Hands to Myself [or, Ceres being bored to death]
Ceres merasa akhir-akhir ini dunia sedang asyik bermain dengan takdirnya.
 Minggu ini semua rencananya terasa berantakan. Eugene, salah satu pegawainya di kafe, terpaksa mengambil cuti karena sakitâkekasihnya sendiri yang juga adalah rekanan bisnis Marleem yang menelepon ke kafenya pagi ini. Pesanan kopi dari Afrika Utara terpaksa tertahan karena cuaca buruk yang terjadi selama berhari-hari, mengakibatkan kapal-kapal gagal melaut. Salah satu barang antik peninggalan zaman Romawi yang tiba di headquarter tiga hari lalu ternyata hanya replika, tak ayal membuat Marleem naik pitam, lantas memburu si penjual malang yang mungkin hari ini sudah kehilangan kepalanya. Kafe sangat penuh hari ini, dan ia tak punya tenaga kerja tambahan. Dan saat pulang, ia hanya menemukan secarik kertas post-it dari Marleem (âPergi ke Jakarta sebentarâJANGAN MENYUSUL, JANGAN PERGI KE YOGYAKARTA. Ketjup basah, Om Tamvan.â, seakan-akan ia segila itu menyusup ke Yogyakarta tanpa sepengetahuan kepala famiglia yang mungkin punya mata-mata di lebih dari 117 negara). Rencananya untuk cuddling berdua dengan Kay juga gagal karena sang dokter muda terpaksa menginap semalam lagi di unit gawat darurat rumah sakit. Ankh dan Shiroh pergi menjenguk ibu sang pemuda Mesir bersama si kecil Hide, tak akan pulang setidaknya sampai besok sore.
 Ia sendirian di rumah. Lelah. Bosan.
 Dan seorang Aquarius yang sedang bosan ada baiknya tidak dibiarkan begitu saja.
 Setelah mendumel kepada udara kosong selama beberapa puluh menit (semoga tak ada yang datang, ia masih ingin statusnya sebagai orang paling waras di keluarga ini tak tercoreng), kakinya tanpa sadar melangkah pada salah satu ruangan di lantai dua. Satu kamar paling eksentrik di antara kamar-kamar lainnyaâdimana lagi kau bisa melihat poster Girls Generation, PERFUME, Ariana Grande, peta jalanan Roma, dan foto target mafiosi Italia (dead or alive, seperti di film-film bajak laut) terpajang di satu dinding yang sama?
 Kamar sang Don, Geremia Ercole a.k.a Marleem a.k.a self-proclaimed Om Tamvan.
Tak ada yang tahu bagaimana cara kerja otak pemuda Venesia itu saat ia sedang stress berat, bahkan tidak juga si pemuda itu sendiri. Tanpa pikir panjang, Ceres menanggalkan kaus v-neck lengan panjang berwarna putihnya, menjatuhkannya ke lantai. Tak lama, skinny jeans yang ia kenakan juga menyentuh karpet tebal. Dengan santai ia menyalakan stereo player, lalu melenggang ke arah walk-in closet milik kekasihnya itu seakan ia tengah berada di atas catwalk.
 Saat lagu mulai mengalun, Ceres tak bisa menahan dirinya sendiri untuk tak menyeringai.
 [Can't keep my hands to myself]
 Oh, ya. Dari semua lagu, lagu ini yang harus menemaninya malam ini. Tepat sekali.
 Dan kali ini, ia bersyukur suara indah Arianna Alesci-Piazzi menurun padanya.
 [No matter how hard I'm trying to
I want you all to myself
You're metaphorical gin and juice]
 Rambut ikal sewarna tembaga itu ia urai, turun ke bahunya yang kini telanjang. Senyum menggoda terus terpasang di wajahnya sementara ia menapaki lantai marmer dingin, menyentuh setiap fabrik pakaian sang Don yang tergantung rapi, lalu mengambil satu kemeja putih polos.
 [So come on, give me a taste
Of what it's like to be next to you
Won't let one drop go to waste
You're metaphorical gin and juice]
 Jujur saja, Ceres selalu suka sensasi mengenakan kemeja tipis yang berukuran terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Ia suka rasanya tenggelam dalam fabrik halus tanpa sehelai benang pun yang menghalangi kontak dengan kulitnya, menyentuh setengah pahanya tanpa perlu lagi ia gunakan celananya. Ia suka wangi cologne kedua kekasihnya yang masih tertinggal di kemeja mereka, tak peduli berapa kalipun pakaian itu dicuci.
 Dan ia merasa seksi mengenakannya, tapi jangan katakan pada siapapun.
 [All of the doubts and the outbursts keep making love to each other
And I'm trying, I'm trying, I'm trying, I'm trying, but I]
 Suaranya mulai mendapat kekuatannya. Ia tak lagi menahan nyanyiannyaâtoh tak akan ada siapapun yang datang malam ini, rumah ini miliknya hingga esok pagi. Ia menggoyangkan pinggulnya, tak peduli lagi pada waktu yang sudah menyentuh tengah malam. Menyentuh tubuhnya sendiri, menari seliar yang ia bisa.
 Setengah hatinya berharap kedua kekasihnya ada di sini, but well⌠beggar canât be chooser, can they?
 Tapi suara deru mobil terparkir di depan rumah tampaknya berkata lain.
 Dan Ceres sadar betul. Ia terkekeh.
 [I want it all, no, nothing else
Can't keep my hands to myself
Give me your all and nothing else]
 Demi apapun, Marleem dan Kay berani bersumpah ini nyaris jam setengah satu pagi. Tapi suara berdentum dari lantai dua kediaman mereka berkata lain.
 Marleem sukses menyelesaikan urusannya di Jakarta tanpa harus pergi ke Jakarta. Terlalu malas untuk pergi ke sana, terlalu jauh, terlalu lama. Meskipun dengan bayaran harus mendekam di dalam kantornya selama lebih dari 19 jam, tapi itu lebih baik dibandingkan waktu yang sama hanya untuk dihabiskan di perjalanan. Di perjalanan pulang, ia menjemput juga Kay di rumah sakit. Pemuda Inggris yang malang, akhirnya ia bisa pulang ke rumah setelah lebih dari 40 jam mendekam di rumah sakit.
 Tapi bukannya ini laguâŚ
 âDek, kayaknya kakakmu itu bikin ulah lagi deh.â Marleem menyeringai. Ooh, ini akan jadi malam yang panjang, dalam arti yang baik.
 âBikin ulah?â Kay menatap pria Italia itu bingung. Membuat ulah dan Ceres? Bukan padanan kata yang tepat rasanya. âBukannya Om ya yang suka bikin ulah?â
 Marleem tak menggubris sindiran halus si bungsu, lantas mendaki satu persatu tangga menuju lantai dua. Dentuman musik itu berasal dari kamarnya, tampaknya. Pintunya juga terbuka lebar.
 Dan tepat seperti dugaannya.
 [Oh, I, I want it all
I want it all, I want it all
Can't keep my hands to myself]
 âHmm⌠Ada anak nakal, rupanya~â
 Marleem dan Kay menatap kekasihnya, balas menatap mereka dengan tatapan liar yang sama. Bibir tipis itu tersenyum menggoda, berbisik dengan suara yang tebal dengan rasa ingin.
 [I mean I could, but why would I want to?]
 Ya, ini akan jadi malam yang menyenangkan.