Orang-orang seperti mereka tak akan pernah berusaha memahami rasa sakitmu dari sudut pandangmu. Jangankan memahami, menyadarinya saja mereka tak mampu.
Bagi mereka, rasa sakit hanya dianggap nyata jika mereka yang merasakannya. Sementara rasa sakitmu dianggap lebay. Tangismu diremehkan. Dan ketika kamu mencoba bicara, mereka sibuk menyusun argumen untuk menang.
Mereka sedemikian tertutupnya oleh keyakinan mereka sendiri. Bahwa mereka selalu benar, selalu tahu mana yang terbaik, hingga empati bukan lagi pilihan, tapi ancaman bagi ego mereka.












