Hay, Rev, apa kabar? Maaf lama tak memberimu kabar, terakhir mengirimmu surat seperti ini tahun lalu, ya? Maaf, Rev, bukan bermaksud untuk melupakanmu, namun hanya ingin menepikanmu sejenak dari semestaku yang semakin lama semakin berantakan.
Kamu bagaimana kabarnya? Semoga selalu baik-baik saja di sana, ya. Keadaan Surga bagaimana, Rev? Pasti sangat menyenangkan di sana, ya? Sedang musim apa di Surga? Musim semi? Musim gugur? Musim panas? Atau sekarang sedang turun salju? Dari dulu keinginanku cuma bisa lihat salju secara langsung dengan kamu, terus nanti akan aku buatkan boneka salju dengan hidung wortelnya, atau kita bisa main lepar-lemparan bola salju, menyenagkan sekali pastinya. Tapi sayangnya itu tak mungkin untuk kita lakukan sekarang, mungkin nanti, saat aku menyusulmu, tapi bukan untuk sekarang ini, karena masih banyak misi yang belum aku selesaikan di bumi.
Jangan tanya keadaanku, Rev. Kamu tentu sudah tahu soal itu. Bumi sekarang sedang tidak baik, manusia banyak yang kehilangan kemanusiaannya, ada banyak yang meregang nyawa karena bencana yang sedang melanda bumi. Kalau seperti ini, rasanya ingin sekali aku menemanimu di Surga sana. Rasanya ingin sekali merasakan es krim yang ada di Surga, ingin sekali bisa membuka kedai es krim denganmu di sana, mungkin akan menjadi kedai es krim paling enak, ya, Rev.
Nggak tahu kenapa tiap kali aku menulis surat untukmu, perasaanku berantakan, Rev. Kamu selalu menjadi teman terbaik cerita-ceritaku, meskipun dimensi kita sudah berbeda, meskipun sudah jarang aku mengirimmu surat dan tak sesering dulu lagi, tapi percayalah, kamu akan selalu menjadi satu-satunya tempatku berpulang meskipun sempat kehilangan arah.
Masalah perasaan? Ah, jangan kamu tanya itu, Rev. Dalam setahun ini perasaanku mengalami pasang surut, seperti kemarau panjang yang sedang menunggu belas kasihan hujan. Tapi sayangnya hujan yang aku tungu-tunggu tak juga datang, Rev, hujannya malah turun di mata, luruh basah karena berkali-kali dipecundangi perasaan sendiri.
Jangan menggodakku seperti itu! Tentu aku punya yang baru, tapi sifatnya juga masih abu-abu. Aku juga nggak mau terburu-buru menyebutnya itu cinta, karena masih terlalu trauma dengan kata cinta. Dia sekarang di Jakarta, Rev. Hubungan jarak jauh, kita terpisah 697 Km. Aku sayang dia layaknya aku sayang dengan diri aku sendiri, Rev. Aku menghormati dia layaknya aku menghormati harga diriku sendiri. Kamu tahu, Rev, senyumannya adalah hal yang paling aku butuhkan selain bernapas. Jatuh cinta bisa membuat hal-hal bodoh menjadi hal yang menyenangkan, ya, Rev. Nggak tahu juga entah akan menemukan akhir yang seperti apa. Seperti katamu dulu, kan? Bahwa manusia hanya bisa mengikuti alurnya saja, seperti air yang perlahan mengalir, dan aku ingin menjadi air itu, Rev.
Iya, untuk sementara ini dia memang masih aku sembunyikan dari sorot mata dunia. Karena aku nggak mau jika dunia merebutnya dariku. Terlalu egoiskah aku, Rev? Aku juga nggak bisa menyangkan dengan pertemuan itu, semesta selalu punya rencananya sendiri, semesta selalu menyimpan teka-tekinya sendiri. Tapi untuk sekarang ini aku hanya ingin dia bahagia, Rev. Aku hanya ingin Jakarta bisa memperlakukannya dengan sangat baik.
Kamu masih ingat dengan cerita Samudra yang kehilangan rasi bintangnya? Ada kabar baik. Sekarang ini Samudra sudah tidak lagi kehilangan rasi bintangnya. Bukan... bukan kembali rasi bintang yang sudah meninggalkan Samudra, melainkan Samudra sudah menemukan muaranya untuk sejenak meniadakan rasa sakitnya. Mura itu bernama An—seseorang yang sudah berhasil membuat Samudra bahagia di bumi yang sempat ia kutuk karena penghuninya selalu menyebalkan.
Kamu di Surga baik-baik saja, kan, Rev? Ah, tentu saja kamu di sana baik-baik saja, sebab sudah pasti di sana tidak akan ada rasa sakit dan kekurangan seperti yang ada di bumi.
Maaf harus sepanjang ini isi surat yang aku tulis untukmu. Tahun ini memang lagi banyak masalah. I mean, bukan cuma aku saja yang merasakannya, tapi seluruh penduduk bumi.
Baik-baik di sana, Rev, baik-baiklah di Surga sampai nanti aku menyusulmu ke sana. Tolong jangan bandel dan jangan kebanyakan makan es krim, aku takut kalau amandelmu kambuh. Jangan main hujan-hujanan, karena aku takut kalau kamu sakit dan menggigil kedinginan. Jangan pula kamu mengkhawatirkan kebahagiaanku di sini, sebab sudah pasti aku bahagia—untuk sekarang ini—ada dia yang berperan sebagai pusat semestaku yang siap membuat hari-hariku lebih berarti.
Terakhir, aku hanya ingin kamu di sana selalu baik-baik saja, Rev. Tak lebih dari itu.
Sekali lagi maaf, karena belakangan ini aku jarang mengirimmu surat. Tapi ketahuilah, Rev, meskipun begitu, kamu masih menjadi kenangan terbaik yang akan selalu aku ingat.
Bahagialah, meskipun dimensi kita sudah berbeda.