Sungguh, belajar cukup adalah sebuah pendewasaan di tengah hiruk pikuk dunia yang terpaku pada lebih
Game of Thrones Daily

Kiana Khansmith
Xuebing Du
No title available
NASA

roma★
wallacepolsom

Kaledo Art
art blog(derogatory)

PR's Tumblrdome
Show & Tell
Monterey Bay Aquarium
Jules of Nature

Origami Around

#extradirty
$LAYYYTER
One Nice Bug Per Day
will byers stan first human second

No title available
styofa doing anything

seen from United States

seen from Colombia

seen from United Kingdom

seen from South Korea

seen from Netherlands

seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from South Korea

seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Colombia
seen from South Korea
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Malaysia
@bikasari
Sungguh, belajar cukup adalah sebuah pendewasaan di tengah hiruk pikuk dunia yang terpaku pada lebih
Tempat Paling Nyaman
Menghabiskan seharian penuh bersama orang-orang tersayang. Tanpa drama, tanpa dendam. Selalu di sisi, sesederhana itu.
Namun, bukan, bukan itu tempat paling nyaman.
Tapi…
Saat sendiri.
Mendirikan salat.
Di kala sujud.
Berdoa yang panjang. Mengadukan semuanya, memohon ampun. Mengharapkan keselamatan dunia-akhirat. Dengan hati yang tak lagi berharap. Pada siapa pun, selain Allah semata.
Sampai pundak terasa ringan, dan hati…
menghangat.
“Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah berdoa saat itu.“ [HR Muslim no. 482]
cara peduli sama diri sendiri
Sebenarnya, ada banyak cara untuk peduli sama diri sendiri. Mari kita mulai dengan pertanyaan sederhana dulu. Jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini dalam hati, ya.
Kamu… sering habiskan waktu untuk apa?
Saat membuka media sosial, akun seperti apa yang senang kamu lihat?
Dengan siapa hatimu sebenarnya condong? Dengan siapa kamu lebih sering berinteraksi? Dengan orang-orang seperti apa? That says a lot about you.
Saat melakukan urusanmu, adakah hatimu mengingat Allah? Atau, benar-benar lupa? Apakah kamu menyempatkan zikirmu?
Terdengar religius, ya? Sebenarnya, ini bukan religius. Ini pondasi paling awal, paling kokoh untuk peduli sama diri kita sendiri.
Soalnya, begini deh. Jika ini adalah hari terakhirmu, bagaimana?
See, saat melihat kemungkinan ini adalah hari terakhir kita, we suddenly think about being more religious and pious. Dan, itu bagus. Tetapi, kebaikan tak bisa terjadi di ujung waktu, begitu saja.
You need to start it. Like, now. And, that’s how you care for yourself.
- Alvi Syahrin, @alvisyhrn, 4/7/2020, alvisyahrin.com
[gabung grupku di sini]
you don’t have to be sunshine all the time.
Kalau hari ini kamu masih sedih, butuh waktu sendiri, nggak apa-apa. You don’t have to be sunshine all the time.
Tapi, seperti matahari yang butuh terbenam, ia juga butuh terbit. So, we can’t wait for you to rise and shine again.
- Alvi Syahrin, @alvisyhrn, 11/7/2020, alvisyahrin.com
i have trust issue.
Jadi, aku memilih menjauh, menjaga jarak, lebih menutup diri.
Karena aku takut terluka seperti dulu-dulu. Aku takut ditinggalkan seperti yang sudah-sudah. Aku takut dikecewakan lagi.
Jadi, menjauh seperti ini adalah pilihan yang aman, tetapi aku jadi berpikir…
Aku takut ditinggalkan, lantas mengapa aku berlagak seolah aku meninggalkan teman-temanku?
Aku takut terluka, lantas mengapa aku melukai teman-temanku dengan perubahanku ini, sedangkan tak ada penjelasan apa-apa? Bahkan tak ada kejadian apa-apa. Bukankah aku juga tak ingin diperlakukan saat ini?
Aku takut dikecewakan, tetapi bukankah ini hal yang mengecewakan bagi pihak lain?
Mungkin, aku bukan harus menjauh, aku cuma perlu menjaga ekspektasi.
Aku bukan harus menutup diri, aku perlu menutup celah-celah ekspektasi.
I guess I have to call all the good friends I have left.
- Alvi Syahrin, @alvisyhrn, alvisyahrin.com
{join grupku di sini}
aku masih sama, hanya saja lebih tenang, aku tidak berubah, aku hanya berhenti menjadi versi yang mengerti segalanya, yang pergi pergilah, yang salah paham silahkan menilai buruk, biarkan itu urusan mereka, aku tidak marah, hanya memilih tenang, karna damai lebih menyelamatkan dari pada sibuk menjelaskan.
Sering kali yang membuat semuanya jadi terasa menyakitkan adalah sebab perasaan kita sendiri. Kita menginginkan sesuatu berlebihan, berharap berlebihan, sehingga lupa bahwa kenyataan bisa saja berbeda.
Kita menginginkan hal-hal berjalan atas mau kita sendiri hingga akhirnya kita sulit untuk menerima kenyataan yang terjadi. #kangihsan_
Ketenangan
Sering kali Allah ngga selalu langsung memberi solusi atas masalah kita, tapi Dia hadir dulu dengan memberi ketenangan dan keyakinan bahwa Ia akan menolong hamba-Nya selagi ia mau berusaha. Pikiran yang tenang dan diiringi baik sangka pada Allah boleh jadi adalah pintu dari jawaban atau solusi yang Allah berikan.
Rasanya memang sebelum grasa-grusu dan panik dengan masalah yang terjadi kita perlu mengambilkan sesuatu pada yang memberi, lalu berdoa, dan berusaha mencari solusi.
Yaa Alllah anugerahilah hamba-Mu hati dan pikiran yang selalu bertaut pada-Mu.
Jangan berharap.
Jangan berekspektasi.
Jangan terlalu antusias.
Kepada makhluk, kepada apapun di dunia ini.
Jika kamu tak ingin hatimu patah dan terluka.
Cukup biasa aja.
Menjadi Ibu adalah fase dimana kita dihantam dengan banyak stressor. Dimulai dari PR perkembangan anak, mikirin menu makan anak tiap hari, rengekaan dan tangisan mereka saat jiwa seorang ibu sendiri pun sedang lelah, baik fisik ataupun mentalnya, moment me time yang sudah jarang didapati, juga tumpukan pekerjaan rumah yang nyaris tak ada habisnya. Namun, di tengah kelelahan itu seorang ibu tetap tumpuan bagi anaknya, ibu adalah dunia bagi anaknya, dan tetap menyayangi anakanya sepenuh hatinya.
Semoga kelelahan yang hadir tiap harinya ini menjadi ladang pahala untuk kita ya buibu, asal kita menjalaninya dengan sabar dan rida, istianah buibu
Istriku memang pelupa, sering banget dari lupa kunci, lupa kalau lagi masak sampai panci gosong, lupa naruh barang, dan lain-lain. Tapi itu sama sekali tidak mengurangi nilainya dariku sebagai orang yang amat bersyukur ditakdirkan menikah dengannya. Melalui tulisan ini, aku ingin sekali mengabadikan rasa syukurku agar nanti - kalau lagi sebel karena dia lupa lagi - aku tahu, aku selalu punya alasan yang lebih besar untuk tetap mencintainya. Agar tulisan ini juga bisa dibaca siapapun yang sedang dalam perjalanan mencari pasangan hidup, yang dilanda ketakutan "salah pilih pasangan". Karakter itu akan melekat, kita nggak akan bisa mengubah pasangan kita karena cinta, nggak akan bisa mengubahnya sehari semalam. Untuk itu, sejak awal. Sadari bagaimana karakternya. Aku pun sulit mengubah karakter istriku yang sering lupa, akhirnya aku berdamai dengan mengubah kunci-kunci rumahku dengan kunci elektronik. Aku yang menempatkan dan mengatur barang-barang di rumah. Menyiapkan keperluanku dan keperluannya jika bepergian. Dia juga mungkin sulit mengubahku pada hal-hal yang ia kurang berkenan. Tapi, ia mampu menerimaku yang demikian itu bukan hal yang mudah. Bukankah ia luar biasa? Ia berlapang dada menerimaku yang penuh kekurangan. Bukankah ia begitu luas penerimaannya? Sembilan tahun ke belakang, perjalanku dengannya penuh dinamika. Setiap tahun selalu ada. Dan obrolan kami beberapa waktu terakhir menyimpulkan bahwa kami selalu berhasil melewatinya, dan hikmahnya, setiap dinamika itu membangun pondasi keluarga kami semakin kuat. Ibarat kata, mau bikin "rumah tangga" 100 lantai sama 2 lantai, tentu pondasinya berbeda. Kami menyadari bahwa mimpi kami berdua, sejak awal kami membuka pembicaraan sebelum menikah, mimpi kami begitu besar. Kini kami sadar kalau mimpi besar itu konsekuensi-nya mahal sekali untuk bangun pondasinya. Mirip sekali kayak bangun rumah. Di tahun kesembilan ini, ternyata kami masih bangun pondasi. Jadi, kalau kamu punya mimpi - carilah pasangan yang bersedia untuk ikut bersama-sama menanggung risiko dari mimpi itu, tidak hanya bersedia mewujudkannya, tapi juga menanggung risikonya :) Salah satu hal terbaik yang kami miliki saat ini adalah kepercayaan. Aku percaya dia mampu, begitupun sebaliknya. Aku percayakan semua hal kepadanya, begitupun sebaliknya. Belajar untuk saling bergantung, bukan justru merasa harus "independen" - berdiri sendiri-sendiri. Agar rasa cinta, rasa kasih, terus bertumbuh. Karena membangun keluarga membutuhkan kesalingan.
Selama sembilan tahun terakhir pula kami hidup dengan mode freelancer, sebuah pilihan yang membuat kami terbiasa dengan ketidakpastian. Tapi, kepercayaannya padaku saat kondisi finansial lagi naik dan turun adalah hal yang amat berharga. Karena menyadari bahwa keluarga ini adalah satu tim. Bukan masing-masing. Akhirnya keyakinan kita tumbuh, kita nggak menyadarkan diri pada materi. Ketidakpastian telah menempa kami bahwa rezeki akan datang dari banyak arah, dan arah-arah yang tak terduga.
Sembilan tahun dan seterusnya, aku merasa banyak sekali hal yang telah kami pelajari. Apa ditulis jadi buku tersendiri aja ya? (melanjutkan buku Menentukan Arah yang ditulis 9 tahun yang lalu saat kami menikah) Oh ya, sama satu hal lagi. Jangan pernah iri sama keluarga orang lain. Karena, hal yang bisa kita kendalikan adalah keluarga kita sendiri. Fokuslah untuk menjadi apa yang kita impikan. Fokuslah untuk membuka jalan, memulai pembicaraan, mewujudkan keluarga impianmu sendiri. Karena kalau kita hasad/iri sama keluarga orang lain, kita akan menghabiskan banyak energi yang sebenarnya bisa kita pakai untuk memperbaiki keadaan diri dan keluarga. Tugas laki-laki sebagai kepala keluarga itu berat banget (Surah At-Tahrim ayat 6 ), maka kalau kamu mau berkeluarga, siaplah sama tugas itu (kalau kamu cowok), dan bantulah tugas itu (kalau kamu cewek). Pasangan yang baik itu menenangkan, sama-sama belajar bisa menjadi orang yang menenangkan. Karena gejolak kehidupan luar sana, jangan sampai menggoyahkan ketenangan keluargamu :) Semangat!
Hal yang tidak akan kamu sesali di dunia ini adalah sabar, syukur, dan cinta yang ditempuh dg restu dan rida dariNya
“Manisnya iman dan lezatnya ibadah hanya dikecap oleh jiwa yang subur dengan ma'rifatullah (mengenal Allah dengan ilmu), oleh hati yang relung-relungnya penuh mahabatullah (cinta kepada Allah), oleh batin yang bersemi dalam rindu kepada-Nya, oleh kalbu yang tenang dengan keikhlasan dan tunduk dalam ittiba’ (keteladanan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri حفظه الله
Sungguh, momentum terbaik itu hadir saat kita dekat dengan Allah, dan momentum terburuk itu hadir saat kita terlalu penuh dengan manusia.
Semoga kamu menemui seseorang yang derap langkahnya penuh kebaikan. Perkataannya hanya yang baik-baik. Tingkah lakunya sopan dan santun. Kejujurannya sudah teruji. Tanggungjawabnya tak diragukan lagi. Niatnya yang tulus dan murni.
Semoga kamu menemui seseorang yang derap langkahnya penuh kebermanfaatan. Seseorang yang tumbuh dan berkembang bersama kebaikan, yang dapat membersamaimu sampai tujuan.
Semoga seperti itu. Aamiin.
Kang Islah