Yang terputus, tersambung kembali.
Akhir Oktober Pengmas UI terlaksana. Ku kira ini adalah akhir, namun ternyata dugaan ku salah.
Dalam sebuah proses perampungan laporan akhir, *jeder* nambah satu Pengmas lain. Anggap saja yang pertama adalah Pengmas Paud dan yang kedua Pengmas Ular Tangga.
Salah satu dosen yang berpartisipasi adalah ammah (re:tante) dari salah satu sahabat. Beliau putri dari penulis cerita anak legendaris, si kuncung. Pertama kali mengenal beliau dari tulisan beliau tentang pengalaman masa kecilnya bersama ayahanda Soekanto SA di bilangan Tanah Abang (dalam mengenang kepergian penulis cerita anak tersohor).
Selain menjadi bagian dari pengmas paud, ternyata beliau juga mengetuai pengmas ular tangga.
Karena satu dan lain hal, akhirnya ku putuskan untuk menerima pengmas kedua, ular tangga. Pun Kak Sela. Lalu..
"Jadi Zahra gimana? Bisa bantu?"
Zahra sedikit ragu, dan ku timpali. "Pasti kamu mau bilang, "Kalo Kak Sela dan Kak Tasya ikut, aku ikut"
Bagaimana tidak ragu, Zahra baru mengetahui hal tersebut disaat itu dan langsung diminta untuk membantu pelaksanaan pengmas.
"Oke bismillah, ini kita pelaksana kegiatan hari H saja kan?", sekedar memastikan.
Memilih 1 sekolah dari ratusan paud/tk bagaimana ya?
"Cek satu2, dari 30 peserta terbaik ada yang dari cimanggis kah?"
Akhirnya, kubuka kembali file data peserta terbaik. Mencari satu persatu domisili kecamatan dari 30 sekolah tersebut dan akhirnya menemukan. Dari dua sekolah yang terletak di Kecamatan Cimanggis, terpilihlah 1 TK yang sesuai kriteria kegiatan pengmas ular tangga, yang lokasinya sesuai dengan proposal awal pengmas ular tangga, kelurahan Tugu. TKIT Fitri.
Dan ternyata TK Fitri merupakan TK nya Zahra. "Jadi ternyata kamu pernah jadi anak depok, Zah?"
Berhubung pada pengmas paud aku yang bertugas menghubungi para peserta terbaik, maka -sekalian saja- di pengmas ular sebagai humas. Menghubungi peserta terbaik yang merupakan perwakilan dari TKIT Fitri, Ibu Wiji. Beliau ternyata Kepala Sekolah dari TKIT Fitri.
Beliau sangat ramah. Beberapa kali kami tersambung lewat telepon agar kegiatan yang akan dilaksanakan tergambar jelas. Dan beberapa minggu kemudian Alhamdulillah kegiatan terlaksana dengan sangat baik.
Satu waktu, Aku sedang bersama Ummi dan Ibu Wiji mengirimkan ku pesan. Tiba-tiba umi bilang, "Kak coba tanya Bu Wiji dulu SMAnya dimana?". Gak lama kemudian ummi bilang, chat lagi kak, "kelas 12(...) ya Bu".
Ya, ternyata Ibu Wiji adalah teman sekelas Ummi waktu di 28.
"Kok Ummi bisa inget si?" Kataku. "Karena namanya Unik Kak, jarang".
Hari di mana aku memerlukan TTD dan Cap sekolah TKIT Fitri untuk keperluan laporan akhir pengmas ular tangga adalah hari dimana Ummi dan Bu Wiji tersambung kembali menggunakan ponselku.
"Miii.. Ayo ih telponannya lama banget, Kakak janjian sama Bu Wiji nya jam 10 di Juanda..."
"Jadi ternyata kamu anaknya Linda ya.. Wkwk"