Hai kamu, tidak usah tercekat dengan kilau cahaya orang lain. Kamu punya wadah menebar kebaikan juga. Jangan lagi silau dengan labelitas nama yang terbiasa kau puja.
Jika memang tempat kita bukan disana, yasudah masih banyak tempat lainnya. Dan asalkan masih kebaikan yang kamu tebar, meski dilakukannya di ujung jalan pun itu terhitung kebaikan.
Hai kamu, seorang pemuda itu tidak jadi tinggi tersebab status akademik mereka, atau elok parasnya, atau elite circle pertemanannya, atau bonafit universitas asalnya.
Ia menjadi tinggi karena Allah meninggikan derajatNya. Dan Allah meninggikan derajatNya pada siapa yang Ia kehendaki.
Salah satu pemantik agar kehendak Allah datang, ialah dengan banyak² meningkatkan diri dengan ketaqwaan, menjaga hati dari kesombongan, menggemakan kebaikan dan membungkam kejahatan, memperbaiki hubungan persaudaraan, berderma dengan harta yang Ia titipkan, menuntut ilmu dan mencari keberkahan, dan menjaga interaksi dengan Quran sepanjang zaman.
Cukuplah itu yang menjadi fokusmu. Nanti biar dengan kehendakNya, Ia tinggikan derajatmu.
Kita telah melihat pada kancah sejarah, bahwa medan juang seorang Muslim ini begitu luas dan beragam.
Ada Khalid yang menjadi potret panglima, ada juga Mush'ab yang berperan sebagai duta. Ada Bilal dengan suara lembutnya mengajak orang laksanakan shalat, ada Abu Hurairah yang menjaga gerbang keilmuan hadits rapat-rapat.
Ada Ikrimah yang dulu jahiliah, wafatnya menjemput syahid. Ada Abu Bakar yang sejak awal begitu teguh dengan Islam hingga ruhnya terbang ke langit. Ada Hasan yang berkibar dengan syairnya, ada Abu Dzar yang menggemakan keberaniannya.
Ada sang gerbang kota Ilmu, kita menyebutnya Ali. Ada pula Hudzaifah yang menjadi penyimpan rahasia Nabi. Ada Ibnu Mas'ud sebagai guru Quran, muncul juga Muadz dengan kefaqihan.
Lihat, beragam sekali kan. Dan mereka semua adalah Radhiallahu Anhu!
Sudah, tidak usah minder lagi dengan pencapaian orang-orang di kanan kiri. Be the best version of you!