Pada Kalimat Terakhir Ini, Aku Mengihklaskanmu.
Tidak ada lagi namamu, Ben. Pun tidak ada lagi namaku di kotamu. Aku masih mencintai Surabaya, tapi Yogyakarta lebih bisa menerimaku daripada kotamu. Aku cinta di sini, Ben. Yogyakarta adalah aku.
Kamu di sana apa kabar, Ben? Aku selalu baik, dan teramat baik. Aku sekarang sedang bekerja di salah satu instansi pendidikan yang ada di Yogyakarta, dan ingin sekali melanjutkan studiku di kota ini. Kamu bagaimana? Masih menjadi Dokter Intership di salah satu Puskesmas Rungkut? Semoga keadaanmu selalu baik-baik saja, selayaknya aku di sini.
Yogyakarta memperlakukanku dengan sangat baik, Ben. Kota ini mempertemukanku dengan Nugraha, seseorang yang senyumnya manis seperti gula jawa, kulit sawo matang dan berkaca mata—sama sepertimu. Tiap pagi kami selalu sarapan berdua sebelum dia merawat pasien-pasiennya, sesekali aku dibawakannya singkong rebus atau jagung rebus. Katanya; supaya asam lambungku tidak kambuh karena lupa untuk makan siang. Ia adalah seorang Dokter Residen di salah satu Rumah Sakit yang ada di Bantul.
Tidak ada yang lebih baik dari bertemu seseorang yang tepat, kan, Ben? Seperti katamu dulu, saat terakhir kali kalimat perpisahan itu keluar dari dalam mulutmu—peron utama Stasiun Tandes yang menjadi saksinya. Malam itu perasaanku hancur lebur, Ben. Tapi keputusan tetaplah menjadi keputusan, selama itu adalah yang terbaik menurutmu. Aku selalu menghormati keputusanmu, Ben. Apa pun itu.
“Tidak ada kabar baru dari masa lalu, pun kabar pasti dari masa depan.” Kamu masih ingat perkataanku itu sebelum aku meninggalkan Kota Surabaya, kan, Ben? Dan memang benar adanya. Saat aku sedang jatuh-jatuhnya, setelah Ibu berpulang—separuh duniaku runtuh, Ben. Tapi beruntungnya Nugraha datang di kehidupanku, ia adalah sosok malaikat tanpa sayap saat duniaku sedang berantakan.
Malam itu kami bertemu di kedai kopi pusat kota, Ben. Saat itu aku duduk sendirian, menghadap kaca jendela dan memandangi rintik hujan yang membalut Kota Yogyakarta. Tiba-tiba ia menghampiriku, “Kursinya kosong, Kak?” katanya sembari membawa segelas coklat hangat, sementara aku hanya menganggukan kepala dan menatapnya dengan tatapan mata sayu. Ia kemudian duduk di sebelahku, sesekali menatap tiga gelas americano yang sudah hampir tegukan terakhir. Tanpa aku jelaskan, sepertinya malam itu ia tahu bahwa aku sedang berantakan.
Malam itu, obrolan demi obrolan berhasil menghangatkan suasana, Ben. Tabiatnya begitu sangat menyenangkan. Sampai pada akhirnya waktu menunjukan pukul 10 malam. Ia berpamitan untuk ke rumah sakit, shift malam katanya. Aku pun tidak menyangka kalau pada akhirnya bisa sedekat ini. Kembali lagi seperti perkataanku sebelum aku memutuskan untuk meninggalkan Surabaya, “Tidak ada kabar baru dari masa lalu, atau pun kabar pasti dari masa depan.”
Nugraha begitu sangat menyenangkan, Ben. Ia menyayangi anak kecil, bahkan ke tiga keponakanku menyukainya. Waktu kami pulang ke Blora, ia membawa banyak Bakpia Jogja dan beberapa mainan untuk keponakanku. Aku juga mengajaknya pergi ke pemakaman, di sana ia turut mendoakan Ibu dengan sangat begitu ihklas. “Ibu sudah tidak sakit lagi, ibu sudah bisa berjalan tanpa kursi roda, ibu sudah bisa makan apa pun di sana.” Ucapnya sembari merangkul bahuku. Saat itu aku hanya bisa menyeka air mata.
Kamu tahun, Ben. Saat aku tidak lagi percaya dengan seseorang, saat itulah Nugraha berhasil menyangkalnya. Ia selalu menghargai hal-hal kecl yang ada di dalam kehidupanku, Ben. Bahkan atribut buruk yang ada di dalam diriku pun ia bisa menerimanya. Saat masakanku keasinan, ia hanya berkata, “Masih enak dan bisa dimakan, besok diperbaiki lagi, ya? Biar tidak terkena hipertensi.” Hal-hal kecil seperti itu yang bisa membuat perasaanku kembali luluh dan percaya lagi dengan seseorang.
Ben, kamu benar bahwa setiap pertemuan pasti akan selalu ada perpisahan—cepat atau lambat pepatah itu akan menghampiri siapa pun. Dan sekarang aku juga sadar, bahwa setiap perpisahan pasti akan selalu ada pertemuan-pertemuan lainnya. Itu sudah menjadi rumus kehidupan.
Ben, mungkin ini akan menjadi kalimat terakhirku. Surat-surat yang pernah kualamatkan pada hatimu itu biarlah menjadi arsip usang yang tak lagi kamu temukan. Aku bahagia, Ben—seperti keinginanmu dulu di sela-sela kalimat perpisahan yang kamu utarakan. Dan Surabaya biarlah menjadi kota kenangan antara perasaanku dan perasaanmu yang wujudnya tak lagi nyata.
Terakhir, pada kalimat ini, aku mengihklaskanmu.