Nasehat;
Mumpung lagi bahagia, lagi dikasih rezeki yang bagus sama Tuhan, jangan lupa ditabung lebih banyak.
Biar gak bingung dan bisa dipakai kalau nanti terluka lagi..
Sebab, bukan cuma jatuh cinta, patah hati juga butuh biaya..
It's true!
RMH
Claire Keane
Sade Olutola

Kaledo Art
No title available

if i look back, i am lost
Xuebing Du

ellievsbear
we're not kids anymore.
i don't do bad sauce passes

Origami Around

★
Alisa U Zemlji Chuda
DEAR READER

PR's Tumblrdome
wallacepolsom
Misplaced Lens Cap
Monterey Bay Aquarium

titsay
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Taiwan

seen from T1
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from United States
seen from Morocco
seen from United States
seen from New Zealand

seen from Argentina
seen from Netherlands
seen from Italy
@jelagaku
Nasehat;
Mumpung lagi bahagia, lagi dikasih rezeki yang bagus sama Tuhan, jangan lupa ditabung lebih banyak.
Biar gak bingung dan bisa dipakai kalau nanti terluka lagi..
Sebab, bukan cuma jatuh cinta, patah hati juga butuh biaya..
It's true!
"Kehilangan tak melulu tentang kepergian seseorang dalam hidupmu.."
Ia tak selalu datang dengan pintu yang ditutup atau punggung yang menjauh.
Kadang ia datang diam-diam dalam sepi, menggerogoti dari dalam, hingga suatu hari saat kamu menoleh, kamu tak lagi mengenali siapa yang berdiri di balik matamu sendiri.
Lalu menyadari bahwa kamu sendiri yang telah meninggalkan versi dirimu yang dulu, yang paling berani, paling polos, mudah tergelak dan paling hidup. Kamu bahkan tak ingat kapan menguburnya.
Kamu masih bernapas. Kamu masih tersenyum pada dunia. Tapi jiwa yang dulu pernah menari di dalam dadamu telah pergi tanpa jejak, hati yang dulu sering tersenyum, kini hanya meninggalkan cangkang yang pandai tampil dengan berpura-pura utuh.
Percayalah, hal yang paling menyedihkan adalah kehilangan dirimu sendiri
Karena yang paling kejam bukanlah perpisahan, tapi memaksa rasa untuk tetap merindu, pada hati yang sudah tak lagi punya tempat untuk menaruh namamu..
.
.
Kenapa kebanyakan cowok baru fokus mikirin pasangannya saat dia udah 'gak sibuk?
Bayangin, saat kamu (cewek) lagi sedih, lagi pengen cerita, lagi pengen ditemenin tapi cowok kamu bilang "Sebentar ya, aku masih sibuk. Nanti yaa.."
Ini yang para cewek bilang kalo cowok itu egois
Trus pas kesibukannya udah mereda, dia baru hubungi atau temuin kamu sembari bilang "Maaf ya tadi, kamu kenapa, kepengen apa?"
Dan kamu, pliss jangan nunjukkin muka bete, kesel apalagi marah saat dia bilang gitu. Kenapa?
Penjelasan Psikologisnya:
Otak cowok itu cenderung 'single tasking'. Kalau dia lagi fokus ngerjain sesuatu, ya cuma itu yang ada dalam otaknya sampai beres. Hal lain akan dia simpen dulu dipojokkan pikirannya untuk dibukanya nanti.
Sementara otak cewek itu 'multi tasking + multi emosional'. Kamu tuh bisa banget kan lagi input laporan tapi masih mikirin ending drama Korea semalam, sambil mikir ntar malem makan apa ya? Atau malah sambil chat ngegibahin anak marketing baru yg dandanannya menor abis, sekaligus khawatirin hubungan kamu sama dia.
Ini makanya selalu cewek duluan yg sering mikir "Apa aku doang yang mikirin hubungan ini dianya gak?"
Analoginya:
Otak cowok itu kaya lemari satu pintu + satu laci. Kalau itu lemari isinya lagi mikir 'kerjaan', maka pikiran soal 'pasangan' atau lainnya bakal dia kunci di lacinya.
Sementara otak cewek itu kayak apa ya? Hmm, kaya semangkok mie instan deh, yg bisa nampung banyak hal, diaduk jadi satu tapi bisa tetap dinikmati rasanya..
Jadi, bener kan cowok itu egois?
Gak selalu kog.. Makanya kadang dia butuh waktu untuk sendiri buat proses beresin kerjaan atau apapun yg udah dia pikirin duluan, setelahnya baru deh dia bisa hadir ke kamu secara emosionalnya.
Jadi, dia tetap mikirin kamu kog, tapi waktunya aja yg beda dengan kamu.
Trus, biar ga salah paham 'gimana?
Intinya sih cuma komunikasi yg harus dijaga. Bukan cuma frequency nya aja tapi juga isi. Saat kamu liat pasangan kamu lagi sibuk, coba deh jangan langsung marah.
Bisa kamu bilang gini:
"Aku tau kamu lagi fokus kerjaan, tapi kalau aku lagi sedih, kalau kamunya udah selesai, temenin aku ya.."
Nyessss, dijamin cowok kamu bakalan ngerasa bahwa kamu adalah salah satu wanita yg paling memahami dia, selain Ibunya..
Jadi, dah paham dong sekarang?
.
(Oh, kamu jomblo? Yah... Sama dong.. ) 😜😂
Ampas yang Menetap, Rasa yang Beranjak..
Jangan menoleh lagi. Biarkan sisa rasa ini tertinggal di meja, mendingin bersama waktu yang tak mungkin kita putar kembali. Hubungan kita layaknya racikan V60 yang dipaksa mengalir terlalu cepat; ada sari yang tertinggal, ada rasa yang tak sempat terekstrak sempurna, namun tetes airnya harus tetap jatuh ke wadahnya.
Menoleh hanya akan membuatmu mengecap kembali pahit yang seharusnya sudah kau telan. Anggap saja aku adalah ampas di dasar cangkir, bagian yang memang harus menetap agar kau bisa menikmati jernihnya sisa perjalananmu.
Berjalanlah terus.
Biarkan aroma kenangan ini memudar tertiup angin jalanan, karena kopi yang enak tidak pernah dipanaskan ulang, dan perpisahan yang jujur tidak butuh tatapan belas kasihan.
Ruang Refleksi
"Analogi ini mengingatakan bahwa meski ada rasa "pahit" yang tertinggal, hal itu adalah bagian alami dari sebuah proses agar seseorang bisa melangkah lebih ringan, tanpa beban cerita lalu yg terus dibawa-bawa"
Sang Kurator Estetika;
(dengan senyum kecil) : Beberapa waktu belakangan ini, beberapa pesan yang masuk dalam kotak 'messages' saya, isinya hampir sama.
Beberapa pertanyaan dibalik pujian (𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩), tentang bagaimana cara saya menguatkan isi dari tulisan-tulisan saya dengan sering menyisipkan foto, gambar atau penggalan video yg relevan didalamnya?
Bahkan ada yg menyebut saya seperti judul tulisan ini, yaitu : Sang Kurator Estetika (The Aesthetic Curator).
Terima kasih sekali sebelum dan sesudahnya dengan julukan yg diberikan 🙏🙏
Saya sangat meng-apresiasi hal itu.
Tentang alasannya, mungkin bagi saya :
"Karena ada beberapa rasa yg terlalu luas untuk dipenjara dalam kata-kata, dan ada beberapa momen yg terlalu sunyi untuk dibiarkan tanpa pertunjukkan. Foto itu adalah jeda, penggalan video itu adalah jiwa, agar kita bisa bernapas sejenak sebelum tenggelam lagi dalam paragraf berikutnya."
"Sebab, kata-kata sering kali hanya mampu menceritakan apa yg terjadi, tapi visual menunjukkan apa yg terasa. Saya menyisipkan foto, video agar siapaun yg membacanya tahu bahwa apa yg saya tulis bukan sekadar imajinasi, melainkan fragmen kenyataan yg saya tangkap."
Selain itu, bagi saya, sebuah karya bukan hanya tentang apa yg hanya dibaca, tapi tentang apa yg bisa tertinggal di ingatan setelah layar ponsel mati atau bergeser.
Terima kasih untuk semua koreksi, atensi juga dukungan yg sangat berarti ini..
Salam bahagia dengan menulis, dari saya : @jelagaku 😊
Eksistensi & obsesi validasi;
"Daripada sibuk mencari untuk dapat memilih, mengapa tidak berfikir untuk menjadi dan dipilih."
Kita seringkali sibuk mencari agar "bisa memilih"; baik itu memilih pasangan, memilih pekerjaan, atau sekadar memilih citra di media sosial, kita sering kali terjebak dalam ilusi kendali dan mengira kekuatan ada pada hak pilih kita. Padahal, tanpa disadari, kita sedang melelahkan diri dalam kompetisi luar yang tiada habisnya.
Sibuk Mencari (Konsumsi & Opsi): Fokusnya keluar. Energi habis untuk membandingkan, menimbang, dan mengejar standar eksternal agar kita "layak" mendapatkan yang terbaik. Ini melelahkan, karena opsi di dunia ini tidak terbatas.
Berpikir untuk Menjadi (Kultivasi & Esensi): Fokusnya ke dalam. Energi digunakan untuk menempa diri, membangun kedalaman karakter, ketulusan, dan kompetensi yang autentik. Ini bukan tentang apa yang bisa kita ambil dari dunia, tapi apa yang terpancar dari dalam diri kita.
Kamu tidak lagi perlu berdesakan dalam antrean pencari opsi. Dunia, peluang, dan orang-orang yang tepat yang akan bergerak mendekat, "memilih" kamu tanpa kamu harus memohon atau berpura-pura menjadi orang lain. Itu adalah bentuk kemerdekaan diri yang tertinggi.
Ada kedamaian yang magis ketika seseorang selesai dengan pencarian luar dan fokus pada "menjadi". Ketika kualitas diri, baik itu intelektual, spiritual, maupun rasa sudah matang dan bernilai tinggi, hukum gravitasinya akan berubah.
Yaitu: Kamu akan dicari dan menjadi pilihan oleh pribadi-pribadi yang masih sibuk mencari dan memilih.
"Jadi, masih terus sibuk mencari atau menjadi?"
Dari sebuah kedatangan dan kepergian,
keduanya mengajarkan bahwa cara semesta meletakkan benih harapan, dan menggenggam kenangan tanpa harus terikat rasa sakit.
Sebuah kedatangan seperti fajar yg membawa hangat, warna-warni baru, dalam debar yg menolak runtuh. Ia mengajarkan kita cara membuka pintu rumah, merapikan sudut hati, dan merayakan kehadiran tanpa sempat memikirkan akhir cerita.
Dan sebuah kepergian datang bagai senja yg perlahan meredupkan apa yg semula benderang, meninggalkan bayang-bayang yg panjang. Namun ia tidak datang untuk merusak; ia hadir untuk mengajarkan kita cara melepaskan tanpa harus membenci.
Luka yang Mendewasakan
Kita adalah sekumpulan manusia yg gemar mengemis keabadian pada dunia yg fana. Kamu menangisi apa yang hilang, meratapi punggung yg menjauh, seolah duniamu runtuh bersama kepergiannya.
Ketahuilah, itu bukan hukuman. Itu adalah tamparan lembut dari nyatanya hidup.
"Tuhan mematahkan hatimu untuk menyelamatkan jiwamu dari orang yang tak layak untukmu."
Sebab jika hatimu tidak pernah digores, kamu akan selamanya menyembah ilusi, mengira semua yang datang berniat untuk menetap.
Kehilangan adalah cara waktu membersihkan ruangmu, menyapu debu-debu yg kamu kira "cinta", agar kamu punya tempat untuk sesuatu yang benar-benar layak.
Buat kamu yg sedang di fase ini;
Berhentilah mengemis pada hati yg telah terkunci. Tajamnya rasa sakit ini bukan untuk membunuhmu, melainkan untuk menikam ilusimu, sampai kamu terbangun dan menyadari bahwa satu-satunya yg bertanggung jawab atas bahagiamu adalah dirimu sendiri, bukan mereka yg datang dan pergi sesuka hati.
Ciptakan bahagiamu sendiri, jangan menaruhnya pada pundak orang lain.
Kebersamaan yang sendirian;
"Yang ditakutkan dari sebuah kebersamaan bukanlah berakhir dengan kepergian, tapi saat hatimu tak menyadari bahwa sesungguhnya kamu telah lama sendirian"
Sebab, kepergian yang nyata setidaknya meninggalkan jejak tapak yang jelas, entah itu luka atau kenangan, agar kita tahu kapan harus mulai belajar mengikhlaskan.
Namun, berada dalam sebuah kebersamaan yang kosong adalah bentuk kepalsuan yang paling sunyi. Kamu berbagi ruang, berbagi sapaan, bahkan mungkin berbagi atap yang sama, tetapi tidak lagi berbagi jiwa.
Itu adalah kesendirian di tengah keramaian raga, bahwa selama ini, kamu sedang memperjuangkan sebuah bayangan, memeluk seseorang yang hatinya sudah berjarak bermil-mil jauhnya dari jiwa yang kau sebut 'rumah'.
.
Orang yg selalu terlihat tenang dalam kesendirian, adalah jiwa yg sulit disentuh.
Dia tidak mencari validasi dari luar. dia tidak lagi rasakan "kesepian", melainkan "nyaman" yang dia ciptakan sendiri. Tidak ada rasa haus akan perhatian, dia tidak mudah goyah oleh rayuan, drama, atau basa-basi. Dia sudah berdamai dengan kesendiriannya, dia telah melewati proses "menyaring" siapa saja yang berhak masuk ke dalam hidupnya.
Kau bisa mendekat, berbisik kata-kata manis atau cerita indah, tapi percayalah, takkan ada yang menembus hatinya. Jiwa itu sudah belajar dari tikaman berkali-kali yang kini tak lagi dia rasa.
Sebab, kebahagiaannya diproduksi sendiri, bukan bersumber dari orang lain.
Elegi Puing yang Ranum
Aku berdiri di bumi yang sama, di mana seluruh harapanku berantakan menjadi serpihan tajam. Cinta yang dulu kukira dermaga, ternyata hanyalah arus liar yang menyeretku ke tengah samudra sepi, sebuah palung tanpa dasar, tempat waktu membeku dan air mata kehilangan artinya.
Sakit ini bukan lagi sekadar rasa; ia telah menjadi detak nadi yang baru. Menerima kenyataan bahwa kita telah menjadi 'asing' adalah meminum racun yang paling lambat. Gila rasanya, sebab di antara sisa-sisa kehancuran ini, jemariku yang berdarah masih meraba-raba udara, mencoba merajut kembali benang-benang asmara yang telah kau gunting paksa. Aku ingin pulang kepadamu, namun pintu yang kulihat kini menjelma dinding batu. Keberanianku mati pucat oleh satu ketakutan yang paling purba: bagaimana jika di dadamu, namaku sudah lama membusuk dan digantikan yang baru?
Kau tidak pernah mengerti. Kau melangkah pergi dengan seringai ringan, seolah seluruh remuk redam di dadaku hanyalah sepihak pertunjukan hiburan bagimu. Kau hancurkan istana yang kita bangun dengan air mata dan peluh, lalu membiarkanku tertimbun di bawah reruntuhannya.
Kini, di dalam rongga dada yang lowong, tumbuh sebatang pohon berduri bernama dendam. Hasrat ini bergejolak, menghasut warasku untuk membalas setiap mili rasa sakit yang kau tanam. Haruskah kusuapi engkau dengan racun penolakan yang sama? Haruskah kubuat matamu basah oleh nanah kecewa agar dahaga keadilanku terbayar tuntas?
Namun, melihatmu hancur pun tak akan membuat puing-puing di dadaku kembali utuh. Kau sudah cukup sukses menjadi badai. Kau hancurkan semuanya, tanpa sisa, meninggalkan aku yang harus belajar bernapas di dalam abu.
~ Bandung, pada sebuah senja
Jujurlah;
kadang bukan kopinya yang dibutuhin, tapi alasan untuk bisa duduk tenang sepagi ini walau gak ngapa-ngapain..
Hidup mah simple aja sebenernya :
"Kalau gak bisa jadi orang baik, jangan jadi orang jahat bisa gak? Itu aja udah cukup.."
Dan kamu juga gak perlu kog menyalakan lampu untuk menerangi jalan semua orang, tapi pastikan kamu tidak meniup lilin yg sedang diperjuangkan orang lain untuk tetap menyala..
Mantra Sang Pengecut;
"Cinta tak harus memiliki," katamu dengan bibir gemetar, mencoba membungkus luka dengan selapis tipis kemuliaan semu.
Mari berhenti bersandiwara. Kalimat itu bukanlah sebait puisi suci; itu adalah bendera putih yang kamu kibarkan tepat di muka takdir. Itu adalah kebohongan besar yang kamu sebut obat, hanya agar kamu bisa tidur tanpa merasa seperti pecundang.
Mau tau mengapa? Sebab Cinta, pada hakikatnya, adalah insting untuk menggenggam, naluri untuk mendapatkan.
Bagaimana mungkin kamu menyebutnya cinta jika kamu rela membiarkan sumber cahayamu menerangi kamar orang lain?
Bagaimana bisa kamu merasa juga bahagia dengan "melihatnya bahagia" dengan orang lain, sementara kamu sendiri membusuk dalam sunyi yang kau ciptakan sendiri?
Itu bukan cinta yang luhur. Itu adalah penyangkalan yang sedang kamu rias sebagus gapura selamat jalan dibatas kota.
Jangan membangun narasi hanya agar kamu tidak perlu mengakui bahwa kamu telah gagal. Kamu menyebutnya "melepaskan demi kebaikan," padahal sebenarnya kamu hanya terlalu pengecut untuk bertarung, atau terlalu hancur untuk dipilih.
Kamu bilang kamu ikhlas, tapi matamu mencari-cari namanya di setiap sudut keramaian
Kamu bilang kamu rela, tapi dadamu sesak tiap kali melihat jemarinya bertaut dengan tangan yang bukan tanganmu.
"Cinta tak harus memiliki" adalah kebohongan terbesar yang diciptakan oleh mereka yang kalah dalam permainan hati.
Sebab, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang menatap mata orang yang ia cintai lalu monolognya berkata, "Aku harap dia menjadi milik orang lain."
Jika kamu benar-benar mencinta, kamu tentunya ingin menjadi rumahnya, bukan sekadar halte tempatnya berteduh saat hujan sebelum ia melanjutkan perjalanan pulang ke orang lain.
Berhentilah memuja kehilangan seolah itu adalah sebuah pencapaian. Cinta yang tak mampu memiliki tetaplah sebuah luka; dan menyebutnya sebagai "keikhlasan" hanya akan membuat lukanya bernanah lebih lama.
Ganti kalimatmu, dan ucapkan dengan dada membusung, bahwa :
"CINTA HARUS MEMILIKI !"
~ be a real man bro..
"Sendiri tak selalu tentang sepi, dan berdua tak melulu berarti bahagia."
Aku pernah menuliskan tentang hal itu, lupa di postingan kapan. Yang kuingat adalah saat waktu telah menyadarkan bahwa "sendiri" bukanlah sebuah hukuman, sebab "Kamu tak akan pernah merasa kesepian, jika kamu telah nyaman sendirian".
Singgasana ketenangan bernama; "kesendirian"
Dahulu, sunyi adalah hantu yang kupaksa lari dengan suara-suara palsu. Aku memburu kerumunan, memohon pengakuan pada tatapan orang lain, hanya agar aku tak perlu mendengar detak jantungku sendiri yang menggigil, dan mencari detak jantung orang lain untuk merasa hidup.
Saat aku telah melewati fase memohon perhatian, melewati badai ekspektasi yang mengecewakan, melukai hati sendiri dengan harapan yang aku sandarkan pada orang lain, hingga akhirnya aku tersadar jika;
"Menggantungkan bahagiamu pada orang lain, berarti kamu sedang memberikan pisau kepada orang asing untuk menguliti ketenanganmu sendiri suatu hari nanti".
Setelah sekian lama aku menetap dalam sepi, aku tak lagi melihat dinding yang kosong sebagai penjara. Ia adalah kanvas hidup. Aku tak lagi melihat sunyi sebagai lubang hitam; kini bagiku ia adalah jeda yang membuat melodi hidupku terdengar lebih megah.
Kini, aku berdiri di puncak kesendirianku. Bukan karena tak ada yang ingin datang, tapi karena aku tak lagi "butuh" seseorang hanya untuk merasa utuh.
Aku sudah tidak lagi mencari "belahan jiwa" sebab aku sadar, aku tidak pernah terlahir dalam keadaan terbelah. Jiwaku utuh, hidupku penuh. Dan seharusnya tak ada lagi ruang bagi hantu bernama kesepian untuk duduk menetap.
Jadi, Jika suatu saat kau melihatku duduk sendiri di sudut sebuah kafe pada sebuah senja temaram, jangan kasihani diriku. Sebab bisa jadi, saat itu aku sedang merayakan pesta paling meriah di semesta ini:
Pesta kepulangan ke dalam diri sendiri.
Menulis tanpa rencana;
Mungkin itulah aku.
Bertumpuk tulisan dalan kolom draft yang sudah lama tertunda menunggu untuk ku pindahkan ke kolom '𝗽𝗼𝘀𝘁'. Dan biasanya tumpukan itu akan semakin tebal menanti waktunya tiba yang entah kapan.
Jika kamu melihat postinganku begitu konsisten dalam 2-3 hari yg selalu muncul, atau bahkan setiap hari, hampir semuanya bersumber dari '𝘪𝘥𝘦' yang tiba2 saja datang dari apa yg saat itu aku rasa, aku lihat atau aku dengar.
"Seperti sebuah 'rasa' yang hadir begitu saja"
Ia lahir dari apa yang mata tangkap, telinga dengar, dan hati rasakan dalam diam. Tanpa undangan, tanpa skenario. Hanya kehadiran murni, hangat, mendadak, lalu mengalir menjadi kata-kata.
Mungkin itulah jawaban dari pertanyaan : "𝙈𝙚𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙗𝙪𝙡𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙙𝙞𝙜𝙤𝙧𝙚𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙙𝙖𝙠𝙖𝙣?"
Jarak dalam Kedekatan;
Lampu kafe ini tak terlalu benderang, tapi cukup terang untuk memperlihatkan kepulan uap dari cup kopi yang baru saja diletakkan seorang pelayan di hadapanku. Ia tersenyum tulus, menyadari mataku yang sembab, lalu berbisik pelan, "Kopinya saya tambahkan sedikit karamel, semoga harimu membaik."
Aku tertegun. Seorang asing yang bahkan tak tahu nama tengahku bisa merasakan ada yang retak di dalam sana. Sementara kamu? Kamu yang tahu bagaimana aku menyukai kopi hitam tanpa gula, yang tahu jam berapa aku bangun, dan yang menyimpan ribuan memori bersamaku, justru duduk di seberang meja dengan pandangan terkunci pada layar ponsel.
Kita berada dalam satu lingkaran yang sama, namun rasanya seperti terpisah galaksi.
Aku menyadari satu hal yang menyakitkan hari ini:
"Terkadang, perhatian justru datang dari orang-orang yang tak mengenalku sebaik kamu."
Karena bagi mereka, aku adalah manusia yang butuh dianggap ada, sedangkan bagimu, aku hanyalah sebuah kebiasaan yang mulai membosankan.
"Sangat melelahkan saat harus menjelaskan rasa sepi kepada seseorang yang seharusnya menjadi tempatmu pulang."