Dan pada akhirnya perasaan cinta mengguncang solar plexus-ku
My own mind
Keni

Jar Jar Binks Fan Club
No title available
EXPECTATIONS

if i look back, i am lost
I'd rather be in outer space 🛸
🩵 avery cochrane 🩵

shark vs the universe
official daine visual archive
Cosmic Funnies
YOU ARE THE REASON
ojovivo

gracie abrams
Sweet Seals For You, Always
Cosimo Galluzzi
macklin celebrini has autism
untitled
NASA

Product Placement

Jimmy Eat World

seen from Colombia
seen from United States
seen from Vietnam
seen from Bangladesh

seen from United States
seen from Venezuela
seen from Canada
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from India

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Finland

seen from Germany

seen from United States
seen from Sweden

seen from Germany
seen from Brazil

seen from China
@callmebiyaaa-blog
Dan pada akhirnya perasaan cinta mengguncang solar plexus-ku
My own mind
Kuning bercampur jingga membentang di luasnya langit biru yang perlahan menggelap, disetiap detiknya menelan keindahan warna senja. Senja membawa sejuta rindu yang ku kirimkan. Senja yang indah hanya sekejap, kutitipkan rinduku dan kumohon sampaikanlah kepadanya. Dia yang berada di pulau seberang, yang berjuang akan mimpinya.
18.12 WITA - jangan lupa sholat maghrib.
Ini hidupku. Apapun yang terjadi entah baik atau buruk, ini tetap hidupku. Kalian yang hanya bisa menilai dari luar tanpa berpikir cerdas mengeluarkan nyinyiran dan segala kata-kata menusuk seharusnya sadar dengan keadaan diri masing-masing. Jangan sembarang menilai dan berucap akan hidupku, sebab aku tak pernah peduli dengan hidup kalian. Ada banyak waktu berharga yang kalian abaikan hanya untuk mencari kekuranganku tanpa pernah menggunakan itu untuk membuat pribadi lebih sukses kedepannya. Berubahlah, bergunalah, berfaedahlah.
My own mind
Favoritoooossss 💚
Aku tak lelah. Kamu tak luluh
My own story
Terjebak di ruang rindu yang kuberi nama kamu. Setiap detik hanya rindu. Rasanya waktu seolah tak berputar, menghukumku dengan milyaran kerinduan. Rindu yang berat dan entah kapan akan berhenti.
Rangkaian kata yang muncul tiba-tiba di pukul 11.25 WITA.
Kamu dan rinduku
09.16 WITA, aku mulai menuliskan segala tentang kamu, kamu yang telah menjungkir balikkan perasaanku.
Entahlah, aku tidak tahu apa harus bersyukur atau mengeluh akan waktu. Waktu mempertemukan kita, waktu juga yang memisahkan kita hingga yang tersisa hanyalah rindu di sepanjang detiknya. Rasa rinduku tak bisa diibaratkan bagai sebuah pohon yang bisa menunggu musim gugur untuk menggugurkan dedaunan. Rasa rinduku tak akan ada habisnya, tak ada waktu tertentu untuk menghilangkannya. Bahkan, dengan melihatmu dari kejauhan pun tak bisa membuat rindu ini hilang. Rindu ini terjebak. Terjebak dalam perasaan tak terbalas yang menyakitkan. Wajar saja bila tak bisa hilang, walaupun mata ini bisa melihatmu. Kamu dan rinduku adalah 2 hal yang indah. Aku memang tak memiliki keduanya, tapi setidaknya aku punya rasa rindu, rinduku untuk kamu. Semoga kamu bahagia, jangan hiraukan aku dan rinduku.
09.29 WITA, di dalam gelapnya ruangan MPK bertemankan suara siswa-siswi SMA N 2 KTG ⛅
Terasa berat untuk melepaskan, namun aku hanyalah manusia yang punya keinginan tersendiri dalam mencari yang terbaik dari yang baik. Mungkin ini kedengaran egois, tapi begitulah aku. Ketidak cocokan membawaku seperti ini
Berbagai kisah perpisahan yang dialami teman-teman
Kita berkenalan di waktu yang tak terduga, menjalani kebersamaan dengan segala perbedaan. Tak tanggung dengan segala perkataan, kita tetap bersama. Tak pernah mencari kelemahan masing-masing namun menguatkan disaat yang lain merasa lemah
My own mind
Selamat pagi Kotaku, Kota untuk semua, Kota Kotamobagu
Pagi ini memang tak secerah kemarin. Tak ada mentari yang menyinari, namun kicauan burung yang bahagia tetap terdengar. Aku bersyukur karena masih berada di bumi hari ini, tak henti-hentinya Allah memberikan nikmat mulai dari aku bangun untuk sahur, sampai terbangun kembali di pagi ini untuk menjalankan aktivitasku. Udara segar Kotamobagu ku hirup dalam-dalam, aku menengok ke kanan dan kiri untuk melihat keadaan di sekitar. Anak-anak tetangga bermain-main di hijaunya rumput membuatku ingin bergabung dan ikut bermain, namun aku sadar bahwa itu tak mungkin. Mereka akan menganggapku aneh, barangkali seperti itu. Pagi di Kotamobagu terasa menyenangkan, gunung ambang yang terlihat sangat dekat dari belakang rumah, serta hamparan sawah yang ada di belakang dan samping rumah membuat keindahan terpancar dan tak membuat mata bosan. Di Kotamobagu memang tak ada pantai, namun kalian bisa melihat pegunungan, sawah, dan hutan-hutan terawat. Hijau yang menghiasi dan mendominasi. Di Kotamobagu juga tidak terdapat gedung-gedung tinggi seperti yang ada di Manado ataupun Jakarta, tapi jangan berpikir bahwa Kotaku itu adalah kota terpencil di Sulawesi Utara, maaf saja itu tidak benar. Kotamobagu memang tidak terlalu besar, luasnya 184,33 km, namun Kotamobagu punya keindahan dan cerita tersendiri yang membuatku bangga. Mungkin bukan cuma aku, tapi mereka intau Kotamobagu doman (orang Kotamobagu juga). Terlahir di Indonesia membuatku bangga akan keindahan alam serta keragaman budayanya. Terutama, keindahan serta keragaman di Kotamobagu. Aku masih ingat saat aku duduk di bangku sekolah dasar, aku sering menari tarian adat (Tari Kabela) di pesta pernikahan. Tarian yang membuatku semakin cinta akan Indonesia, teristimewa kotaku, Kotamobagu. Aku mencintai adat serta bahasa di Kotamobagu, bahasa yang sering digunakan para ibuk-ibuk untuk berkomunikasi adalah bahasa Mongondow. Jujur saja, aku tidak terlalu fasih dalam berbahasa Mongondow (Ini bukan karena aku malu untuk menggunakannya sehari-hari) karena di dalam rumahku ada 2 bahasa yang digunakan, yaitu bahasa Mongondow dan Manado. Papahku yang berasal dari Manado membuatnya tetap menggunakan bahasa serta logat yang kental khas orang Manado. Itulah yang membuatku tidak terlalu fasih dalam berbahasa Mongondow. Walaupun aku tidak lancar mengucapkan, tapi aku tahu beberapa, dan aku bisa menerjemahkannya. Hehe. Aku suka mendengar ucapan ibu saat menyuruhku melakukan sesuatu, seperti "Dede e baya' pa ponoinut sin au e totok mo anto in longgai" - (Dede, bersihkan rumah karena sangat kotor) atau "Baya' yuyuan in pindan tatua" - (Cuci piring itu) *maaf jika ada kesalahan saat menulis bahasa Mongondow. Sekian dulu untuk postingan kali ini, salam dari kota kecil di bagian timur Indonesia, Kotamobagu 💙 -Kotamobagu, 20-Juni-2017 Nabila Djafar.
My Childhood 🐹
Aku lahir dan dibesarkan di Kotamobagu. Mungkin Kotamobagu terdengar asing di telinga kalian. Baiklah, aku akan menjelaskan sedikit tentang Kotamobagu. Kotamobagu adalah salah satu kota di provinsi Sulawesi Utara dan merupakan hasil pemekaran dari kabupaten Bolaang Mongondow yang bertujuan untuk memajukan daerah, membangun kesejahteraan rakyat, memudahkan pelayanan, dan memobilisasi pembangunan bagi terciptanya kesejahteraan serta kemakmuran rakyat totabuan (Sumber : Wikipedia).
Masa kecilku dipenuhi dengan kebandelan dan ide gila khas anak kecil yang membuat orang marah dan juga tertawa. Ibu pernah bercerita tentang aku yang sering mengganggu tidur siang kakek, caraku untuk mengganggunya terbilang anti-mainstream, tentu saja karena aku menempelkan es batu di betisnya. Hehehe. Aku memang tidak mengingat semua masa kecilku, tapi dengan mendengar cerita orang, aku pun tahu bahwa aku termasuk anak yang bandel. Walaupun aku bandel, aku yang kecil termasuk anak yang mudah memahami pelajaran, terbukti dengan di usiaku yang masih 3 tahun, aku sudah masuk TK.
Masa kanak-kanak yang indah membuatku ingin kembali, aku masih ingat dengan jelas kalau dulu aku tidak mau pergi ke TK jika tidak memakai pakaian dan aksesoris yang sama dengan Kintan (saudaraku), hal itu membuat Ibuku kewalahan setiap pagi karena harus menelepon mamanya dan menanyakan segala kerempongan ini dan itu. Pernah sekali, tepat di hari lebaran aku mengamuk di lapangan mini matali, tempat untuk sholat ied karena masalah sepele, yaitu gelang. Kintan menggunakan gelang untuk bergaya di hari lebaran, sedangkan aku tidak. Itulah yang membuatku mengamuk dan mengajak ibuku pulang. Ya ampun, aku geli membayangkan betapa rempong dan gayanya aku yang kecil.
Aku yang 4 tahun. Hari kelulusan dari TK membuatku bingung, karena aku tidak medapatkan cabutan saat pengambilan menu makanan untuk perpisahan. Semuanya terjawab saat ibu dan papah menjelaskan dengan bahasa yang lembut bahwa aku belum bisa diluluskan dari TK karena belum bisa diterima di sekolah dasar karena usiaku yang baru 4 tahun. Aku yang belum terlalu paham dengan hal itu pun hanya mengiyakan saja. Oh iya, di TK dulu ada 3 orang yang belum bisa lanjut ke sekolah dasar, yaitu aku, kintan, dan aku lupa siapa namanya. Memasuki tahun ajaran baru, teman se-TK ku yang dulu memakai seragam baru, begitupun denganku, namun itu bukanlah seragam putih merah, melainkan seragam hijau TK istiqlal. TK untuk yang kedua kalinya, hmm. Di TK ku yang baru, aku menjadi siswa yang sangat disenangi oleh ustadz dan ustadzah, karena aku yang mudah bergaul, dan mampu untuk menangkap hal-hal yang dijelaskan oleh mereka. Oh iya, aku yang 4 tahun sudah berubah dari anak yang bandel menjadi anak yang pemalu. Entah bagaimana caranya, Hahahaha. Setelah masa TK ku berakhir dan aku bersekolah di SD Negeri 1 Matali, Kec. Kotamobagu Timur.
Sampai sekarang, aku masih tidak menyangka betapa cepatnya waktu berputar dari detik sampai menembus tahun. Aku merindukan masa kecilku. Teringat kembali omelan khas ibuk-ibuk yang sering mengusir aku dan gengku dulu. Dan yang masih membekas dan menimbulkan rindu adalah omelan tetangga yang kesal denganku karena sering memanjat pohon manggis di depan rumahnya, kata-katanya tak pernah berubah, “Lailah e poponag au sin aka molabu yo dia mobali intau” hahahahaha (Turun (dari atas pohon) karena kalau kamu jatuh kamu tidak akan menjadi manusia lagi (mati). Aku juga masih ingat dengan nama kecilku, dede dan ices. Entah dari mana asalnya kedua nama itu.
Aku ingin menceritakan semua tentang masa kecilku, namun apalah daya diri ini sudah tak tahan lagi dengan godaan bantal dan selimut. Sekian ceritaku, sampai nanti di cerita selanjutnya.
-Kotamobagu, 19-Juni-2017 Dibawah sinar rembulan dan hembusan angin malam. Nabila Djafar.