Jangan Takut Dengan Lamanya Kesendirian #5 : Pemilih
Jadi dulu kalo ada yang komentar, “kamu cari yang kayak gimana sih Din? Ga ada laki - laki sempurna, jangan terlalu pemilih ah,” bahkan ibu gw sendiri, gw nangis loh.
Tapi beberapa tahun lalu ketika gw ngobrol dengan sahabat perempuan seusia yang juga belum menikah waktu itu, kami malah tertawa karena bagi kami lucu. Pemilih itu kan seakan banyak banget pilihan, lha ini satu aja kagak ada.
Kata sahabat gw ini, kalo dia ditanya kapan nikah kenapa ga nikah - nikah, jawabnya simple, “halah ojo gaya takok - takok, koyo ate buwuh paling akeh ae.” Jangan sok tanya-tanya, kayak mau nyumbang paling banyak aja, begitu translate nya.
Beberapa teman gw juga menebak - nebak gw dekat dengan siapa atau pacaran sama siapa, dan kriteria tebakan mereka mirip : ganteng, tinggi besar, kaya, keren, sempurna. Ha-ha-ha-ha. Gw nyicil tertawa.
Bukan berarti selera gw gak keren, no no. Selera gw keren dengan cara yang berbeda. Gw pemilih, tapi tidak memilih dengan kriteria seperti yang diduga. Bberbeda dengan tebakan klise dan mainstream nya orang - orang. Dan belum menikah bukan karena pemilih, tapi karena memang belum dipilih T_T
Tadinya gw berpikir, apa cara gw ngomong kelewat tinggi dan sombong sampai orang lain menganggap demikian? Nampaknya iya.
Namun ketika gw lebih humble, tetap saja orang menduga demikian. Pernah keponakan gw mempertanyakan ke adik gw, “kenapa sih Mbak Din ga nikah- nikah? Pemilih blablabla.” Adik gw marah ke dia karena melakukan judge without knowing even a little piece of my stories.
Kemarin ketika si keponakan bertemu gw di rumah, dia mempertanyakan hal yang sama, kali ini langsung ke gw. Bahkan ditambah kalimat yang sering gw dapatkan juga, “kalo Mbak Din mau sih pasti udah nikah dari kemarin - kemarin. Panjenengan pasti yang nolak.” Adik ipar gw gantian marah-marah sambil gendong anaknya.
Gw santai. Why? Karena logika gw sudah gw manipulasi untuk hal ini. Gw sih ge er aja, mungkin gw dianggap berselera tinggi karena gw sendiri keren. Pendidikan baik, lumayan cerdas betewe setiap tes IQ hasilnya di atas rata - rata meski EQ nya kurang, mandiri, kreatif, bisa jadi partner kerja yang asik, berani, kalo lagi mood bisa supel banget, keluarga baik- baik alhamdulillah, bisa masak, beberes rumah rajin. Ya secara fisik gw ga jelek - jelek amat lah, menarik actually. Meminjam kalimat junior saya, “gw seksi walau kurang berisi.” Meski laki - laki lebih suka yang, hmm…seksi betulan, tapi gw yakin kemenarikan perempuan kurus (kalo kata @menjalin, ‘gering’) maupun gemuk punya pasarnya sendiri. Kalo kami bukan seleramu duhai para lelaki, ga perlu mencemooh, karena kami juga tidak mencemooh berapa hartamu.
Sekarang, kalo dianggap pemilih, gw menjawab, “makasih ya, kamu ngatain saya pemilih pasti karena kamu nganggap saya pantes jadi pemilih.” Walaupun ada yang menjawab “gak juga sih”, gw ga peduli. Karena mikirin orang judging bakal capek sendiri.
Apakah mereka berkata demikian karena peduli? Selama kita punya hati ga kotor - kotor amat, kita pasti bisa merasakan kepedulian. Kita bisa tahu mana yang betul - betul peduli, dan mana yang cuma mengadili. :D