jalan jalan

oozey mess

shark vs the universe

blake kathryn

JBB: An Artblog!
No title available
🪼
$LAYYYTER
ojovivo
Show & Tell
todays bird

Product Placement
Peter Solarz
cherry valley forever

#extradirty

@theartofmadeline
Cosimo Galluzzi
we're not kids anymore.
Lint Roller? I Barely Know Her

pixel skylines

Janaina Medeiros
seen from Germany
seen from T1

seen from Netherlands

seen from United States

seen from Argentina
seen from Argentina
seen from Paraguay

seen from United States
seen from Austria

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@binccvers
jalan jalan
Sebenarnya apa yang kita cari dari jerih Senin pagi hingga berakhirnya Jumat dengan rona jingganya itu? Sebenarnya untuk apa melakukan hal yang kita tahu, kita berada di jalan yang melelahkan, bahkan tak jarang membuat kita terbaring menahan rasa pening tak tertahankan? Bukankah kita sering mengeluh pada apa yang sudah kita usahakan dengan gelora yang tak terpatahkan? Sejauh mana kita merasa bahagia pada pilihan yang kita sebut dengan jalan takdir kehidupan?
Jika sementara ini, aku tertegun dengan begitu sakit sembari melihat sebuah pesan. Jika sementara ini, tak sadar aku meneteskan air mata perlahan pada pipi bagian kiri disebabkan sebuah hal yang dulu membuatku merasa paling indah untuk diperjuangkan. Jika sementara ini, kekuatanku redup dan hanya mampu mendoakanmu dalam diam serta dalam dalam, disepanjang waktu menunjukkan siang bahkan malam.
Kau tak perlu takut lagi pada hatiku yang hendak berlayar ke semua haluan. Kau tak perlu takut lagi pada cerita-cerita kosong tak bertuan yang akan melabuh pada segelas kekalahan di pojok ruangan. Kau tak perlu takut lagi pada isakku yang selalu redam pada diamnya bantal yang memelukku untuk segera bungkam.
Kelak, pada semua kerinduan, kenestapaan, dan jejak-jejak kerapuhan, akan kusimpan erat pada duniaku yang sulit kau jamah dengan usahamu yang sepadan. Entah semua kutuliskan, kugoreskan, atau hanya melebur pada jutaan air keputusasaan yang ku tumpahkan pada air kolam.
Seseorang tak perlu tahu, bahwa ada gadis gila yang menginginkan dengan cepat datangnya kematian. Atau aku yakin sekali pada hari itu, aku hanya duduk sendirian di ayunan, pada petang yang amat temaram. Menghembuskan dengan cermat, nafas kasar dan keping ragaku yang kini lemas tak sanggup menahan ratusan perasaan. Kuhempaskan impian bersamamu yang dulu kubayangkan begitu gemerlap penuh rona keindahan nan rupawan. Dan aku harap dengan sangat, Dia menjemputku pelan-pelan. Menuju keabadian yang tak lagi kutemui kesepian tak berkesudahan.
Dan keesokan harinya, atau sesaat lamanya, aku ingin kau menungguku pada pesan-pesan berikutnya yang mustahil kau dapatkan,
Selamanya, sejauh dunia ingin menyelesaikan waktunya untuk merawat kepedihan.
Buku yang tepat, sebuah puisi, atau sekadar kata-kata yang pas bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik. Asalkan, ia dibaca di waktu yang tepat.
Aku merasakannya sendiri. Membaca buku yang sama pada usia lima belas tahun dan dua puluh tahun ternyata memberikan dampak yang sepenuhnya berbeda.
Seiring berjalannya usia, aku seperti punya ruang yang lebih lapang. Ada pengalaman hidup dan luka-luka kecil yang akhirnya membantuku memahami makna tersirat di balik tulisan tersebut.
Lagipula, mencari jawaban di luar diri lewat lembaran buku tidak akan pernah cukup, jika dari dalam diriku sendiri belum ada kesiapan untuk menerima dan mencernanya.
Buku atau kata-kata itu hanyalah separuh bagian dari keajaiban. Separuh sisanya adalah kesiapan jiwaku saat menyambutnya.
sore di bangku panjang itu, aku bicara padanya; tentang ternyata manusia ketika show their passionate tuh jadi keliatan 'aura' nya. entah itu aura bahagia, atau memang aura yang menandakan 'sepenuhnya dia'. terus aku bilang lagi, contohnya pas dia lagi melakukan kegiatan sepele yang itu bersangkutan dengan hobi, minat, dan kesukaan dia.
yaitu, Barky, motornya. dari dulu aku suka sekali menamai barang-barang yang kuyakini, aku memiliki ikatan emosional terhadap barang/benda tersebut. suatu pagi, aku melihat dia sedang mencuci Barky. sederhana saja, kaos oblong hitam, sarung kotak-kotak, rambut tergerai. tangannya yang berurat itu begitu telaten mengelap sisi dalam dari bawahnya. begitu aku lewat, weh. kaget loh aku. macam bertambah pula ni kegantengannya. salting sendiri aku hahaha aneh.
kedua, di kala moment haflah tahun 2022, siang sebelum malam acara puncak, aku melihat dari tangga bawah sisi serambi utara. dia sedang tekun menyelesaikan atau finishing buatan dekorasi panggung dari sterofoam yang panjangnya hampir 12 meter itu. lagi-lagi sesederhana kaos oblong biru muda, sarung, dan rambutnya yang terjuntai ke bawah karena sedang menunduk. weh. kaget loh aku. macam bertambah pula ni kegantengannya. salting sendiri aku hahaha aneh.
ketiga, karena dia pintar dalam ilmu kitab kuning dan ilmu tata bahasa arab (nahwu shorof), suatu ketika di ruang tunggu stasiun, aku bertanya pada dia. tentang doa setelah membaca al-Quran yang diajarkan dari guruku di Wonosobo, aku ingin tau sekali artinya, karena aku tidak punya tulisannya (cuma hafal aja). lalu, dia begitu runtut menjelaskan, sekaligus menuliskan apa yang aku ucapkan. selain momen doa itu, banyak juga tentang dia menjelaskan sebuah 'kesulitan' yang dialami guruku dari kitab kuning yang dikaji di pawastren setiap malam Rabu. weh. kaget loh aku. macam bertambah pula ni kegantengannya. salting sendiri aku hahaha aneh.
dari ceritaku mengungkapkan itu semua, respon dia cuman tertawa, sambil membenahi kacamata hitamnya. lah, aneh juga. sekarang dia tidak sedang melakukan apa-apa, tapi..
weh. kaget loh aku. macam bertambah pula ni kegantengannya. salting sendiri aku hahaha aneh.
Yang Kau Sebut dengan Masa
Adakalanya diriku menjadi sosok yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Adakalanya diriku menjadi sosok yang kau anggap berbeda dari yang lainnya. Adakalanya, sumringah dan cekikikanku mungkin menghias harimu yang sedang berduka. Adakalanya diriku menjadi sosok yang memberi dukungan penuh pada semesta. Adakalanya, aku tak alang hanya manusia yang berperasaan biasa, ingin menikmati hari yang lengang tanpa sorak sorai dunia. Adakalanya, diriku hanya ingin menjadi 'aku dan seisinya' yang sewajarnya.
Hei, ternyata ketidaksengajaan itu jua membawaku pada..
Adakalanya kita terjebak dalam asumsi yang menduga-duga. Adakalanya kita mengikat dengan keterbatasan 'seharusnya'.
Aku tetap melangkah maju, menujumu, membuat jenis-jenis rasa baru. Entah persisnya ke arah mana, sesekali gontai nan rentan. Lalu kita, belajar memahami bahwa terkadang ada hal yang memberi luasnya rentang perbedaan. Pun itu terkadang hanya asumsimu yang tidak betulan.
Antara dulu dan sekarang. Atau antara kemarin dan esok. Diantara yang mana, kau sebut masa lalu dan masa depan, mungkin, aku tidak diantara keduanya. Aku tidak dimana-mana. Dan aku disini, menjadi sosok yang melantangkan erangan. Berdiam di tempat, mematung dengan jerih khayalan angan-angan.
via
Berdasarkan keyakinanku sendiri, sejak saat itu, aku tau rumus bahagia. Semenjak itu, aku tau konsep nyata dunia ini bekerja. Sejak kala itu, aku tau bahwa ada banyak jalan yang terbuka menganga. Dan selama itu, aku harus tetap pada barisan teguh pantang jumawa.
Dimulainya perjuangan kepedihanku, mencapai "mimpi" itu. Dimana katanya, disitulah letak hamparan nikmatnya. Lalu aku mencari-cari nikmat itu, di sayup-sayup keheningan malam, diantara desiran angin membekukan.
Pukul satu, yang memburu kantuk diantara dinding langkah maju yang semu.
Ku pegang dengan pasti mantra itu. Mungkin kau juga sudah tak asing dengan jaminan itu sebelumnya, tentang entitas kadar bahagia yang ingin kita raih di dunia.
Namun, detik itu jiwaku tersihir dengan kalimat yang sederhana, pun ternyata menancap kuat pada hatiku yang luruh karenanya. Kira-kira, begini bunyinya,
"Sepiro gedemu ngopeni Al-Quran, semono ugo uripmu diopeni Pangeran (Allah SWT)"
Tabik,
@binccvers
Suatu pagi yg teramat cerah, aku duduk sembari menikmati bubur ayam hangat di pinggir jalan. Hari-hariku sebelumnya terasa sangat monoton, terlampau biasa, hingga aku menyaratkan diriku sendiri untuk berupaya dlm misi pencarian jati diri, sekali lagi. Tidak, bukan karena aku tidak percaya pada kemampuan beradaptasi, bukan pula perihal aku lupa bahwa aku teman terbaik bagi diri sendiri. Mungkin, ada kalanya ambisiku rindu tumbuh seperti sedia kala yang pernah ku kubur demi kemaslahatan jasmani.
Bubur ayam pertama, setelah aku berjalan selama satu jam lamanya. Satu gelas teh hangat cukup untuk kami berdua. Tidak ada yang spesial seperti pada rutinitas seremonial romantisasi biasanya. Aku dan dia hanya ingin berjalan pagi, melewati hari udzur berdua. Di tengah makan, ku dengar dua orang wanita lainnya tengah berbicara tentang pekerjaannya. Yang setelah menguping sementara, ternyata itu menyangkut komunitas membaca yang aku turut aktif didalamnya. Batinku saat itu, "Hmm.. gimana ya rasanya bekerja yang masih ada sangkut pautnya dengan dunia buku?". Temanku ternyata tidak menyadari bahwa aku ingin sekali untuk ikut menimpali obrolan orang itu. Hingga kami pulang untuk foto-foto di depan quotes Margi yang lumayan terkenal itu. Lalu, kami bertiduran dibawah pohon rindang, dihujani cahaya terik matahari di sela-sela dedaunan. Seketika aku lupa pada pikiran sibukku sesaat sebelumnya tentang pekerjaan impian di kota ini yang teramat nyaman.
Bubur ayam kedua, letaknya cukup strategis dari orang-orang sekitarku untuk mencari macam-macam lauk pangan. Kusadari hari ini, itu terjadi beberapa hari setelah pengumuman tentang lamaran pekerjaanku yang ketiga kali pada tahun itu. Aku duduk, lagi-lagi dibawah pohon yang sedikit menjorok kedalam. Lesehan, ditemani suara tangisan bayi merah, yang mungil, dan sesekali melambaikan tangan. Aku sendiri kali ini, sembari menunggu cucianku yang sedang berputar di mesin penatu, menghitung hari-hari terakhir sebelum aku berpindah ke belahan Solo yang baru.
Pikiranku melayang, pada beberapa Minggu sebelum itu.
Mungkin aku memang gadis pemimpi. Gadis yang mengandalkan khayalan indah yang menari-nari melebihi batas halusinasi. Mungkin aku lupa pada tanah. Yang kupijak dengan tidak berhati-hati sebab terkadang langkahku tidak pasti. Tidak pernah merasa kutitipkan kemustahilan pada doa-doa ku sebelumnya. Semua hanya angan belaka, yang hatiku juga ragu seberapa besar aku sungguh meyakininya.
Dunia kerja yang begitu aku impikan sebelumnya, tentang jiwaku yang melebur dengan kesungguhan berbalut alibi keseruan, keasyikan, dan kejenakaan; kini aku menjalaninya. Tentang bagaimana aku menyalakan layar mesin ketikku tiap hari dengan tersenyum bahagia, meski aku tak tau seberapa ketakutan yang awalnya aku pertimbangkan rupanya. Ini bukan perihal bagaimana aku begitu menyukai pekerjaan ini—meskipun itu juga mutlak kurasakan sedari awal hingga kini. Tapi ini perihal mendengarkan suara hati.
Pada akhirnya, mungkin dulu aku tidak pernah membayangkan dengan benar-benar. Mungkin dulu aku tidak pernah ber-ikhtiar dengan sabar. Mungkin dulu aku hanya pejalan yang meniti dan bermimpi tanpa sadar. Mungkin dulu aku hanya melihat masa depan dengan samar.
Dan sekali lagi, aku disini mungkin masih akan menjalani hari-hariku dengan mata berpendar. Mengusahakan yang kuyakini dengan benar. Tentunya lagi-lagi dengan mimpi besar. Yang mungkin bagi dirimu, itu sungguh-sungguh diluar jangkauan batas nalar.
Hari Dimana Kau Datang
Sungguh, tidak akan pernah kering airmata ini untukku menangisi dosa-dosa. Sungguh, tidak akan pernah habis isak ini untukku merintih ampunan durhaka yang mendera. Sungguh, tidak akan pernah melangkah kaki ini untukku terus berlutut memohon Kau meleburkannya.
Kau datang, pada malam sunyi, pada malam aku merasa begitu sesak setelah lupa bahwa aku Hamba yang tak tau diri. Bahwa dusta, aku pernah terpaku dan enggan beranjak dari jarak terdekat terakhir kali aku melihat-Mu; sejatinya Engkau mungkin sudah habis daya memberiku waktu dan kesempatan baru.
Aku yang berulah lagi, aku yang melulu hidup pada kerugian yang kuciptakan sendiri. Aku, lupa, pada apa yang membuatku berjanji setengah mati di poros bumi terakhir kali aku berdiri di suatu pagi. Aku, lupa, pada suara-suara hati yang kumimpikan sedari dini, tentang perjumpaan dikala gundah menyelimuti. Aku, dan mulutku, juga kemunafikan hati, tertatih mencari jalan kembali.
Disini, hilang kendali pada janji-janji yang dulu ku ucapkan dengan berapi-api. Disini, jemariku mencoba meraih pada apa yang semestinya pergi, hilang, tak pantas kumiliki. Disini, aku tak berdaya pada kefanaan diri. Disini, aku berangan-angan pada kemustahilan yang tak terperi.
Lalu dimana aku pada hari yang Kau datangi? Apakah ia lagi-lagi hanya meraup sisa-sisa air matanya yang menetes di pipi? Apakah ia lagi-lagi tidak percaya pada hal-hal yang konon membuat hidupnya indah berseri? Apakah justru ia lagi lagi membuat perjanjian baru untuk bertaruh pada peruntungan di masa depan nanti?
Malam 'Arafah, Mei 2026