Dear My Future Husband, My Life Partner
Dear my future husband, my life partner...
Jika dirimu ingin mengenalku, tanyakanlah pada kakak, ayah, dan sahabatku. Jangan pada keluargaku yang lain. Mereka tak sepenuhnya tau tentang diriku.
Jika ekspektasimu tak terpenuhi, jangan kecewa padaku, jangan meninggalkanku, dan jangan membenciku. Sebab, dirimu telah memutuskan untuk memilihku jadi teman hidupmu. Belajarlah untuk menerima tanpa menuntutku untuk berubah sesuai keinginanmu. Aku sudah kenyang menghadapi ekspektasi orang-orang, bahkan keluargaku sendiri. Aku sudah sering ditinggalkan, sudah sering dibenci, sudah terkekang dengan lingkunganku sendiri.
Jika dirimu butuh menceritakan masalah dan menyelesaikan masalah, ceritakan dan selesaikanlah denganku. Setidakacuhnya diriku, secuek apapun diriku, aku siap untuk mendengarkan ceritamu dan menyelesaikan masalah bersamamu. Jangan dipendam sendiri.
Jika kita memang tak dianugerahi generasi penerus, janganlah sedih. Sebab, semua itu ada hikmahnya. Punya generasi penerus juga ada hikmahnya. Tanpa generasi penerus, bukan berarti Allah gak sayang, bukan berarti Allah gak ingin kita punya generasi penerus. Satu lagi, jangan terpancing emosi mendengar pertanyaan society soal "kapan punya anak?" atau "kok udah lama nikah belum punya anak?"
Jika memang aku salah, tolong ingatkan secara personal. Jangan di depan orang banyak, jangan di depan generasi penerus kita, jangan di dekat keluarga kita masing-masing. Maukah dirimu permasalahan kita semakin dicampuri, diframing jadi lebih panas, dan penerus kita menjadi dampaknya? Tentu tidak bukan?
Apapun, mari kita hadapi bersama, bagaimanapun mengeluhnya aku, cerewetnya aku padamu. Mari kita hadapi bersama, kita jalani, sebab semuanya kita yang memulai dan itu menjadi tanggung jawab kita.
Apapun itu, suatu hari nanti, apa yang patut disampaikan padaku, sampaikanlah padaku. Jika memang tak patut, jangan sampaikan. Apa yang perlu aku tahu, sampaikan padaku. Jangan diamkan saja.
Begitupun sebaliknya, aku juga akan menyampaikan padamu. Aku berusaha sebaik mungkin memperlakukanmu, layaknya seorang partner, apalagi partner hidup.
Jika suatu hari nanti kamu ragu padaku, tak apa. Suatu hari nanti juga, kamu takkan ragu lagi dengan sendirinya. Kamu akan mantap dan yakin, aku memang layak untukmu. Semuanya memang butuh waktu dan itu wajar. Untuk menerima orang lain dalam kehidupannya memang butuh waktu.
Jika setiap gerak gerikmu menggambarkan satu kata dan satu kata itu terlontar, itu semua di luar kendaliku. Silakan kembali minta pada Allah. Aku pun juga akan demikian.
Kita tetap bersama, bagaimanapun badai akan menerjang. Sehidup, sesurga, tanpa distraksi siapapun.












