Bagaimana Cara Kita Tahu Sesuatu Baik atau Buruk untuk Kita?
Setiap orang memutuskan berdasarkan perspektifnya sendiri. Dari pengalaman yang berbeda, dari luka yang berbeda, dari harapan yang berbeda. Dan tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tahu apakah keputusan itu benar atau salah.
sehingga kalau semua orang memutuskan dari sudut pandangnya masing-masing yang belum tentu benar, lalu apa yang bisa dipegang?
Dari yang aku pelajari, ada dua hal yang paling kuat yang dapat dijadikan pegangan.
Pengalaman.
Setiap hal yang pernah kita jalani pasti meninggalkan jejak. Kadang, apa yang terasa baik awalnya tapi ternyata perlahan menguras banyak hal, apa yang terasa berat tapi justru membuat kita tumbuh lebih baik. Jejak-jejak itu adalah data tentang diri sendiri yang tidak akan pernah bisa bohong.
Jangan sampai kita terburu-buru membacanya. Di tengah kecewa, kita langsung menyimpulkan ini buruk. Di tengah senang, kita langsung yakin ini yang terbaik. Padahal perasaan yang belum selesai tidak bisa membaca dengan jernih dan keputusan yang lahir dari sana hampir selalu akan terasa salah belakangan.
Solusinya bukan menunggu sampai semua rasa itu hilang. Tapi memberi jarak yang cukup sebelum menyimpulkan. Tunggu sampai kepala lebih tenang, tunggu sampai konsekuensinya mulai terlihat, baru di situ jejak-jejak pengalaman itu bisa dibaca dengan benar dan dijadikan pegangan yang sesungguhnya.
Karena tidak ada yang lebih mengenal dirimu selain perjalananmu sendiri. Nasihat orang lain bisa keliru, teori bisa tidak relevan, tapi apa yang sudah kamu rasakan dan lalui, itu milikmu sepenuhnya.
Ibadah.
Apakah sesuatu membawa kita lebih dekat atau justru menjauhkan kita dari Allah? Kalau setelah menjalani sesuatu ibadah terasa lebih ringan, hati lebih tenang, hidup terasa lebih punya arah — itu tanda. Sebaliknya, kalau sesuatu membuat kita gelisah, merasa jauh dari diri sendiri dan dari Allah itu juga tanda yang bisa dibaca.
Walaupun memiliki dua pegangan itu, tetap ada batas yang harus kita akui.
Allah tidak memberi notifikasi. Tidak ada tanda yang langsung terasa jelas di momen kita memutuskan itu. Yang ada hanya dua jalur manusiawi untuk membacanya: refleksi setelah waktu berjalan, dan ridha tanpa harus tahu alasan pastinya.
Allah berfirman juga dalam Al-Baqarah: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
Ayat ini hadir untuk melepaskan kita dari beban harus selalu benar, dari ilusi bahwa kita bisa sepenuhnya memastikan baik atau buruknya sesuatu sebelum semuanya terjadi.
Jadi bagaimana cara kita tahu?
Baca pola dari pengalaman yang sudah lewat. Periksa kondisi ibadah dan hati. Analisa sebaik yang kita mampu, lalu serahkan sisanya. Ada batas yang nyata antara apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang hanya milik Allah untuk diketahui.
Dan untuk keputusan orang lain yang pergi, yang memilih, yang menilai dari perspektifnya sendiri, mereka pun sedang melakukan hal yang sama: memutuskan dari sudut pandang mereka yang terbatas, di tengah ketidakpastian yang sama besarnya.
Keputusan mereka bukan wahyu, bukan penilaian mutlak tentang nilai diri kita. Itu keputusan manusia biasa yang bisa salah, bisa benar, dan pada akhirnya juga bagian dari qadar yang sudah diatur.
Yang bisa kita evaluasi hanyalah diri kita sendiri: sudahkah kita membaca pola kita dengan cermat, dan sudahkah hati kita tenang dalam ibadah?
Kalau jawabannya ya, kita sudah memilih dengan cara terbaik yang kita bisa. Sisanya bukan lagi urusan kita untuk dipastikan.













