Kembali Seringnya menjadi line up beberapa gigs di kota malang akhir – akhir ini setelah merilis Split Album bersama band punk asal jakarta Error X, di bawah label Playloud Records, ternyata tidak lain adalah pertanda dari band punk veteran ini kembali meramaikan ranah musik underground setelah hampir 14 tahun vakum.
Terakhir kali mereka merilis album penuh, “For The Scene” yang dirilis di tahun 2000 di bawah Raw Tape Records dan terlibat di beberapa album kompilasi seperti, A Tribute Terrorizer dan Saudara Sebotol, juga Split Album dengan Extreme Decay.
Namun beberapa hari yang lalu lewat akun twiter @AntiphatyWar, mereka mengeluarkan lagu berjudul “Track 1” dan “Destroyer” yang dirilis lewat situs Youtube.
Dua lagu tersebut adalah lagu baru yang terdapat pada album Baru Mereka, “Up The Punk Yang segera rilis 17 januari 2015 ini. Sebuah album yang patut ditunggu, menggingat band punk bertempo cepat ini telah cukup lama vakum.
Rencananya mereka juga akan melakukan tour ke-tiga negara, dimulai tepat di tanggal peluncuran album “Up The Punk”.
No Man’s Land Segera Rilis Album Terbaru Mereka “No Way Back Home”.
Setelah merilis split album dengan sesama band asal kota Malang, The Young Boots yang dirilis label asal Belanda, Aggro Beat Records. No Man’s Land siap meluncurkan album terbarunya, No Way Back Home.
Album “No Way Back Home” sendiri akan dirilis secara resmi oleh Aggro Beat Record bulan februari 2015 mendatang dan di distribusikan di beberapa negara eropa seperti, Belanda, Jerman, Perancis, Rep. Ceko, Inggris, dan juga Indonesia tentunya.
Selain itu album 11 mereka ini akan dirilis dalam 2 bentuk rilisan fisik, CD dan Vinyil 12” inch.
Ini adalah kali kelima No Man’s Land bekerja sama dengan Aggro Beat Record setelah sebelumnya juga merilis, The Best Of 1994 – 2012, Kompilasi Oi! Made In Indonesia, Surgery Without Research / No Man's Land - Split EP, dan No Man's Land / The Young's Boot - Malang Skinhead - Split E.P.
Beberapa hari yang lalu Oi! Oi! Music Webzine yang juga salah satu bagian divisi dari Aggro Beat Records juga resmi merilis dua video klip dari No Man’s Land, Taken Away dan 20 Years Of Oi!.
Dua Lagu tersebut juga diambil Dari Album Mereka No Way Back Home. Dan ini adalah 12 track yang terdapat di album No Way Back Home.
1 United Oi!
2. Don't Know Why
3. Malang Nominor
4. No Way Back Home
5. BB Punk
6. Glroy Days
7. Taken Away
8. Jack Meler
9. Degeneration
10. In The Trap
11. 20 Years Of Oi!
12. Our Lives
@ Lapangan Parkir STIKI MALANG.
Sesi I : 15.00 - 19.00 All Genre
Sesi II : 19.00 - Till End "Back To Vintage"
Special Perform :
ALSOO
The Beat On Repeat
The Classic Cluster
The Deadly Experiment
The Ratna
The Suka-Suka
Kobra
Video Tape
and many more...
Seniman adalah manusia dengan privileges yang mesra. Bagaimana tidak, seorang seniman dapat menciptakan dunia sendiri. Seperti Stanislas Fumet ungkapkan bahwa “ Dengan penuh rasa bersalah seni mencoba bersaing dengan Tuhan”. Atau dapat diartikan ¾meminjam kalimat Goenawan Mohammad¾ mampu menjangkau dunia yang selalu menjauh, dapat langsung hadir di dalam dan bersama kita. Dengan radikal pula, seniman tidak dapat menerima kenyataan dunia karena tidak sesuai dengan harapannya. Untuk itu Albert Camus dalam essay Seni dan Pemberontakan menasehati :
“Kreasi seni adalah kehendak kesatuan dengan, dan suatu penolakan terhadap dunia. Ia menolak dunia karena hal-hal yang tidak ada padanya, dan atas nama hal-hal yang, kadang-kadang, ada padanya.”
Oleh karenanya, seniman hadir untuk membuat dunia dan kehidupan ini lebih baik pada hakikatnya. Dan penerjemahan secara konteks sebuah karya seni menjadi antropologis karena harus merangkul realitas ruang dan waktu karya itu dilahirkan. Saat mengetahui hal ini, saya pun tergoda untuk mendadarkan gagasan kontekstual kelompok musik dari kota Malang, Freshwater Fish dengan nilai-nilai pergerakan Postmodernisme. Meski rilisan terakhirnya (Mini album yang akan saya bahas) Animal Simbolikum telah lama rilis, namun saya pikir belum ada yang menulis topik di atas. Padahal, FWF beserta Animal Simbolikum (dan seluruh karya sebelumnya) adalah kereta yang memuat gerbong-gerbong teks penuh gagasan-gagasan yang menarik, mengkritisi, kadang juga menggugat atau sekedar berdoa untuk sampai pada stasiun yang lebih baik.
Sekilas, Postmodernisme
Descartes menyeruakkan mantra cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada), saat gamang dengan eksistensinya di dunia. Disaat itu pula, Dia ikut membidani lahirnya Eropa menuju jaman pencerahaan (enlightments /aufklaurung ) yang kini fasih disebut modernisme. Sebuah perayaan kebebasan terhadap kekuasaan puritan, namun dalam aspek tertentu kemajuan ini tidak selalu membawa dampak yang baik. Atau istilahnya, membawa permasalahan modernitas.
Keburukan modernitas berupa isu busuknya kapitalisme, demoralitas, depresi, alienasi, memberi jalan lega untuk munculnya gerakan Postmodernisme. Tema postmodernisme sendiri sering dianak-tirikan karena dianggap sebagai “mode intelektual yang kosong” atau gaya-gayaan biar gaul. Hal itu disebabkan karena payung Postmodernisme meneduhi cendekiawan dekonstruksionis (Derrida, Lyotard, Foucault, Baudrillard) yang gemar membongkar segala nilai dan konvensi menjadi nihil. Dalam ranah seni, pemikiran ini menjungkirbalikan kesepakatan yang sangat sakral bagi seniman, yaitu orisinalitas sebagai tanda kejeniusan. Seniman Postmodern lebih senang mencampur karya seni yang sudah ada kemudian dikembangkan untuk nilai konteks yang baru. Untuk mengaktualisasikan ide tersebut, Andy Warhol mereproduksi foto Monroe dan logo Coke menjadi ikon budaya populer sepanjang sejarah seraya menambahkan “Segala sesuatu adalah seni”. Sejak itu pula seniman bukanlah bagian dari masyarakat elit, hari ini seniman adalah masyarakat biasa (terlebih untuk band independen), mereka kebanyakan membaur dengan peran masyarakat biasa, seperti pelajar, pekerja, dan pengangguran. Kini postmodernisme dipahami sebagai usaha untuk mengungkapkan kebusukan dari yang modern dan mendaur ulangnya.
Kereta uap Freshwater Fish dalam Animal Simbolikum
Dan, FWF yang lahir pada realitas tersebut, ikut menawarkan pemberontakan terhadap tendensi modernisme. Dalam lagu Hati Hitam. Repitisi lirik menolong imaji mengenai keyakinan, Tuhan dan diri, seperti dalam penggalan
“//Ku dekap erat// hati yang hitam//Dalam dekapan cinta//Kuterluka/ tersayat dosa/ Berbicara tentang kebenaran.”
Seperti ini lah wajah manusia yang tersesat dalam mencari kebenaran mutlak dan pembebasan karma menuju nirwana. Seperti kita tahu, dunia modern didominasi oleh sains dan logika empiris positivis yang menjadi standar kebenaran. Hal tersebut membuat ide tentang Tuhan, moral dan nilai spiritual kehilangan arti. Konsekuensi dari kemenangan modern nyatanya hanyalah degradasi moral, keterasingan diri dan anomie. Dari situlah kita tersayat oleh dosa, seolah-olah merasa telah menemukan kebenaran.
Kenyataan modernisme yang memuja oposisi biner, seperti positif-negatif, baik-buruk, hitam-putih, fakta-nilai. Pandangan dualistik seperti membuat suatu pemaknaan objektifikasi, terlebih saat dihadapkan pada manusia-dunia. Bahwa ada kebutuhan kemanusiaan di satu sisi dan alam di lain sisi. Yang mana kini hanya alam yang menjadi objek, manusia merasa telah bisa menjinakan alam. ini berarti eksploitasi alam secara membabi buta. Dan inilah dunia yang dirasakan oleh FWF dalam Cinta Segitiga, dibuka dengan :
“Memejam dalam cekam// Dihadapakan seribu persimpangan// Menuju makam// Dengan geram menggenggam// Peta alam yang buram// Tinggal seracau doa yang mampu kusisihkan kepada alam….”
kita semua sadar akan kehilangan kebaikan alam, yang dulu pada jaman pra modern begitu memuja alam. berdoa untuk kebaikan alam pun bukan hal utama, karena berdoa sebagai afirmasi pada ketakutan untuk hidup telah mendominasi pikiran, raga dan logika. Maka gambaran dunia (world view) yang dikonstruksi oleh modernisme, dikritisi oleh postmodern dengan duduk dalam posisi anti gambaran dunia, tidak lain karena yang kita lihat hanya “peta alam yang buram”. FWF ingin menunjukan bahwa alam sesungguhnya adalah media untuk mengenalkan manusia dengan sang pencipta. Dan manusia dapat berhubungan dengan alam melalui sebuah rasa atau intuisi. Lalu bagaimana jika rasa itu telah terkikis oleh logika empiris? Pertanyaan ini lah yang dirasakan pada bait Ketika sadar akan kepergian rasa//Cinta pertama yang dikhianati raga// Ketika sadar akan kepergian rasa// Kumohon kembalilah yang telah tiada.
Yang cukup menarik pula, FWF berupaya menyadarkan manusia-manusia modern tentang peliknya hidup di jaman seperti ini, tanpa menghakimi maupun “memerangi” orang-orangnya. Yang ada, FWF cukup sadar dengan kegamangan tentang narasi-narasi besar modernisme seperti kebebasan, kemajuan atau emansipasi yang dilegitimasikan dalam nilai demokrasi, yang harus dipertanyakan oleh “jiwa yang berang”, meski dengan “memaki konstant pada kehidupan”. Seperti yang ditulis pada bagian berikut //Bukan perang yang aku tawarkan// Pada hati yang hilang// pada jiwa yang berang// memaki konstant pada kehidupan.
Hilangnya rasa itu karena manusia diproduksi menjadi mesin, hanya perlu berpikir dan berkerja untuk sebuah proyek benefit, rasa bukan yang utama pada konteks ini. Hari ini, logika perut telah berkonspirasi dengan logika pikiran, menutupi rasa yang selalu jujur. Apakah saat mencicipi buah yang manis, rasa akan memberitahu otak bahwa itu pahit? Saya pikir tidak.
Pada nomor Kelumpuhan Logika. FWF dengan menang menyanyikan annihilation untuk jaman modern. Modern dengan segala maknanya dibenturkan pada konsekuensi logis paling ektremnya, yaitu kemusnahan. Seraya terdapat pada lirik yang menohok, Kita berpesta//Menyambut hancurnya umat manusia// Rayakan kehancuran dunia. Memang sangat Nietzsche, namun Soe Hok Gie pernah menulis, bahwa seseorang yang sadar pada kenyataan, pastilah ia akan semakin pesimis melihat besok.
Serta Requiem for the Rubbish Nation. Semua ketiadaan jawaban atas dampak buruk modernisme semakin jelas. Pada lagu ini disinggung bahwa dalam modernisme, manusia cukup didefinisikan dari otomatisme keseharian mereka. Sehingga adanya tindakan massal manusia dan mengasingkan manusia satu sama lainnya. Simak saja baris-baris mengesankan berikut :
“We were facing each other// Each day at the same time, same place // We don’t look each other eye // At the moment these days// Something’s smooth for a mechanism// In a strange way”
Ditambah dalam bagian lain We don’t have a time for ourselves//anymore these days//Work hard//Play hard. Yang paling patut dituding siapa kah manusia yang tadi saya definisikan, tentulah kita (terutama saya). Dengan mekanisme, manusia menjadi makhluk anti sosial yang direproduksi oleh industri. Nilai sosial berhubungan manusia (ironisnya) terdegradasi oleh telepon selular maha canggih. Betapa sering juga kita (utamanya saya), sangat akrab dalam dunia maya namun saat bertemu dalam realita, kita tidak seakrab itu dengan manusia. Mungkin karena terlalu penat oleh rutinitas dalam sebuah sistem sekolah, kuliah dan kerja. Celah tersebut dapat dimaksimalkan juga dengan mengguritanya industri pelepasan diri, sebutlah klub malam, pusat game online, mall dll. Hidup menjadi konstant di taraf ini, karena seharian bekerja hasilnya habis juga dalam hitungan jari. Itulah bekerja konstant, dan konsumerisme konstant, nihil.
Bring us back as an animal//Our ancient is an animal. Saya dapat tertawa puas seperti melihat musuh bebuyutan tersungkur setelah berbagai tebasan, menuliskan satu baris yang diutarakan lagu ini untuk mempertanyakan apa yang Darwinisme pikirkan saat tidak merasakan kebenaran dalam religi kemudian memilih materi sebagai ukuran kebenaran mendasar. Dan karena itu juga, modernisme memilih binatang sebagai leluhurnya, mungkin sangat berguna sebagai justifikasi atas perilakunya.
Lalu, jika FWF ingin menolak dunia kenapa pada lagu Sepi Ing Pamrih, Gawe Ing rame, Nrimo Ing Pandum liriknya menyebutkan Dunia yang tak akan//pernah sempurna//kita terima saja. Bukankah ini ironis? Saya pikir tidak juga, pada lagu ini FWF membawa kita merasakan apa yang disebut pluralitas. Pluralitas hadir untuk perlawanan dan juga solusi suatu universalitas, apa yang modernisme usung kini. Universalitas, sistem yang digunakan modernisme dalam tahapan-tahapan kapitalisme monopoli. Lokalitas dalam suasana semacam itu tidak ada artinya, karena standar nilai dan kebenaran diukur menggunakan standar Amerika (contohnya). Seperti halnya, orang yang modern dan mapan sama dengan setelan jas, maka menggunakan batik berapa pun mahalnya tetap dilihat bukan seorang modern. Atau keren itu saat anda menggunakan Macbeth ke gigs. Dan segala universalitas itu busuk, menurut postmodernisme. Nah, pada poin ini, FWF menyajikan suatu nilai prulalitas tadi, dengan menggali nilai dan moral tradisional dimana mereka tumbuh.
Dekonstruksi modernisme memang bisa beragam caranya, salah satu dekonstruksi modern bisa juga dengan kembali pada pemikiran-pemikiran pramodern. Nilai dan falsafah Jawa dapat dirasakan betul dalam “Sepi Ing Pamrih, Gawe Ing Rame, Nrimo Ing Pandum. “ sebagaimana kita tahu, falsafah Jawa sering mengarahkan pada kesederhanaan hidup, dan juga sikap rendah hati. Saya pernah bertanya, tentang apakah Jawa itu, maka seorang Jawa tulen tersebut memberitahu saya jika Jawa itu kata sifat, yang artinya rendah hati. Siapa pun bisa menjadi orang Jawa, jika sikap dan sifat telah rendah hati. Oleh karenanya, menerima hidup seburuk apapun juga aktualisasi suatu kerendah-hatian. Dari situ pula lah sepi ing pamrih, gawe ing rame, nrimo ing pandum bermuara, filosofi tersebut mengajak sikap yang lebih mengutamakan kerja atau aksi nyata namun tidak berkeinginan untuk mendapatkan suatu penghargaan. Dan nilai hasil yang kita peroleh pun bersifat pandum, yakni sesuatu yang harus dibagikan. Begitulah sederhananya, karena saya yakin apa yang saya pahami untuk falsafah tradisi masih dangkal sedangkan hal ini tentu sangat dalam pemahamannya, mungkin karena tereduksi lembaga pendidikan macam sekolah dewasa ini (hasil modernisme).
Setelah berjalan dalam kereta Animal Simbolikum serta memahami setiap gerbongnya, FWF sungguh mengena untuk menggugat, mempertanyakan, dan juga memperkaya realitas terhadap modernisme. Saat itu pula tudingannya bukan hanya untuk sang masinis namun juga setiap penumpang yang ada di dalamnya serta mengingatkan calon penumpang yang ada di stasiun berikut. Dan dengan ini rasa-rasanya cukup meyakinkan juga tentang pernyataan bahwa seni dengan kreatifitasnya dalam ekspresi yang inovatif terhadap realitas yang murni dapat mengubah dunia menjadi lebih baik lagi. (Gurba)
Kebosanan, muak, dan marah. Sebuah deskripsi atas ketidakpuasan yang selalu dengan sukarela disuarakan oleh sektor D – Beat Punk Malang, Existence. band yang beberapa waktu lalu mengeluarkan single bertajuk “Destruction This Fucking Pain”. Kabarnya juga akan segera merilris album anyar dalam waktu dekat. Terlalu bodoh dan menyedihkan jika bunuh diri adalah pilihan wahid ketika kebosanan, dan ketidakpuasan yang memuakkan semakin menghimpit. Berikut sedikit interview singkat padat dan syarat dengan mocking juga sedikit destruktif. Selamat membaca :)
“Destruction this fucking pain with total self control”
Pertama-tama sekedar pertanyaan basa-basi, boleh cerita sedikit hal nyeleneh atau apalah yang memutuskan kalian untuk membentuk band ini ? – berikut dengan line-up terkini –
Karena ingin membuktikan meskipun kami seorang punk ,terlihat urakan atau apalah, tapi kami juga bisa bermusik dan lewat musik kami bisa menyampaikan pesan, kesan, rasa ketidakpuasan kami atau hal-hal yang mungkin tidak tersampaikan lainya
Wacana apa yang sering kalian usung dalam setiap anthem lagu-lagu kalian?
Tentang pengalaman hidup yg pernah kami alami ( sosial ) , ketidakpuasan terhadap sistem yang terlalu mengekang dan lain-lain.
Deskripsikan musik kalian dalam 3 kata ?
Bautz : raw less roll
Tam”s : D.I.Y
Gilank : penaaakkk sip jos
Ilham : war wer wor
Kenapa memutuskan untuk memilih d-beat atau swedish-punk
sebagai alternatif musik kalian ?
Karena kami merasa musik d-beat sangat cocok sebagai refrensi band
kami dalam menyampaikan sebuah pesan lewat gaya bermusik kami
Sosok paling berpengaruh dalam bermusik ?
Bautz : sid vicious
Tam”s : J.simon (vicious)
Gilank : saya sendiri
Ilham : keyakinan
Setelah EP “Total Self Control”, Kabarnya kalian akan merilis
album baru ? Boleh ada bocoran sedikit?
Kami akan menyelesaikan album baru kami di pertengahan tahun ini,
ditunggu supportnya thank’s
Apa yang membedakan antara EP terdahulu dengan album baru kalian nanti ?
Kalau album baru kami yang jelas akan terdengar lebih RAW, lebih pastinya BELI dan DENGARKAN isi dalam kaset itu sendiri hahaha
Lagu anyar kalian “Destruction This Fucking Pain” kalian
terdengar pemarah. Seperti ada hal yang sedang mengganggu
benak kalian, apa itu ?
Bautz : society a crazy breed
Tam”s : society a crazy breed
Gilank : society a crazy breed
Ilham : society a crazy breed
Untuk siapa atau untuk hal apa repetisi “Raimu Gathel” kalian
tujukan? Hahaha ...
Bautz : Buat orang yang rela mengabaikan teman demi reputasinya
Tam”s : Buat semua orang yang mengaku dirinya sebagai pimpinan (kalian begitu sangat menyedihkan)
Gilank : Buat orang yang rela mengabaikan teman demi reputasinya
Ilham : Buat orang yang rela mengabaikan teman demi reputasinya
3 Hal yang kalian lakukan selain bermusik ?
Bautz : Bekerja, beribadah, nongkrong
Tam”s : ibadah dalam hati, berkarya, berproses mungkin haha
Ilham : beribadah, bercinta, bergurau hahaha
Seberapa penting rilisan album fisik bagi kalian ?
Tidak begitu penting, sebenarnya rilisan fisik hanya kami buat untuk teman atau orang yang minat dan penasaran dengan musik kami aja
Eksistensi menurut kalian ?
Kami ingin mereka yang buta karena melihat kami dari sisi negatif bisa sembuh dari penyakitnya agar bisa melihat kami dari sisi positif, dalam punk sendiripun menurut saya eksistensi sangat dibutuhkan.
Solusi terakhir kalian ketika kalian merasa benar-benar merasa frustasi ?
Imaji Patriotisme dan Kekerasan Massal ; Screening Film : The Act of Killing (2012) MLG
Sejak sekitar bulan Agustus 2012, di beberapa milis, lini-massa dan beberapa portal berita alternatif sedang ramai perbincangan mengenai film semi-dokumenter rilisan baru yang dibuat, Joshua Oppenheimer yang menarasikan tentang sejarah epik Indonesia medio 1965an yang tentu saja kita semua tahu ; Pergolakan Rezim dan Kekerasan Massal. Sisi liyan (the others) dari sebuah rezim terkuat dan terkorup yakni sebuah Orde Baru di bawah kepemimpinan yang diktator dan militeristik dalam gerakan pemusnahan massal yang dikenal dengan G30S/PKI. Sebuah film yang cukup bernas dan menendang pantat kita dari kebekuan, sebuah hegemoni berpikir selama 40 tahun semenjak film-film propaganda jaman Orba menjadi tontonan wajib semasa SD. Film yang cukup membuka ruang perspektif baru ini berjudul ; The Act of Killing (Jagal) yang disutradarai sendiri oleh subjek pelaku sejarah sekaligus salah satu tokoh algojo yang sangat ditakuti di wilayah Medan, Sumatera Utara ; Anwar Congo.
Joshua yang hanya berperan sebagai produser dan fasilitator tidak hanya menawarkan isu kontroversial, namun dari teknis pengerjaannya pun, ia menawarkan metode alternatif baru. Joshua mengambil sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan film dokumenter lain. Dimana sudut pandang utama film ini murni dari si pelaku sejarah yang justru bangga akan aksi masokisnya. Dari aspek inilah mungkin, beberapa juri di Festival Film Indie Internasional di Toronto, AS mengkategorikan film ini sebagai pemenang.
Film ini merupakan film semi-dokumenter dimana Joshua merekonstruksi sebuah peristiwa ke dalam peristiwa yang baru dengan sedikit bumbu surealis dimana Joshua dan Anwar Congo menghadirkan scene dengan idiom-idiom absurd, menggambarkan mengenai karakter dan imajinasi masokisme dari pelaku sejarah sendiri dalam tiap eksekusi membunuh korban-korbannya.
Sejak waktu rilisnya, September 2012 sampai kini, film ini telah diputar di beberapa kota di Indonesia baik di lingkup akademis, maupun non-akademis. Kesempatan itu juga didapat oleh kolektif otonom kawan-kawan Malang dengan mengadakan Screening Film ; The Act of Killing (2012) ini secara sederhana di sebuah warung Kedai Koppie sekitaran ITN pada Sabtu, 19 Januari 2013 kemarin. Beberapa dari rekan mengundang beberapa individu-individu lintas-kolektif, akademis maupun non-akademis. Proses pemutaran berjalan cukup lancar namun sayang kaset CD yang diperoleh dari rekan Jogja tersendat (damaged) pada menit 110, dimana benak kami terpaksa dipaksa henti dan penuh dengan dugaan-dugaan sementara yang cukup menggantung. Tidak menyia-nyiakan waktu, salah seorang rekan akhirnya menggelar acara sarasehan atau diskusi dan review bebas dan santai hingga larut malam.
Film ini menarasikan tentang hegemoni sebuah rezim yang suram dimana memang bangsa kita pernah melaluinya. Sejarah kekejaman sebuah rezim yang penuh ironi, tragedi kemanusiaan namun disajikan dengan humor-satire ala Anwar Congo cs dalam tiap eksekusi pembunuhan mereka. Dimana Anwar Congo, Adi Zulkadri dan beberapa anggota ormas bentukan sayap kanan militer tersebut justru merasa tindakan mereka bukan tergolong sebagai kejahatan kemanusiaan. Dimana mereka justru bangga dan menggolongkan perbuatan mereka tersebut ke dalam aksi patriotisme dalam upaya penyelamatan tampuk kekuasaan Indonesia dari ancaman komunisme.
Anwar Congo pada mulanya hanya seorang preman penjaga bioskop dan sekaligus penggemar film Hollywood khususnya film action, thriller dan gangster, dimana disana ia menggantungkan kebutuhan ia akan hidup (ekonomi). Dimana ia merasa harus menggunakan segala cara untuk mendapatkan uang. Tepat ketika itu dimana ketika Partai Komunis Indonesia mengalami puncak kejayaannya, yang juga berarti regulasi pembatasan pemutaran film-film Hollywood diperketat sehingga praktis membuat pekerjaan Anwar Congo pun tersendat oleh karena tingkat konsumsi film penonton turun drastis.
Kondisi psikologis (denial) Anwar dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi tersebut ternyata mampu dibaca oleh oposisi komunis. Anwar Congo pun naik pangkat dan oleh Pemuda Pancasila dipercaya (dimanfaatkan) tenaganya dalam upaya pembunuhan massal oleh pihak-pihak yang terkait dengan komunisme dengan embel-embel patriotisme, nasionalisme, jabatan dan jaminan kebal-hukum.
Imajinasi dari seorang Anwar Congo dalam setiap eksekusi pembunuhannya yang terkenal bengis, kejam, dan eksentrik juga merupakan aspek psikis yang bisa kita bahas. Imajinasi-imajinasi liarnya itu ia peroleh dari film-film Hollywood terkenal di zamannya. Dalam film ini bisa kita lihat imajinasi-imajinasi absurd dari seorang Anwar Congo, ketika menari cha cha cha setelah menjerat korbannya dengan kawat, Herman yang memakai kostum-kostum seperti malaikat kematian, cosplay dan lain-lain.
Pandangan lain justru dipaparkan oleh Adi Zulkadri –yang tampak paling “in-telek” di antara sekawanan ini— dan membuat kita tercengang. Adi memberi pernyataan gamblang di akhir pembuatan film fiksi mereka, bahwa bila film mereka itu diputar, propaganda akan kekejaman PKI akan berpindah ke citra mereka sebagai penumpas PKI paling kejam yang memang pencitraan seperti itu yang mereka inginkan.
Adi Zulkadri yang juga tergabung sebagai anggota ormas paramiliter sayap kanan terbesar Indonesia, Pemuda Pancasila tersebut malah menantang dan berani apabila ia dilaporkan dan diadili di sidang Internasional Konvensi Jenewa. Dia berpendapat bahwa tidak semua kebenaran harus diungkap, karena yang benar tidak selamanya baik. Definisi kejahatan perang yang dibuat oleh konvensi Internasional ia tampik dengan sebuah pernyataan bahwa ia juga bisa dan berhak menentukan definisi kejahatan perang itu di sini (red-Indonesia).
“Definisi kejahatan perang dibuat oleh pemenang. Saya pemenang. Dan saya bebas mendefinisikan kejahatan perang itu di sini”, ujar Adi Zulkadri santai sambil menyetir mobil.
Film ini juga menunjukkan bahwa peran dan dominasi free-man (preman) dalam aktivitas high-politic sebuah Negara sangatlah besar. Dalam film ini juga menghadirkan beberapa scene yang memang menunjukkan betapa leluasa penerapan kejahatan kemanusiaan dalam sebuah ormas Pemuda Pancasila yang dibentuk sebagai legimitasi, lembaga-lembaga yang dibuatperlindungan oleh kepentingan-kepentingan politis. Mereka juga terang-terangan dalam mengutarakan aktivitas politik mereka yang berorientasikan uang, dimana petinggi-petinggi Negara seperti Jusuf Kalla juga mengamini dan mendukung adanya peran seorang free-man yang nihil-hukum dan berhak menyelesaikan urusan-urusan Negara di luar kelembagaan dan hukum.
Secara garis besar keseluruhan film dan diskusi tanggapan dari beberapa teman dalam forum, fokus permasalahan terletak pada hal apa yang melatarbelakangi Anwar Congo cs dalam pembuatan film yang ia sutradarai sendiri, ia perankan sendiri – peran sebagai korban pun ia mainkan sendiri-.
Tentu saja, hujatan dan cacian “tidak berperikemanusiaan” yang kita alamatkan pada Anwar Congo tidak semerta-merta bisa kita sematkan pada Anwar Congo. Mari kita tempatkan Anwar Congo dan algojo lain di seluruh Nusantara sebagai seorang manusia biasa, sebagai korban rezim. Karena yang patut kita soroti adalah bahwa ini merupakan sebuah kejahatan struktural, sebuah kekejaman rezim. Dimana pertarungan dan dominasi bermuatan ideologis antara (komunis versus nasionalis) belaka, hanya berorientasi pada kekuasaan pribadi semata merupakan faktor utama terdegresinya nilai-nilai kemanusiaan sampai-sampai harus mencecerkan ribuan nyawa tak berdosa di tanah air kelahiran sendiri.
“Dimanapun dan kapanpun, tidak ada satu rezim pun yang tidak pernah meminta korban”.
Dengan itu semua, - mengutip dari tulisan akhir Ronny Agustinus - The Act of Killing menjadi paparan kompleks dan multidimensional tentang motif-motif manusia dalam melakukan dan menyikapi tindak kekerasan—sebuah pencapaian yang takkan cukup dibahas oleh resensi ini, sepanjang apapun. Ia juga telah memberi kita masukan mendalam untuk tak melihat sejarah 1965 secara garis besar dan hitam-putih saja, namun membawanya ke tingkatan paling personal tentang dampak panjang yang dihasilkan oleh kekerasan massal terhadap hidup dan kejiwaan masing-masing orang dalam masyarakat Indonesia, sampai sekarang --
Bagi yang ingin melihat trailernya silahkan klik di sini --> The Act of Killing ; Jagal
Budak Hitam Corporation Kembali menggelar acara musik cadas Murcaing Piandel Tanah Jowo, Gonjang Ganjing 4. Acara musik cadas bertemakan budaya jawa ini akan menyuguhkan band - band cadas garda depan. Metalhead yang patuh wajib datang.
Minggu, 27 januari 2013
Start : 14.00 – 22.00
at Aula ITN Malang, Jl. Bendungan Sigura – Gura 2
Tiket : Rp.25.000,- / Tiket Presale : Rp.20.000,-
Upeti 1: Rp55.000 Gratis 1 Tiket masuk + 1 CD Sekarat | Upeti 2: Rp50.000 Gratis tiket masuk + 1 CD Gusar | Upeti 3: Rp150.000 Gratis 1 Tiket Masuk + 1 CD Sekarat + 1 CD Gusar + Kaos Acara
Bangkit Melawan. Muda dan berbahaya. Satu lagi amunisi dari sektor HC/Punk MLG yang mungkin sudah kalian kenal masing-masing. Duet vokalis compatible, dan beberapa waktu menggunakan topeng di setiap gigs nya, bahkan ditelanjangi bulat-bulat di venue. Band HC/Punk ini membawa pesan-pesan Positive Mental Attitude dan sedikit provokatif mengenai optimisme dan bagaimana bangkit dari keterpurukan di usia-usia setengah matang dalam balutan distorsi yang dalam namun segar. Mereka juga sempat terlibat dalam proyek usil dan kecil-kecilan dari mini label Tahu Teror berupa 3 way-split bersama Free Speech dan Terali Besi. Baru-baru ini juga telah menelurkan single apik berjudul Amorfati. Akhirnya dengan senang hati meluangkan waktunya untuk mengisi angket sederhana dari kami. Oke gak banyak cakap, Here`s Bakwan, Bangkit Melawan. Refuse, Resist and Revolt for fun :)
Yaa, untuk pertanyaan basa-basi boleh sedikit berbagi cerita ttg hal-hal nyeleneh atau hal apa yang membuat kalian memutuskan membentuk band ini ? Dan juga line up terkini ?
V : Singkat cerita band ini terbentuk di akhir 2009 dengan formasi awal Tio, Vino, Wiro, dan Hediarto. Yang kemudian Tio dan Hediarto tidak bisa melanjutkan karena terbentur pendidikan dan kesibukan lainnya. Kemudian pergantian pemain diawali oleh Bima menggantikan Hediarto dan disusul Ardi menggantikan Tio. Kemudian memiliki 2 lagu sendiri dan mulai muncul di gigs-gigs kecil. Lagu ketiga dibuat dengan konsep duet dengan Prana untuk mengisi sesi rap di lagu tersebut. Tak lama kemudian Prana pun direkrut dalam band untuk membantu sang biduan Ardi bernyanyi. Sehingga konsep duo vokal untuk meramaikan band ini. Seiring perjalanan waktu, untuk lebih memantapkan genjrengan gitar, maka dimasukkan lah Cendol sebagai gitaris kedua. Sehingga saat ini personil terakhir adalah Ardi pada vokal, Prana pada vokal, Vino pada gitar, Cendol pada gitar, Wiro pada bass, dan Bima pada drum.
Jadi intinya personil kita saat ini ada :
Ardi – vokal
Prana – Vokal
Vino – gitar
Cendol – gitar
Wiro – bass
Bima - drum
Oiya, di interview ini jawabannya minus Bima, karena susahnya dihubungi dan tidak pernah bertemu dengannya, harap maklum gays :D
Deskripsikan konsep musik kalian dalam 3 kata ?
A : bebas, kacau, dan suka-suka
P : hardcore punx n roll
V : Oldschool, bergembira dan bersenang-senang.
C : aprehensive comedy n’ roll
W : Liar, liar, liar
Untuk pembuatan lirik lagu, kebanyakan kalian berbicara tentang apa dan apa yang ingin kalian tekankan pada penikmat musik sini ?
V : Sementara ini lirik lagu masih seputar semangat, kebersamaan, positive mental attitude yah seputar pesan band-band youth crew era 90-an. Sedangkan untuk saat ini kita masih mengeksplor lirik, setengah jadi sudah ada tentang kota kami, sedikit politik, kehidupan sekitar, pengalaman pribadi, mungkin juga putus cinta hahahaha :D
P : Dulu pas demo bakwan kami banyak menulis tentang pma atau apalah itu. tapi beberapa lagu sekarang kami banyak menulis lirik tentang sudut pandang kami pada yang terjadi pada kami dan sekitar kami . beberapa dari kami juga sekarang kalo menulis lirik terinspirasi dari tulisan2 subcommandante marcos, jonny 'itch' fox, dewi lestari, dan masih banyak lagi. jadi intinya sekarang kami banyak menulis lirik yang berkisah mengenai kehidupan nyata, orang orang yang nyata, situasi nyata dan psiko-geografi dari lanskap ”perang”, imajinasi, dan cinta dan lain2 hahahahahahaha aauuuoooooooo guk guk meeong
W : Mungkin kebanyakan lirik dari lagu kami sebelumnya berceritakan tentang semangat muda, ketidak menyerahan, pma. Mungkin lagu yang selanjutnya akan lebih bervariasi dan mungkin akan menceritakan pengalaman kami dan kehidupan sosial di sekitar kami :D
Sesuai dengan informasi yang beredar di beberapa portal dunia maya dan lintas panggung, kalian telah menelurkan EP dengan judul “Tahu Teror Is Gay” dengan cover dua lelaki mesra merajut asmara. Bisa diceritakan mungkin tentang kegemaran atau wacana singkat mengenai gaya hidup metropolitan ini ?
V : Sebenarnya itu bukan EP dari kami, melainkan 3 way split bersama Free Speech dan Terali Besi yang diluncurkan untuk mengiringi perjalanan tour kami pada Juli 2012 lalu. Yah, terinspirasi dari beberapa lagu atau mungkin kebanyakan lagu dari Anal Cunt di album “I Like It When You Die” yang benci dengan keadaan di sekitar seperti Technology is gay, Recycling is gay, You’re gay, The internet is gay, dll. Sehingga sering menjadi bahan guyonan kami yang sedikit sedikit gay. Sehingga munculah tahuTeror is GAY 2012. mungkin cover dari CD tersebut bisa mewakili perbedaan yang ada di dunia ini dengan pilihan hidup masing masing individu.
P : itu sebenernya kompilasi iseng2an sih dari band temen2 sendiri namanya tahu terror is gay juga diambil asal2an dari celotehan lelucon temen2.. aah yaa kalo masalah cover sendiri , eem mungkin kami pikir seseorang mempunyai hak untuk menentukan sexual-preference -nya sendiri. Toh baik buruk nya perilaku seorang gak dinilai dari warna kulit, apakah dia bisex, homo, atau lesbi tapi bagaimana ia memperlakukan sesamanya. Jadi intinya selama mereka tidak “menggangu” kita, sifat homophobic itu lebih baik dikurangi hehehehe
Apa yang membedakan kalian dari band kelas hardcore yang lain ?
A : mungkin ada sedikit unsur gloomy dalam segi musik di lagu lagu yang baru
P : Drummernya alay, bassitnya kriuk.
V : Mungkin mencampurkan unsur-unsur lain dan penuh canda.hahaha
C : berbeda karena kamu bermusik sesuai yang kami senangi,tanpa terpakem pada hardcore itu sendiri.
W : Duet vokalis kami yang alay..hahaha
Hal-hal apa yang identik dengan Bangkit Melawan ?
A : kegilaan, senang senang dan bercanda
P : Gim. bermoduskan kamera buat nyepik kodew, I hope you fucking die! hahahaha
V : ardi serem auoooooo
C : ArdhiXserem
W : Orasinya vokalis Bakwan yang sesekali nglambyar..hahaha
Atribut yang musti dipakai ketika perform ?
A : waduh gak ada yg wajib deh, disesuaikan dengan keinginan sajalah mau pake apa
P : hahahahaha kayak model aja mas :p
gak ada mas, mau make apa terserah yang penting nyaman :p
V : Baju, celana, dan alas kaki :D
C : yang pasti sih celana dalem,kalo ga pake celana dalem, nanti ada yang gondal gandul. #kriuk
W : Waduh...kurang tau nih :D
Siapa tokoh kiblat kalian bermusik berisik ?
A : karlmarx main musik gak yah :p hahaha
P : Pak pardi, cak bidin, bawon, lento.
V : Ayah, Ibu, Saudara
C : HAVE HEART!!!
W : Wahaha...yang pasti bukan dosen pembimbing saya
Seberapa penting album rilisan fisik di mata kalian ?
V : Sangat penting karena bisa ditunjukkan pada anak cucu kita bahwa masih ada rilisan kaset, CD, vynil,dll. Seperti kata Bung Karno “Jangan Sekali-sekali melupakan sejarah!”
P : penting sam, soalnya menurut kami sendiri eksistensi band itu bukan dari manggung nya aja sih lebih ke hasil nyata kayak demo, split atau apa lah itu haha
W : Penting sekali, karen dengan album rilisan fisik kita lebih bisa menghargai dan bangga akan hasil jerih payah dari karya yang kita buat
Seberapa penting media alternatif (fanzine), local radio dan minor label bagi kalian ?
V : Sangat penting, karena media media tersebut membantu promosi band kami sehingga bisa tersebar luas dan dinikmati seluruh penikmat media media tersebut. Tanpa dipungut biaya juga mungkin :p
Boleh minta pendapat kalian tentang masalah file-sharing ?
V : File-sharing adalah pembagian file kepada individu atau banyak orang yang ingin kita beri. Trus masalahe opo??hahaha...mungkin karena semua jadi terbiasa unduh unduh tanpa beli rilisan aslinya ya. Yah memang gratisan itu menyenangkan, selama itu ilegal :D
P : Oyi oyi aja mas, toh file sharing juga banyak membantu band ecek ecek kayak kami gini. Bisa promosiin band dan lain2.. Mestinya kalo mau tanya gini mending ke band2 yang udah ngeluarin album kayak peterpan gitu deh hahahahaha *eeh peterpan udah gak ada yaa
Sepakatkah kalian dengan plakat kata-kata "semaumu" ? Kalo iya apa saja yang sudah kalian suarakan ? dan kenapa ?
V : Sepakatlah karena setiap individu pasti memiliki hak hidup masing-masing. Yang penting bagaimana kita menerima dan menghormati keputusannya saja. Apa yang kita suarakan apa ya. Mungkin pesan-pesan lewat lagu kita sih.
P : Sepakat sam yang penting bisa mengelola dirinya sendiri dan sadar posisi. “Mendingan lampu rambu lalu-lintas mati, biar semua orang jadi ‘rambu’ buat dirinya sendiri.” (ngutip dari blog temen :p)
Ditelanjangi atau menelanjangi ?
A : atau deh :p hahaha
P : rahasia
V : Ditelanjangkan
C : Menelanjangi,karena ujung-ujungnya juga selalu ditelanjangi..
W : Nelanjanginlah
Morrissey atau Keith Morris ?
A : dua duanya :3
P : johnny rotten
V : Morrissey
C : Both Of Them
W : Mike Ness
Well, Pussy Riots atau Suster Clinic ?
A : pussy riots lah
P : lush
V : JKT48
C : Suster Clinic,ngefans soalnya karena salah satu personil adalah temen main kakak saya.hehe
W : SDN48
Album Favorit ?
A : The Sound of The Smiths
P : Abcdefg (chumbawamba), Hymn to the immortal wind (mono)
V : Soldiers Embrace – Action Reaction
C : The Things We Carry (Have Heart Bridge9 Rec.)
W : Hi-Standard - Making Road
Aktor Jack-Ass favorit ?
A : kosong
P : Wee man
V : Steve-O
C : Jhonny Knoxville
W : Chris Pontius
Rekomendasi 5 band lokal berbahaya ?
A : Last Car Bitch, Self Revolution, Free Speech, Death of president, Torogh.
P : screaming factor, nugatoria, take this life, pickwolf, death of president
V : Free Speech, Death of President :p, Nugatoria, Screaming Factor, Geisha (tetep)
C : Free Speech, Sharkbite, PitSkankin, Lolyta ATDT , Sri Minxgat
W : Thinking Straight, Brave Heart, Death Of President, Straight Answer, dan Haybomb karena saya ngefans bangets sama vocalistnya Haybomb :D
Gambaran apa tentang Bangkit Melawan 5 tahun ke depan?
A : bikin album, tour, bubar, hidup nyaman dan ideal, tetep saling komunikasi antara sesama anggota :)
P : gak tau, the future is unwritten :p
V : Hidup mapan, punya pekerjaan, punya pasangan hidup, bikin album, tour dan last show :D
C : Punya Istri&anak yang tentu saja diiringi dengan perjalanan karir/Bisnis yang Sukses(amin amiiin), bisa kumpul bareng sambil barbeque Party di pantai,sambil mikirin album kedua/ketiga. Dan akhirnya ya Bubar karena prioritas masing masing.
W : Menikah :D
5 track lagu favorit waktu terlambat kuliah/kerja/janji ?
A : berhubung saya jarang sekali telat, gak ada yang favorit hahahaha
P : sex pistols - pretty vacant, nofx-lazy, blitz-new age, gang holiday-better day, no mans land-oi oi today
V : semua track di handphone saya :p
C : Leaving On A jet Plane (John Denver), Young Till I Die (7seconds), Have Fun (Free Speech), Cobalah mengerti (NOAH feat. Momo), Mr. Saxobeat (Alexandra Stan).
W : Hi-Standard yang Fighting Fists Angry Soul, Stop The Time, Dear My Friends, Stay Gold, Teenagers Are All Assholes :D
Any Closing Statement ?
A : sukses buat brankas webzine oioioi!
P : Jebor got duluu ah auuoo
V : yo sukses Brankas Webzine :D tetap sehat dan tetap semangat :D
Malang SubNoise bukan merupakan sebuah eksebisi seni, ini adalah sebuah gerakan anti-art yang berangkat dari kebosanan kami terhadap musik yang selalu di produksi oleh alat dan cara bermain musik yang konvensional dan membosankan.
Bermaksud membunuh kebosanan akan suasana iklim musik di kota malang dan memberi wadah bagi teman-teman yang bermain musik secara tidak biasa (dalam hal ini Avant Garde "advance guard", Soundart, Dadaism, Surrealist, Antiart, atau apalah sebutannya) maka kami mengumpulkan para penggiat seni yang termarjinalkan dan tak terdengar.
MALANG SUB NOISE
Jum`at, 28 Desember 2012
Start 7 pm untill end @HoutenHand Beer and Coffehouse
BERISIK MALAM-MALAM
TITIKOMA
RATAPAN ANJING LIAR
SATURDAY NITE
CAK BAGUS EKSPERAMENTHIL
SARAJEVO
There’s a beauty in chaos. Dimana dari sana seringkali banyak kita petik kesamaan kasus dalam kehidupan nyata yang semakin carut-marut sehingga apa yang kita lihat, dengar dan rasakan niscaya bisa menjadi pembelajaran dalam menghadapi kehidupan di dunia yang sudah kacau dan kita paksakan untuk layak huni.
Tidak ada tendensi apa-apa dari kami selain bersenang-senang dan belajar di sini.
Apa jadinya ketika cinta, sakit hati, amarah dan libido saling merangsek ingin keluar satu sama lain? Yah, Free Speech memilih berkata “HATE!”.
Di penghujung tahun ini akhirnya mereka merilis EP yang berisi 5 lagu baru plus cover songs dari band lawas Afro-Punk, Bad Brains. Buat kalian yang sedang kebingungan merencanakan aktivitas tahun baru, ambil kalender. Buat yang sedang memar-memar habis dipukuli, pulang dan bercintalah. Lebih baik serukan keras-keras lagu bersama kawan atau nyanyikan lagu perang sebagai tanda cinta sejak hari ini. :)
Perfectly my fantasy / A peace together / A piece apart / A piece of wisdom / From Our Hearts - Pay To Cum - Bad Brains -
silahkan unduh EP mereka di sini secara cuma-cuma.