. Kemarin perkiraan cuaca berkata bahwa kemungkinan hujan hari ini 100%. Dari dalam kamarku kulihat langit juga abu-abu, walau tak kudengar suara hujan. Cuaca yang menyenangkan untuk lanjut tidur. Tapi aku ada janji.
Sejak minggu lalu Roh Kudus mendorongku untuk pergi ke Göttingen. Itulah kota yang Tuhan katakan kepadaku sekitar 2 atau 3 tahun lalu. Saat itu aku tak tahu itu apa, tapi setelah tahu itu nama kota di Jerman, perjalananku benar-benar dimulai. Well mungkin aku bisa tuliskan tentang itu lain kali.
And here I am now, mendarat dengan selamat di Göttingen dari keretaku. Aku pergi ke gereja St. Johannis untuk naik ke menaranya. Simply pengen liat calon kotaku ini dan aku emang suka ketinggian. Dan inilah yang kulihat dari ketinggian sekitar 60an meter.
Kecil dan tenang. Bukan kota besar dengan gedung tinggi dan kereta bawah tanah yang cepat. Tapi apa lagi yang kubutuhkan selain tau apa yang Tuhan inginkan dan tau bahwa Dia menyertaiku? Dari ketinggian kuberkati kotaku, dan dengan iman kuterima janji-Nya.
Hari ini aku pergi mengintai tanah perjanjianku, seperti bangsa Israel mengirim 12 pengintai ke tanah Kanaan (Bilangan 13-14). Hanya Yosua dan Kaleb, 2 orang dari ribuan orang di generasinya yang dapat menerima janji Tuhan. Kenapa? Tuhan bilang, pada Kaleb ada jiwa yang lain dari yang lain. Ia mengikut Tuhan dengan sepenuhnya (Bil 14:24). Bukan raksasa di Kanaan yang mereka lihat, tapi janji Tuhan. Sesungguhnya pada hari itu mereka sudah menerima tanah yang dijanjikan Tuhan, meskipun mereka belum benar-benar mendapatkan secara fisik. Mereka sudah menerimanya dalam iman. Dan kita sama-sama tau ending ceritanya.
Mereka benar-benar menerima, apa yang sebelumnya telah diterima oleh iman mereka.
Aku juga mendatangi ke Fakultas Kedokteran Uni Göttingen, tempat yang akan kudatangi lagi dalam waktu 6 bulan sebagai mahasiswa terdaftar Medizin Göttingen.
Uni Kedokteran terbaik ke-9 di Jerman, ke-99 di dunia. Siapa aku, orang asing yang baru kenal bahasa Jerman sekitar 2 tahun dan udah sakit kepala liat buku-buku tebal? Dan satu lagi. Ada satu lagi Informasi penting. Ini adalah satu-satunya kemungkinanku untuk mulai kuliah di Summer Semester 2018. Satu-satunya.
Tapi aku tak mau mengulangi kesalahan 10 dari 12 pengintai Israel.
10 dari 12 pengintai Israel berkata: “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.”
Dan mereka lah orang-orang yang tidak mendapatkan apa yang menjadi bagian mereka.
Bukan karena Tuhan tidak setia, tapi karena mereka menolak Dia. Mereka percaya pada apa yang mereka lihat dan bukan apa yang Tuhan katakan.
Aku menolak mengulangi kesalahan 10 dari 12 pengintai itu. Aku memilih Tuhan dan cara pandang-Nya.
Janji Tuhan bukanlah alasan untuk santai dengan dalih endingnya akan indah. Tapi sebaliknya, alasan untuk berlatih semakin keras, berlari semakin cepat dan bertahan semakin kuat.
Kau bukan gagal. Kau membangun fondasi.
Intimidasi berkata kau gagal. Tuhan bilang kau membangun fondasi. Fondasi ada di bawah tanah, tak terlihat, tapi menentukan ketinggian.
Ada pekerja yang tak melihat pertumbuhan ke atas, karena ia adalah pembangun fondasi. Pekerjaannya tidak tergantung perasaan.
Bukan bersemangat karena melihat pertumbuhan, tapi karena kesetiaan. Tidak berhenti karena mata tak melihat, tapi bergerak dalam kepercayaan.
Dalam kegelapan ia dapat bergerak maju. Mata tak melihat, tapi imannya tidak buta. Ia tau siapa yang Ia percaya.
Kalau aku tak bisa terbang, aku akan berlari. Kalau aku tak bisa berlari, aku akan berjalan. Kalau aku tak bisa berjalan, aku akan merangkak, aku akan menarik tubuhku, apapun selama aku tak berhenti.
Seperti Musa yang tak ikut menyeberang sungai Yordan, tapi mendapat kasih karunia melihat tanah perjanjian, seperti itulah aku bahagia melihat mereka.
Tuhan baik. Tuhan baik. Sekitar setahun lalu, 10 hari sebelum kutinggalkan Salatiga, Tuhan ijinkan aku melihat-Nya menanam bibit bernama "Daughters" di sana. Dia hanya berkata, "Aku yang mengambil tanggung jawabmu di sini. Kerjakan tugasmu di sana."
Berbagai macam ketakutan ada di kepalaku saat kutinggalkan mereka, bahkan sampai hari ini. Tapi saat ini pun aku bisa melihat, Tuhan masih bekerja.
Ada yang menanam, ada yang menyiram, tapi tetap Tuhan yang memberi pertumbuhan.
Jika Kau suruh aku menanam, Tuhan, cukup bagiku mengetahui bahwa Kau tetap memberi pertumbuhan. Cukup bagiku Tuhan, melihat bibit itu bertumbuh.
Pohon di Tepi Air
“Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!” (Yeremia 17:7)
“Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:8)
Mari kita lihat kebalikannya.
“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, yang hatinya menjauh dari pada Tuhan! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.” (Yeremia 17:5-6)
Well, aku sudah membuat tabel perbandingan untuk keduanya. Semoga kalian bisa membaca tulisanku XD
Tolong ya gausah ketawa liat gambarku yang bagus banget. Dia bertugas mengingatkanku akan ini.
Suatu hari (tepatnya hari ini) aku mendapat nilai 2 di salah satu kelas. Sebagai info, di Jerman ada nilai 1-6. Untuk lulus dibutuhkan nilai 4 dan nilai yang terbaik adalah 1. Untuk kuliah kedokteran dibutuhkan nilai yang katanya sebaiknya perfect alias 1 semua. Aku cukup gemes mendapat nilai 2 hanya karna aku melakukan kesalahan bodoh di ujian pertama. Kesalahan bodoh dan sangat mudah dihindari. Well.
Setelah itu aku mengerjakan ujian lain. Dan terulang lagi. Soal yang sulit bisa kukerjakan, tapi di soal yang mudah aku melakukan kesalahan lagi. Das geht nicht!
Semakin aku ingin sempurna, semakin aku tak bisa meraihnya. Aku mau menghindari setiap milimeter kesalahan, tapi yang kulakukan adalah menciptakan kesalahan lain. Aku pikir aku harus melakukan semua dengan sempurna. NO. No one makes no mistake. Aku berpikir aku harus melakukan semua seperti yang kurencanakan untuk mencapai tujuanku.
HEY! Darimana asa mulanya mimpimu? Ide siapa itu sebenarnya?
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10)
Di titik itu, saat aku menyadarinya, aku hanya bisa diam. Rekaman di otakku terputar seperti film yang cepat. Semua ini mulanya dari-Nya. Aku tak akan lupa. Dia yang membisikkan setiap rencana liar-Nya: Jerman, dokter, rumah sakit, cancer-center, sekolah.
Dan kupikir aku bisa merealisasikan mimpi-Nya dengan kekuatanku sendiri dan tanpa-Nya?
Dia bisa merealisasikannya tanpaku. Tapi aku? HAHA.
Betapa rendahnya nilai sempurna di kelas jika dibandingkan dengan visi yang Tuhan tanamkan dalam hatiku. Untuk apa aku memasang nilai 1 sebagai tujuanku, ketika tujuanku jauh lebih besar dari itu? Mendapat nilai sempurna dan jadi dokter bukanlah tujuan akhirku. Setidaknya setelah itu masih ada rumah sakit, cancer-center dan sekolah. Entah apakah itu tujuan akhirku atau masih ada lagi setelahnya, tapi yang pasti mendapat nilai sempurna bukanlah hal yang harus kuletakkan di pusat fokusku.
Kabar baiknya adalah, Ia yang telah memulai, adalah yang juga akan bertanggung jawab menyelesaikan. (Read Filipi 1:6)
Adalah baik, bahwa aku terbatas. Jika rencana-Nya terjadi, maka semua akan melihat, bukan Nina yang terbatas yang mengerjakannya, tapi Tuhan yang tak terbatas.
Umweg
Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negerio rang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: “Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.” Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir. (Keluaran 13:17)
Dalam bahasa Indonesia “Umweg” berarti jalan memutar; bukan jalan yang langsung menuju ke tujuan. Kenapa aku pakai kata “Umweg” sebagai judul? Sesimpel itu lebih bagus dari pada “Jalan Memutar” sih. *skip
Yak.. Jadi itulah rute yang ditempuh bangsa Israel dari tanah Mesir ke Kanaan. Coba tarik garis dari titik awal perjalanan bangsa Israel ke titik akhirnya. Harusnya cuma sependek itu sodara, tapi mereka harus melalui umweg yang jauuuuh banget.
Apa Tuhan nggak bisa bawa bangsa Israel langsung sampai ke tanah perjanjian? Doch, bisa banget. Tapi kenapa jalan itu yang Tuhan pilih? Itu sama dengan pertanyaan ini: Apa Tuhan nggak bisa bawa kamu langsung sampai ke destinymu tanpa melalui perjalanan panjang tralala itu? Bisa banget. Tapi kenapa Tuhan pilih jalan panjang itu?
Tuhan mau berjalan bersamamu.
Seperti Tuhan nggak mau bangsa Israel kembali ke Mesir, Dia juga nggak mau kamu kembali hidup di masa lalu. Dia mau kamu hidup di hari ini. Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Hidup lamamu sudah kamu tinggalkan. Dia punya yang lebih indah untukmu. Mungkin hidup lamamu terasa lebih indah, tapi percayalah kau belum tau keindahan yang Tuhan siapkan di depan.
Tuhan mengenalmu lebih dari siapapun, bahkan dari dirimu sendiri. Contohnya Tuhan bilang kamu adalah orang yang berani, tapi kamu merasa kamu adalah orang yang penakut dan penuh kekuatiran. Tuhan nggak ciptakan kamu begitu. Iblis yang merusak gambar yang Tuhan ciptakan dalam dirimu. Di perjalanan ini, gambar itulah yang mau Tuhan kembalikan dalam dirimu agar di garis finish kau sudah jadi seperti yang Tuhan rencanakan ketika menciptakanmu.
Kalau ada 2 orang yang bersahabat dan saling kontak setiap hari, pasti ada pengaruh yang diberikan satu orang ke yang lainnya. Itu terjadi karena ada kontak intens. Bahkan banyak orang bilang, kalau orang selalu dekat, mereka bisa jadi mirip. Itulah yang dicari Tuhan. Kontak intens denganmu untuk merubahmu jadi pribadi yang Dia sudah rencanakan.
Pagi ini Tuhan tunjukkan seperti ini sama aku. Aku berjalan berdua aja sama Tuhan di jalan yang panjaaang gitu. Mungkin emang dasarnya aku suka ngobrol, di jalan itu aku ngobrol sama Tuhan. Aku mulai terbuka sama Tuhan. Aku kasih tau lukaku, sedihku, hal-hal yang bikin aku seneng dll. Setiap barang yang jelek, diganti Tuhan dengan yang bagus. Setiap luka, diobati. Pokoknya semua yang nggak bagus diganti sm Tuhan. Aku emang belum sampai di garis finish, tapi Tuhan tunjukkin jalan yang udah aku lewati.
Dia bilang “Kamu liat tempat itu? Dulu di situ kamu minta Aku sembuhin lukamu. Trus abis itu kamu seneng gitu. Nah kalo yang di situ, dulu kamu nangis-nangis, nggak mau jalan lagi. Kamu pengen keluar aja dari renana-Ku. Katamu kamu mau pilih pilihanmu. Tapi sekarang kamu di sini. Nah, liat yang itu? Di situ dulu kamu takut. Trus itu, agak maju dikit, di situ dulu kamu bilang nggak sanggup. Kalau di situ dulu kamu mau pergi sendiri, trus nangis bilang Aku yang pergi. Mana ada coba? Lihat, sekarang kamu udah jauh berbeda dari kamu waktu pertama kali kenal aku.”
He changed me!
Aku Ingin di Rumah
Siapa yang tak ingin ada di tempat yang aman dan nyaman? Untukku, tempat itu disebut rumah. Tempat dimana aku merasa aman, bisa bersantai-santai, bisa menemukan orang-orang yang kucintai. Dan kriteria paling penting untuk tempat yang kuinginkan adalah tidak ada masalah sehingga aku bisa leyeh-leyeh.
Tapi, apa iya itu tempat dimana Tuhan ingin menempatkanku? Atau kau?
Bukan.
Tuhan ingin dikenal lebih dari sekedar Tuhan yang menyediakan matahari di pagi hari dan bulan di malam hari.
Dan tempat yang nyaman bukanlah tempat yang tepat. Siapa yang merasa butuh perlindungan saat keadaan aman? Siapa yang merasa butuh ketenangan saat keadaan memang sudah tenang?
Dia ingin dikenal sebagai bapa, sahabat, saudara, penghibur, pembuat mujizat, seseorang yang tidak mengenal keterbatasan, yang suka membuat kejutan, sebagai segalanya untukmu.
Dia mencintaimu dan Dia ingin kamu tau bahwa kamu dicintai. Dia ingin mencintaimu sebagai siapapun dan memberi cinta yang tidak ada pada siapapun.
Dia ingin memayungimu di saat hujan. Dia ingin menghangatkanmu di hari yang dingin dengan matahari. Dia ingin menyejukkan saat panas dengan angin. Dia ingin mencegahmu terjatuh. Dia ingin meloloskanmu dari jerat. Dia ingin kamu lihat bagaimana Dia mencintaimu.
Dia bisa saja diam-diam melindungimu. Bahkan mungkin itu pernah terjadi. Tapi pertanyaannya, kalau kau nggak pernah mengalami masalah karena Dia sudah mencegah semua masalah terjadi, apa iya kau akan tau Dia yang melakukannya?
Apa iya kau akan tau kalau Dia mencintaimu?
Mungkin malah tanda cinta-Nya terabaikan.
Footprint #2 - #7
Hari ini tanggal 13 Februari 2017. Ini sudah sangat sangat lama sejak Footprint #1. Saat itu anak kecil ini masih di Surabaya, penuh keraguan dan ketakutan, apakah semua akan lancar dan baik-baik saja. Belum mengurus Visa, belum ujian, masih bertanya-tanya “apa yang ada di masa depan?” Tak peduli pada keraguanku, Tuhan berkata bahwa Ia berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Dan aku mengambil keputusan untuk bertindak seperti Abraham. Percaya. Karena hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran, dan kami memiliki Tuhan yang sama.
Enam bulan kemudian…
Duduk di dalam kereta meninggalkan Hamburg menuju Nordhausen, ratusan scene kehidupanku terulang di ingatanku. Aku meninggalkan Hamburg. Rasanya baru kemarin aku memasuki kota ini, sekarang sudah kutinggalkan, tapi ada yang kubawa dan kutinggalkan. Aku meninggalkan jejak kakiku bersama Tuhan dan membawa ingatan bahwa Tuhan menyertaiku. Kadang aku merasa perjalananku masih jauh, ini masih sulit, ini belum ada apa-apanya, tapi kemudian aku ingat apa yang Tuhan kerjakan dalam hidupku.
Inilah…
Footprint #2: Motivation letter jadi
Aku nggak bisa menulis apa yang bukan benar-benar motivasiku, yang bukan benar-benar tujuan dan mimpiku. Aku nggak bisa menulis di mana aku mau sekolah, kalo aku belum berdoa dan mendengar ‘ide‘ Tuhan. Berminggu-minggu aku bergumul dan mulai ragu apa aku sungguh-sungguh punya tujuan jelas untuk ke Jerman. Mencoba berbagai macam cara buat nulis dan nggak berhasil. Aku nggak percaya aku blogger.
16 September 2016
Empat jam duduk di perpustakaan dan tiba-tiba mulai menulis dalam bahasa Jerman. Dan tiba-tiba jadi. Bahagia banget.
Dan di hari yang sama…
Footprint #3: Account Bank opened
23 Agustus 2016
Perjalanan Surabaya-Jakarta dengan kereta semalaman. Ketemu mama papa dengan bahagia di kereta. Pagi-pagi ke kedubes, dan ditolak. Okay. Okay. Gapapa banget. Banget.
29 Agustus 2016
Jemput papa mama di stasiun Surabaya. Dokumen masuk dengan lancar di konsulat Surabaya.
16 September 2016 (beberapa menit setelah FP #2)
Masuk ke belasan September bener-bener bikin sakit perut karena akun belum juga diterima dan akhir bulan harus membuat visa. Tiba-tiba email datang: akunku diterima!
Footprint #4: Lulus B1
23 September 2016
Ujian yeah.
28 September 2016
Percayalah, aku lulus dengan mujizat. Semua nilaiku lebih bagus dari perhitungan dan perkiraan. :“)
Footprint #5: Visa (the most deg-degan moment ever)
29 September 2016
Sepanjang perjalanan berdoa biar nggak ditolak di Kedubes lagi. Udah nggak pengen ditolak. Beneran nggak pengen ditolak, nggak pengen dibentak juga. Dan kau tau apa? Nggak ada satu pun kekuatiranku yang terjadi. Petugasnya ramah, dokumen lengkap, proses cepet dan nggak ada masalah. Aku bahkan nggak ditanya apa-apa. Keluar ruangan visa dengan terheran-heran, “apa itu barusan?“
28 Oktober 2016
Menurut pengalaman temen, harusnya hari ini Visa jadi. Aku udah beli tiket tanggal 5 November. Tolong!
3 November 2016
Nggak ada kemungkinan berangkat tanggal 5! Cancel tiket pesawat. Bayangin aja rasanya.
4 November 2016
Hari ini ada demo 412 di bunderan HI. Papa udah seneng karena aku hari ini nggak ke Jakarta (kalo visa jadi, harusnya ke Jakarta) Aku? Flat aja sih. Didn’t know how to feel and react. Waktu makan malam tiba-tiba dapet email dari ABH Jerman. Dia bilang visaku disetujui! Bayangin aja rasanya.
Malemnya langsung urus tiket nggak jadi dibatalin tapi diundur sampe tanggal 10, dengan iman visa sudah keluar sebelumnya. Masih harus dengan iman lagi.
7 November 2016
“Memberitahukan bahwa visa Anda sudah selesai. Anda dapat menyerahkan paspor dan ……..“
Huaaaaaaaaa
Satu hal yang penting di sini. Tuhan nggak pernah bohong, nggak pernah juga terlambat. Mungkin aku bisa bilang ke Tuhan “coba kalo Tuhan bikin lebih cepet dikit, aku kan nggak pake repot ngubah-ngubah tiket pesawat”, tapi kau tau apa, yang Ia lakukan adalah melindungiku dari bahaya demo (yang ternyata rusuh), mengijinkan aku ikut melayani (terakhir kali untuk bertahun-tahun) di retreat SMA, mengijinkanku pamitan dengan keluarga besar, dan mengijinkan temen-temen nganter ke bandara. Dia tak pernah bohong, tak pernah terlambat. Waktunya selalu yang terbaik.
Footprint #6: Deutschland!
10 November 2016
Banyak banget hal yang terjadi di hari ini. Aku pengen ngakak kalo inget. Pergi dengan pesawat paling pagi, bukannya cepet-cepet check in eh malah foto-foto dulu sama yang nganterin. Telat. Oke. Baiklah. Dan puji Tuhan dikasih ganti. Masih ada pesawat lain yang belum penuh sejam kemudian tapi mendarat di bandara yang lain di Jakarta. Kau tau apa? Ternyata di Jakarta macet padahal aku harus cepet-cepet banget ke kedubes dan bandara ini lebih deket ke kedubes. Kalo aku di bandara awal mungkin aku telat.
Tuhan, *cry* thaaanks
Hey, nggak usah protes kalau tiketmu dibatalkan. Jangan-jangan Dia sedang menyelamatkanmu. Dia kan yang bisa melihat arus ‘lalu lintas‘ dari atas.
Singkat kata, aku terbang ke Jerman dan tiba tanggal 11 November 2016 pukul 10.10 di Hamburg. Sebuah perjalanan yang baru, dimulai.
Footprint #7: Studienkolleg
Ini jejak yang paling dalam berbekas di hatiku. Tamparan yang keras, haha.
Aku sempat mengalami guncangan iman (lagi), ketidak percayaan melanda. Aku takut apakah aku bisa mulai Studienkolleg di semester ini (Summer Semester 2017) atau harus menunggu satu semester lagi. Aku bener-bener nggak siap menerima penolakan di semester ini dan aku nggak percaya apa Tuhan akan memenuhi perkataan-Nya bahwa aku mulai di semester ini. Pikiran itu bikin aku sempet “hilang“ (cek post-> HILANG)
31 Januari 2017
Ini jadwal ujian Studienkolleg pertamaku: Nordhausen. Aku hanya berpikir kalo aku nggak siap ditolak di sini. Hari sebelumnya tiba-tiba aku sakit hanya karena aku minum kopi sebelum sarapan. Luar biasa. Malamnya aku cuma bisa tidur 1 jam. Aku tak percaya ini semua terjadi (hahaha). Tapi anehnya sebelum ujian aku sudah merasa aku akan lolos. Mungkin kepedean banget.
3 Februari 2017
Pengumuman: aku diterima! Dan yang Tuhan bilang adalah “kok koe ra percoyonan to?” (Kenapa kamu nggak percaya?) Aku langsung nangis, minta ampun. Aku nggak pernah dikecewakan. Tuhan nggak pernah melanggar satu pun perkataan-Nya, nggak pernah terlambat, nggak pernah mencelakakan, tapi aku yang nggak percaya.
Tanggal 3 Februari 2017 imanku diperbaharui.
Mungkin aku kurang ajar karena baru bisa beriman lagi setelah Tuhan kasih hadiah, tapi inilah perjalanan imanku. Hari ini imanku diperbarui Tuhan.
Tuhan sudah berjalan di depanku dan menyediakan jalan yang harus kulalui, tapi aku belum melihat dan berjalan di atasnya.
Sejak hari itu, untuk setiap permasalahanku aku selalu berkata “Tuhan sudah punya jalan keluarnya“, karena memang begitu adanya.
Yap, inilah sebabnya aku meninggalkan Hamburg.
Jujur, selama ini aku nggak menulis Footstep karena aku takut, apakah footstep selanjutnya akan kutulis, apakah langkah selanjutnya akan selancar Footstep kali ini, dsb. Aku nggak pengen menulis lalu ditanyai, sudah sampai sejauh apa aku sekarang. Aku nggak yakin pada Kaptenku.
Hari ini? Aku sudah menulis perjalanan sampai hari ini dan bisa tertawa tentang masa laluku. Menertawakan seberapa bodohnya aku yang nggak bisa mempercayai Tuhan yang setia.
Sekarang aku berjalan dengan iman yang baru!
Hilang
Ternyata seseorang bisa merasa kehilangan dirinya sendiri. And I used to feel that. Selama berhari-hari aku merasa kehilangan diriku sendiri. Rasanya seperti zoombie. Bergerak tapi diam. Tertawa tapi sedih. Ramai tapi sepi. Hidup tapi mati.
Aku tak tau kalau rindu bisa semenyiksa itu. Semua bermula sejak aku ulang tahun. Banyak orang menelponku, dan itu sangat sweet untukku. Tapi aku menangis hampir di semua video-call. Rasanya aneh berulang tahun tanpa ada yang bisa kupeluk cium. I felt so bad.
Aku bahkan melalui ujianku dan mendapatkan hasil yang baik dengan tanpa perasaan. Flat. Seneng tapi biasa aja. Oh. Udah gitu aja. Aku jalan-jalan ke tempat keren, foto-foto, trus yaudah.
Lalu seseorang spesial menelepon dan dia bilang dia kehilanganku. Aku tau.
“Kamu harus lebih jujur nin.” “Sama siapa?” “Sama dirimu sendiri.” BOOM
Benteng pertahananku roboh. Ternyata itu. Ternyata aku sok kuat. Aku bilang pada diriku sendiri dan pada Tuhan kalau aku kuat. Aku merasa hidup sendiri, sehingga aku harus kuat dan unabhängig. Ternyata aku membangun tembok dan tak ingin terlihat lemah. Ternyata itu.
Tuhan memang menyertaiku untuk menang. Tapi menang dalam penyertaan Tuhan. Kalau manusia bisa melakukan segala sesuatu dan nggak punya batasan, manusia nggak nyari Tuhan. Kenapa Daud kecil dan Goliat besar? Agar Daud tau, Daud tidak bisa berperang sendiri melainkan harus bersama Tuhan yang lebih besar dari Goliat.
Kenapa aku harus berusaha jadi sangat kuat kalau yang menyertaiku sudah kuat dan tak terkalahkan? Karena kebodohanku. Aku membangun tembok yang malah menghalangiku dengan Tuhan, ketika seharusnya tak ada yang dapat memisahkanku dari kasih-Nya. Mungkin secara tidak sadar aku ingin bisa melakukan semua sendiri tanpa membutuhkan orang lain, bahkan Tuhan. Mungkin. Well, setelah kupikir-pikir, sepertinya begitu. Und das geht gar nicht. Nggak mungkin bisa. Not working at all. Aku butuh Tuhan dan Dia satu-satunya yang kubutuhkan.
Bodohnya. Tapi karena itu aku tau, aku tak dapat berjalan sendiri. Domba itu bodoh, lemah, dan mudah tersesat, jadi domba nggak akan dibiarin gembalanya untuk jalan sendirian. Kalaupun domba ini berusaha mencari jalan sendiri lalu hilang, sang gembala akan mencari sampai dapat dan menggendongnnya kembali. Seperti itulah yang terjadi.
Well, gembalaku menyertaiku.
Pencuri datang untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Pencuri berusaha mencuri kebahagiaanku, membunuh kedamaianku dan membinasakan imanku. Tapi Gembala yang baik memberikan nyawa-Nya bagi domba-dombanya. Ia memberikan apapun, bahkan nyawa-Nya, untuk mendapatkanku kembali. Seperti itu juga dia padamu.
When we let go of something God wants us to let go, He will replace it with the better one.
Ferris Wheel
Sore itu aku memasuki kawasan Suroboyo Night Carnival Park dengan (sepertinya) melompat-lompat penuh bahagia. Hmm kalau sedang bahagia, aku benar-benar seperti anak kecil. Bukan karena tempatnya, tapi karena dengan siapa aku ke sana. Pria yang sama yang kusebut di bit.ly/whybijiduren. Aku telah berjanji akan menulis tentangnya.
Dia datang dari Salatiga ke Surabaya untuk menemui gadis kecil yang berisik ini. Aku tau aku diperjuangkan :’)
Di sana mataku langsung tertarik pada Ferris Wheel, seperti kebiasaanku di pasar malam. Aku benar-benar menyukainya, sampai-sampai aku naik 2x. Hahaha. Well, walaupun itu adalah wahana favoritku, aku baru tau kalo namanya Ferris Wheel. Aku selalu menyebutnya sangkar burung ahahaha.
Aku senang melihat hal-hal dari ketinggian, dari sudut pandang yang tidak selalu aku miliki.
Sering kali kita melihat ketidakteraturan, keabstrakan yang biasa saja bahkan buruk di mata, tapi ternyata dari sudut pandang lain adalah sebuah maha karya. Seperti bagian belakang kristik yang berantakan, sering kali begitulah kita melihat hal-hal dalam kehidupan kita. Padahal sering kali kenyataannya Tuhan sedang membuat kristik yang sangat indah di bagian depan.
Kurasa saat ini aku masih berada di bagian bawah Ferris Wheel hidupku, karena yang kulihat masih belum berubah. Aku belum bisa melihat semua keindahan rencana Tuhan untukku karena aku masih ada dalam proses. Tapi aku tau nanti aku pasti melihatnya pada saat yang tepat. Pada waktunya Tuhan. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat.
Dan tentang pria ini?
Dia ada di sisiku sejak aku masih belum tau kemana harus berjalan dan apakah aku harus melangkah. Dia di sana saat Tuhan membisikan ide-Nya. Dia di sana saat aku berjuang mengambil keputusan. Dia di saat saat keputusan dan konsekuensinya sudah tampak di depan mata. Dan dia masih di sini, di tahap-tahap awal Ferris Wheel-ku.
Aku berharap dia juga yang ada di sisiku saat aku ada di bagian atas Ferris Wheel dan melihat keindahan yang belum pernah kuliat dari sudut pandang cewek setinggi 155 cm. Aku berdoa kami bisa melihat bersama hasil pekerjaan Tuhan dalam hidup kami, hasil dari setiap perjalanan dan proses kami menuju mimpi-mimpi terliar dalam hidup kami.
Kami memiliki mimpi besar. Well, terlalu besar bagi kami.
Jika terlalu besar, mengapa kami tetap memimpikannya?
Agar kami tau, ketika mimpi kami menjadi kenyataan, itu bukanlah perkerjaan kami melainkan Tuhan.
Kami memimpikan rumah sakit, sekolah, dan panti asuhan, dimana kami dapat melayani “hand to man, heart to God”. Kami saling tahu, ketika kami berdoa bagi hubungan kami, ada doa bagi mimpi kami yang terselip di sana.
Aku sering mengenalkannya sebagai “Partner”-ku.
Why? Cause he is.
Dia adalah partnerku. Kami berdoa bersama dan berjuang bersama dengan cara masing-masing.
Aku bersyukur memiliki partner yang seirama denganku. Di mana lagi bisa kutemukan yang seperti itu? Di mana kutemukan Pria yang sevisi denganku? Tak akan kutemui lagi. Dia adalah berkat bagiku. Kasih karunia dari Tuhan.
Di mana ada berkat, selalu ada tanggung jawab yang mengikuti. Siapa bilang ini tidak berat? Berat. Tapi yang menyertai kami sungguh besar: Tuhan, pencipta langit dan bumi.
Di atas Ferris Wheel kami berdoa.
Footprint #1
Hari ini officially kuterbitkan judul khusus untuk posting-posting rekaman jejak perjalananku, entah bahagia, entah penuh pergumulan - kayaknya paling banyak yang tentang pergumulan deh wkwk. Presenting you *dererererereeret* FOOTPRINT.
Aku mau mengabadikan perjalananku dan segala macam pergumulan yang mengikutinya di tumblr ini. Aku percaya suatu saat nanti aku akan melihat kembali masa laluku dan bahagia karena Tuhan membawa Nina kecil untuk survive, bahkan thrive. :)
20-08-2016
Tuhan, somehow aku tetep mikir “apa yang akan terjadi di hari besok?”. Aku masih mikir apakah aku akan bisa masih kedokteran, wong masuk STK aja masih gak jelas. DB langsung keterima atau visa akan lancar pun aku masih gak tau. Tapi aku masih percaya bahwa Engkau ada sama aku, dan karna_mu aku sudah berjalan sejauh ini.
Pa, aku masih percaya:
Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. (Roma 4:21)
I will do what Abraham did (Roma 4):
Sekalipun tidak ada dasar untuk percaya, ia percaya
Imannya tidak goyah meskipun tubuhnya lemah (Fakta berkata “impossible”)
Terhadap janji Allah ia tidak bimbang, malah diperkuat imanya dan ia memuliakan Allah
Yakin bahwa Allah berkuasa melaksanakan apa yang Ia janjikan
“Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya [Abraham] sebagai kebenaran.”
:)
Resep Anti Kecewa
Siapa sih yang nggak pernah merasa kecewa dengan keadaan? Misalnya nih, kita expect buat berhasil lolos sebuah ujian beasiswa, dan ternyata nggak lolos padahal udah doa pagi-siang-malem dan belajar pagi-siang-malem. Atau kita berdoa buat keadaan keluarga yang aman tentram dan damai, eh beberapa hari setelahnya malah mama-papa cekcok. Kita pengen masuk fakultas keren di universitas keren, eh malah nggak ketrima di semua universitas. Bisa juga kita pengen dapet pacar yang ganteng keren pinter, eh tiba-tiba dia jadian sama orang lain. Banyak lah contoh-contoh kayak gitu. Yaaaa, semacam dikecewain harapan kita sendiri. Yuk sini bilang, siapa yang nggak pernah?
Well aku baru saja melewati masa „takut kecewa dengan harapan sendiri“. Aku melewatinya dengan bahagia, yeey. And nooow, I want to share resep yang baru aja aku dapet kembali. Kenapa “dapet kembali”? Karena sebenernya aku udah tau dari dulu, tapi kembali lagi diingatkan.
“Pengharapan tidak akan mengecewakan”
Kapan ya bakal ada jaminan bahwa pengharapan kita tidak akan mengecewakan? Sekarang. Sekarang ini lho, waktu kamu lagi baca tulisan ini. Bahkan jaminan itu sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Tapi jaminan itu hanya dapat kamu terima kalau kamu sendiri yang menerima jaminan tersebut. Nah lo ribet amat kalimatnya.
Jadi, jaminan itu sudah ada sejak dulu. Tapi kenapa kita pernah kecewa dengan harapan? Karena kita tidak menerima jaminan yang disediakan itu.
Gimana caranya menerima jaminan “anti kecewa” itu?
IMAN
Iman n. 1 kepercayaan bahwa Tuhan mengasihi kita, 2 kepercayaan bahwa Tuhan selalu bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.
“We continue to shout our praise even when we’re hemmed in with troubles, because we know how troubles can develop passionate patience in us, and how that patience in turn forges that tempered steel of virtue, keeping us alert for whatever God will do next.” – Rome 5: 3-4 (The Message)
Tempered: brought to desired hardness or strength by heating and cooling.
Virtue: manly strength or courage; the good result that comes from something; good character.
“Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” – Roma 5:3-4 (TB)
Resep Anti Kecewa
1. Memiliki harapan ‘seperti itu’
“Jika kita memiliki harapan seperti itu, kita tidak akan kecewa. Sebab Allah sendiri sudah memberikan Roh-Nya kepada kita untuk membuat kita yakin bahwa Allah mengasihi kita.” – Roma 5:5 (BSD)
Harapan seperti apa? Seperti pada Roma 5:3-4 di atas.
2. Sadar bahwa kita tidak tahu masa depan kita, tapi Tuhan tahu
Aku tidak tahu masa depanku dan masa depanmu, kau tidak tau masa depanku dan masa depanmu, tapi ada Seseorang yang tahu. Sebaiknya kau mengenal-Nya dengan baik.
3. Sadarlah, God loves you
Kalo kamu mengalami „cinta bertepuk sebelah tangan“, kemungkinan besar orang yang kamu cintai itu nggak tau kalo kamu mencintainya walaupun kamu udah melakukan segalanya buat dia. Sama seperti itu, Tuhan mencintai kita, tapi sering kali kita tidak menggubris semua yang Ia lakukan buat kita.
Bisa jadi kau tidak memperoleh beasiswa itu karena Ia punya beasiswa di tempat yang lebih baik untukmu. Bisa jadi melalui cekcok, orang tuamu tahu bahwa mereka masih saling mencintai. Bisa jadi kau ditempatkan di universitas yang kau tidak suka, karena Ia ingin membuatmu bersinar di tempat itu dan memperoleh promosi. Atau Ia menjauhkanmu dari cowok ganteng keren pinter itu karena dia adalah cowok yang akan menghancurkan cita-citamu dan kau akan diberi pasangan yang dapat mendukungmu dan mimpimu.
Kau tak akan pernah tau sekarang, bahwa Tuhan mengatakan “tidak” pada doamu karena Ia memiliki rencana yang jauh lebih baik daripada rencanamu. Kau hanya bisa mengetahuinya nanti, saat proses menuju rencana-Nya sudah selesai.
Kau tak akan bisa melihat pelangi saat masih hujan. Pelangi hanya muncul setelah hujan selesai. Tapi harus ada hujan, agar kita dapat melihat pelangi.
God bless you.
wow
Padang gurun adalah tempat terbaik bagi untuk mengalami penyertaan Tuhan.
Tuhan menyertaiku melalui hal-hal kecil yang aku butuhkan. Mungkin ketika aku ada di rumah, aku tak bisa merasakan hal-hal ini sebagai penyertaan Tuhan, tapi sekali lagi, padang gurun adalah tempat terbaik untuk mengalaminya.
Ia menyertaiku melalui ibu kos yang baik, 2 cucunya yang menyenangkan (ketika aku berpikir mungkin aku annoying untuk mereka hihihi), kos enak, nasi dan air gratis, saudara yang dekat, temen-temen asik, pengajar baik, free ride uber taxi, tempat jual roti baru setengah harga, swalayan yang dekat dan murah, warung-warung yang murah, dan hal-hal semacamnya yang pasti disyukuri oleh anak kos.
Belum lagi aku benar-benar bahagia ketika aku memerlukan CD audio pelajaran tapi harganya 250ribu, lalu aku menemukan di perpustakaan dan bisa menggunakannya gratis. Begitu juga dengan buku-buku yang harganya bisa dipake hidup sebulan.
Kehidupan belajarku pun baik. Aku bisa memahami dengan baik. Dan masih seperti dulu, aku masih tahan belajar seharian hahaha. Bukan memaksa diri, tapi memang tidak ada yang bisa dilakukan selain belajar dan bersih-bersih. Di luar kos dan perpustakaan terlalu panas.
Oh! Aku jadi ingat. Aku benar-benar bersyukur aku bisa beradaptasi dengan udara panas surabaya dengan cukup cepat. Aku nggak lagi tersiksa dengan panas. Ada lagi. Aku seneng banget, beberapa hari ini Tuhan kasih hujan sekitar jam 5 pagi, lalu sekitar jam setengah 7 waktu aku mau berangkat, hujannya berhenti. Setelah hujan, udaranya nggak panas. Terharu deh. :”D
Bersyukur adalah perasaan terbaik.
Aku menulis ini untuk situasi (yang akan datang) yang mungkin membuatku mempertanyakan penyertaan Tuhan. Di salatiga aku mengalami penyertaan Tuhan melalui ujian-ujian yang aku tempuh. Aku selalu terkejut dengan hasilnya. Kalau di Salatiga Tuhan menyertaiku, kenapa di sini tidak? Kalau di sini Tuhan menyertaiku, kenapa di tempat lain tidak?
God has brought me too far to leave me alone.
[update 12.15]
Aku baru saja berpikir ini. Aku menulis untukmu juga. Jika kau sedang dalam perjalananmu menuju sesuatu baik yang sudah jelas maupun belum jelas, percayalah Tuhan ada bersamamu. Call Him.
Orang lain tidak tahu masa depanmu. Kau pun tidak. Tapi pastikan kau mengenal Dia yang tahu.
I will wait and hold fast to Your word. Heart on Your heart and my eyes on Yours.
Stay and Wait (Hillsong)
Hank: There's no other way!
Dory: There's always a way! How about that way?
Hank: Holy crap, there's a way!
#SayaTidakMenyesal
Beberapa hari yang lalu aku mempertanyakan keputusanku untuk berjuang dalam langkah-langkah kuliah ke Jerman. Bagi beberapa orang, alasan dibalik itu sangat tidak masuk akal. Bagiku, alasannya sesimpel "because God said so".
Karena Tuhan berkata aku harus pergi, maka aku pergi.
Hahaha, sayang sekali ini tak sesimpel kalimat di atas. Tak semudah itu mengatakan "ya Tuhan, aku siap." Bahkan lebih sulit lagi untuk benar-benar tegak berdiri saat menjalaninya.
Di post post sebelumnya aku pun banyak membahas tentang iman. Begitulah perjalanan iman, tidak begitu saja berhenti setelah mengalami kemenangan. Berjalan dalam iman artinya harus siap untuk meraih kemenangan demi kemenangan. Siap berjuang untuk itu lebih tepatnya. Berani mendengarkan dan meyakini bahwa itu perkataan Tuhan adalah satu kemenangan. Berani mengakan "Ya, aku siap" adalah kemenangan. Berani berbuat instead of hanya mengucap adalah kemenangan lain. Berani melangkahkan kaki untuk pertama kali pun sebuah kemenangan.
Tak ada kemenangan tanpa perjuangan. Tak pernah ada yang semacam itu. Kenapa perjuangan ini tak selesai setelah kemenangan pertama? Perjalanan ini belum selesai, belum sampai finishnya. Di mana finishnya? Kau akan tau ketika kau mendengar Tuhan sendiri berkata, "Well done, anak-Ku. Kau menyelesaikan pertandinganmu dengan baik. Mari pulang.", dan memelukmu.
Aku masih dalam perjalananku.
Dan aku ingin katakan bahwa ini sulit bagiku. Mungkin bagi beberapa orang di dekatku, aku kuat. Aku berbicara tentang iman dan bagi mereka aku kuat. Aku memang kuat, tetapi Tuhanlah kekuatanku. Aku sendiri? Ha, tak ada sedikit pun kekuatan padaku. Tak ada sedikit pun kemampuan, keberanian, yah semuanya itu.
Aku pun sempat goyah mendengar perkataan-perkataan: "Kedokteran di Jerman? Di Indonesia aja susah." "Hah? Gilak. Mau lulus kapan? Mau nikah kapan kalo kaya gitu?" "Apa bisa kamu bisa balik dan jadi dokter di Indonesia?" Pertanyaan terakhir itu paling sering menggoyahkanku, lalu mulai bertanya pada Tuhan, "Tuhan, gimana dengan rumah sakit itu? Kenapa kau bilang aku jadi dokter? Kenapa dulu gak bilang di Indonesia aja? Atau jangan-jangan bukan Engkau yang bicara?"
Saat ini kudeklarasikan #SayaTidakMenyesal. Aku tau bahwa saat itu suara Tuhanlah yang kudengar. Aku percaya bahwa meskipun Tuhan satu-satunya yang berkata "YA", yang kulakukan adalah hal benar. Aku tidak menyesali perjalananku, karena aku tau aku akan mendengar "Well done, My sweet daughter!" Dan yakin 100% Tuhan besertaku. Kenapa aku yakin? Cause He said so.
"Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai pada akhir jaman." (Matius 28:20)
Dasar keyakinanku bukan hanya Firman-Nya (meskipun itu cukup), tapi aku pun mengalami penyertaan-Nya. Aku telah melewati beberapa tantangan yang terlihat sangat tidak mungkin bagiku, tapi aku melewatinya bahkan melampaui dan membuatku sendiri terheran. Yeah, we know who did that. Bukan aku. Aku tau bahwa itu bukan aku. Itu Tuhanku yang tak terbatas. Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.
Ku katakan pula #NoTurningBack. Inilah yang kupercayai: No turning back is needed. Ketahuilah, Tuhan telah melewati jalan yang akan kau tempuh. Ia pernah ada di sana, memastikan jalannya aman dan memastikan kau akan sanggup melaluinya.
Mengetahui dan mempercayai adalah 2 hal berbeda.
Kau tak akan pernah mengalaminya kalau kau tak percaya, dan tak akan membuktikan kebenarannya kalau kau tak menaati.
Perjalanan bersama Tuhan adalah pengalaman luar biasa yang tiada duanya. Jangan hanya jadi pendengar, hiduplah di dalamnya. Ingin mengalaminya? Dengarkanlah Dia dengan baik. Bagaimana kalau Tuhan tak punya rencana untukku? TIDAK MUNGKIN.
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10)
Kita diciptakan untuk sesuatu. Untuk sebuah tujuan. Selamat berjuang. Aku siap mendengarkan ceritamu.
28 Juni 2016 Dalam perjalanan pulang di atas kereta