aku masih diam. sembari pikiranku menimang, muasal apa yang membuatmu sedemikian tersenyum. pelipisku terasa kian menyempit mencoba mengingat alasanmu pada hari itu. pandanganku menengadah laksana mencari debu pada aliran sinar mentari yang memasuki jendela kamarku pada pukul 6.45, jika kubuka tirai bercorak rhombus berwarna biru pirus seperti koperku. dan, benar saja. mengapa aku masih tak tahu pada hal apakah kau bisa bahagia dengan sesuatu yang tak kutemukan itu.
aku masih diam, dan disini. memutar fotomu berulang kali. diluar baru saja hujan, meski aku tak melewati rintiknya. setelah mencoba berlari tak henti pada putaran-putaran yang ku tak mau repot menghitungnya. sesampainya di depan pintu, ternyata bekas air hujan itu telah membasahi sepatu putihku yang tergeletak begitu saja. lantas tanpa kebingungan, aku mencari tempat bersungkur yang tak pernah luas sebab aku macam tak punya waktu membereskannya.
aku masih melihat pesanku yang hanya kau baca. padahal mungkin pertanyaanku terlampau sederhana. "ini kapan?"
aku hanya ingin tau, mengapa aku bisa melewatkan momen bahagiamu. yang mungkin aku memang sengaja tak dilibatkan dalam prosesi kegiatan yang sudah diluar kepala kubayangkan rutinitas harianmu. dan sialnya, itu sudah tersebar kemana-mana. aku melihat senyummu berhamburan meski itu setitik lebih kecil dari jutaan piksel keruh pada lingkaran cerita milik orang-orang.
tetapi kali ini, senyummu berbeda. atau.. aku yang merindukan senyum itu. kumainkan bibirku sebab itu satu-satunya anggota tubuhku yang resah. sedari awal, ia bagai kurva terbalik. lantas terkatup selayaknya ia memaksa sesuatu yang tak ada daya mengeluarkannya. dan akhirnya, aku tak kuasa menahannya..
aku, dibuat tersenyum kecut oleh senyum lepasnya.

















