Fri, 1 July 2022 11:21 AM WITA
Tes tes haha duh ini akhirnya setelah beberapa bulan sejak catatan terakhir gue. Kali ini gue balik dengan another stories yang WAH gila banget haha
Gue gak begitu yakin, apakah ini akan panjang, panjang banget, atau ternyata b aja, tapi yang pasti gue akan membuat catatan kali ini menjadi yang paling penting –walaupun gue tau semua yang gue tulis sebelumnya juga, sama pentingnya– sebagai salah satu jejak bahwa gue belajar tentang banyak hal.
Oke mulai dari mana ya kita haha kayaknya gue akan membuat menjadi beberapa poin deh ya; stay stunned –anjay gaya bat ini haha
Gue akan mulai dari kejadian yang PALING fundamental, dari sejak gue di-ghosting –semoga lo gak pernah baca ini ya– gue benar-benar berubah menjadi seseorang yang beda. Gue baru menyadari itu saat menulis ini –setelah mengalami kejadian ini– bahwa mungkin bisa jadi triggering utama-nya adalah itu. Pun saat menulis ini, tiba2 bingung gue harus mendefinisikan apa yang gue alami ini apa, apakah patah hati terberat dalam hidup gue? Kayaknya iya. Oke. Let’s call it broken hearted. The broken heart that kills you. Kill your self-esteem, self confidence, doubting your self worth, feeling rejected, unaccepted, guessing every single thing that you do. Almost destroy everything that you’ve built.
I never expected that love can be that scary if you don't really know how to maintain your own emotion. It took me almost 3 years. Tapi 3 tahun itu juga gue jadi lebih banyak aware tentang self-love, mental health dan sebagainya. Menurut gue trigger tersebut seperti membangkitkan semua masalah - masalah psikologis gue, inner child dsb. Long-story-short, jelas gue berusaha untuk sembuh. Gue gak mau dong terus-terusan merasa kaya gini. I got therapy and got myself some medicine that can help me. At first it went smooth, I can feel myself getting better day by day. Seems like everything went well, till finally I got diagnosed with SJS (Steven-Johnson-Syndrome) -cuz allergic to medicine that I took in the second place. This is the key of my story –moral story–
Kenapa gue bisa bilang begitu, karena rasanya setelah gue dinyatakan sakit dengan diagnosa seperti itu, aneh dan bin ajaibnya, pikiran di kepala gue seolah - olah te-restart. DUH GIMANA YA gue juga agak bingung menjelaskannya. This will sound soooo hyperbolic, tapi serius. Gue langsung blank. Gak tahu harus memproses semuanya seperti apa –di dua hari pertama gue rawat inap. Salah satu yang bisa gue bilang, ini kaya kesempatan kedua yang Tuhan kasih.
Ini berkaitan, selama gue sakit, jelas dong gue dirawat dengan Ibu gue, dan ini gue bisa bilang adalah titik balik hidup gue. Lagi gue akan bilang, bahwa kuasa-Nya ada. Entah bagaimana caranya, yang seperti apa pun gue juga bingung. Lo ngerti gak sih, perasaan atau pikiran yang awalnya tuh gelap banget, I mean, kaya lo buta abis, selalu merasa sedih, atau kekhawatiran yang entah muncul dari mana, pokoknya hal - hal negatif yang biasanya orang - orang kaitkan dengan entah itu masa depan, hal - hal yang diperjuangkan, waktu, dan banyak hal lain dalam hidup, gue seketika sangat, sangat, sangat merasa aman dan nyaman. DUH gue sendiri sampai sekarang masih sangat amazed dengan perasaan yang gue alamin sampai saat ini, detik ini.
Gimana ya, kaya selama gue sakit –sekarang dalam tahap recovery– gue benar - benar merasa tenang. Hal - hal ambisius, mimpi - mimpi tinggi yang gue khawatirkan, yang gue susun, yang gue idam - idamkan seketika bisa gue taruh rapih. Rasanya tuh dalam kontrol gue. I feel soooooo present. Into the moment bgt. Gue juga jadi sangat menikmati hal-hal kecil yang gue lakukan sehari - hari.
Badan gue ringan, pikiran gue gampang untuk ditata, kepala gue tenang. Hingga gue mencari - cari sebenarnya kemarin apa ya yang membuat gue se-desperate itu. Entah kenapa gue yang langsung tersadarkan, bahwa setelah gue lulus kuliah, gue gak ada yang namanya berhenti sejenak. Gue terus berlari, mencari validasi sana sini, mencoba menjadi hebat seperti a,b,c.
Tapi sepertinya poin penting-nya yang paling gue sadari adalah; bahwa gue terlalu fokus dengan diri gue sendiri, maksudnya gini, ternyata gue terlalu terobsesi dengan diri sendiri, sampai titik di mana justru gue sendiri yang merusak diri gue. Justru gue sendiri, dengan segala hal - hal sedih, sengsara, yang gue rasakan itu, gue ciptakan. Gue seakan - seakan membuat ruang dan rupa bahwa gue itu menderita dengan segala jenis masalah yang fokus ke diri gue sendiri.
Dan dalam penyadaran tersebut, kesimpulan utama yang bisa gue tarik adalah, kehadiran Ibu adalah penyelamat gue. Beliau yang menyembuhkan gue. Selama gue sakit, intensitas gue dengan Ibu semakin sering, gue jadi sering ngobrol - ngobrol ringan, sharing hal - hal kecil tentang rumah, banyak hal lah. Momen - momen ini yang juga membuat gue sadar bahwa, banyak hal yang ternyata gue lewatkan. Maka dari itu gue sangat, sangat, sangat berterima kasih sama Tuhan. Gue gak tahu lagi harus membalas dengan apa. Sampai satu - satunya yang selalu gue lakukan tiap malam sebelum tidur adalah berdialog dengan-Nya. Banyak do’a yang gue panjatkan. Banyak harap yang diam - diam gue minta dengan sangat. Semua berhubungan dengan kesempatan yang gue minta untuk selalu dihadirkan dan akan gue gunakan sebaik mungkin.
Dengan banyak kesadaran dan pikiran - pikiran baru yang hadir di kepala gue, mimpi gue jadi sangat - sangat sederhana. Gak muluk - muluk lagi. Gue juga merasa menjadi orang yang terlahir kembali –please jangan bilang gue lebay haha. Tapi beneran, gue seperti merasa, jadi orang yang baru, dan pembaharuan ini tentunya memengaruhi ke banyak hal, salah satunya fangirling hahahaha
Entah gue juga bingung bagaimana mendeskripsikan semua ini, setelah sakit, sparks fg-an gue seketika menurun drastis. Gue jadi tidak heboh, bahkan bisa dibilang b aja. Duh ini temen deket gue pasti ngerasa gue aneh, tapi serius. Gue juga bingung. Demi apa wkwk TAPI bukan berarti gue berhenti. Gue hanya menjadi versi fans yang lebih dewasa –asik banget gak tuh bahasa gue
Ini yang paling ajaib, percaya atau tidak, –please ini akan cliche bgt– cara gue menyayangi dan mengidolakan Lee Haechan sekarang justru benar - benar jadi sangat berbeda. Ada perasaan lain yang justru menurut gue lebih nyaman dan menyenangkan. Gue jadi melihat dia sebagai Idol gue. Sebagai panutan. Someone that I look up to. –walaupun ini gue kadang masih yang, boleh banget dong kalau jodoh HAHHAHA standar gue dia nih soalnya– bukan yang menggebu - gebu seperti sebelumnya. But still, his presence really means a LOT to me and I love him so dearly. Let’s meet someday, Donghyuck-a!!!<3
Gue gak tahu ini penutupannya intinya apa, tapi satu yang pasti, hal - hal aneh bin ajaib gini ternyata bisa juga gue alamin yak hahaha Gue bahkan sebenarnya masih selalu bertanya - tanya, masih selalu amazed. Tapi gimana pun nantinya, cerita ini, kejadian ini akan menjadi salah satu bukti bahwa kuasa-Nya itu nyata. Ia punya banyak cara untuk menyadarkan umatnya, ribuan solusi untuk setiap masalah hambanya. Gue juga percaya, walaupun sedikit banyak selalu kita pertanyakan, kenapa kok harus gini dan gitu, yakini bahwa memang itu cara yang terbaik dan paling ampuh.
Bisa jadi ternyata ini sembuh yang sebenarnya gue butuhkan. Dan kenapa baru sekarang, gue gak akan pernah mempertanyakannya, karena gue yakin memang ini waktunya aja. Gue meyakini bahwa ada hal - hal lain yang Ia persiapkan untuk gue, dan bisa jadi justru Tuhan sedang mempersiapkan gue untuk menyusun ulang bekal - bekal yang seharusnya dipersiapkan dari awal.