(cerpen) Mencintai Kehilangan
"Arti most valuable player buat kamu seperti apa?"
Di antara celoteh riang anak-anak SMA Mulia, seorang gadis berkerudung putih dan anak laki-laki berdiri dengan jarak yang agak jauh di tepian lapangan basket.
"Hei, aku tanya..." Anak lelaki itu berjalan mendekat.
Anggrek, nama gadis berkerudung putih itu mengalihkan pandangannya. "Buat apa tanya gitu?"
"Karena kamu suka basket..."
Keriuhan di sekitar mereka seolah senyap seketika. Ada yang berkelindan, merayapi hati Anggrek tanpa diminta. Gadis itu memilih tak menjawab dan berjalan menjauh. Ada yang ditahannya kuat-kuat. Ada yang disembunyikannya rapat-rapat.
“Seandainya aku bilang jujur ke Bayu, menurutmu gimana?"
Deg. Jantung Anggrek berdebar kencang. Siapa pun yang sekolah di SMA Muliah tahun itu pasti tahu. Sudah menjadi rahasia umum tentang Ria yang menyukai Bayu sejak masih masa orientasi siswa, pun hubungan antara Anggrek dan Ria yang bertemakan sahabat. Yang tidak diketahui khalayak adalah Bayu mendekati Anggrek. Nahasnya perhatian Bayu tak diacuhkan Anggrek. Semua perasaan Bayu ditampik walau Anggrek harus mengorbankan hatinya menjadi kepingan.
Siswi mana yang tak tertarik pada Bayu? Salah satu pemain basket di tim sekolah, juga punya otak yang cukup encer dalam bidang akademik. Dua itu saja sudah cukup untuk membuat populer di kalangan anak perempuan. Sayangnya, Bayu termasuk anak lelaki yang cuek. Tak dipedulikannya cokelat atau bunga yang acapkali ia dapati di laci meja.
Namun bukan paras Bayu yang membuat Anggrek sulit mengenyahkan perasaannya. Lapangan basketlah yang mempertemukan mereka. Bukankah cinta hadir dari sebuah perjalanan?
"Ya udah bilang aja. Bentar lagi kita lulus lho..."
Ria menopang dagunya. "Tapi aku punya feeling kalo Bayu suka sama cewek lain, ya?"
Wajah Anggrek pias. Disembunyikan mukanya yang mendadak pucat. Setelah selesai memasukkan buku-bukunya ke laci meja, Anggrek berlalu dari hadapan sahabatnya itu sambil berkata. "Jangan percaya banget sama prasangka. Kamu udah deketin dia selama tiga tahun. Barangkali dia juga suka sama kamu."
"Kalau gitu, lepas sekolah ini aku mau bilang sama dia deh. Kamu bersedia bantu kan?"
Tanpa perlu menoleh, Anggrek menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Bel sekolah berdentang-dentang. Ria mendatangi bangku Anggrek lalu membisikkan sesuatu. Anggrek menerbitkan senyum meski dipaksakan. Dengan perasaan tak menentu, Anggrek menyeret langkahnya menuju tempat duduk Bayu. Tanpa banyak cakap, ditariknya lengan kanan Bayu ke depan kelas. Beberapa anak masih hilir mudik keluar masuk kelas. Untuk beberapa jenak, pusat perhatian tertuju pada Bayu dan Anggrek.
"Bay, aku mau ... ngomong sesuatu."
Lagi-lagi Anggrek harus menghindari tatapan elang itu. Tatapan yang sejak lama mengincar hatinya. Tentu saja Anggrek bukan gadis bodoh yang tak paham dengan semacam perasaan yang sering orang bilang: cinta. Meski untuk remaja seusianya istilah yang lebih tepat adalah cinta monyet. Anggrek bukan tak mengerti tawaran botol minuman dari Bayu untuknya, atau senyum Bayu saat mereka tidak sengaja bersitatap.
Bayu menatap tajam kepala Anggrek yang menunduk dalam. Bukan. Tentu saja itu bukan suara Anggrek. Bibir gadis yang berdiri di hadapan Bayu terkatup rapat. Tak lama, kepala Ria menyembul dari balik pintu kelas.
"Aku pulang duluan, ya." Anggrek meninggalkan mereka dengan hati terserak.
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar sorak sorai anak kelas XII. Anggrek mengembuskan napasnya yang berat. Ada yang menusuk-nusuk hatinya. Nyeri hebat yang baru pertama ia rasakan.
Kaki Anggrek membawanya ke Taman Alun Kapuas yang ramai pengunjung. Ada katarsis yang ingin Anggrek hempaskan, namun urung ia lakukan. Pandangan matanya kosong menatap riak air kapuas. Lenguhan kapal feri yang sedang merapat ke dermaga membawa ingatannya kepada Miftah. Satu-satunya anak lelaki di sekolah yang tahu bagaimana perasaan Bayu padanya. "Perempuan aneh. Kenapa sih kamu gak terima perasaan dia? Kenapa malah mendekatkan jarak Ria dan Bayu?"
"Kamu perempuan jahat yang pernah aku temui."
Jantung Anggrek seperti melompat dan mencelus ke dalam sungai kapuas. Suara tak asing itu kini berada di dekatnya. Bayu telah berdiri di belakang Anggrek dengan wajah kaku dan dingin. Anggrek membalikkan badannya dengan ragu. Kali ini dia tak bisa menghindar. Dilihatnya sepasang mata elang milik Bayu menyiratkan luka yang cukup dalam.
"Aku menolaknya," Bayu mengembuskan napasnya kuat-kuat. "Aku bilang sejujurnya kalau ada perempuan lain yang kusuka.”
"Kamu …bilang sama dia siapa namanya?" tanya Anggrek khawatir. Seandainya Ria tahu, maka persahabatan mereka berada di ujung tanduk.
"Belum saatnya aku bilang ke banyak orang." Bayu berjalan memunggungi Anggrek.
Langit sore kota Pontianak tak berwarna jingga. Ada gumpalan awan hitam yang siap melahirkan rintik-rintik air. Sudut mata Anggrek membasah sebelum gerimis sempat menyamarkan air matanya.
Wajah-wajah ceria memenuhi lapangan SMA Mulia. Semua anak kelas XII angkatan Anggrek melewati ujian nasional satu bulan lalu. Dan hari ini, mereka mengecap rasa manis setelah bersusah payah. Kelulusan menjadi pintu untuk memandang mimpi serta cita yang terbentang di depan mereka. Di tengah kebahagiaan itu, ada kisah klasik tentang sepasang kekasih yang harus berakhir karena terpisah tempat kuliah: hubungan jarak jauh terlalu sulit, kata mereka. Atau ada juga yang bertahan, perasaan semacam itu memang butuh diperjuangkan 'kan? Imbuh mereka.
Namun untuk beberapa anak, termasuk Anggrek dan Ria, ada kehilangan yang menyergap. Bukan tentang suka pada lawan jenis atau semacamnya, tapi tentang persahabatan mereka. Anggrek dan Ria melanjutkan ke kampus yang berbeda. Tapi Anggrek tahu, waktu senantiasa membawa manusia kepada hal-hal baru. Sudah sewajarnya seperti itu. Maka bersedih pun tak perlu berlarut-larut.
"Aku cuma mau bilang sesuatu. Bayu dirawat.” Miftah mendatangi Anggrek yang tengah duduk di bangku taman sekolah.
Hampir saja Anggrek terpekik jika tak segera membekap mulutnya. "Aku kira, dia gak dateng ke acara pengumuman kelulusan karena ada acara keluarga."
"Usus buntu. Eh tapi jangan bilang siapapun. Termasuk Ria." Miftah mengeluarkan secarik kertas dari saku baju seragam sekolahnya. "Sebagai sahabat Bayu, aku mohon telepon dia. Itu nomor HP-nya yang baru. Dua minggu lagi dia berangkat ke Jogja."
"UGM? Dia lulus seleksi masuk sana kah?"
Miftah mengedikkan bahunya.
"Halo, Bay," Anggrek membetulkan posisi duduknya. Dipandangi gambar bola basket pemberian Bayu beberapa bulan lalu. "Ini aku, Anggrek. Miftah bilang, kamu dirawat? Dan UGM?"
"Iya. Sebentar lagi aku berangkat ke Jogja. Anggrek, aku…”
Hening menjadi kawan baik mereka untuk beberapa saat. Mulut Anggrek masih membisu.
"Aku mau ke ruang operasi sekarang. Sudah dulu, ya,"
Matahari beranjak pergi, hendak berpamitan pada bumi. Di belakang panggung langit, putri bulan masih bersiap-siap mengenakan jubah putihnya yang menawan. Para dayang bintang sibuk kasak-kusuk mempersiapkan cahayanya. Ah, peristiwan senja memang kerap Anggrek temui sejak statusnya menjadi mahasiswa.
"Angrek!" Puspa, teman satu jurusan Anggrek berteriak dari atas motor. "Jangan lupa, ya. Besok jam dua siang kita ketemu di masjid mujahidin."
Anggrek tersenyum sekadarnya. Setahun berlalu dengan cepat. Tiap detik yang terlewat memberi banyak pelajaran. Perubahan pada manusia adalah niscaya. Entah menjadi baik atau buruk, semua sudah memiliki garis takdir. Hanya saja, ada usaha serta doa yang menjadi jembatan antara manusia dengan Tuhannya.
Sebuah sapaan membuyarkan lamunan Anggrek. Laki-laki pertama yang membuat pengakuan suka padanya satu tahun lalu: Bayu. Tatapan elang juga senyum yang Anggrek simpan di kantung hatinya masih sama.
Anggrek memalingkan wajah. Jantungnya berdetak lebih cepat. Kedua pipinya merah, memanas. "Kok di sini?"
"Kampusku sudah ujian akhir. Libur sebulan,"
Anggrek teringat ucapan Pupsa seminggu lalu di selasar masjid mujahidin. Tentang hubungan perempuan dan laki-laki. Tentang perasaan. Tentang pernikahan. Sudah diputuskan segalanya sejak itu. Sore ini Anggrek harus bicara tegas. Petang ini, semua harus diakhiri. Meski terluka. Walau berdarah-darah, tapi Anggrek paham bahwa yang terbaik bagi manusia, adakalanya menimbulkan sesak teramat sangat. Perkara rasa sudah diatur-Nya. Sedang janji Tuhan takkan pernah ingkar. Rindu yang menyala-nyala itu akan dipadamkan. Anggrek mengerti, api cinta bukan membakar, namun menghangatkan lewat jalan yang ditetapkan-Nya.
"Aku..." Anggrek berkata lirih, menguatkan hati. "Hubungan kita ... lebih baik kita fokus pada cita-cita."
Untuk sebentar, beberapa menit saja, Anggrek memberanikan diri menatap mata elang yang selama ini memasung hatinya. "Kita ... harus belajar apa itu penerimaan yang tulus, dan ... bagaimana mencintai kehilangan."
Semburat kemerahan di ufuk barat langit Pontianak menjadi saksi bagi dua insan itu, bahwa senja telah mengajarkan makna sebuah perpisahan yang mengantarkan mereka pada satu cinta sejati: Tuhan Semesta Alam.
Anggrek, terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku. Semenjak itu, tak pernah ada perempuan yang dekat denganku. Menjaga jarak. Maaf seandainya aku tak sopan, tapi izinkan aku jujur ... kamu cinta pertama yang akan sulit kulupakan.
Oh, aku udah terima undangan nikah kamu. Sejujurya aku merasa sial meski gak pernah ada janji apa pun di antara kita: aku terlambat untuk melamarmu.
Semoga laki-laki yang menjadi pilihanmu, membimbing kamu masuk surga.
Bayu menekan tombol enter. Pesannya telah diterima dan dibaca oleh perempuan yang esok akan mengikat janji suci di hadapan Tuhan. Perempuan yang singgah lama di hatinya. Perempuan yang memberikan warna pelangi dalam hidupnya. Perempuan yang mengenalkan Bayu pada sebuah kata: melepaskan.
Bayu tersenyum lega melihat icon smile sebagai balasan pesannya.