Pelaut yang jatuh cinta dengan samudranya itu adalah kamu.
“Nug, kenapa seseorang memilih untuk pergi begitu saja?” Pertanyaan itu membuat tatapan Nugraha berpaling kepadaku. Ia tersenyum, tapi aku tahu dibalik senyuman itu ada banyak tanda tanya yang ingin ia utarakan.
“Tentang mengapa ia berhenti berusaha dan pergi begitu saja, mungkin karena rasa penasarannya sudah terjawabkan.” Ia terus menatapku, tatapan yang teduh—tatapan yang selalu membuatku merasa tenang.
Ullen Sentalu tiba-tiba menjadi sendu. Satu persatu pengunjung mulai beranjak pergi. Dedaunan berguguran karena hembusan angin dari lereng pegunungan—sesekali daunnya jatuh di rambut kami. Lihatlah, bahkan daun yang jatuh tak sekali pun membenci angin.
Kami masih saling mematung, duduk di tengah-tengah sepi sembari menikmati kabut yang perlahan-lahan turun menyelimuti. Beberapa bangku kosong yang tak berpenghuni juga seakan memanggil kami untuk mendudukinya.
Aku beruntung, Nug. Aku beruntung karena Yogyakarta mempertemukanku denganmu. Mungkin jika aku masih memaksa untuk tinggal di Surabaya, bisa jadi aku tidak akan bertemu manusia yang menyenangkan sepertimu. Yogyakarta menyembuhkanku, tapi melewati hari-hariku di Yogyakarta denganmu akan lebih membahagiakan.
“Nug, kita ini sebenarnya adalah dua manusia terluka yang dipertemukan untuk sama-sama saling menyembuhkan.” Saat aku berkata seperti itu, kedua bola mataku berkaca-kaca. Air mata yang aku tahan-tahan akhirnya jatuh juga.
Nugraha memelukku, pelukan yang menenangkan—pelukan hangat yang selalu berhasil membuatku merasa tenang dan aman. “Buatku, sejak aku mulai menyayangimu, tidak ada lagi ragu. Dan tidak akan ada yang berubah, kecuali kesedihan-kesedihan yang akan berganti dengan kebahagiaan, dan selalu bertumbuh dengan sangat indah dan akan selalu indah.” Katanya saat memeluku dengan begitu erat.
Sore itu, di Ullen Sentalu, kebahagiaan benar-benar melingkupi kami. Kamu sekarang menjadi tokoh utama, Nug. Kamu berhasil mengubah samudra yang airnya keruh menjadi perlahan-lahan jernih, kamu berhasil meredam badai yang ada di samudra yang sedang kamu arumi itu. Kamu berhasil perlahan-lahan menahklukan samudra yang tidak semua orang berani untuk mengaruminya, Nug. Tapi kamu perlahan-lahan berhasil, Nug. Sejauh ini perahumu tidak karam saat kamu mengarumi samudra yang sangat dihindari oleh banyaknya manusia.
“Apa kamu masih ragu?” Ia bertanya kepadaku.
“Kamu tahu, Nug, saat aku sudah mulai menyukai rembulan, maka ribuat bintang tidak akan sedikitpun menarik perhatianku.”
“Bagiku, tidak ada hal yang paling membahagiakan di dunia ini selain dipertemukan dengan seseorang yang tepat.”
Dan aku bersyukur karena semesta mempertemukanku denganmu, Nug. Meskipun sebelumnya harus bertabrakan dan bersinggungan dalam gema-gema luka—tapi akan aku pastikan jika bersamamu kepingan yang retak itu akan kembali utuh. Kamu menjadi bagian dari prosesku, Nug. Dan aku juga akan selalu berusaha ada dalam tiap proses kehidupanmu.
Pada akhirnya, pelaut yang jatuh cinta dengan samudranya itu adalah kamu.












