Dulu aku sibuk mencari siapa yang akan bertahan. Sekarang, aku lebih sibuk memastikan bahwa diriku tetap berjalan dengan baik. Bukan karena tidak butuh siapa-siapa, tapi karena tidak semua hal harus bergantung pada orang lain.
seen from Brazil
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from China
seen from China
seen from Canada
seen from Macao SAR China

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Mexico
seen from China
seen from Canada
seen from Germany
seen from Russia

seen from United States

seen from Malaysia
Dulu aku sibuk mencari siapa yang akan bertahan. Sekarang, aku lebih sibuk memastikan bahwa diriku tetap berjalan dengan baik. Bukan karena tidak butuh siapa-siapa, tapi karena tidak semua hal harus bergantung pada orang lain.
Tidak semua proses harus diketahui orang lain. Karena hidup bukan panggung pembuktian terus-menerus. Ada orang yang diam, tapi diam-diam menjaga shalatnya, memperbaiki lisannya, menahan dirinya dari maksiat setelah mendengar satu nasihat sederhana. Dan itu cukup berarti meski tidak ada yang tahu.
Dan semoga, setelah segala gelisah yang kita pikul diam-diam, hati kita menemukan tempat untuk beristirahat. Semoga jiwa kita yang lelah dijemput ketenangan, seperti air yang akhirnya menemukan muaranya. Dan semoga Allah, dengan cara yang paling lembut dan waktu yang paling dekat, menyentuh luka-luka kita—lalu menyembuhkannya perlahan, sebagaimana Ia menenangkan malam setelah hujan.
Sebab manusia selalu berjalan dengan beban yang tidak selalu tampak, rindu yang tidak kita akui, takut yang kita sembunyikan, dan luka yang kita bungkus dengan senyum agar dunia tidak repot menebaknya. Kita terus melangkah, meski kadang rasanya seperti menyeret kaki di jalan yang tak kunjung kering dari air mata. Namun begitulah hidup bekerja—memaksa kita melewati malam agar tahu harga cahaya, memaksa kita kehilangan agar tahu nilai sebuah temu.
Ada hari-hari ketika kita merasa runtuh, tapi tetap harus bangun. Ada hari ketika dada terasa sesak, namun kita tetap harus tersenyum pada orang yang tidak pernah tahu betapa lirihnya hati kita pagi itu. Dan mungkin di titik-titik seperti itulah Allah paling dekat—bukan dengan gemuruh, tapi dengan cara-Nya yang membuat kita kembali percaya bahwa tidak ada patah yang sia-sia di genggaman-Nya.
Maka, jika malam ini terasa berat, tenanglah sebentar. Letakkan semua yang tak sanggup kita tanggung di pangkuan-Nya. Allah tidak pernah kehabisan cara untuk memulihkan sesuatu yang sudah lama kita kira tidak bisa diperbaiki. Kadang Ia menenangkan lewat doa yang tiba-tiba terasa ringan; kadang lewat seseorang yang datang tanpa rencana; kadang lewat hati kita sendiri yang, entah bagaimana, mulai berani berharap lagi.
Semoga esok yang kamu temui bukan lagi esok yang gelap, tetapi esok yang membuatmu mengangguk pelan dan berkata,
“Ternyata Allah tidak pernah meninggalkanku.”
Suatu malam aku pernah duduk cukup lama di parkiran minimarket setelah pulang kerja. Mesin motor sudah mati, langit juga sepi, tapi kepala rasanya masih ribut sendiri. Di sebelahku ada seorang bapak driver ojek online yang tiba-tiba berkata ke temannya,
“Kalau hati udah gak tenang, coba cek lagi dosa sendiri. Kadang masalahnya bukan rezeki kurang, tapi syukur dan taubatnya yang kurang.”
Aku diam, tapi kalimat itu seperti ikut duduk di sampingku sampai malam selesai. Sebab memang ada masa ketika hidup terasa berat bukan karena Allah meninggalkan kita, melainkan karena kita terlalu lama berjalan tanpa benar-benar melibatkan-Nya.
Ketika dunia menuntut lebih keras dari yang mampu kita beri, tenangkan diri dengan mengingat siapa yang menggenggam segalanya. Doa adalah cara paling sunyi untuk tetap kuat.
Kalau hari-hari terasa basah dan berat, jangan lupa mengeringkannya dengan doa. Untuk dunia yang sedang kita perjuangkan, dan akhirat yang tak boleh kita abaikan.
dan dunia
seperti biasa,
tetap menawarkan dirinya
dengan sangat cantik:
angka rekening,
pujian manusia,
serta kesibukan yang membuat seseorang lupa
bahwa ruhnya sedang kehausan
maka puasa itu menyapa
bukan untuk melemahkan tubuh,
tetapi untuk membangunkan sesuatu
yang terlalu lama tertidur di dalam dada
sesuatu yang dulu sering menangis saat sujud,
lalu perlahan mengeras
karena terlalu sering bersentuhan dengan dunia
barangkali itulah mengapa
di padang arafah orang-orang memakai pakaian serupa kematian..
agar manusia ingat,
bahwa yang paling mahal dari hidup
bukanlah umur yang panjang,
melainkan hati yang berhasil pulang sebelum dipanggil pulang
Orang-Orang yang Menghafal Doa Keluar Rumah tetapi Lupa Cara Pulang
“… dan tidaklah mereka berjalan di bumi, lalu mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami.”
QS. Al-Hajj: 46
Di kota ini
orang-orang berangkat kerja sambil memutar murattal
namun klakson mereka tetap terdengar
seperti sumpah serapah yang kehilangan wudu.
Seorang lelaki membaca doa safar
di atas motor kredit lima tahun,
lalu menerobos lampu merah
demi tiba lebih cepat
di hidup yang bahkan tidak benar-benar ia sukai.
Betapa aneh kepala manusia.
Mereka hafal tata cara haji,
namun lupa bagaimana meminta maaf
kepada ibunya sendiri.
Mereka tahu persis
berapa putaran thawaf mengelilingi Ka’bah,
tetapi tak pernah sadar
bahwa hidupnya sendiri
sedang thawaf mengelilingi gengsi.
Di minimarket dekat musala itu
seorang kasir perempuan menyelipkan istigfar
di sela bunyi barcode dan mesin EDC,
sementara matanya sembap
oleh cicilan dan ayah yang masuk ICU.
Dan dunia tetap berjalan seperti biasa.
Pomo-promo tumbuh lebih cepat daripada pohon,
orang-orang berebut diskon
seakan umur bisa ditukar poin belanja,
sementara kematian lewat pelan-pelan
menjadi tukang parkir, pengantar galon,
atau lelaki tua yang batuknya tak kunjung tuntas.
Lalu azan magrib terdengar.
Sebagian buru-buru mematikan musik.
Sebagian lagi tetap menatap layar ponsel
seolah hidayah bisa ditunda.
Namun di sudut musala kecil itu,
ada seorang bocah yang sujud terlalu lama
dengan baju sekolah penuh debu jalanan.
Dan mendadak seluruh kota terasa begitu kecil.
Sebab mungkin benar,
yang paling sulit dari kehidupan bukan
mencari Allah,
melainkan berhenti sebentar
agar hati kita sempat mendengar-Nya.