DAMPAK
Pagi ini, sedang muncul awan pertanyaan kecil dikepalaku. Isinya..
“Apakah di dunia ini kita perlu menjadi seseorang atau sesuatu? Apakah boleh hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja?”
Sebelum kemelut awan mendung ini berubah menjadi awan hujan, aku tanyakan pada suamiku supaya tersibakkan awan tersebut dan digantikan dengan sinar matahari yang lembut seperti biasanya.
“Pertanyaan kamu itu jawabannya sederhana. Tanyakan kembali pada dirimu, apakah kamu ingin punya ‘dampak’ di dunia ini?”
Aku mengangguk, “Iya..”
“Berarti kamu ngga bisa jadi orang yang biasa-biasa saja. Kamu harus jadi ‘seseorang’ atau ‘sesuatu’ itu. To be exceptional you have to be the exception!”
Ah.. hahahahaha :’D
Aku beneran ketawa dengan kesadaran yang mulai menyeruak perlahan.
“Kecuali kalau kamu ngga ingin punya impact, ya gapapa jadi orang biasa-biasa saja. Just being average, seperti kebanyakan orang.”
Lagi-lagi perkataan suami menyadarkanku kembali terkait apa ambisiku—apa keinginanku dan apa tujuanku. Bentuk dampak yang ingin dicapai, seperti apa cara yang ingin digunakan, itu kembali pada kemampuan dan kapasitas masing-masing orang. Itu yang perlu digali.
Kalaulah aku melihat beberapa temanku yang ‘berdampak’ secara berkelompok karena mereka punya komunitas kebaikan dengan topik yang beragam; ada yang dari isu lingkungan, isu pendidikan, isu finansial, isu rumah tangga, isu literasi. Sekarang pertanyaanku pada diriku sendiri adalah; aku mau ikut dibagian mana? :’)
Ada yang berkolaborasi (dampak kebaikan secara kolektif) dan ada juga yang solois (secara individu). Mungkin saat ini yang kulakukan baru sebatas solois, karena itu yang baru aku mampukan. Entah nanti, aku belum tahu. Yang jelas, mulai perlahan, mulai dari hal kecil, dan mulailah dari saat ini juga.
Semoga Allah ridhai upaya kebermanfaatan kita di dunia ini.
Tangerang, 10 Juni 2026 | 09.12 WIB
















