Apa lagi yang kamu cari?
"Aku mencari sebagian dari diriku yang telah hilang..."
08.44 || 2/Apr/26
No title available
wallacepolsom

祝日 / Permanent Vacation
Mike Driver

⁂

#extradirty
One Nice Bug Per Day

Origami Around
h
Not today Justin
Stranger Things
ojovivo
I'd rather be in outer space 🛸
Cosmic Funnies
todays bird
Sweet Seals For You, Always

Discoholic 🪩
d e v o n

Janaina Medeiros
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from Taiwan
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from United States

seen from T1
seen from United States
seen from United States

seen from South Korea

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Australia

seen from South Korea

seen from United States
seen from United States
@bukanrumah
Apa lagi yang kamu cari?
"Aku mencari sebagian dari diriku yang telah hilang..."
08.44 || 2/Apr/26
Bisa jadi,
IBADAH TERPANJANGMU adalah BERPRASANGKA BAIK pada takdir Allah. ✨️
Perempuan ini lagi jatuh cinta sama proses yang di lewati
Dulu aku mikir sembuh itu harus cepet.
Sekarang aku tahu, sembuh itu seru kalau dijalani pelan-pelan.
Aku memilih sembuh dan buat Happy Salah satunya dengan foto-foto
Lewat lensa, aku belajar cari hal-hal kecil yang bikin senyum.
Jadi kalau kamu lagi capek,
coba cari satu hal kecil yang bikin kamu senyum hari ini yaa…
Aku selalu ingat sebuah nasihat dari Jalaluddin Rumi, “untuk hidup yang hanya satu tarikan nafas, jangan tanam apapun kecuali cinta.”
Dan semakin bertambah usia, aku semakin mengerti bahwa hidup memang terlalu singkat untuk dipenuhi kebencian, gengsi, dan pertengkaran yang tidak pernah benar-benar membawa ketenangan. Banyak manusia sibuk memenangkan ego, sampai lupa bahwa waktu terus berjalan dan hati perlahan menjadi asing terhadap dirinya sendiri.
Kita sering terlalu keras pada hidup. Terlalu sibuk mengejar sesuatu yang bahkan belum tentu bisa dibawa sampai akhir. Sampai akhirnya lupa menikmati hal-hal sederhana, seperti didengar dengan tulus, dipeluk saat lelah, atau sekadar memiliki seseorang yang tetap tinggal ketika dunia terasa tidak ramah.
Mungkin itu mengapa cinta selalu menjadi hal paling penting. Bukan hanya tentang mencintai orang lain, tetapi juga belajar mencintai hidup, menerima diri sendiri, memaafkan masa lalu, dan berhenti menyiksa hati dengan hal-hal yang tidak bisa diubah lagi.
Karena pada akhirnya, hidup benar-benar sesingkat satu tarikan nafas. Dan akan sangat menyedihkan jika waktu yang sebentar itu justru habis untuk saling melukai.
mari mengundurkan diri dari hal-hal yang bikin kita berkali-kali mempertanyakan kelayakan diri kita.
kalau kamu merasa cukup dengan diri sendiri, kamu gaperlu banyak pintu untuk merasa utuh..
Simpulan, 06.44 || 24/04/26
019;
Kadang tuh suka kepikiran...
Ko ada yaa orang yang punya energi lebih buat jahatin orang lain.. buat membenci orang lain.. Kadang lucu aja ngelihatnya. Padahal kehidupan dunia cuma tempat persinggahan, ibarat kata ruang tunggu nih.. Tapi kenapa nunggunya musti sambil jahatin orang?! Padahal masih ada opsi lain; misalnya cobain makanan-makanan enak di restoran, jalan-jalan ke tempat yang indah, berkujung ke museum, baca-baca buku di perpustakaan.. dst
Habis gitu, pas baca Al-Quran aku nemu ayat ini..
'wa jaalna ba'dhakum lil-ba'dhin fitnah atasbiruun?' wa kaana rabbuka bashiiran' . (Al-furqan: 20)
...dan dijadikan sebagian kamu bagi sebagian yang lain sebagai ujian, apakah kamu mampu bersabar?
Seolah-olah Allah tu bilang; Disini Aku itu juga lihat. Lihat. Memperhatikan. Mengawasi juga seluruh perbuatan kalian. Jadi jangan kalian disangka, bahwa kesabaran kalian itu sia-sia.
Pantaslah mengapa Rasul selalu ngingetin gini; "laa taghdzab wa laka al-jannah". Jangan marah, bagimu surga.
Allaah juga berfirman;
"Ulaaika yujzawna al-ghurfata bimaa shobaru wa yulaqowna fiiha tahiyatan wa salaaman..." (Al-furqan: 75)
Mereka itulah yang dibalas dengan tempat yang tinggi (surga) karena kesabaran mereka, dan mereka disambut di dalamnya dengan penghormatan dan salam..
Kalau kata Ibnu Katsir tuh yaa.. kesabaran yang bisa menjadi penyebab utama masuk surga itu bukan cuma kesabaran dalam ketaatan, tetapi juga kesabaran dalam bentuk pengendalian diri.
Sejatinya orang yang mampu menahan amarah, ia sedang berada di masa pengendalian terhadap dirinya sendiri. Menaklukkan rasa yang bergejolak di dalam dadanya agar tidak menimbulkan perbuatan yang merusak, lisan yang buruk, dan hati yang kotor.
Sebab menahan diri dari konflik yang tidak perlu adalah bentuk kesabaran aktif, bukan pasif.
Al-Ghazali juga mengungkapkan yang selaras; "...sabar adalah separuh iman; dengan sabar seseorang meniti jalan menuju Ridha Allaah, yang ujungnya adalah syurga."
Itulah mengapa puncak tertinggi dalam keimanan adalah Ihsan. Ihsan selain mengandung makna berbuat baik, ia juga memuat tentang teruslah berbuat baik meskipun dijahati. Sebagaimana kata Fakhruddin ar -Razi; "tingkatan tertinggi dari akhlak itu bukan hanya menahan diri dari amarah tapi juga membalasnya dengan kebaikan."
Lebih jauh dalam perspektif tasawuf; sufisme berpendapat bahwa sabar bukan sekedar menahan, tetapi juga tentang mengolah rasa:
Marah -> Tenang
Benci -> Maaf
Ego -> Ridha
Sehingga dalam prosesnya kesabaran itu menjadi sarana tazkiyatun nafs (proses penyucian jiwa) —yang menghantarkan pada kedekatan kepada Allah, kemudian puncaknya adalah surga.
Pokoknya mulai sekarang tiap mau marah nihh.. kudu ambil ancang-ancang, langsung tarik nafas - buang - lalu bayangkan...
Yaahhh bayangin aja duluu...
Pas kita mau masuk syurga nih.. para malaikat itu sudah menyabut kita di depan pintu surga sambil bilang gini; "salaamun alaikum bimaa shabartum fa ni'ma uqba ad-daar..."
Apa kita engga dibuat melting tuhh?
Penuh-Luruh, 00.00 || 08/April/2026
Dulu aku sibuk mencari siapa yang akan bertahan. Sekarang, aku lebih sibuk memastikan bahwa diriku tetap berjalan dengan baik. Bukan karena tidak butuh siapa-siapa, tapi karena tidak semua hal harus bergantung pada orang lain.
Kabar baiknya, dia menjadi baja yang tidak mudah patah.
Kabar buruknya, jiwa nya mati rasa dan tak bisa lagi merasakan apa-apa.
Lagi cari min.10 alasan yang bisa buat aku ketrigger pen nikah. Dan aku baru nemu satu alasan..
1. Punya anak, 'Qurrotu A'yunu ly...'
2.
3.
Maaf yaa Allah, dalam bab ini aku masih tertatih. Perlu belajar lagi. Aku terlalu bebal untuk memahami bait-bait motivasi dari lisan-lisan makhluk di sekelilingku..
Teorinya ada, tapi mengamalkannya? Ah, akupun tak tau harus bagaimana.. dengan cara apa?.
Gapapa, engga harus sekarang kan..?.
00.11 || 31/03/26
Maybe not meant to be a wife, but blessed to be a loving aunt 🤍
Tayamm gindud banyak-banyak.. 👶🏻🤏🏻 Menunggu moment agak besaran dikit biar bisa digigit 😆😆😂
018;
Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzibaan..
Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?
Kenapa ayat ini disebutkan sebanyak 31x secara berulang dalam satu surat?.
Perlu kita sadari, bahwa Ayat ini bukan sekedar pernyataan biasa, melainkan sebuah ketukan akan pentingnya mendidik diri dengan rasa syukur.
Ialah 'ketukan' , agar hati terjaga dari kelalaian mensyukuri nikmat dan karunia-Nya...
Mufassirun menyebutnya sebagai pendidikan rasa syukur. Laiknya sebuah ucapan; "Jika dengan satu nikmat yang ini tidak mampu menyadarkan mu (membuka matamu) dari sebuah kesyukuran, maka aku akan mengulang-ulangi nya, hingga kamu mampu melihat dan belajar darinya".
Dalam epistem tasawuf, makna yang dituju bukan sekedar ungkapan lisan semata, melainkan pengakuan batin seorang hamba. Di dalamnya terdapat sebuah dialog langsung antara Tuhan dengan hati hamba.
Sufisme mengajarkan, bahwa nikmat tidak akan terhenti hanya pada kenikmatan yang sifatnya kesenangan semata, tetapi juga pada kenikmatan yang menyadarkan; sekalipun harus dikemas dalam bentuk ujian kehidupan..
Ayat ini berkerja dalam 3 maqam;
1. Maqam Ridha
Mencakup kenikmatan yang bentuknya manis maupun pahit. Seorang yang 'arif li nafsih' akan memahami bahwa pahitnya takdir adalah bentuk kenikmatan yang menyamar.
Dalam hatinya ia bersabar. Dengan lisannya ia bersyukur. Dengan jiwa maupun raganya ia terus bergerak menuju hal-hal baik. Sebagaimana sabda Nabi; 'Ajaban lil amril mukmin...' HR. Muslim no. 2999. '...jika mendapatkan kesenangan, maka dia akan bersyukur, dan itu baik baginya. Jika mendapat kesusahan maka ia akan bersabar, dan itu pun baik baginya...'
Kalau kata ibuk gini; Alhamdulillahi aladzi bi ni'matihi tatimmusholihaat.. bahkan seringnya kejutan-kejutan itu Allaah kirim kan ditengah indahnya ujian. Engga kudu nunggu hujan sampai reda dulu, baru muncul pelangi...
2. Maqam Syukr
Nikmat yang disadari tajalli (bentuk kasih sayang Rabb). Segala kenikmatan yang diperoleh selalu disandarkan kepada Rabb, sekaligus menambahkan tingkat taqarrub-nya al-abd ila rabbih.
Mengingkari kenikmatan tidak melulu berbicara tentang pengingkaran secara lisan, namun juga tentang perasaan. Perasaan memiliki. Seolah-olah apa yang ia peroleh murni hasil jerih payahnya tanpa ada campur tangan Allah. Padahal sejatinya keberhasilan itu merupakan bentuk Rahmat dan kasih sayang Allah kepadanya.
Kalau pinjam istilah Ibn Sina; segala yang mungkin (mumkin al-wujud) bergantung pada Yang Wajib Ada (wajib al-wujud). Mudahnya, terlalu fokus pada hasilnya, hingga melupakan siapakah pemeran utamanya?.
Seringnya manusia menikmati akibat namun melupakan —lalai dengan sebab utamanya (peran Allaah). Pas lagi susah ajaa nangis-nagis minta pertolongan, gantian sudah ditolongin, sudah bahagia, lupa sama yang nolongin. Mirip kacang yang lupa sama kulit!
3. Maqam Ma'rifah
Sewajarnya seorang hamba. Tidak perhitungan dalam hal nikmat. Nikmat tidak lagi dihitung satu persatu, sebab yang difahami bukanlah 'berapa banyaknya' namun 'kehadiran Sang pemberinya'.
Secara epistem, kesadaran reflektif manusia dalam kondisi ini sedang diuji. Seringkali manusia hidup dalam modus 'menggunakan' dibanding modus 'menyadari'.
Dalam maqam ma'rifah yang diinginkan bukan sekedar kenikmatan yang sifatnya transaksional semata. Seperti, 'setelah melalui kehidupan yang serba gedebag-gedebug ini Allah sedang menyiapkan hadiah apa yaa..?'.
Melainkan ia akan merenung, 'Kira-kira apa yaa yang sedang ingin Allah ajarkan dalam kondisi ini?'. Sebab yang diinginkan adalah amalan yang transendental, yakni memurnikan hakikat peribadatan itu sendiri.
Atau yang semisal, seperti sabar yang bersyarat. Ketika diuji, dalam batinnya terdapat sebuah tuntutan. "Aku akan bersabar yaa Allah, tapi setelah ini Engkau pasti akan ganti dengan yang lebih baik kan?".
Secara eksplisit, dalam modus 'menggunakan' ia sudah benar menyertakan rajaa dalam qalbnya. Namun secara implisit, apakah sudah benar?. Belum tentu. Sebab ia masih memposisikan kesabaran sebagai kontrak tersembunyi. Dalam arti kesabarannya sudah terkontaminasi dengan prasyarat amal, alias tidak ikhlas.
Lantas, seharusnya bagaimana?. 'kesabaran' perlu dihadirkan dengan kesadaran penuh, alias murni tanpa ada embel-embel apapun.
Sedangkan dalam modus 'menyadari' , ia akan meyakini secara penuh konsep "Maal Usri Yusro". Dalam kacamata Allah, Usri sama Yusro itu engga harus sama. Sebab yang dituju adalah hakikat bukan nilai. Boleh jadi kesulitan yang menimpa dalam perkara A, tetapi Allah permudah jalan hamba dalam perkara B, C bahkan D.
Perbedaan dalam memahami konsep transaksional dan transendental itulah yang dapat menghasilkan manusia-manusia yang merasa terasing dari kebermaknaan hidupnya sendiri.
Sehingga yang diinginkan oleh sufisme adalah; perubahan konsep —dari transaksional menuju transendental, yang diinginkan bukan sekedar perubahan tindakan, melainkan pusat orientasi hati.
Secimit Closing;
Sufisme; nikmat terbesar adalah ketika engkau tidak lagi sibuk menghitung nikmat, sebab hatimu telah sibuk bersama Sang Pemberi nikmat'.
Maka, pengulangan ayat 'Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzibaan..' tujuannya agar manusia berpindah dari posisi menikmati menuju menyaksikan...
Dari rasa syukur atas pemberian menuju kefanaan dalam Rahmat, Taufiq, Hidayah serta Inayah Sang Rahman...
Nas'alullaha al-Aafiyaah!
Tajdid, 11.00 || 3 Syawwal 1447 H
"Don't focus on the darkness and sadness. ...If you do, you won't see the light, even if it's staring u in the face.."
"Salama, no one's here!" —langsung bengong sejam.. hah.. gimana-gimana ?!?! 🥺🥹
I finished the book, but the book also finished me..
Rollercoaster ride, 22.32 || 02/02/26
Sebenarnya hidup itu terbilang mudah, barangkali yang sulit itu adalah taatnya.
Yaa Rabb... T-T
006 || 365
Kenapa di dunia ini ada yang namanya rasa 'takut'? Bahkan pada sesuatu yang sekalipun tak berdasar
005 || 365
February; (f)
Fabiayyi alaai Rabbikuma tukadzibaan..
Nikmat tidak selalu tentang kesenangan, kadangkala ia menjelma sebuah kesempitan, agar engkau pun kembali sadar dari sebuah kelalaian dalam penghambaan..
Betapa sering engkau mengingkari bukan karena nikmat yang tiada, melainkan engkau terlalu sibuk menghitung yang belum ada..
Bahkan seringkali engkau pun terlupa, —lalai untuk sekedar mensyukuri keberadaan; Ia yang tengah menghidupi dan memelihara diri mu, bahkan tanpa diminta sekalipun oleh mu..
Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?
Padahal, sekalipun Ia tidak pernah memberhentikan pemberian, hanya agar engkau mau belajar untuk mengenal dan menghamba kepada-Nya..
003 // 365
017;
Ridho suamik (POV : Ibuuk)
"Kamu ridho engga kalau aku...."
Semenjak aku dan abang kuliah ditahun 2018 secara bersamaan, ibuk ituu selalu mengusahakan banyak cara untuk memenuhi kebutuhan kuliah kami berdua.
Dalam rangka membantu tugas Babeh, Ibuk mulai meniti karir. Mulai dari staf marketing biasa, lalu tidak lama promosi, lagi dan lagi, hingga akhirnya naik ke tingkat Agen Wilayah - Madya - kemudian Distributor.
Betapa baiknya hati Ibuk, yang tidak menginginkan kesuksesan bagi diri sendiri, hampir seluruh kerabat dekat pun jauh, bahkan kolega sekalipun ibuk tolong semua. Ibuk bantu kenalkan, antarkan, dsb. Seluruhnya tanpa pamrih.
'Ibuuk kalau semua orang jualan, terus nanti siapa yang beli?'. Protesku kala itu.
Ibuk tersenyum, 'Ibuk engga punya banyak harta mbak. Jadi ibuk akan melakukan apa yang ibuk bisa, biar orang-orang disekeliling ibuk juga sejahtera. Kalau ibuk hanya mampu membantu mereka mencarikan ladang, yasudaah ibuk lakukan. Engga perlu khawatir mbak, rezeki itu sudah ada yang mengatur... Tugas kita sebagai manusia itu yaa sebatas doa dan ikhtiar saja..'
Mungkin karena amalan itulah ibuk lebih cepat closing dibanding kolega yang lain. Alhamdulillah dengan keikhlasan dan kesabaran ibuk, kami berdua tuntas kuliah ditahun 2021 dari hasil tersebut. Bahkan bonusnya, atas izin Allaah ibuk bisa umroh berdua dengan Babeh di tahun 2022. Sekaligus memberangkatkan Abang untuk kuliah di luar, dsb.
Karir ibuk terus berlanjut. Berulangkali dapat promosi, sampai akhirnya menjadi tim leader (TL). Setiap keputusan pasti memiliki konsekuensi, tinggal bagaimana kita yang menjalaninya; sanggup kah atau tidak. Konsekuensinya, sebagai TL jam terbang ibuk jadi tidak menentu. Berkali-kali harus pergi keluar kota, tertuntut untuk hadir dengan berbagai pertemuan yang berkali-kali lipat jauh lebih padat dari sebelumnya..
Pada satu waktu, Allaah memberikan rem, dengan kondisi Babeh yang mulai sakit-sakitan. Seolah Allah tengah berkata; 'cukup wahai hambaku...' . Kamu itu masih memiliki tanggungjawab (amanah) terhadap orang-orang yang berada dibelakang mu.
Belum sempat ibu menjalankan tugasnya sebagai TL ibuk meminta izin pada Babeh, 'bolehkah?'. Tapi jawabannya justru, 'Tidak! Cukup!.' Ibu mengundurkan diri dari posisi itu. Mundur, bukan berarti berhenti, melainkan kembali pada posisi yang sebelumnya...
Sebagai istri tentu Ibuk mengikuti apa kata Babeh. Babeh tidak ingin ibuk sampai lupa dengan tanggung jawabnya yang lain. Alhasil ibuk menyibukkan diri dengan berkebun, menyalurkan seluruh energinya agar terbakar dengan baik. Sembari belajar investasi melalui emas.
Tapi waktu berkata lain, seiring berjalannya waktu, kondisi Babeh semakin memburuk. Ibuk terpaksa berhenti total dengan perusahaan yang sebelumnya. Sedang kami ketika itu masih berada di dalam tanggungan orangtua. Ada adik 2 orang yang masih sekolah, dan beberapanya masih kuliah, begitupula dengan aku yang meniti kuliah jenjang lanjutan.
Lagi-lagi dari seluruh ketakutan dan kekhawatiran manusia, justru Allaah datang sekonyong-konyong untuk memberikan jawaban. IA mendatangkan berbagai solusi dari arah yang tidak di sangka-sangka. 'fayarzuqhu min haitsu laa yahtasib'.
Berawal dari iseng-iseng investasi emas pasca aku kuliah, akhirnya ibuk memutuskan untuk menseriusinya. Ibuk jualan emas hingga saat ini..
'Bukankah Allaah sudah berjanji dengan demikian? Lantas apalagi yang perlu kita takutkan?...' Begitu kata ibuk.
Tiba-tiba Antam ramai. Harga pun terus menanjak tajam tanpa sedikitpun menurunkan radar penjualanya. Closing - closing - closing. Allah gantikan dengan sesuatu yang lebih baik dan berkali lipat bilangannya. Disinilah kalkulator Allah sedang bekerja..
Berulangkali ibuk closing penjualan, hingga mampu menutupi seluruh kebutuhan kami. Alhamdulillah al-ladzii bi ni'matihi tatimmusholihaat, ibuk bisa membeli sebidang tanah dan rumah, setelah sekian kali kami berpindah-pindah tempat.
Hasbunallah wa nikmal wakil.. Nikmal mawlaa wa nikman nashirr...
Begitu indah skenario yang telah disiapkan Allah bagi hamba-Nya. Lagi-lagi kami disadarkan bahwa; sekalipun, Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya dalam kesulitan, selama hambanya mau berupaya.
Kata Allaah begini; 'Wahai hambaku sesungguhnya Aku itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadimu'. Kemudian, 'Wahai hambaku janganlah kalian berputus asa dari Rahmat Ku!.".
*Yaa Allah masukkan lah kami kedalam golongan orang-orang yang tidak kufur terhadap nikmat-Mu..
*Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina Qurrata A'yun, wa aj'alna lil Muttaqiena imamaa..
Tafkir, 06.04 || 13 Sya'ban 1447 H