Vaksinlah, kalau bisa AstraZaneca
Alhamdulillah saya sudah divaksin dosis pertama, tapi bukan Sinovac atau AstraZaneca. Loh?
Saat ini saya sedang berada di Singapura, menjalani final quarter studi PhD saya dengan beasiswa kampus negeri di sini. Izin tinggal saya di sini namanya student pass yang termasuk kategori 'long-term resident' sehingga berhak mendapatkan vaksin gratis walaupun foreigner.
Setelah tiba giliran untuk resident dengan rentang umur 18-39 tahun untuk menerima vaksin, kampus dengan segera mengirim pengingat kepada seluruh mahasiswa untuk mengecek dan memperbarui data nomer HP masing-masing. Karena kampus nantinya mengirim database civitas ke kementerian kesehatan. Dua minggu kemudian, saya dapat kode unik untuk bisa 'booking appointment' vaksin dosis pertama.
Dalam tautan 'booking appointment' untuk vaksin, kita bisa memilih tempat (community centre atau CC gitu umumnya) dan waktunya sesuai kenyamanan dan availability masing-masing. Menariknya kita bisa tahu di CC mana vaksin yang dipakai apa. Pemerintah Singapura sejauh ini meng-endorse dua opsi vaksin saja untuk vaksin gratis ini: Pfizer atau Moderna, yang mana keduanya tergolong mRNA vaccine.
Saya secara sadar memilih CC yang dekat kampus dan awalnya tidak terpengaruh soal preferensi yang beredar di masyarakat. Setelah booking tanggal dan jam vaksin, barulah saya tanya-tanya ke teman-teman yang sudah duluan. Karena saya cuma mau yang dekat kampus saja, opsi tanggalnya sisa akhir Juni. Kalau saya mau, bisa saja dapat lebih awal tapi CC-nya yang agak jauh. Ya, intinya saya ga mau ribet (dan keluar uang transport buat vaksin doang).
Kembali soal preferensi vaksin, saya melihat banyak yang prefer Pfizer karena menurut testimoni yang beredar efek sampingnya lebih enteng dibandingkan dengan Moderna. Ya jadi tidak begitu mengganggu aktivitas setelah divaksin, karena saya tidak mau sakit saat bulan-bulan terakhir menuju deadline laporan tesis S-3 saya. Kebetulan di CC dekat kampus, vaksinnya Pfizer :)
Normal saja ketika setelah divaksin ada efek samping. Ini pertanda tubuh sedang bereaksi dengan konten vaksin denga cara membentuk antibodi. Karena efek samping itu normal atau bahkan 'expected', saat vaksinasi kita akan menerima briefing yang kurang lebih seperti ini:
1) Tidak berolahraga selama 1 minggu ke depan agar tidak kelelahan
2) Pantau suhu tubuh 2x24 jam ke depan, jika deman dan tidak hilang dalam dua hari maka segera kunjungi dokter--dan biaya pengobatan GRATIS karena itu bagian tanggung jawab pemerintah yang telah mengimbau warganya untuk vaksin.
3) Jika merasa tidak enak badan, minum saja PANADOL. Iklan gratis buat perusahaan swasta :)
Oh ya, sebelum divaksin kita akan ditanyain dulu, "Ada demam atau nggak enak badan 1x24 jam yang lalu?" Ini ditanyain dua kali. Sekali pas registrasi ulang, satu lagi sebelum disuntik. Semua protokol dan briefing dilakukan untuk mengurangi kemungkinan-kemungkinan buruk pascavaksin.
Sepulang divaksin, saya teringat di Indonesia vaksin yang awalnya beredar cuma Sinovac, kemudian menyusul AstraZaneca. Bedanya apa yaaa?
Setelah ngobrol sama istri dan cari info-info tambahan, setidaknya ada empat pegangan buat saya pribadi:
a) Data keampuhan vaksin bisa jadi bias sesuai sampel waktu dan tempat (https://www.youtube.com/watch?v=K3odScka55A). Sehingga, berpatokan murni pada angka keampuhan (efficacy) hanya membuat kita menolak mentah Sinovac yang sudah ada di Indonesia dan dibeli dengan anggaran pemerintah. Di saat krisis, setiap negara akan berusaha untuk melakukan pengadaan dengan pertimbangan masing-masing karena butuh cepat, supply-nya terbatas, dan semua negara berkompetisi untuk itu. Jadi, kita vaksin karena bersyukur dengan opsi yang kita punya.
b) Setelah muncul AstraZaneca (AZ), ada testimoni teman-teman istri saya @syofarahals bahwa pascavaksin efek sampingnya lebih berasa dibandingkan Sinovac. Yang kedua, setelah divaksin tapi tetap tertular Covid-19 maka yang sudah divaksin AZ akan memiliki gejala lebih ringan dan recovery lebih cepat. Jadi, jika ada info fasilitas kesehatan yang ada stok AstraZaneca, sebaiknya pilih itu dan arahkan keluarga dan kenalan Anda ke sana jika memungkinkan.
c) Vaksin bekerja dengan cara yang berbeda untuk membangun imunitas sesuai kategorinya, mRNA (Pfizer, Moderna), viral vector (AstraZaneca), atau inactivated virus (Sinovac). Sila lihat perbandingannya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=osRo-yz1VQ8
d) Pegangan terakhir adalah vaksin itu kayak ikutan "challenge" dan memang opsional. Reward-nya? Terbentuk imunitas. Cara mendapatkannya? Jaga kesehatan sebelum dan sesudah vaksin sampai kondisi kebugaran normal kembali.
Sebagai penutup, vaksin mungkin jawaban doa-doa dan qunut nazilah umat Islam se-dunia untuk diangkatnya wabah ini. Tapi, bukannya wabah yang diangkat tapi umat Islam "dipaksa" untuk lebih berpikir kritis dan saintifik.
Wabah ini sebuah pengingat bagi kita untuk menghargai ilmu pengetahuan. Pengingat bahwa kita butuh lebih banyak orang Indonesia yang ahli di bidang sains dan teknologi. Juga pengingat bahwa mati itu mudah saja, tidak pandang umur. Tapi kita diberi akal untuk berikhtiar dan mengusahakan yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi.
Jika kaum tua sudah terlanjur termakan hoaks, maka harapan kita tinggal di pundak anak-anak muda (anak, ponakan, cucu-cucunya) untuk mengedukasi mereka.