Menemukan kembali hobi lama yang sempat terlupakan
Waktu gue masih kecil, hobi gue adalah membaca. Apapun gue baca mulai dari komik, koran, majalah, apapun yang memiliki judul yang catchy, pasti memicu rasa penasaran gue untuk membaca. Bahkan ketika teman-teman seumuran gue mengeluh ketika disuruh baca RPAL dan RPUL (jebakan umur), gue sangat senang membaca kedua buku itu. Indonesia tahun 2000an buat gue pribadi adalah kenangan yang sangat menyenangkan. Waktu itu bisa dibilang gue punya bekal pengetahuan umum yang lebih baik dari teman-teman sebaya gue berkat kesenangan gue dalam membaca apapun. Main ABC 5 dasar tentang nama-nama pemain sepak bola? Easy. Gue tiap pagi sebelum berangkat sekolah selalu baca artikel sepak bola di Jawa Pos. Tentang negara-negara atau ibukota di dunia? Gue udah kenyang baca Atlas dan RPUL. Dengan hobi membaca gue, gue selalu merasa bahwa gue jadi lebih percaya diri berkat pengetahuan-pengetahuan yang gue dapatkan.
Hobi membaca ini berlanjut sampai ke SMP dan SMA. Hampir setiap bulan, gue selalu beli edisi khusus majalah Angkasa. Berkat majalah tersebut, gue jadi tau bagaimana proses perang parit di Perang Dunia II, tau bagaimana perang dingin mengakibatkan banyak perang saudara dan memisahkan keluarga, bagaimana setelah kemenangan di Perang Dunia II Amerika Serikat begitu terkesima dengan teknologi yang dimiliki oleh Nazi Jerman sehingga mereka menjalankan operasi rahasia "Paperclip" yaitu mencomot ilmuwan-ilmuwan Nazi Jerman agar bisa menjadi warga negara Amerika Serikat. Kalian tau Neil Armstrong, manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan? Armstrong engga akan menginjakkan kaki di bulan kalau Amerika engga nyomot ahli roket Nazi, Werner von Braun. von Braun dan banyak ilmuwan Nazi lainnya akhirnya bebas dari pengadilan pasca Perang Dunia II berkat Operasi Paperclip. Banyak dari ilmuwan-ilmuwan itu akhirnya diberikan kewarganegaraan Amerika Serikat. Hal-hal yang gue sebutkan diatas mungkin terlihat trivia dan tidak penting, tapi hal-hal itu adalah hal bersejarah yang engga akan pernah diajarkan di sekolah. Trivia-trivia penting dalam catatan kaki manusia yang tidak akan pernah kita ketahui kalau hanya mengandalkan buku-buku yang digunakan dalam pelajaran sekolah. Pengetahuan adalah kekuatan, begitulah pepatah yang pernah gue baca dan menurut gue pepatah itu adalah benar.
Sayangnya, ketika memasuki masa kuliah dan kerja entah kenapa hobi gue membaca jadi sedikit memudar. Ada 2 faktor yang menurut gue jadi memudarkan hobi membaca gue. Yang pertama adalah kekecewaan karena buku-buku koleksi gue dimakan rayap ketika semester pertama kuliah. Gue jadi engga semangat lagi buat beli-beli buku. Yang kedua adalah mengenal game online, terutama Dota dan Counter Strike. Agak telat sih sebenarnya untuk terjun di dunia itu, karena banyak teman sebaya gue sudah mulai main game online sejak SMP. Sejak mengenal dunia game, gue jadi mengerti kenapa dulu teman-teman gue banyak yang lebih senang bermain game daripada membaca buku. Adrenalin yang didapatkan ketika bermain bersama teman-teman, apalagi setelah kemenangan dalam game yang sangat susah didapatkan, ternyata bikin ketagihan juga. Mata gue jadi lebih terbiasa untuk melihat layar monitor laptop berjam-jam untuk bermain game dibandingkan dengan membaca buku. Pernah suatu ketika teman kos ada yang beli novel klasik, baru baca sebentar mata sudah lelah. Waktu itu sebenarnya sedikit sedih karena this used to be the thing i love doing. Tapi kesedihannya ternyata sebentar saja karena gue menemukan hobi baru dalam bermain game. Walaupun gue masih membaca dalam kapasitas lain (gue subscribe New York Times), tapi tetap saja engga sesering ketika gue masih sekolah dulu.
Setelah itu gue mengenal istri gue yang sekarang. Ternyata istri gue juga suka membaca. Bedanya dengan gue, kalo gue suka baca tentang berita/kejadian yang terjadi di seluruh dunia baik itu masa kini atau masa lampau, istri gue lebih suka baca buku self-improvement. Istri gue pun membaca bukunya di Google Books, jadi baca bukunya ya di telpon genggam atau tablet. Sebuah format yang sangat asing buat gue. Membaca buku di gawai? Apa engga cape matanya? Engga kok, malah lebih enak.. Kata istri gue. Review dari istri gue tentunya membuat gue penasaran. Gue kan punya tablet. Kenapa engga gue pake buat baca buku aja ya? Biar tabletnya engga dipake buat nonton Netflix atau Vidio doang. Akhirnya gue iseng mencoba cari-cari cara biar lebih enak baca di gawai. Pencarian pertama gue di mbah gugel menyarankan gue untuk membeli Amazon Kindle. Gue cari lah apapun tentang Amazon Kindle. Tapi engga cocok sama harganya. Kurang lebih fungsinya sama seperti tablet, hanya saja dioptimalkan untuk membaca dan bukan untuk hiburan, tapi harganya setara tab baru. Akhirnya memutuskan untuk enggak beli dan memanfaatkan tablet yang udah ada aja. Hasil pencarian mbah gugel lainnya menyarankan gue untuk menggunakan aplikasi ReadEra untuk membaca buku, dan Calibre untuk merubah format buku dari PDF menjadi EPUB/MOBI. Format EPUB/MOBI ini adalah format yang lazim digunakan oleh platform e-reader seperti Amazon Kindle dan Rakuten Kobo untuk merubah format dan kustomisasi buku sesuai dengan kemauan pengguna.
Sejak menggunakan gawai untuk membaca, gue jadi menikmati hobi lama gue lagi. Ternyata membaca di gawai itu sangat enak. Engga perlu pegang buku-buku yang berat, cukup dengan gawai mungil yang bisa dibawa kemana-mana. Bisa dibaca kapan saja. Bisa untuk meng-highlight kalimat yang ada dalam buku. Ada fitur bookmark juga yang bisa digunakan untuk menandai bagian-bagian yang penting/menarik dalam buku. Jenis dan ukuran font, bahkan sampai warna background pun bisa diubah sesuai dengan keinginan gue. Gawai gue kini berisi banyak buku yang saat ini ingin gue baca. Mulai dari yang beli sampai yang gratisan, semuanya gue impor ke gawai gue. Begini toh rasanya jatuh cinta ke hobi lama lagi? Hehehe.












