Aku hidup dilingkungan yang terbiasa tanpa kata-kata.
Aku tahu Papa mencintaiku, mencintai kami sekeluarga. Papa tidak pernah mengatakan "Aku mencintai kalian." Papa tidak menggunakan kata-kata. Namun aku tahu dari Papa yang dengan bekerja setiap hari, mengingatkan kami shalat, memarahi kami saat kami salah, memberikan uang jajan sambil mengacak-acak rambutku dan mengatakanmbahwa Ia bangga padaku saat aku wisuda.
Aku tahu Mama mencintaiku, mencintai kami sekeluarga. Mama tidak pernah mengatakan "Aku mencintai kalian." Mama tidak menggunakan kata-kata. Mama mengungkapkan perasaannya dengan bekerja setiap hari, memasak, menyuruhku mengumpulkan baju kotor untuk dicuci, memijit ketika aku sakit dan mencium pipiku setiap kali aku berangkat kuliah ke Padang.
Aku tahu Sulung mencintaiku, mencintai kami sekeluarga. Ia tidak pernah mengatakan "Aku mencintai kalian." Tolonglah, itu bisa merusak reputasinya sebagai anak sulung dan seorang cowok. Hehe. Ia mengungkapkannya dengan mengajak aku dan adikku main, berkelahi dengan adikku, memberiku uang jajan ketika usahanya berhasil, dan mengatakan padaku untuk jadi dokter yang baik.
Aku mencintai keluargaku. Tapi aku tidak pernah mengatakan "Aku mencintai kalian." Mereka juga akan kena serangan jantung kalau mendengar aku mengatakannya terang-terangan. Haha. Mungkin juga tidak. Aku mengungkapkannya dengan bercerita dan mendengarkanncerita-cerita Papa, menolong Mama membersihkan rumah, mengusili si sulung, main game dan berkelahi dengan si bungsu. Aku mengungkapkannya dengan salim dan cium tangan Papa Mama Da Bibi dan mengacak-acak rambut adikku setiap kali aku berangkat kuliah.
Aku yakin Bungsu tidak mengerti tentang mencintai, wajarlah, dia kan masih anak-anak. Tapi setidaknya aku tahu kalau dia senang bersama kami. Haha.
Itulah lingkunganku. Tanpa kata 'cinta' kami sudah tahu perasaan masing-masing. Kami memaafkan tanpa kata maaf. Kami mencintai tanpa kata cinta. Aku rasa kami sudah sama-sama tahu karena hanya orang yang kita cintai yang bisa membuat kita gila. Dan jujur saja, kadang aku berpikir mereka bisa membuat gila -atau sudah gila.
Karena itulah aku tidak tahu bagaimana menunjukkan perasaanku dalam kata-kata. Sekali-sekali kata sayang, tapi itu saja sudah membuat kami malu dan canggung. Kalau diingat lagi rasanya itu momen canggung itu menjadi momen yang sangat manis.
Dan berdasarkan cara komunikasi sahabat-sahabatku, aku rasa dilingkungan mereka juga begitu.
Karena itu aku tidak tahu harus mengatakan apa saat salah satu diantara kami membutuhkan bantuan berupa perasaan. Dia tidak tahu harus mengatakan apa untuk meminta perasaan itu, dan kami tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan yang dimintanya.
Jadi aku menggunakan satu-satunya hal yang terpikirkan olehku, semoga ini bisa melapangkan perasaannya, karena aku tahu ini tidak cukup untuk menutupi rasa kehilangannya.
Rei terdiam dengan handphone masih menempel ditelinga. 100 km jaraknya dengan Erva, yang juga terdiam. Rei tidak tahu harus mengatakan apa untuk meringankan beban sahabatnya itu. Jadi ia memutuskan untuk mengatakan hal yang sederhana, berharap kata-katanya tidak terdengar hampa.
"Hei, Erva. Di film, momen seperti ini, tokohnya akan mengatakan hal-hal seperti; 'Aku disini bersamamu', 'Aku akan selalu ada untukmu.'" ujar Rei.
Erva masih diam, tak mengerti kemana arah pembicaraan Rei.
"Aku tidak bisa mengatakan 'Aku disini untukmu', karena 'disiniku' berada berada 100 km jauhnya dari tempatmu. Aku tidak bisa mengatakan 'aku akan selalu ada untukmu.' Jujur, aku bahkan tidak bisa membagi waktu untuk diriku sekarang. Aku akan sering tak sempat mengangkat telepon, terlambat membalas chat , dan jarang melihat sosmed dan menangkap sinyal SOSmu. Maafkan aku." Rei lalu terdiam. Sialan, pikirnya. Kata-katanya memang tidak terdengar hampa, tapi malah terkesan dingin. Ia mencoba menyusun kembali kalimat yang akan diucapkannya. Erva masih diam diujung sana.
"Tapi saat aku bisa menarik napas dari tempat ini, aku pasti akan membalas chat, meneleponmu balik dan menangkap kode SOS dan menghubungimu. Memastikan jika kau masih butuh. Dan aku bersyukur kau juga punya dua sahabat lain, yang jaraknya hanya 10 km darimu dan sinyalnya lebih mudah ditangkap. Yang bisa mengatakan 'Aku disini' dan 'Aku ada untukmu.' Yang bisa naik motor dan pergi menemanimu saat kau bosan dengan sepi, yang bisa mengajak bercanda saat kau butuh tawa. Mungkin mereka juga sulit mengatakan kalimat itu. Mungkin kadang tawa mereka akan membuatmu sedih karena kau sadar ada sesuatu yang hilang dalam hidupmu. Tapi kuharap mengerti bahwa mereka hanya ingin mengisi hidupmu. Dan aku ingin kau tahu kalau aku iri karena mereka bisa melakukan itu semua."
Rei menarik napas. Harusnya ia menutup mulut besarnya. Sekarang ia merasa kesal dengan dirinya sendiri yang terlalu blak-blakan. Ia kan berdarah Minang? Kemana mulut manis orang minang yang seharusnya bisa meluluhkan hati semua orang?
Hah. Sepertinya stok skill itu diambil semua oleh si sulung. Yang tersisa pada Rei hanyalah kejujuran apa adanya.
"Jadi, kalau kau merasa sepi, kau hanya perlu ingat kalau ada orang bodoh 100 km jauhnya yang pasti akan meluangkan waktu hanya untuk mendengar ocehanmu." Rei meringis dan menambahkan, "Yaaah, walaupun kadang waktunya sedikit terlambat. Kau juga boleh chat atau menelepon hanya untuk protes kalau aku terlalu sibuk dan jarang membalas chat."
Rei terdiam. Lalu, "Erva? Kau masih disana?"
Di ujung sana, terdengar suara tawa.
Sialan, pikir Rei. Ia sudah tahu kalau ia bukan ahlinya dalam kata-kata, apalagi kata yang memakai perasaan. Yah, setidaknya ia bisa membuat Erva tertawa. Mudah untuk membuat seseorang sedih, tunjukkan saja sesuatu yang tragis seperti foto, cerita atau film. Kita semua tahu ketika hal-hal sedih terjadi. Lebih sulit untuk membuat seseorang tertawa, apa yang lucu bagi seseorang belum tentu lucu bagi orang lain.
Seperti sekarang, lucu bagi Erva, tapi tidak bagi Rei. Hah.
"Rei, rei. Aku tahu aku punya sahabat-sahabatku disini, walaupun terpisah jarak 10 ataupun 100 km. Kadang aku lupa, jadi terimakasih sudah mengingatkan," balas Emi. Rei bisa mendengar senyum dari kata-katanya itu.
"Kadang kalian membuatku kesal karena sibuk dan jarang membalas chat. Kadang, tapi biasanya tidak." Ia terkekeh.
"Jadi, kembali ke masalah yang mendesak sekarang. Kau suka baju yang mana?" tanya Emi.
Dan, seperti itulah, monolog Rei berakhir, berharap apa yang ingin ia sampaikan tersampaikan. Dan ia tiba-tiba sadar kalau orang-orang dalam persahabatan selalu melakukan hal yang aneh. Kadang mereka mengatakan sesuatu berlebihan, kadang tidak mengatakan apa-apa sama sekali.