Terlalu lelah dengan semua yang telah terjadi. Ingin rasanya menyerah sampai di sini. Akan tetapi, apakah ini jalan yang terbaik.
Entahlah

blake kathryn
occasionally subtle

Product Placement
I'd rather be in outer space 🛸
Three Goblin Art

Discoholic 🪩

if i look back, i am lost
Acquired Stardust

Andulka

titsay
Cosimo Galluzzi
art blog(derogatory)

No title available
cherry valley forever

pixel skylines
Jules of Nature
Alisa U Zemlji Chuda
No title available

Origami Around
wallacepolsom

seen from Argentina

seen from Türkiye

seen from Spain

seen from Germany
seen from Japan
seen from Croatia
seen from United Kingdom
seen from Singapore

seen from France

seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Germany

seen from India

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United Kingdom
@cachaca08
Terlalu lelah dengan semua yang telah terjadi. Ingin rasanya menyerah sampai di sini. Akan tetapi, apakah ini jalan yang terbaik.
Entahlah
Me 2
Terkadang, alam memang tempat yang nyaman untuk melepaskan semua emosi. Meskipun di sana terdapat banyak kenangan. Akan tetapi, aku suka berada di sini. Di tengah-tengah pohon yang menjulang tinggi dan hawa sejuk memanjakan paru-paru. Ah, andai saja Surabaya tenang seperti ini.
Setapak demi selangkah kakiku menuruni arena berbatuan. Teringat jelas kenangan saat itu. Di mana kamu menyodorkan tangan untuk aku genggam. Dengan senyuman yang menawan, membuatku terpikat.
“Hati-hati, ya!” ujarmu pernuh dengan perhatian. Dan entah sejak kapan aku sudah menjatuhkan hati padamu. Sosok yang memberiku kenangan manis sekaligus pahit bersamaan.
Aku mungkin gadis bodoh yang terpikat oleh paras wajahmu. Tanpa mengetahui rasa ini menjadi boomerang yang sangat menyakitan. Menghancurkan hidup ini tanpa permisi. Akan tetapi, sekarang aku bisa menikmati rasa sesak ini. Berdamai dengan keadaan tidak buruk juga.
“Alam saja aku jaga, apalagi kamu.”
Gombolan yang kala itu mampu membuatku tersenyum malu-malu. Belum lagi genggaman tanganya yang terasa hangat. Sungguh itu semua memabukkan yang membuat candu. Semua tentangmu akan menjadi cerita tersendiri.
Dan baru aku menyadari, kalau itu semua tidak baik. Tak perlu kata-kata manis untuk menjadikan hati ini luluh. Bila suatu saat itu semua menjadi luka yang membekas dan tak pernah sembuh. Percuma saja perhatian, bila pada akhirnya itu semua hanya siasat untuk meluluhkan perasaan. Sungguh sial karena bisa terjebak dengan rasa yang memuakkan.
Aku membuang napas dalam. Membuang semua kenangan yang baru saja terlintas dalam benak. Sedikit menyesakkan. Namun, itu semua sudah terjadi. Tak perlu aku menyesalinya. Hanya saja, untuk ke depannya aku harus lebih berhati-hati. Jangan menelan mentah-mentah semua yang diberikan oleh lelaki. Sebab tak selamanya itu madu. Bisa jadi berubah menjadi racun yang akan membunuh secara perlahan.
Ah, pengalaman yang buruk bukan menjadi hal yang menakutkan bila bisa menerima dengan tenang dan juga kepala dingin. Meskipun itu membutuhkan waktu yang lama. Namun, sekarang aku bisa tersenyum dan bangkit kembali. Menjadikan hal yang tak menyenangkan sebagai pelajaran untuk ke depannya agar berhati-hati. Dan sekarang, aku bisa menerima keadaan saat ini.
Menjadi sendiri setalah berlayar, itu tidak lah mudah. Banyak sekali pandangan remeh yang tertuju padaku. Belum lagi ucapan asal yang membuat hati ini sakit. Akan tetapi, aku yakin bisa melalui ini semua. Dan tak perlu melihat ke belakang. Atau merasa buruk setelah memilih berpisah karena termakan omongan orang lain. Mereka semua tidak tahu apa yang telah aku lalui. Hanya bisa berkomentar tanpa melihat dari sisi lain. Dan itu sedikit memuakkaan.
Tidak ada orang yang ingin gagal. Termasuk diriku. Akan tetapi, aku tahu mempertahankan pun tak mudah. Apalagi setelah sadar kalau bukan menjadi prioritas. Lalu, buat aku bertahan bila terasa sangat menyesakkan. Melepaskan adalah pilihan yang sangat tepat, bukan.
“Mbak Dika, lak mesti melamun!”
Aku mengerjap pelan. Menoleh ke belakang, “Kenapa?”
“Nggak papa,” sahut Nisa yang berjalan ke depan, “takut kesambet saja.”
Aku hanya menggeleng dan mempercepat langkah. Nisa sudah berada di depanku. Semua yang berada di masa lalu, akan menjadi cerita. Kini, saatnya aku menatap ke depan. Menyongsong hari baru dengan kisah yang lain. Dan tentu saja sangat berbeda jauh dari yang lama. Karena semua sudah menjadi kisah klasik dalam perjalanan hidup.
Disaat perasaan sedang berkecamuk, dan emosi memuncak. Yang bisa dilakukan hanya tersenyum dan pura baik-baik saja. Padahal ingin rasanya mengumpat dan melampiaskan rasa sesak ini. Akan tetapi, mulut ini terkunci. Hanya air mata yang bisa menjelaskan semuanya.
Ah, ingin rasanya keluar dari situasi ini. Sungguh menyebalkan bila harus memakai topeng. Sampai kapan harus berpura-pura seperti ini?
It's me Zura - Dika Handika
Percaya atau tidak, selembar foto bisa menceritakan sebuah kejadian. Di mana menyimpan kenangan lama...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link dibawah:
https://read.kbm.id/book/detail/c5ff39e0-6a79-4266-812f-663dc5c09ba0
Saya baru saja memublikasikan " Lea 1 " dari cerita saya " Magic Shop ". https://www.wattpad.com/1210288093?utm_source=android&utm_medium=com.tumblr&utm_content=share_published&wp_page=create_on_publish&wp_uname=Handikaa&wp_originator=5%2BO%2BieiYB%2BIA0zF8EXCeTTTKjXD8CWS6hdgB3snMAg4AOWpEbPFIQrtManOEQ44YSboczIJxgUljHnxOz2BVWwH0AnVjKQZj8QVseOgmF6NKlnW%2FKrFbatbtbQfGGeOl
Read Lea 1 from the story Magic Shop by Handikaa (DikaHandika) with 0 reads.Lea membuang lembar ulangan asal. Membiarka...
Hot Duda - Dika Handika
Ganda merasa pusing dengan keingian anak perempuannya yang menginginkan seorang ibu baru. Bahkan Ney...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link dibawah:
KBMAPP | Dika Handika | Ganda merasa pusing dengan keingian anak perempuannya yang menginginkan seorang ibu baru. Bahkan Neya sudah menemuka
Bahagia, masih pantaskah aku mendapatkannya? Bila rasa sesak lebih mendomisili. Berulang kali berusaha untuk tak menangis. Akan tetapi, semakin deras bulir ini membasahi pipi.
Aku ingin kuat, tidak ingin terlihat lemah. Akan tetapi, aku rapuh. Tak sanggup untuk menatap dunia ini.
Terlalu sering berpura-pura, membuatku semakin mati rasa. Tak bisa membedakan antara tawa dan tangis. Semua terasa sama.
Hingga banyak orang mengira hidupku sangat bahagia. Karena aku selalu tersenyum dengan cerah tanpa beban apapun.
Akan tetapi, di balik itu ... tahukah ada tangisan yang tertahan? Tak bisa dilepaskan begitu saja.
Karena ada orang yang berkata, bahwa menangis adalah kegiatan mendramatisir masalah. Membuat orang lain merasa iba dan kasihan. Cara kotor untuk menarik perhatian. Sebab air mata tak ada gunanya.
Sejak saat itu, aku tak bisa mengeluarkan bulir kesakitan. Semua tersimpan rapat dalam hati dan jiwa.
Padahal, seharusnya aku tahu. Air mata adalah cara yang ampuh untuk bertahan. Karena setiap tetes yang mengalir, akan memperkuat pertahanan diri agar tak terluka kembali. Kekuatan untuk bangkit dan percaya diri menyongsong hari berikutnya.
Me 1
Aku merentangkan kedua tangan, menghirup udara dalam-dalam. Hawa sekitar terasa sejuk dan menyenangkan. Membuat tubuh ini terasa rileks. Tanpa sadar ujung bibir menyungingkan senyuman kecil. Sudah lama menantikan kedamaian seperti ini. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan juga polusi udara yang berasal dari banyaknya kendaraan. Serta kemacetan lalu lintas yang membuat jiwa ini lelah.
Udara pegunungan memang beda. Membuat diri ini nyaman berada di sini. Meskipun membutuhkan perjuangan yang luar biasa hebat. Akan tetapi, terbayar sudah dengan keindahan panorama yang tersaji di depan mata.
Hidup ini sangat singkat. Bahkan untuk mencapai satu hari saja terasa berlalu begitu cepat. Setiap detik telah terlewati dengan mudahnya. Akan tetapi, selalu melelahkan. Dan membuat pikiran ini serasa penuh.
“Mbak Dik!”
Sebuah panggilan menarik kesadaranku. Dengan berat hati tubuh ini memutar ke belakang. Melihat seseora perempuan yang sedang menuju ke sini.
“Nggak makan?” tawarnya yang sudah berada di depanku, “dicariin dari tadi juga!”
Aku hanya tersenyum dan menggandeng tangannya untuk kembali turun. Mengabaikan ocehan yang masuk telinga kanan dan kiri. Masa bodoh bila dirinya marah. Yang pasti cacing dalam perutku ingin segera di isi.
“Masak apa?”
Nisa melirik sejenak, “Sarden sama gorengan nugget.”
Aku mengangguk dan melepaskan tangannya. Karena jalan di depan sana tak memungkinkan untuk saling menggandeng satu sama lain. Annisa, sepupuku yang sudah menjadi teman untukku. Kita saling menggila bersama. Dan tentu saja itu membuat ibunya sekaligus tanteku selalu menghela napas dalam kalau kami bersama.
Hati ini memang sedang hancur. Akan tetapi hidup harus terus berjalan, bukan. Tak ada yang namanya menyerah. Hanya saja boleh untuk istirahat sebentar saja. Lalu bangkit dan melanjutkan lagi.
Dan kini, inilah aku yang baru. Semua kenangan buruk akan aku tinggal di sini. Dalam alam bebas yang akan membuat diriku menjadi pribadi baru. Perkemahan kali ini memang untuk menyembuhkan luka batinku. Selepas ini, semua akan baik-baik saja.
Ini langkah pertamaku untuk melanjutkan hidup dan membuka lembaran baru. Semua akan kembali dari awal. Dan aku tak akan pernah menyesali semua yang telah terjadi. Karena itu bagian hidupku.
Terasa lemah dan tak berdaya. Menyisakan seulas senyum kepalsuan. Berharap semua baik-baik saja. Nyatanya, luka ini cukup dalam. Sampai sungging bibir tak mampu menutupi.
Kata orang, hidup bersama orang yang mencintaimu sungguh menyenangkan. Kau beruntung bisa sehidup semati dengan orang tersebut. Sebab, dirimu akan menjadi alasan utamanya untuk bahagia.
Tapi pada kenyataannya ... hanya rasa sesak dan butiran air mata yang tercipta. Semua terlihat semu dan sebatas ilusi. Berharap pun tak ada gunanya. Semua impian sudah hancur sebelum terwujud. Dan yang tersisa hanya sepihan luka.
Yakin masih tidak mau baca? Nyesel loh nanti melewatkan cerita Benicia Askana dengan Arbani Salam. Dijamin berbeda banget dengan versi wattpad-nya. Yuk, yang mau kepoin langsung saja ke Dreame. Cari akun ya : Handika, yang judulnya Miserable (Lika-Liku Bumil). Jangan lupa tap love dan komen sebanyak-banyaknya, ya! Ditunggu 😉
Tak ada bedanya dengan pengemis dan pembantu.
Seseorang memilih diam bukan karena ia tak ingin menjelaskan sesuatu. Akan tetapi, ada kalanya cara tersebut dapat menekan terjadinya perdebatan. Atau pura-pura tersenyum agar sakit hatinya tak diketahui banyak orang. Sebab ada sebagian orang menyukai. Terkadang sebagian lagi menghujat. Jadi, biarkan orang berkata apa. Tutup telinga dan terus berjalan.
Tubuh ini bergetar hebat di atas kasur. Sedangkan jemari tangan berhias warna hitam memegang erat selimut yang membelit tubuh. Kedua bola retina tak henti memandang sudut ruangan. Di mana terdengar suara gedoran beserta teriakan memekakkan gendang telinga.
Ia takut untuk sekedar beranjak dari tempat berbaring. Apalagi melangkah membukakan pintu. Kakinya terasa kaku untuk digerakkan. Bahkan tubuhnya saja membeku seketika menangkap bahana itu lagi.
.
"Keluar!"
.
Ia bergeming. Berusaha menulikan alat pendengarnya akan panggilan seseorang dibalik pintu warna hitam tersebut.
.
Lambat laun, suara itu menghilang. Yang tertinggal hanya kesunyian. Bukannya tenang, gadis yang saat itu memakai baju warna hitam terlihat semakin ketakutan. Ada hawa aneh yang masuk melalui lubang kunci dan bawah pintu. Menjadikan kamar berukuran kecil tersebut terasa lebih dingin dan mencengkeram. Netranya dapat merasakan ada seseorang yang masuk. Dan benar saja. Ia dikejutkan oleh seorang wanita paruh baya yang sudah berdiri di hadapannya.
.
"Sudah berapa kali aku bilang kalau kamu itu sudah menjadi hantu!" omelan tersebut yang selalu ia dengar saat pagi hari, "nggak usah sok ketakutan seperti itu. Sudah dua bulan juga!"
.
Ia membuang napas dalam, "Tapi tetap saja ... rasanya aneh!"
.
Wanita itu menggeleng pelan, "Lama-lama juga biasa. Toh, kamu saja yang nggak mau berbaur dengan yang lainnya."
.
Bagaimana ia bisa bergabung dengan semua orang yang berada dalam bangunan ini. Kalau ia sendiri tak tahu kenapa berada di kastil yang konon katanya menjadi tempat ruh terlarang. Arwah para yang tak bisa melanjutkan perjalanannya ke alam abadi.
#challengekilirkatavamedia #harike4 #temapintu #vamediapublishing
https://www.instagram.com/p/B_sMqqTgAwO/?igshid=1nym9hji23njk
Memulai lagi dari awal tak masalah. Selagi masih ada kesempatan. Dari pada terpuruk akan keputusasaan. Takut mencoba karena sebuah kegagalan. Tanpa disadari, hidup ini selalu terbelenggu akan rasa itu, bukan?
Masalah ... ▶