Mungkin, aku adalah seorang pendendam.
Setiap kali hatiku patah, aku melarikan diri. Di sini, di sela-sela kalimat pada puisi.
Puisi yang tidak terikat aturan baku, hanya ada aku dan pedih yang kunikmati sendiri.
---
Biar kutulis dulu hari dan waktu; Senin, 8 Juni 2020. Tepat seminggu sejak terakhir musim semimu menyapa begitu hangat.
Saat ini sedang berlangsung musim dingin yang lebih lama dari sebelumnya. Aku sudah menggigil, kedinginan. Telah beku sela-sela jemari juga hatiku.
Aku mencoba menghangatkan diri dengan nyala api yang susah payah kupantik dari sisa genggaman hangatmu malam itu. Nyalanya terang, namun tak cukup mampu melelehkan musim dinginmu kali ini.
---
Aku banyak menangis saat malam, kau tahu? Entah apa yang sedang kutangisi; musimmu atau ketidakmampuanku menghadapi ini.
Aku mulai membiasakan diri mematikan rindu yang biasanya nyalang. Biar aku dapat terbangun dengan mata yang segar; agar kantung mataku tak lagi menanggung beban.
---
Ego siapa yang sedang kita beri makan? Kata pujangga.
Bila belum akan reda musim ini, aku tidak tahu lagi bagaimana harus menghangatkan diri.








