Wahai hati... melembutlah...
Segala keputusanmu semoga tidak didasari emosi batin yang kamu rasakan saat itu juga..
Tenanglah..
Ambil keputusan di saat hati sudah lebih damai..
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Sweet Seals For You, Always

⁂
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
hello vonnie
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

izzy's playlists!
taylor price

★
occasionally subtle
Cosmic Funnies

JBB: An Artblog!
d e v o n
cherry valley forever
trying on a metaphor
$LAYYYTER

if i look back, i am lost

titsay
Alisa U Zemlji Chuda
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Italy
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany

seen from Canada

seen from United States

seen from Egypt
seen from South Korea

seen from Egypt

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@hanifahmohammadirham
Wahai hati... melembutlah...
Segala keputusanmu semoga tidak didasari emosi batin yang kamu rasakan saat itu juga..
Tenanglah..
Ambil keputusan di saat hati sudah lebih damai..
Setiap kali amaze dengan pertumbuhan dan perkembangannya Raffa, jadi ingat kata-kata pepatah yang dulu sering dinyanyikan ummi dan abi waktu kami (saya, adik, dan kakak) masih kecil-kecil...
"Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas air... "
Kata-kata itu sangat menjadi refleksi untuk saat ini, terutama dalam ikhtiar kami memurojaah ataupun menambah hafalan, pun dalam menuntut ilmu lainnya, dimana kerap kali Bubun dan Ayahnya butuh waktu yang lama untuk mengulang-ulang hafalan bahkan tak jarang lula-lula (lupa lagi), sedangkan bagi Raffa rasanya baru diajarkan beberapa kali tiap kata itu langsung menancap dalam memorinya terlebih ketika hal tersebut menjadi suatu rutinitas yang setiap hari didengar.
Walau dalam persoalan menghafal ini muda maupun dewasa memiliki kunci yang sama bernama istiqomah, maka pilihan yang ingin kami jalani dan ikhtiarkan adalah mengenalkannya sejak dini agar ilmu tersebut dapat Raffa ukir di atas batu, permanen, tahan lama, menyejarah.
Harapan dan doa kami untuk ini adalah semoga Allah berikan kesabaran dan keistiqomahan untuk kami dalam membimbing dan bagi anak-anak kami dalam belajar. Allahummarhamna bil quran...
18/10/2023
Proses
Sering diingatkan namun tak jarang jadi yang terlupakan. Unsur penting tapi seringkali jadi faktor yang terpinggir. Berharga namun tidak jadi perhatian utama. Proses ini sebuah keniscayaan, sebab dalam hidup pasti ada proses, terlebih terhadap sesuatu yang "baru". Fase baru, amanah baru, lingkungan baru, peran baru dst. Tak dipungkiri sesuatu yang sudah lama juga perlu proses, jika tak mau menjadi yang konstan disitu saja. Manusia dan proses berjalan secara berdampingan. Bayi maupun dewasa, semua melaluinya.
Terkadang proses mungkin tidak dirasakan oleh pelakon dan bisa jadi luput dari perhatian, namun bagi para pemerhati bisa menjadi sebuah kemajuan dan pembelajaran. Seperti Nak Lanang hari ini, yang sebelumnya cuek dengan lapisan putih penutup gambar warna-warninya, sebab kerap kali membiarkan gambarnya tetap dominan putih. Belakangan dia paham "cara main"nya bukan sekedar menggoreskan saja, namun bagaimana dia bisa membuka lapisan putih hingga terlihat objek berwarna yang lebih indah dipandang mata.
29/08/2023
Rindu.
"Tau nggak dek, aku rindu suasana hujan," kata suamiku dua hari yang lalu. Sepertinya setiap orang pasti punya rasa itu, ya, rindu. Kerinduan terhadap apapun objeknya. Ada yang rindu akan pasangannya, rindu akan anaknya, rindu dengan cucunya, rindu dengan suasana-suasana yang bisa membuat hati nyaman dan tenteram, juga rindu apapun itu yang memang membuat diri kita menjadi kangen se-kangen kangennya 😄
Bagi orang beriman, momentum kerinduan bisa menjadi sarana perenungan agar lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta rindu. Maka di momentum kangen-kangenan suasana hujan kemarin menjadi titik perenungan kami bersama tentang "Sudah seberapa jauh langkah kami menjauh dari rumah, dan seberapa besar usaha yang kami lakukan untuk membuat langkah-langkah kami menjadi langkah yang mendekatkan pada rumah kami". Maka istighfar dan komitmen untuk kembali bisa menjadi suatu penawar. Sebab sang Pencipta rindu juga sekaligus berperan sebagai Sang Pemaaf. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmu shaalihaat...
28/08/2023
Kamu tahu apa yang paling melelahkan di dunia ini? Benar, berusaha mewujudkan ekspektasi semua orang dan berusaha disukai oleh setiap mata manusia. Keduanya sangat melelahkan dan merupakan sebuah keletihan yang tiada ujungnya, sampai kamu mati.
Jadilah seorang yang baik, meski tetap akan ada yang membencimu. Jadilah seorang yang jujur dan amanah, meski tetap ada yang tidak suka padamu.
@jndmmsyhd
PENIRU ULUNG
Sore tadi selepas sholat ashar,
🧕: Fa, Bun mau ngaji dulu ya...
👶 Menangkap "keyword" ngaji, Raffa sudah tau apa yang akan Bubun lakukan. Tanpa dimintai tolong, dengan sigap Raffa beranjak dari duduknya. Dia hapal betul dimana letak quran Bubun, rak ketiga dari bawah. Tingginya sudah bisa menggapai deretan buku² dan Alquran pada tingkat tersebut dengan bantuan kaki yang masih berjinjit. Diambilnya Quran hijau itu, bukan yang biru, karena dia tau itu punya Ayah. Lalu diberikanlah ke Bubunya sambil duduk di pangkuan.
Yang begitu selalu terjadi secara otomatis, walaupun duduknya nggak bertahan lama, setengah menit langsung sibuk sama hal lain 😂
Tapi ada yang berbeda dengan sore ini, dia tampak lebih antusias. Seketika dia ucapkan kata yang paling mahir saat ini diucapkan,
👶: Ayah, ayah, ayah!
Lalu beranjak dari duduknya sambil kembali lagi menghampiri rak buku dan mengambil Quran milik Ayah. Diletakkannya Quran tersebut di atas mobil²an yang sebelumnya dia mainkan. Sambil membuka dan memandang deretan ayat pada halaman tsb. Cukup lama, dibolak balik, bolak balik, sampai dia sadar gerak geriknya sedang diamati 😂
Anak-anak,
Mereka selalu mahir menjadi peniru ulung...
Semoga segala kebiasaan² baik yang menjadi biasa kamu tiru, nak!
Dan dewasa nanti... Semoga menjadi sosok yang pandai meniru dari segala hikmah yang baik... #coretanbubun
Saat kita sudah saling terikat, bahasa yang kita gunakan bukan lagi sekedar kata yang terucap
Kita cukup saling mengerti isyarat lewat mata, bahkan bisa mencapai ke tahap perasaan lewat hati yang dengan seksama membuat "prediksi", kira-kira..
Ini yang kita lakukan. Memaksimalkan waktu kebersamaan kita dengan membuat satu frekuensi, dan hanya kita berdua yang paham dengan maksud dan arti
Rasanya tak perlu lagi ku jelaskan, bagaimana hatiku kecewa, kenapa itu membuatku sedih, apakah dengan begitu bisa menjadikanku bahagia, bahkan tentang "seberapa membuncahnya rasa rindu?"
Tak perlu, karena kau bisa langsung tau. Entah lewat tatapan mata, perubahan sikap, atau deretan kata yang tersirat pada chat WA
Kau tau? Ini istimewanya kita.
Bahwa Allah mengikat kita pada janji yang suci, menjadikan kita saling terkoneksi, hingga memudahkan kita dalam melakukan dan membangun komunikasi
Ya, keutuhannya tergantung pada keterbukaan satu sama lain dalam menjalin interaksi.
Juga yang patut disyukuri, ujian Allah tidak berada pada kita satu sama lain. Begitulah Allah lebihkan sebuah koneksi yang kuat ini agar kita bisa dengan cepat saling memahami.
Dan yang lebih penting lagi. Ujian ini tidak kita lalui sendiri,
ada Allah, aku, dan kamu.
Mungkin,
Memang sudah waktunya untuk kembali menulis.
Untuk diri sendiri...
Sebelum kamu tidur ..
Berbicaralah pada Allah ..
Kabarkan pada-Nya tentang hancurnya dirimu hari ini, kabarkan pula pada-Nya soal dosa yang kamu sudah berjanji tidak mengulangi tapi masih saja dilakukan, kabarkan pada-Nya bahwa hatimu kini terluka dan membutuhkan perban dan obat untuk menyembuhkannya.
Katakan pada-Nya bahwa kamu terluka dan menginginkan kesembuhan.
Selamat mengadu dan menyembuhkan luka.
@jndmmsyhd
Perempuan yang Penuh Luka
Mungkin kamu adalah perempuan yang terluka di sana dan sini. Hingga kamu tak lagi mengerti kenapa tiba - tiba menangis karena hal - hal kecil yang mengingatkanmu pada ingatan ingatan buruk. Mungkin dulu kamu adalah perempuan yang diakrabi oleh rasa sakit yang sengaja ataupun tidak digoreskan yang lain padamu. Tapi waktu kemudian mengobati segala keadaan, kamu menguat karenanya. Dan semua terasa lebih mudah, terasa lebih lapang. Tak ada lagi yang bisa menyakitimu, kecuali ingatanmu sendiri. Kamu belum sembuh betul dari semua luka itu.
Lalu ada sepasang tangan yang ingin meraihmu, ingin menghujanimu dengan kebahagiaan yang dimilikinya. Ia datang dengan apa adanya, jauh dari impian impian idealmu. Tapi ia memiliki segala hal yang kau butuhkan. Ia memiliki hati yang luas untuk tempatmu tinggal. Ia menyediakan bahunya untukmu bersandar. Ia mencoba mengerti dirimu dan menyediakan waktunya untuk memahamimu, meski itu bukan pekerjaan yang mudah. Ia memberikan senyum saat kau berteriak kesakitan atas semua luka masa lalu. Ia ingin menggengam tanganmu dan mengajarimu banyak hal dari apa yang pernah dilihatnya di dunia ini. Singkat kata, ia ingin membahagiakanmu. Mengobati segala lukamu. Lalu bahagia bersamanya. Karena ia percaya kamu adalah perempuan baik yang selama ini terluka.
Maka satu pesanku, bahagialah. Hargai keberadaannya. Dan kembalikan kebaikannya lebih besar dari apa yang ia berikan padamu.
Sebab masa lalu tinggal di ruang dimensi yang berbeda denganmu saat ini. Masa lalu mengajarimu untuk lebih bijak. Sementara dia datang mengajarimu untuk bahagia lagi.
Jadi bahagialah.
—-
sumber gambar : pinterest.com
Sometimes when I’m sad, I feel like a whole different self, so I made happy frog and sad frog to represent those states of mind. When I’m sad frog, I not only feel sad about the original problem, but I also feel sad about being sad frog (something I didn’t even realize was happening until I went to therapy!). This comic is a reminder that it really is okay to be sad frog. Sometimes happy frog is on a break, so be kind to your sad frog, okay? ♡
Chibird store | Positive pin club | Webtoon
Merawat Rasa, Pertama Kali Jatuh dan Cinta
Paska menikah, banyak pertanyaan yang hadir dalam hidup kami. Seputar pernikahan, seputar persiapan, seputar proses, seputar perjalanan. Yang pastinya nggak jauh-jauh dari tema pernikahan.
Lalu ada satu yang kurasa cukup menarik dalam perjalanan kami, dan semoga bisa menjadi kisah hikmah bagi siapapun yang mungkin saat ini masih takut-takut memiliki perasaan fitrah.
Sebenarnya, aku telah mengenalnya cukup lama. Sejak kami menjadi mahasiswa baru di salah satu universitas ternama. Tak jarang kami dipertemukan dalam forum-forum yang sama, bahkan amanah yang sama. Pun ketika menjadi mahasiswa semester 2, seorang kakak memintaku untuk berkontribusi di bidang pembinaan dan kaderisasi fakultas kala itu, dia pun disana.
Namun memang... #dasaraku. Cukup lama aku menyadari ada seorang laki-laki seperti dia di dunia ini saat kami dipertemukan dalam sebuah diskusi khusus, bersama seorang kakak tingkat yang hendak menitipkan sebuah amanah. Saat itu kami menginjak akhir semester 5.
"Aku kagum pertama kali ngeliat kamu tauk, Mas :D . Masih ada ya ikhwan yang kalau diajak ketemuan bisa on time (red: yang belakangan kuketahui memang seperti itu keluarganya mendidik) dan nunggu sambil baca Al-Quran padahal tempatnya bukan mushola atau teras masjid, tapi belakang bank di fakultas yang biasa dijadikan tempat rapat anak-anak organisasi atau kerja kelompok para mahasiswa diluar jam kuliah," ungkapku pada keluarganya kala interview dadakan setelah sholat berjamaah.
Dia sempat heran karena menurutnya "Masih banyak kok! Kenapa kamu maunya sama aku?". Aku menimpal, "Ya karena Allah mempertemukan akunya sama kamu, Mas. Hehehe. Kadang kita nggak bisa melihat kebaikan yang kita punya, tapi Allah kasih lihat kebaikan itu ke orang lain sehingga orang lain yang lebih dulu bisa ngeliat kebaikan kita".
Tapi kuakui, saat itu perasaan yang terlintas hanya sekedar kagum. Entah kapan akhirnya pelan-pelan bertumbuh menjadi fitrah yang terpupuk. Payahnya, sampai saat ini aku tak pernah bisa meraba. Kapan tepatnya? karena ia tumbuh dan mengalir begitu saja. Jadi nggak ada salahnya dong kalau aku bilang dia mengesankan sejak pandangan pertama? hehehe.
Hal-hal semacam fitrah itu memang lebih banyak ku kesampingkan. Sekali lagi, ya, memang #dasaraku. Belum lagi kondisi lingkungan yang selama ini kuhadapi, semua perempuan yang seringnya kuajak interaksi. Hingga ketika dipertemukan untuk interaksi dengan lawan jenis, yasudah, perlakukan sama saja. Termasuk dia.
Berawal dari semester 5 kami bekerja bersama-sama, ternyata masih berlanjut hingga beberapa tahun kedepan. Kami masih dalam amanah yang sama. Bekerja dengannya cukup nyaman memang. Saling mengisi satu sama lain, saling nyambung dalam diskusi, saling melengkapi kekurangan. Yang selama ini kukira, ya wajar dong? Namanya juga partner, berarti emang orang yang menggabungkan kita sebagai partner kerja cocok memasangkan kita. Naif, ya? haduuuuh.
Hingga suatu hari, seorang teman dekat mengajakku makan bersama. Diselang perbincangan kami, tiba-tiba pertanyaan ini keluar...
"Nif, kamu ada sesuatu sama dia?".
Satu pertanyaan yang mendorong atau bahkan memaksa diri untuk terus berpikir.
"Kok orang ngeliatnya begitu?" "Jangan-jangan emang selama ini beda?" "Duh, adakah yang salah?" "Selama ini aku salah kayaknya interaksi sama dia?"
Lalu kubuka-buka lagi chat kami hingga aku membuka pembicaraan dengan seorang sohib terdekat tentang pertanyaan itu.
"Si ini nanyain hubunganku sama dia. Kalau dari penglihatan kamu gimana?"
Payahnya memang aku yang begitu lamban membuat definisi tentang perasaan. Di pertengahan tahun 2018 itu awal mula penderitaan dan kesyukuran. Penderitaan karena telah memupuk rasa begitu jauh dan kesyukuran bahwa Allah memberi "sign"nya segera hingga aku harus cepat membuat rambu-rambu yang tak boleh keluar batas.
Sulit? tentu. Namanya juga managerial diri melawan hawa nafsu. Karena aku bukan Fathimah yang jatuh cinta pada Ali, yang dengan lihainya menyembunyikan rasa cinta mereka hingga para syaithan tak berlomba menggoda.
Alhamdulillah, Allah menganugerahkan sohib terdekat yang setia mendengar cerita. Setia mengingatkan kalau-kalau khilaf tak disengaja, setia memberikan nasehat baiknya begini baiknya begitu. Satu support yang Allah berikan, satu nikmat yang Allah hadiahkan. Jazakillah khayr, Sissy! Semoga Allah juga segera mempertemukanmu dengan pasangan sholeh :)
Disamping itu, Allah juga anugerahkan kedua orangtua yang sangat terbuka. Sebelumnya mereka sempat ribet sendiri, sibuk sana-sini mencari calon pasangan untuk anaknya yang sesuai kualifikasi. Tapi ketika aku akhirnya jujur tentang perasaan yang terlambat kupahami, mereka mafhum. Memilih menungguku berdamai dengan fitrah yang Allah beri. Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah...
Sejak itu, mulai kubangun istikhoroh cinta. Mulai ku redam perasaan itu beberapa kali walau tak lama muncul lagi. Prinsip ku tak mengiyakan perasaan ini instan pergi, tak apa semaunya bahkan silahkan meluaslah atau tumbuh menjadi besar. Yang penting aku bisa "merawatnya dengan baik".
Qadarullah dengan perjuangan melawan rasa, tahun 2019 dihadapkan dengan berbagai macam ujian yang membadaikan keteguhan. Kehilangan Abi, orang tersayang, guru sekaligus sahabat berdiskusi. Hal yang saat itu sempat ku sesali. Aku belum sempat mengukir senyum untuk wajahnya, yang dapat menyaksikan putri kecilnya kini duduk di kursi pelaminan. Abi sangat menantikan hal itu, sangat... sangat... sangat. Hingga tahun 2019 perasaan fitrah itu kembali ku kesampingkan. Tak ada waktu mengurus atau merawatnya, karena fokusku berganti menjadi menopang keluarga yang sedang rapuh. Dia sempat kembali kuabaikan.
Nyatanya... tak bisa terlalu lama. Namanya juga godaan. Akhir tahun 2019, kembali ujian itu datang. Dihadapkan dengan beberapa propose, dihadapkan dengan kondisi yang menekan untuk segera proses, dihadapkan dengan ceng-ceng an tak berdasar. Duuuh, aku tak bisa lanjut, tak bisa mengiyakan. Perasaanku masih mengganjal dan tak netral. Gimana ini tuh? Kalau dibayangkan kayak tiap kemanapun kamu pergi, orang-orang disekitarmu membuat dorongan-dorongan untuk kamu segera menikah sedangkan kamu punya seseorang yang membuatmu menunggu walaupun dia tidak minta ditunggu atau tidak pernah bilang kalau kamu harus menunggu bahkan kalian tidak pernah bersepakat tentang apapun. Aku yang terlalu membuat ini rumit.
Akhirnya... bismillah. Memang sudah waktunya memberanikan diri. Lagipula lifeplan usia 24 tahunku memang salah satunya adalah menikah. Mau mulai kapan? Kemarin-kemarin sudah mulai pembekalan, maka tinggal aksi nyatanya.
Januari 2020 aku menghadap pada guru ngaji. Bercerita tentang perasaan yang selama ini kumiliki. Mengakui fitrah terpendam yang kututup-tutupi (walau beberapa orang bilang, aku tak pernah pandai dalam hal ini. Iya ya?). Akhirnya mba mengambil jalan, bahwa segera akan beliau proses dan tanyakan hal ini pada si ikhwan.
Jawaban yang membuat hatiku terbelah. Ternyata dia belum siap menggenapkan setengah agama. Apa daya? Dia punya ukuran sendiri tentang siap dan tidak siap nya.
Tidak mudah memang. Dikira setelah semuanya jelas, maka rasa itu bisa usai pergi. Tidak ternyata, tidak semudah itu. Walaupun fitrah akhirnya terluka dan kecewa, anehnya dia tetap bersikukuh tak mau dirayu untuk berdamai. Padahal mutlak sudah jawaban yang didapatkan. Tak bisa maju dan tak mau mundur, kepala batu memang!
Mba berpesan, beliau faham tentang bagaiamana fitrah itu tercipta. Maka beliau mempersilahkan agar aku bisa berdamai dengan waktu. Namun lagi-lagi jangan berlarut, khawatir malah zina di hati. Maka mba titip untuk banyak beristighfar dan renungkan bagaimana baiknya setelah ini.
Pada waktu-waktu seperti ini yang biasa kuajak diskusi adalah Abi. Namun bagaimana lagi cara untuk berkomunikasi? Hanya bisa titip doa lewat yang punya semesta, menanyakan perihal keridhoan waktu yang bisa jadi terbuang sia-sia. Memang, momen itu yang kutunggu. Telah lama tak jumpa dengan dia, telah lama semenjak mimpi pertama aku bersua dengannya setelah ia tiada. Tak pernah lagi kami bertemu setelah itu. Satu yang tak kutinggalkan, istikhoroh cinta. Karena kegamangan ini sangat butuh akan bimbingan.
Qadarullah akhirnya suatu malam Abi hadir dalam mimpi. Berpakaian rapih serba putih, kopiah putih dan gamis putih. Menyambut dengan muka penuh berseri. Aku ada dihadapannya, bersimpuh dengan lutut menopang ke tanah. Ia hanya diam, memperhatikan putri kecilnya yang dulu ia timang-timang. Sekarang menghadapnya membawa persoalan orang dewasa. Ya, putrinya sudah dewasa. Kami sempat terdiam, menatap satu sama lain penuh arti, akhirnya lelehan air mata tak kuat jatuh ke pipi. Aku memulai pembicaraan dengan bertubi-tubi pertanyaan.
"Abi ridhonya Ifah harus gimana?" "Abi tau kan Ifah punya rasa itu sejak lama. Terus haruskah sekarang Ifah singkirkan begitu aja?" "Ifah harus sabar nunggu, atau cepat-cepat lupakan?" "Bi, Abi ridhonya gimana?"
Aku mengulang-ulang pertanyaan itu. Abi tetap diam sambil mengelus kepalaku yang berada dalam dekapan. Disana dia hanya tersenyum, melihat putrinya yang penuh kegalauan. Hanya senyum, senyum yang penuh arti.
Perasaan sesak ternyata sampai pada dunia nyata. Mengganggu tidurku, memutus pertemuan yang kutunggu-tunggu sekian malam. Hanya senyum yang aku dapatkan. Dalam keterjagaan, membuatku berpikir, "Apa artinya?".
Maka kutunaikan lagi istikhroh cinta, dilengkapi dengan qiyamulail yang membawa berkah. Bismillah, in syaa Allah aku tau maknanya.
Senyum itu tanda Abi percaya, bahwa aku tau apa yang terbaik untuk diriku. Seperti biasa, Abi selalu mendukung apa yang anaknya pilih selama anaknya bisa bertanggungjawab atas pilihannya. Maka memang hanya aku yang bisa memutuskan, apa yang kedepan akan kulakukan. Sekali lagi, prinsipnya bukan mengamputasi melainkan tak apa membiarkannya tumbuh namun tetap awasi dan "rawat dengan baik". Pelan-pelan aku menjauh pada hal-hal yang berpotensi akan mudhorotnya lebih banyak, seperti frekuensi chatting, frekuensi melihat update-an status, dan posibility bekerja bersama dalam satu amanah.
Maka Februari-Maret-April-Mei dan beberapa hari di bulan Juni adalah waktu dalam proses berdamai. Aku bertahan dengan support seorang sohib terdekat yang selalu setia menjadi teman cerita, bertahan dengan keyakinan bahwa ada hal yang lebih baik yang akan kujemput atau menjemputku, bertahan dengan istikhoroh cinta sebagai penguat ikhtiar dalam membuat segala keputusan.
Hingga pertengahan Juni 2020. Seorang Ibu mengirimkan pesan lewat direct message Instagram. Kalian tau? Itu orangtua si ikhwan. Entah bagaimana takdir Allah membuat skenario hari itu terjadi. Aku dan orangtuanya sama sekali tak pernah bersua secara sadar apalagi membangun komunikasi. Hanya di hari itu, biidznillah, orangtuanya membuka jalinan komunikasi untuk sebuah niat mulia, mengantarkan anaknya menggenapkan separuh agama.
Tak langsung memang, awal-awal berkenalan lewat IG, lalu dengan baik saling berkabar nomor telepon untuk berkomunikasi via whatsapp. Hingga kejailanku seperti biasa membalas status-status WA Story, termasuk status Umminya. Pada waktu yang hampir klimaks, Umminya memberikan kabar sedang pulang kampung, lalu beliau tanya, "Mau dibawain oleh-oleh?". Spontan aku menolak malu-malu. Masa baru kenal, udah minta dibawain oleh oleh? Tapi Umminya sedikit memaksa, ingin membawakanku oleh-oleh dari kampungnya, dilanjutkan dengan niat untuk memintaku bertemu. Kami bersepakat, mengatur pertemuan tanggal 23 Juni 2020 di rumah makan tak jauh dari rumahku.
Tak pernah ada firasat bahwa pertemuan itu menjadi awal mula takdir Allah mengabulkan lirih doa-doa. Pertemuan tersembunyi yang sebelumnya sama sekali dia tidak tahu-menahu namun menjadi pintu utama menuju keyakinannya untuk membulatkan tekad maju mengkhitbah. Pertemuan yang membuatnya selangkah lebih maju, berani mengutarakan niat baik pada keluargaku.
Ummi dan Abi memang udah punya niat dari lama untuk silaturahim ke rumah Ifah, Umminya bercerita, tapi dia siapnya tahun 2022 Ummi sama Abi pikir itu kelamaan apalagi denger dari temen deket Ifah katanya nunggu sampai Mei tahun depan.
"Ummi soalnya udah sayang banget sama kamu, dek. Makanya aku pikir, kalau udah begini ya gimana lagi? Belum tentu kalau aku udah nggak punya kesempatan lagi dapetin kamu dan nyari yang lain, akunya cocok eh ternyata Ummi nggak cocok atau sebaliknya. Kalau sama kamu kan, akunya cocok dan Ummi juga sayang sama kamu. Udah dapet ridhonya Ummi juga, in syaa Allah kalau udah ada ridhonya jadi mudah juga semuanya," kata dia setelah kami sudah sah.
Aku bertanya heran, "Kok bisa Ummi sayang sama aku, Mas? Kan belum pernah ngobrol sebelumnya?"
"Ya, itulah Allah..." jawabnya santai.
Dari pertemuan yang menjadi cerita awal kami menjejak jalan yang serius, maka dilanjutkan dengan proses-proses penuh keberkahan. Tanggal 4 Juli 2020 kami khitbah dilanjutkan dengan 16 Agustus 2020 mitsaqan ghaliza membuat langit-langit arsy bergetar atas nya. 'Ala kulli hal, semua dapat terlaksana dengan lancar walau dengan persiapan singkat namun penuh dengan keberkahan-keberkahan tersendiri yang keluarga kami rasakan.
Bahkan dengan setelahnya, ada kata-kata yang membuatku sebenernya tersentuh tapi mencoba tetap pasang mimik stay cool dihadapannya. Ketika dia dengan tulus berucap,
"Biasanya aku kalau kemana-mana gelisah. Atau kalau menghadapi persoalan ini dan itu aku gelisah. Tapi setelah aku nikah, serius deh, aku ngerasain menghadapi ini dan itu kerasa kayak tenang aja gitu. Bener dek, nikah itu bawa sakinah, aku sakinah sama kamu," ungkapnya.
- Tenang, Mas. Pernikahan kita baru berumur beberapa minggu. Akan ada banyak hal lagi didepan yang menunggu. Bismillah, kita hadapi bersama :) -
Alhamdulillah, fase kami dalam perjalanan ini ternyata bertemu. Berawal dari fitrah terpupuk yang terlambat kusadari dan kupahami. Hingga ikhtiar-ikhtiar dalam penantian juga proses untuk berdamai.
Ini pengalaman pertama aku jatuh lalu cinta. Jatuh lebih dulu karena sakit dirasa, penolakan atas ketidaksiapan, kemudian waktu dan proses untuk berdamai, hingga ikhtiar-ikhtiar merawat rasa. Ketika jatuh, semua memang harus dipersiapkan, jika tidak siap maka hati-hati malah jadi terpuruk. Rawat saja, jangan spontan mengamputasi karena rasanya akan terlalu sakit ketika fitrah hadir tapi diri menolak bahwa itu pernah ada.
Lalu cinta, ketika lirih-lirih doamu Allah jawab. Lewat jalan yang tak pernah kau sangka-sangka. Disana ada cinta Allah karena ada ridho orangtua, lalu kekuatan doa.
Maka aku merasakan jatuh kemudian cinta.
Sekali lagi, jangan takut. Jangan menghindar. Itu fitrah, tinggal bagaimana kamu mengatur kemampuan yang kamu punya untuk mengelola. Dengan pertimbangan sumber daya yang menjadi faktor penguat diri. Semakin kamu mencinta, sudah seharusnya semakin dekat pula kamu dengan pemilik cinta. Hingga si Pemilik Cinta yang menentukan, dengan cinta yang mana kamu hendak dipertemukan, in syaa Allah Dia juga akan hadirkan ketenangan ditengah dua insan yang saling mencinta karena-Nya...
--------------------
Ceger, 11 Sept 2020
Wajar Merindu
Dalam detak-detuk penantian sebuah pertemuan,
Ada jiwa yang rasakan kehilangan malah semakin merindu
Berubah menjadi kerinduan yang sesak. Bahwa tak mungkin, yang tersayang itu kini membersamai dengan jasad nyata yang utuh. Kasat mata.
Walau sebongkah keyakinan bahwa ridho telah digenggam
Namun persatuan bisa saja menjadi kerinduan mendalam akan sebuah kehilangan yang tersayang
Karena ada harapan, bahwa momen kebahagiaan yang hampir di depan matanya bisa sama-sama disaksikan, sama-sama didoakan, dan sama-sama dirasakan.
Namun, apa daya? Yang diajak bahagia sudah tiada jejak raganya
Maka wajar kerinduan itu meledak, menjadi luapan isak tangis pilu. Andai kau masih disampingku, andai ku sampingmu. Ah, tak boleh berandai-andai...
Tapi cinta itu memang nyata ya?
Seperti kesetiaan yang sampai saat ini dia miliki padamu, padahal ragamu saja telah tiada jejaknya di dunia
Lalu lantunan doa-doa semakin kencang berlomba naik ke arsy tertinggi, salah satu ekspresi rindu agar bulir mata tak jatuh sia-sia
Semakin dekat waktunya, semakin menjadi rindu itu meronta
Tak hanya pada nya, namun pada ku juga yang kelak di momen bahagia menjadi pemeran utama...
-----
Bekasi,
Fri, 7 Agust 2020
Sebab kita tak punya kuasa menentukan ketetapan, namun memiliki ikhtiar untuk dilakukan dan strategi untuk kembali merancang.
Yang terpenting masih ada semangat dan hati yang lapang untuk tetap bergerak dan melanjutkan. Bersama Allah itu... nggak ada yang nggak mungkin.
Ketika menunggu waktu yang sengaja dijeda
Mau tak mau menahan keinginan untuk bersua
Tetap. Kita harus pastikan bahwa ini sampai pada akhir, menguasai diri untuk bersabar dan berharap agar keberkahan terus mengalir
Semoga yang datang saat ini adalah kenikmatan yang sungguh-sungguh dapat kita syukuri, sebab suatu ibadah yang membuka pintu-pintu rezeki
Kikis rasa khawatir, buang jauh-jauh dzon yang mengganggu jangan sampai justru kita yang mendahului takdir, lewat lintasan pikiran yang hanya prasangka
Maka satu yang harus terus-menerus dipinta, kepada yang empunya semesta, sambil tak hentinya berlirih halus mengingat kebesarannya
Rabbi... Ridhoi... Rabbi... Berkahi...
-----
Bekasi
Mon, 27 July2020
Lelaki Penuh Qudwah Hasanah
Sungguh ya Rabb,
Aku mencinta dia...
---------------------------------------
Satu tahun lebih ditinggal pergi, seorang perempuan seringkali mengulang rekaan kenangan bersama kekasih. Ketika lakon yang si lelaki lalukan selaras dengan apa yang ia tanamkan. Tak pernah menggurui, namun tak lelah menasehati.
Dari awal perempuan itu tahu. Ketika si lelaki datang dengan niat baik, tak ada yang bisa menjamin hidupnya kelak dilimpahi harta duniawi yang banyak. Lelaki itu hanya datang dengan keseriusan dan kesungguhan, mengharap ridho Allah bahwa ibadah sepanjang hidup bukanlah tentang sekedar kebahagiaan mendapat pasangan tapi bermakna perjuangan. Perjuangan melahirkan generasi yang rabbani, perjuangan membangun keluarga dan masyarakat madani, hingga perjuangan untuk tetap istiqomah dalam berdakwah.
Maka kehidupan mereka kelak memang tak dapat dijamin apa maupun siapa, entah harta dunia atau ayah-ibu mereka. Tapi yang jelas, si lelaki terus tanamkan pada perempuan yang merupakan istrinya bahwa yang dapat menjamin mereka adalah Allah SWT. Hanya zat itu yang maha satu-satunya.
Seperti satu tahun terakhir. Setelah si lelaki penuh qudwah hasanah itu akhirnya Sang pemilik panggil. Beberapa kali rentetan ujian menyerbu, tak ada habisnya memutar balikan hati. Setelah habis duka yang satu, muncul lagi satu pilu. Terus begitu.
Meski seperti itu, sekarang si istri berjalan dengan aneka rekaan kenangan tentang kekasih. Tentang lelaki yang telaten dan sabar menanamkan banyak nilai kehidupan serta tauhidullah, sandarkan dan percaya pada Allah maka akan ada keajaiban yang datang.
Walau beberapa kali mungkin hampir oleng sebab ujian rasanya terlalu berat dihadapi. Tetapi, "Laa yukallifullahu nafsan illa wus'aha...". Tak mungkin Allah beri jika tak sanggup dilewati.
Rekaan nilai yang ditanamkan kerap menjadi pembelajaran. Tak hanya sekedar diingat tapi juga diaplikasikan. Beberapa kali menjadi kisah hikmah, dilain waktu sebagai cerita motivasi.
Bukan hanya pada istri, pun kepada anaknya, ia tanamkan. Kebiasaan untuk bersedekah pagi, tak lupa dzikir pagi dan petang hari, lalu ucapan lafadz pujian untuk sang ilahi, hingga membangun interaksi yang baik tak hanya pada Allah tetapi juga pada sesama penghuni bumi.
Maka qudwah yang ia contohkan benar adanya. Allah selalu punya rencana, selama kita bersabar, ikhlas dan berlapang dada menerima setiap takdir yang Dia gariskan. Namun tetap, ikhtiar utama tawakal kemudian.
--------------------------------------
Untuk, lelaki yang ku cinta..
Ya Rabb, sampaikan doa dan rindu... Semoga qudwahnya menjadi pahala jariyah hingga akhir masa
Bekasi,
Sun, 19 July 2020
Tak kira, waktu mau liputan acara ini bakal bosen banget dengerin materinya. Lihat dari tema yang udah bikin eneg (covid lagi covid lagi 😂), ditambah yang dibicarain masalah finansial. Ternyata saat coba mulai transkrip untuk bahan berita banyak pembelajaran menarik yang bisa diaplikasikan kelak.
Pembicara pertama bahan materinya daging semua, menarik banget buat didengar hehe.
Ada penggalan kalimat bgaus yang diutarakan beliau tentang rezeki,
"Pernahkah Allah memberikan rezeki kurang? Nggak. Allah memberikan kita cukup atau berlebih, cukup atau banyak. Nggak pernah ngasih kurang. Yang kurang itu karena uangnya keburu terpakai untuk yang lain yang tidak lebih prioritas, maka harus kita kelola prioritas keuangan," tutur beliau.
Itu mengapa kita butuh yang namanya perencanaan. Sayangnya selama ini sukanya bergerak spontan terhadap hal tersebut, eits tapi nggak boros in syaa Allah hehe.
Mungkin kalau masih sendiri hal-hal jelimet tentang finansial ini belum terlalu kerasa, karena dari segi kebutuhan juga sudah pasti berbeda. Walaupun dari awal membiasakan untuk membuat perencanaan itu hal yang baik dan good habbit.
Oke! Hap hap, ayok coba kita belajar ✨
Kalau nyimak materi 1, bahasannya menarik 👆