Ceritanya Curhat #4
Ini adalah tulisan gue yang ada di blog ceritanyakarisa (link nya gue sertakan ya), yang gue tulis di akhir tahun 2018. Kenapa gue copy ke sini? Karena biar ngurut aja gitu perjalanan cerita gue dari tahun ke tahun, minimal gue nulis ini untuk gue baca lagi sambil mengingat-ngingat momen itu. Kebetulan abis ngerapihin isi Tumblr ini, biar isinya hampir tulisan gue semua ehehe..
Jadi begini ceritanya...
Terimakasih 2018
Assalammu'alaykum!^^
Lama tak mengisi blog ini, akibat urusan duniawi yang astaghfirullaah menyita raga dan pikiran, belum lagi masalah hati yang tak kunjung menemukan titik terangnya ahaha.. tapi nikmati saja :)
Tulisan kali ini tidak seperti tulisan-tulisan karisa biasanya. Iya kali ini karisa beneran mau curhat, memutar kembali kejadian-kejadian di kehidupan karisa sepanjang tahun 2018.
Dulu ketika Tumblr itu belum diblokir, saya terbiasa cerita disana. Tetapi karena sampai sekarang masih tidak bisa dibuka (padahal akun lainnya udah ada yang bisa ngakses loh, sedih akutuuu :( ) jadilah kita cerita-cerita di blog ini saja yaa, daripada nyampah di Twitter, apalagi status Whatsapp atau Instagram ehehe..
Kita mulai dari awal tahun 2018. Alhamdulillaah, ketika itu aku masih bekerja di kantor yang lama, adalah di suatu perusahaan swasta yang memproduksi kosmetik. Yang artinya aku sudah melewati masa satu tahun bekerja di sana. Ngga nyangka sih, bisa betah juga di sana, dikarenakan ketika itu aku memiliki atasan yang 'super baik kalo ngasih kerjaan' ehehe.. Untuk urusan kuliah, alhamdulillaah lancar, dan aku lupa apakah itu di awal tahun 2018 atau sejak 2017 aku memutuskan untuk menambah ilmu agamaku dengan mengikuti halaqah. Untuk urusan hati, aku masih menyukai orang yang sama sejak tahun 2017. Jika ada yang membaca tulisanku di Tumblr mungkin akan tau ceritaku ini wkwk..
Di triwulan pertama tahun 2018, aku disibukkan dengan persiapan audit halal eksternal, yang mana itu adalah pengalaman pertamaku dan aku cukup excited mempersiapkannya. Dan di saat-saat itu pula terdapat orang-orang baru dikantorku, karena ada beberapa yang resign dan memang ingin menambah karyawan. Tidak pernah ada pikiran untuk mencari tempat kerjaan baru tadinya, hingga suatu ketika manajerku menyuruhku untuk mencoba melamar ke tempat lain. Bukan, beliau bukan ingin memberhentikan aku :') tetapi karena di saat itu kondisi perusahaan sedang tidak stabil dan hampir menuju ke titik terrendah. Ditambah pula dengan batinku yang mulai tidak bisa diajak sejalan dengan keadaan kantor, jadi aku memutuskan untuk mencari pekerjaan baru pada awal bulan April.
Triwulan kedua, ketika itu aku masih bekerja di kantor yang lama. Alhamdulillaah kuliahku pun berjalan lancar, dan hatiku pun masih menyukai orang yang sama meskipun orang itu ternyata menyukai orang lain juga. Entah kenapa perjalanan rasa-ku kali ini memiliki cerita yang hampir sama seperti sebelumnya ehehe.. Tetapi mungkin saat itu adalah saat-saat dimana Allah mengujiku dengan mendekatkan ia padaku. Ketika itu ia sudah bertemu dengan Ayahku, yang mana adalah langkah untuk melangkah ke hal yang lebih serius. Dan aku sudah siap dengan rencana-rencananya, salahku tidak mempasrahkan kepada rencanaNya yang lebih pasti dan lebih indah.
Sebelumnya sudah kukatakan bukan bahwa aku memutuskan untuk mencari pekerjaan baru pada awal bulan April? Qodarullaah, Allaah mempermudah jalanku hingga akhirnya aku memutuskan untuk pindah tempat kerja, tapi sedihnya aku tidak bisa mengikuti proses audit halal yang mana sangat aku nantikan. Tak apalah, aku menikmati perjalananku ini dengan ikhlas in shaa Allaah. Dengan berat hati aku mengatakan "see you on top" kepada rekan-rekan kerjaku saat itu.
Di bulan Juni, tepatnya ketika Hari Raya Idul Fitri, aku mendapatkan berita duka bahwa kakekku dari Ibu telah berpulang. Untuk kali pertamanya aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika Ibuku menangis histeris. Aku ingat sekali, kala itu malam Jum'at dan kami sekeluarga langsung berangkat menuju rumah kakek yang tak terlalu jauh. Saat ini, teringat kembali bagaimana kakek berjuang melawan penyakitnya, bagaimana aku harus memperkenalkan diri ketika bersalaman "Atung, ini Ica.", bagaimana melihat nenek yang tegar mengurusi kakek yang terbaring lemah di ranjangnya. Mohon do'anya yaa teman-teman, Al-Fatihah....
Triwulan ketiga, aku memasuki lingkungan kerja baru dengan me-recall ilmu analisis kimiaku yang selama satu tahun lebih kurang begitu kuasah di kantor yang sebelumnya, karena aku bekerja di bagian controlling document sedang di tempat kerjaku yang baru aku harus bekerja di laboratorium uji pangan. Belajar hal baru, bertemu orang-orang baru, beradaptasi dengan lingkungan baru. Yang mana sangat ku khawatirkan sebelumnya, apakah aku bisa berbaur dengan baik, apakah aku bisa mengikuti dengan baik, apakah aku akan betah. Namun qodarullaah, sudah 6 bulan berlalu sejak tulisan ini di post. Alhamdulillaah, aku nyaman disini, bertemu atasan yang luar biasa baiknya, bertemu rekan kerja yang luar biasa asyiknya, dan merasakan apa itu family not by blood. Ya, keluarga kesekianku.
Untuk urusan kuliah, alhamdulillaah sudah tinggal beberapa mata kuliah lagi yang belum kuambil dan mulai menyusun laporan PKL, in shaa Allaah jika lancar bisa mulai menyusun penelitian. Do'akan semoga dilancarkan ya ehehe.. aamiinn.. Oh ya, pada triwulan ini juga aku mulai mengikuti kelas Tahsin. Suatu peningkatan yang membanggakan menurutku, karena aku tak pernah membayangkan akan berada pada titik ini dalam proses memperdalam ilmu agamaku. Maa shaa Allaah, semoga bisa istiqomah.
Sedang untuk urusan hati, ujian demi ujian datang silih berganti. Tapi anehnya aku masih menyukai orang yang sama. Dan aku bangga mengakuinya meskipun mungkin ia mengabaikan aku.
Triwulan keempat, alhamdulillaah urusan pekerjaanku dilancarkan Allaah. Untuk urusan kuliah, mulai menampakan rasa-rasa malas untuk datang ke kampus dikarenakan hanya ada dua perkuliahan dalam sepekan. Dan rasa malas itu juga menyerang penyusunan laporan PKLku :"( Astaghfirullaah, sedihnya... ujian bagi para mahasiswa tingkat akhir :')
Dan untuk urusan hati... bisa kita skip saja? wkwkw karena pada triwulan keempat ini penolakan demi penolakan telah khatam kurasakan, namun aku tak pernah menyerah untuk selalu menyukainya dari jauh. Hai kamu, jika kamu membaca tulisanku ini, aku minta maaf jika pernah membuatmu kecewa. Semoga Allaah lapangkan hatimu untuk menerima maafku (dan menerimaku juga (?)) dan semoga Allaah berikan kebahagian untukmu di dunia hingga di akhirat, aamiin..
Dan begitulah cerita karisa sepanjang tahun 2018 ini. Semacam muhasabah bagiku dengan menulis ini, bahwa di tahun ini aku banyak belajar tentang keikhlasan. Ikhlas menerima kepergian dan penolakan. Dan juga belajar bahwa tak ada yang bisa menggambarkan rasa syukur atas nikmat Allaah yang Maha-Maha Banyaknya :') dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dengan karisa, diberikan nikmat sehat dan rezeki yang halal, diberikan hidayah untuk memperdalam ilmu agama, dan diberikan kemudahan-kemudahan lainnya :') Maa shaa Allaah... kadang aku merasa tidak pantas mendapatkannya karena diri ini masih banyak melakukan dosa, tapi Allaah itu Maha Pemberi :')
Dan aku banyak sekali belajar dari perjalanan rasa-ku di tahun 2018, tentang tidak berharap pada makhluk yang akan berujung kekecewaan, tentang keikhlasan atas penolakan dan pengabaian, serta tentang ketulusan untuk selalu mengharapkan kebahagiannya.
Terimakasih, 2018.
Entah kenapa aku menemui begitu banyak cerita berharga di tahun ini, dan tak pernah terbayangkan akan begitu indahnya rencana Allaah ini.
Hai, 2019.
Aku tidak berharap banyak kepadamu, namun mari kita bekerja sama :)










