๐๐๐๐๐๐๐๐๐
(๐น๐๐๐๐๐๐๐ ๐ด๐โ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐)
Oleh: Muhammad Faishal Fadhli
Jika dibedah secara verbatim, gabungan dari kata โcocokโ dan โlogiโ ini seharusnya berbicara tentang ilmu yang membahas tips atau kiat-kiat untuk mencari kecocokan dan keserasian, sehingga menghasilkan keharmonisan dalam menjalin suatu hubungan. Tapi kenyataannya, terlepas dari siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah ini, cocoklogi terkesan sangat peyoratif. Istilah ini digunakan untuk menyindir sebuah kesimpulan yang terkesan ngawur, konyol, dan terlalu simpel dalam mengaitkan antara satu hal dengan hal lain.
Adrian Perkasa, dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, mengatakan bahwa cocoklogi itu mencari pengetahuan dengan menggunakan metode yang berbeda dengan ilmu sejarah. Kerangka metode ilmiah ilmu sejarah mencakup heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi sumber, dan historiografi. Alat bantunya, antara lain: arkeologi, filologi, dan epigrafi. Sementara cocoklogi, adalah usaha untuk mengaitkan sesuatu, dan memaksakan penafsiran dengan kepentingan tertentu.
Salah satu contoh cocoklogi paling populer belakangan ini, yang menyelisihi fakta-fakta sejarah, adalah konten yang disampaikan URB (Ustad Rahmat Baequni) tentang nama-nama pulau di Indonesia yang menurutnya berasal dari bahasa Arab.
Sumatera misalnya. Menurut URB, berasal dari kata Asy-Syamatiro. Padahal, dalam sejarah, kata Sumatera berkaitan erat dengan kerajaan Islam yang pernah ada di pulau ini: Samudra Pasai. Adalah Ibnu Bathutah, pengembara muslim dari Maghrib -sekarang Maroko- yang sangat terkenal dengan kitab โRihlahโ-nya, termasuk yang mula-mula melafalkan Samudera menjadi Sumatera. Orang-orang Barat yang sebelumnya menggunakan kata โZamatraโ atau โSumoltraโ untuk menyebut Sumatera, mengikuti pelafalan Ibnu Bathutah ini. Lafal โSumateraโ kemudian dipatenkan dalam peta-peta mereka dan terus dipakai hingga hari ini.
URB juga mengatakan bahwa Jawa berasal dari kata โAl-Jawwu.โ Padahal, di masa Dinasti Yuan, pulau ini akrab disebut โZhao-Wa.โ Artinya, sejak dulu Jawa adalah Jawa, bukan Al-Jawwu yang menurut URB berarti tempat yang tinggi dan dingin. Dahulu, sebelum mengenal padi sebagai makanan pokok, mayoritas masyarakat Nusantara mengisi perut mereka dengan Jelai atau Jewawut: sereal penghasil malt dan termasuk makanan kesehatan. Meski posisinya kini digeser oleh beras-padi, harga jewawut melambung tinggi. Satu kilonya 35.000. Lantas, apa hubungannya dengan asal-usul nama pulau Jawa? Ya, tentu karena tanaman tersebut tumbuh subur dan sangat terkenal di pulau ini. Demikianlah fakta sejarah yang sesungguhnya: jawa dari kata jawa-wut. (Lihat 'The History of Java' karya Thomas Raffles)
Masih banyak lagi materi-materi ceramah URB yang tidak ilmiah, a historis dan harus diselidiki lebih lanjut. Maka dari itu, validitas data yang beliau sampaikan, mestinya dipertanyakan, โAfwan Ustad, antum dapat referensi dari mana?โ Namun, sayangnya, tidak sedikit orang yang langsung menelan bulat-bulat apa yang mereka dapat dari kajian URB.
Wajar memang. Selain karena minimnya literasi, cocoklogi acapkali memberi efek kepuasan bagi para pendengarnya dan membuat mereka ingin segera menyebarkannya kepada orang lain karena dianggap sesuatu yang sangat menarik; menjawab permasalahan-permasalahan yang selama ini masih menjadi tanda tanya, atau memberi sebuah maklumat (informasi penting) yang jarang dibahas.
Inilah alasan kenapa kajian-kajian tentang akhir zaman begitu laris di pasaran. Tidak jarang, majelis ilmu yang sejatinya sangat mulia itu, dijejali teori-teori konspirasi berdasarkan cocoklogi yang tidak lain merupakan hoax alias kabar palsu. Ribuan umat Islam begitu gandrung meramaikan kajian seperti ini karena materi yang disampaiakan memang sangat bombastis dan sensasional. Terlebih, penceramah masalah-masalah akhir zaman ini sangat piawai dalam berorasi dan menguasai retorika public speaking. Seakan-akan, apa yang disampaikan adalah khabar bersifat โhaqqul yaqinโ, padahal itu baru sekedar analisa. Inna adzh-dzhanna laa yughnii minal haqqi syayโaa..
Fenomena cocoklogi bukan hanya bertebaran di dunia maya melalaui FB, WA atau YouTube. Cocoklogi juga pernah dipublikasikan dalam bentuk buku yang sangat laku. Misalnya, buku "Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaimanโ (2012) karya Fahmi Basya, dan โRahasia yang Terkuak, Hitler Mati di Indonesiaโ (2010) karya Ir. KGPH Soeryo Goeritno, Msc. Tulisan ini bukan bermaksud membahas kritik panjang lebar untuk kedua buku tersebut. Hanya ingin menekankan bahwa: setelah dikaji lebih lanjut, Fahmi Basya dan Soeryo Goertino, sama-sama menggunakan pendekatan cocoklogi dalam penelitian mereka.
Pertama, Fahmi Basya yang sangat yakin bahwa Candi Borobudur adalah Haikal Sulaiman, tidak merujuk kutub at-turats (buku-buku klasik warisan ulama terdahulu), khususnya dalam bidang sejarah, tafsir dan hadits. Ini masalah serius. Bagaimana mungkin, kebenaran kisah qurโani tentang kerajaan Sabaโ dan dua nabi mulia: Daud dan Sulaiman โalaihimassalam, ditentukan hanya dengan mencocokkan nama-nama tokoh yang ada di dalamnya. Kerajaan Saba adalah Wonosobo. Ratu Boko adalah Ratu Bilqis. Kota Sleman adalah Sulaiman. Dan masih banyak lagi. Bahkan, lebih dari itu, Fahmi Basya juga berkesimpulan, Yaโjuj-Maโjuj adalah Yogyakarta dan Mojokerto. Alasannya, kerto artinya kota. Yogya sangat mirip dengan kata Yaโjuj. Dan Mojo, dekat dengan kata Maโjuj. Kesimpulan macam apa ini?
Kedua, Soeryo Goeritno agak sedikit berkelas meskipun pada akhirnya teori beliau terbantahkan. Teori Soeryo mengatakan bahwa Hitler selamat dari perang dunia dan berhasil melarikan diri ke Indonesia, mengubah identitasnya, menjadi seroang dokter di NTB, dan meninggal di Surabaya. Soeryo meyakini bahwa seorang bule bernama dr. Georg Anton Poch adalah Adolf Hitler. Soeryo merujuk ke pengalaman pribadi seorang dokter lulusan Universitas Indonesia bernama Sostrohusodo yang bertugas di kapal besar yang dijadikan Rumah Sakit di Sumbawa.
Di sanalah dr. Sosro bertemu dengan dr. Poch yang diyakininya sebagai Hitler. Sebab, Poch mempunyai ciri-ciri fisik yang sangat mirip sekali dengan profil pemimpin Nazi itu: kakinya diseret saat berjalan, tangannya selalu bergetar, dan berkumis Chaplin. Selain itu, dr. Poch sangat misterius: tidak punya lisensi dokter. Poch juga sangat mengagumi Hitler. Ini sangat mencurigakan. Tapi benarkah Poch adalah Hitler? Cukup mudah untuk menjawabnya. Karena dr. Sosro sudah memiliki foto-foto dr. Poch, cobalah dibandingkan antara kedua wajah: Hilter dan Poch. Apakah mirip?
Sekilas memang mirip. Tapi, sederhana sekali untuk membuktikan itu Hitler atau bukan. Lihatlah earlobe atau cuping telinga mereka. Ini anggota tubuh yang tak akan berubah meski seseorang sudah menua. Para ahli anatomi, membagi dua jenis earlobe: free earlobe (daun telinga yang melengkung, menyisakan satu bagian yang menggantung bebas), dan attached earlobe (ujung daun telinga langsung menyatu dengan sisi wajah). Dan setelah dicermati, ternyata, Hitler memiliki tipe free earlobe. Sementara dr. Poch sebaliknya. Dari sini, terbantahlah dugaan dr. Sosro dan tulisan Ir. Soeryo Goeritno.
Ditambah lagi, sudah ada penelitian yang lebih ilmiah berbasis medis: test DNA. Penelitian ini menguji kecocokan gigi dan tengkorak Hitler. Kesimpulannya, ia memang tewas di Berlin, Jerman dan diduga mati bunuh diri setelah minum sianida dan mengarahkan pistol ke kepalanya sendiri.
Belajar dari dua karya ini, penting untuk dicatat baik-baik: setebal apapun sebuah buku, jika penulisnya tidak menggunakan metodologi penelitian yang ilmiah, hanya mencocokkan antara satu data dengan hal lainnya, dan meskipun terkesan masuk akal, karya cocoklogi tidak bisa diterima begitu saja.
Dua buku tersebut telah cetak ulang berkali-kali, best seller. Sama seperti ceramah-ceramah bertema akhir zaman dengan pendekatan cocoklogi, viral dan ditonton jutaan kali. Nah, kembali ke masalah cocoklogi dan kaitannya dengan tanda-tanda hari kiamat, ada sebuah hadits Nabi yang sangat relevan dengan pembahasan ini. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu โanhu, Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam bersabda, โInna min asyrathis saโah, an yaqillal โilmu wa yadzharul jahlu. Di antara tanda-tanda kiamat adalah berkurangnya ilmu dan tampaknya kebodohan.โ (HR. Bukhari)
Ingat, cocoklogi sama dengan hoax, kabar palsu. Menyampaikannya di majlis ilmu adalah sebuah pembodohan. Umat yang awam dan langsung percaya, tidak bisa disalahkan. Sebab, sebagaimana sudah jamak diketahui, kebohongan yang diulang beribu-ribu kali, akan dianggap sebagai kebenaran. Apalagi yang menyampaikannya adalah seorang muballigh. Disinformasi dan bias konfirmasi inilah yang membuat kebenaran suatu ilmu terkurangi. Maka, tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa fenomena cocoklogi, adalah tanda akhir zaman itu sendiri. Hanya saja, sedikit sekali yang menyadari pertanda ini. Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq.
๐๐ข๐ฎ๐ช๐ด, ๐๐ฆ๐ฑ๐ฐ๐ฌ, 9 ๐๐บ๐ข'๐ฃ๐ข๐ฏ 1441
๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฎ๐ข๐ฅ ๐๐ข๐ช๐ด๐ฉ๐ข๐ญ ๐๐ข๐ฅ๐ฉ๐ญ๐ช ๐ข.๐ฌ.๐ข Ichang Stranger
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/QiSGYBBWVyEEgKUt/?mibextid=oFDknk