💍

seen from Indonesia
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from China

seen from Türkiye

seen from Czechia
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from China
seen from United States

seen from Malaysia
seen from China
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from China
seen from Germany
💍
𝐂𝐎𝐂𝐎𝐊𝐋𝐎𝐆𝐈
(𝐹𝑒𝑛𝑜𝑚𝑒𝑛𝑎 𝐴𝑘ℎ𝑖𝑟 𝑍𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑇𝑒𝑟𝑙𝑢𝑝𝑎𝑘𝑎𝑛)
Oleh: Muhammad Faishal Fadhli
Jika dibedah secara verbatim, gabungan dari kata “cocok” dan “logi” ini seharusnya berbicara tentang ilmu yang membahas tips atau kiat-kiat untuk mencari kecocokan dan keserasian, sehingga menghasilkan keharmonisan dalam menjalin suatu hubungan. Tapi kenyataannya, terlepas dari siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah ini, cocoklogi terkesan sangat peyoratif. Istilah ini digunakan untuk menyindir sebuah kesimpulan yang terkesan ngawur, konyol, dan terlalu simpel dalam mengaitkan antara satu hal dengan hal lain.
Adrian Perkasa, dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, mengatakan bahwa cocoklogi itu mencari pengetahuan dengan menggunakan metode yang berbeda dengan ilmu sejarah. Kerangka metode ilmiah ilmu sejarah mencakup heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi sumber, dan historiografi. Alat bantunya, antara lain: arkeologi, filologi, dan epigrafi. Sementara cocoklogi, adalah usaha untuk mengaitkan sesuatu, dan memaksakan penafsiran dengan kepentingan tertentu.
Salah satu contoh cocoklogi paling populer belakangan ini, yang menyelisihi fakta-fakta sejarah, adalah konten yang disampaikan URB (Ustad Rahmat Baequni) tentang nama-nama pulau di Indonesia yang menurutnya berasal dari bahasa Arab.
Sumatera misalnya. Menurut URB, berasal dari kata Asy-Syamatiro. Padahal, dalam sejarah, kata Sumatera berkaitan erat dengan kerajaan Islam yang pernah ada di pulau ini: Samudra Pasai. Adalah Ibnu Bathutah, pengembara muslim dari Maghrib -sekarang Maroko- yang sangat terkenal dengan kitab ‘Rihlah’-nya, termasuk yang mula-mula melafalkan Samudera menjadi Sumatera. Orang-orang Barat yang sebelumnya menggunakan kata “Zamatra” atau “Sumoltra” untuk menyebut Sumatera, mengikuti pelafalan Ibnu Bathutah ini. Lafal “Sumatera” kemudian dipatenkan dalam peta-peta mereka dan terus dipakai hingga hari ini.
URB juga mengatakan bahwa Jawa berasal dari kata “Al-Jawwu.” Padahal, di masa Dinasti Yuan, pulau ini akrab disebut “Zhao-Wa.” Artinya, sejak dulu Jawa adalah Jawa, bukan Al-Jawwu yang menurut URB berarti tempat yang tinggi dan dingin. Dahulu, sebelum mengenal padi sebagai makanan pokok, mayoritas masyarakat Nusantara mengisi perut mereka dengan Jelai atau Jewawut: sereal penghasil malt dan termasuk makanan kesehatan. Meski posisinya kini digeser oleh beras-padi, harga jewawut melambung tinggi. Satu kilonya 35.000. Lantas, apa hubungannya dengan asal-usul nama pulau Jawa? Ya, tentu karena tanaman tersebut tumbuh subur dan sangat terkenal di pulau ini. Demikianlah fakta sejarah yang sesungguhnya: jawa dari kata jawa-wut. (Lihat 'The History of Java' karya Thomas Raffles)
Masih banyak lagi materi-materi ceramah URB yang tidak ilmiah, a historis dan harus diselidiki lebih lanjut. Maka dari itu, validitas data yang beliau sampaikan, mestinya dipertanyakan, “Afwan Ustad, antum dapat referensi dari mana?” Namun, sayangnya, tidak sedikit orang yang langsung menelan bulat-bulat apa yang mereka dapat dari kajian URB.
Wajar memang. Selain karena minimnya literasi, cocoklogi acapkali memberi efek kepuasan bagi para pendengarnya dan membuat mereka ingin segera menyebarkannya kepada orang lain karena dianggap sesuatu yang sangat menarik; menjawab permasalahan-permasalahan yang selama ini masih menjadi tanda tanya, atau memberi sebuah maklumat (informasi penting) yang jarang dibahas.
Inilah alasan kenapa kajian-kajian tentang akhir zaman begitu laris di pasaran. Tidak jarang, majelis ilmu yang sejatinya sangat mulia itu, dijejali teori-teori konspirasi berdasarkan cocoklogi yang tidak lain merupakan hoax alias kabar palsu. Ribuan umat Islam begitu gandrung meramaikan kajian seperti ini karena materi yang disampaiakan memang sangat bombastis dan sensasional. Terlebih, penceramah masalah-masalah akhir zaman ini sangat piawai dalam berorasi dan menguasai retorika public speaking. Seakan-akan, apa yang disampaikan adalah khabar bersifat ‘haqqul yaqin’, padahal itu baru sekedar analisa. Inna adzh-dzhanna laa yughnii minal haqqi syay’aa..
Fenomena cocoklogi bukan hanya bertebaran di dunia maya melalaui FB, WA atau YouTube. Cocoklogi juga pernah dipublikasikan dalam bentuk buku yang sangat laku. Misalnya, buku "Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman” (2012) karya Fahmi Basya, dan “Rahasia yang Terkuak, Hitler Mati di Indonesia” (2010) karya Ir. KGPH Soeryo Goeritno, Msc. Tulisan ini bukan bermaksud membahas kritik panjang lebar untuk kedua buku tersebut. Hanya ingin menekankan bahwa: setelah dikaji lebih lanjut, Fahmi Basya dan Soeryo Goertino, sama-sama menggunakan pendekatan cocoklogi dalam penelitian mereka.
Pertama, Fahmi Basya yang sangat yakin bahwa Candi Borobudur adalah Haikal Sulaiman, tidak merujuk kutub at-turats (buku-buku klasik warisan ulama terdahulu), khususnya dalam bidang sejarah, tafsir dan hadits. Ini masalah serius. Bagaimana mungkin, kebenaran kisah qur’ani tentang kerajaan Saba’ dan dua nabi mulia: Daud dan Sulaiman ‘alaihimassalam, ditentukan hanya dengan mencocokkan nama-nama tokoh yang ada di dalamnya. Kerajaan Saba adalah Wonosobo. Ratu Boko adalah Ratu Bilqis. Kota Sleman adalah Sulaiman. Dan masih banyak lagi. Bahkan, lebih dari itu, Fahmi Basya juga berkesimpulan, Ya’juj-Ma’juj adalah Yogyakarta dan Mojokerto. Alasannya, kerto artinya kota. Yogya sangat mirip dengan kata Ya’juj. Dan Mojo, dekat dengan kata Ma’juj. Kesimpulan macam apa ini?
Kedua, Soeryo Goeritno agak sedikit berkelas meskipun pada akhirnya teori beliau terbantahkan. Teori Soeryo mengatakan bahwa Hitler selamat dari perang dunia dan berhasil melarikan diri ke Indonesia, mengubah identitasnya, menjadi seroang dokter di NTB, dan meninggal di Surabaya. Soeryo meyakini bahwa seorang bule bernama dr. Georg Anton Poch adalah Adolf Hitler. Soeryo merujuk ke pengalaman pribadi seorang dokter lulusan Universitas Indonesia bernama Sostrohusodo yang bertugas di kapal besar yang dijadikan Rumah Sakit di Sumbawa.
Di sanalah dr. Sosro bertemu dengan dr. Poch yang diyakininya sebagai Hitler. Sebab, Poch mempunyai ciri-ciri fisik yang sangat mirip sekali dengan profil pemimpin Nazi itu: kakinya diseret saat berjalan, tangannya selalu bergetar, dan berkumis Chaplin. Selain itu, dr. Poch sangat misterius: tidak punya lisensi dokter. Poch juga sangat mengagumi Hitler. Ini sangat mencurigakan. Tapi benarkah Poch adalah Hitler? Cukup mudah untuk menjawabnya. Karena dr. Sosro sudah memiliki foto-foto dr. Poch, cobalah dibandingkan antara kedua wajah: Hilter dan Poch. Apakah mirip?
Sekilas memang mirip. Tapi, sederhana sekali untuk membuktikan itu Hitler atau bukan. Lihatlah earlobe atau cuping telinga mereka. Ini anggota tubuh yang tak akan berubah meski seseorang sudah menua. Para ahli anatomi, membagi dua jenis earlobe: free earlobe (daun telinga yang melengkung, menyisakan satu bagian yang menggantung bebas), dan attached earlobe (ujung daun telinga langsung menyatu dengan sisi wajah). Dan setelah dicermati, ternyata, Hitler memiliki tipe free earlobe. Sementara dr. Poch sebaliknya. Dari sini, terbantahlah dugaan dr. Sosro dan tulisan Ir. Soeryo Goeritno.
Ditambah lagi, sudah ada penelitian yang lebih ilmiah berbasis medis: test DNA. Penelitian ini menguji kecocokan gigi dan tengkorak Hitler. Kesimpulannya, ia memang tewas di Berlin, Jerman dan diduga mati bunuh diri setelah minum sianida dan mengarahkan pistol ke kepalanya sendiri.
Belajar dari dua karya ini, penting untuk dicatat baik-baik: setebal apapun sebuah buku, jika penulisnya tidak menggunakan metodologi penelitian yang ilmiah, hanya mencocokkan antara satu data dengan hal lainnya, dan meskipun terkesan masuk akal, karya cocoklogi tidak bisa diterima begitu saja.
Dua buku tersebut telah cetak ulang berkali-kali, best seller. Sama seperti ceramah-ceramah bertema akhir zaman dengan pendekatan cocoklogi, viral dan ditonton jutaan kali. Nah, kembali ke masalah cocoklogi dan kaitannya dengan tanda-tanda hari kiamat, ada sebuah hadits Nabi yang sangat relevan dengan pembahasan ini. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Inna min asyrathis sa’ah, an yaqillal ‘ilmu wa yadzharul jahlu. Di antara tanda-tanda kiamat adalah berkurangnya ilmu dan tampaknya kebodohan.” (HR. Bukhari)
Ingat, cocoklogi sama dengan hoax, kabar palsu. Menyampaikannya di majlis ilmu adalah sebuah pembodohan. Umat yang awam dan langsung percaya, tidak bisa disalahkan. Sebab, sebagaimana sudah jamak diketahui, kebohongan yang diulang beribu-ribu kali, akan dianggap sebagai kebenaran. Apalagi yang menyampaikannya adalah seorang muballigh. Disinformasi dan bias konfirmasi inilah yang membuat kebenaran suatu ilmu terkurangi. Maka, tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa fenomena cocoklogi, adalah tanda akhir zaman itu sendiri. Hanya saja, sedikit sekali yang menyadari pertanda ini. Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq.
𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴, 𝘋𝘦𝘱𝘰𝘬, 9 𝘚𝘺𝘢'𝘣𝘢𝘯 1441
𝘔𝘶𝘩𝘢𝘮𝘮𝘢𝘥 𝘍𝘢𝘪𝘴𝘩𝘢𝘭 𝘍𝘢𝘥𝘩𝘭𝘪 𝘢.𝘬.𝘢 Ichang Stranger
Sumber: https://www.facebook.com/share/p/QiSGYBBWVyEEgKUt/?mibextid=oFDknk
𝐇𝐢𝐠𝐡𝐥𝐢𝐠𝐡𝐭 𝐂𝐨𝐜𝐨𝐤𝐥𝐨𝐠𝐢 📚🔍
1. Definisi Cocoklogi: Gabungan kata "cocok" dan "logi" yang sebenarnya berarti ilmu untuk mencari kecocokan, namun dalam praktiknya digunakan untuk menyindir kesimpulan ngawur dan tidak berdasar. 🤔
2. Perbedaan dengan Ilmu Sejarah: Menurut Adrian Perkasa, cocoklogi berbeda dengan metode ilmiah sejarah yang mencakup heuristik, kritik sumber, interpretasi sumber, dan historiografi. 📜
3. Contoh Kasus URB: Salah satu contoh cocoklogi yang menyimpang adalah klaim Ustad Rahmat Baequni bahwa nama-nama pulau di Indonesia berasal dari bahasa Arab, seperti Sumatera dari Asy-Syamatiro dan Jawa dari Al-Jawwu. 🌏
4. Borobudur dan Nabi Sulaiman: Fahmi Basya mengklaim bahwa Candi Borobudur adalah Haikal Sulaiman tanpa merujuk pada kitab-kitab klasik. 🌄
5. Hitler di Indonesia: Soeryo Goeritno mengklaim bahwa Hitler selamat dari Perang Dunia II dan tinggal di Indonesia dengan identitas baru, namun klaim ini terbantahkan oleh bukti anatomi dan DNA. 🧬
6. Bahaya Cocoklogi: Cocoklogi sering kali memberi efek kepuasan dan menarik perhatian karena dianggap menjawab permasalahan yang belum terjawab. Ini menyebabkan penyebaran informasi yang tidak benar. 🗣️
7. Hadis Relevan: Rasulullah bersabda bahwa di antara tanda-tanda kiamat adalah berkurangnya ilmu dan tampaknya kebodohan (HR. Bukhari). Cocoklogi dianggap sebagai tanda akhir zaman karena menyebarkan kebodohan. ⏳
8. Kesimpulan: Fenomena cocoklogi adalah tanda akhir zaman itu sendiri. Karya dan ceramah yang menggunakan pendekatan ini, meskipun viral, tidak dapat diterima begitu saja tanpa verifikasi ilmiah. 📖
𝘒𝘢𝘮𝘪𝘴, 𝘋𝘦𝘱𝘰𝘬, 9 𝘚𝘺𝘢'𝘣𝘢𝘯 1441
𝘔𝘶𝘩𝘢𝘮𝘮𝘢𝘥 𝘍𝘢𝘪𝘴𝘩𝘢𝘭 𝘍𝘢𝘥𝘩𝘭𝘪 𝘢.𝘬.𝘢 Ichang Stranger
-
Sumber aslinya: https://www.facebook.com/share/p/QiSGYBBWVyEEgKUt/?mibextid=oFDknk
when i combined 2 robin's costumes from RED, it makes that pattern
oh, and i just went :0 after searching the cow skull meaning. (a new beginning, birth, death) is this foreshadowing?
also why his tattoos so inconsistent..? "OTL
KETIKA DA'I COCOKLOGI BERFATWA DAN BERCERAMAH Ini ga tahu doi suka ngomong mencomot data dari mana.l?! Muslim Uyghur tdk terkena Corona Virus... Katanya, "pernah dengar muslim Uyghur terkena Corona?" Padahal doi tahu kalo muslim di Uyghur itu diisolir dari dunia internasional dan banyak realita mereka yang disembunyikan pemerintah Cina... Sekali lagi ternyata si doi memang demen sama berita #HOAX yang dulu sempat viral berjudul :"Ahli Dunia Terkejut : Tak Satupun Warga Muslim Uighur Tertular Virus Corona", yang setelah dicrosscheck beritanya tdk jelas sumbernya dan ternyata hoax... Situs berita Al Jazeera, dalam artikel berjudul Coronavirus outbreak: 'We need facts not fear', mewawancarai presenter China Global Television Network, Wang Guan, untuk mengetahui kondisi Tiongkok dalam merespons wabah Virus Corona (2019-nCoV). Salah satunya terkait kondisi di Xinjiang. Berikut cuplikan artikel yang dimuat pada 8 Februari 2020: "In Xinjiang province, where at least one million Uighur Muslims are being held in camps, multiple cases of the coronavirus have been confirmed raising fears it could spread rapidly in the region. "There have been very few cases in Xinjiang. Actually, Xinjiang ranks number six from the bottom in terms of the confirmed cases. There has not been a single death in Xinjiang so far. The situation is well under control over there," Wang said." Dalam artikel itu disebut, di Provinsi Xinjiang, di mana setidaknya 1 juta muslim Uighur ditahan di kamp-kamp, beberapa kasus Virus Corona telah terkonfirmasi, meningkatkan kekhawatiran bahwa virus itu dapat menyebar dengan cepat di wilayah tersebut. "Ada beberapa kasus di Xinjiang. Sebenarnya, Xinjiang berada di peringkat enam terbawah dalam hal kasus (2019-nCoV) yang terkonfirmasi. Belum ada satupun kematian sejauh ini dilaporkan di Xinjiang. Situasi masih terkendali di sana." kata Wang Guan. Pencarian menggunakan kata kunci 'xinjiang, coronavirus' mengarah ke artikel berjudul Man in Xinjiang donates horses to help Hubei yang dimuat Asia One pada 10 Februari 2020. Kasihan umat ini, selain terjangkit virus corona, ternyata juga bnyak yg terjangkit virus #cocoklogi (at Megapolitan Cinere) https://www.instagram.com/p/B-D7gcOBRTs/?igshid=quz9ozg04pxh
6 Cocoklogi Selebriti Mirip Politisi ala Netizen Ini Kocak - Liputan6.com
6 Cocoklogi Selebriti Mirip Politisi ala Netizen Ini Kocak – Liputan6.com
Ari Lasso dianggap mirip Siti Nurbaya (Sumber: Twitter/dendiriandi) Liputan6.com, JakartaSetiap wajah manusia pasti diciptakan berbeda. Tapi biasanya ada kemiripan-kemiripankarena berbagai faktor. Namun bagaimana jika orang ada mirip dengan lainnya tapi tidak ada hubungan darah?
Seperti penilaian netizen di media sosial Twitter @dendriandi. Ia mengunggah potret Ari Lasso dengan Siti…
View On WordPress
Beberapa waktu setelah gempa yang berpusat di Banten muncul cocoklogi dengan mengaitkan antara waktu gempa dan ayat quran. 13:34 wib.surat 13 ayat 34. silakan dikroscek gudpipel. . Lalu saya teringat dengan kajian tafsir tentang angka-angka. Disebutkan bahwa kemungkinan keteraturan angka dalan Al-Qur'an mirip dengan mekanisme "parity checking" yang biasa digunakan dalam transfer data digital. Parity checking adalah suatu mekanisme pengecekan data untuk memastikan apakah data tersebut telah berubah atau tidak setelah berpindah tangan. . Mungkin inilah bentuk penjagaan Allah atas keaslian Al-Qur'an. . . . 📚 resume kajian tafsir ilmiah Salman,ITB 📚 ____________________________________ #tafsir #tafsirSalman #cocoklogi #gempa #tadabur #tafakur #membaca #kauniyah #ayatKauniyah #focus #fokus #urupkeurip #uripkiurup
15 Pemain Ini Mirip Banget Tokoh Kartun Terkenal Loh ● Cocoklogi