Aku kembali, boleh?
Three Goblin Art
No title available
Not today Justin
Game of Thrones Daily
trying on a metaphor

⁂

No title available
AnasAbdin

izzy's playlists!
No title available

pixel skylines
I'd rather be in outer space 🛸
i don't do bad sauce passes

★

祝日 / Permanent Vacation

Kaledo Art
DEAR READER
Cosimo Galluzzi

roma★
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
seen from United States

seen from Belgium
seen from United States

seen from United States
seen from Latvia
seen from Canada
seen from Spain

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Mauritius
seen from Türkiye

seen from Sweden

seen from United States

seen from United States
@cesaarann
Aku kembali, boleh?
Mereka menari di kepalaku. Bersikeras mengatakan bahwa itu membantu. Aku tidak peduli, yang kubutuhkan tetap pulang. Tapi mereka bilang itu namanya bersembunyi. Lalu kepalaku meledak, mereka terdiam. Dan aku bertanya; apakah kalian tak pernah pulang? Aku lelah.
Aku masih berjalan dengan kaki telanjang. Satu-satunya yang aku butuhkan adalah pulang. Tapi rumah, tidak tampak, aku pikir karena mata minusku yang kian bertambah. Aku berdoa semoga tidak lagi terlalu jauh, namun nyatanya aku yang menjauh. Satu-satunya yang aku butuhkan adalah pulang, pulang dengan kaki telanjang dan mengadu pada Ayah. Tapi Ayah, tidak di rumah, Ayah sibuk membicarakan hal tak berguna dengan dunia yang sama sekali tidak melihat Ayah. Satu-satunya yang aku butuhkan adalah pulang, dan berteriak —mungkin. Tapi teriakanku mengawang, tidak terdengar siapa pun kecuali telingaku sendiri. Satu-satunya yang aku butuhkan adalah pulang, sebagai gadis kecil yang hanya kehilangan sosok Ibu bukan cinta. Satu-satunya yang aku butuhkan adalah pulang, dipeluk secara damai dan sukarela.
Manusia mana lagi yang akan terluka, olehmu?
Apakah luka dibuat-buat?
Ya, betapa menyedihkannya melihat manusia, yang hanya memanusiakan manusia yang dirinya nilai sederajat dengannya. Padahal, di mata Penciptanya pun semua terlihat sama.
@cesaarann
Kursimu, istirahatlah.
Di beranda rumah kita telah kusediakan meja berikut perlengkapan dua kursinya yang harus segera kita duduki untuk menciptakan hari sejarah pertama kali menikmatinya. Telah kusediakan pula sebuah pot yang berisi tiga tangkai bunga mawar putih indah yang berhasil menciptakan senyummu semakin sempurna. Juga tak lupa kusediakan secangkir teh untukku dan secangkir kopi untukmu dengan se-sachet gula yang barangkali ingin kau tambahkan ketika kau sadari tawaku tak begitu cukup untuk menemani kau menyeruputnya.
Mari bercerita, ajakku.
Katamu, tak perlu. Sebab di dalam mataku telah kau temukan maksud segala gundah itu. Aku ingin bermanja, tapi keringat dan bau badanmu yang membuatku enggan mencobanya.
Aku hanya tertawa. Ternyata benar, cinta bisa membuat sebuah keingintahuan menjadi sangat mudah diketahui tanpa harus menggali seperti pengetahuan alam. Cukup rasakan, dan nikmati.
Sebentar, biarku beri peluangmu untuk mandi. Membersihkan peluhmu itu. Agar dapat senada denganku yang sudah anggun dan wangi.
Tanpa berpikir lama, kau beranjak.
Memandikan segala perih, jerih, payahmu.
Membasuh segala lelah yang melanda.
Membuang tetes keringat yang sempat menyirammu lebih dulu.
Dan segarlah dirimu.
Lalu kau berganti dengan pakaian yang kau suka.
Dan aku,
jatuh cinta,
lagi, lagi, dan lagi.
Itulah yang kusuka dan kausuka.
Kita sepakat untuk tak pernah lupa akan itu.
Kemari, duduklah; kataku.
Kursimu, istirahatlah.
Tetap seperti ini, sampai kita lupa waktu ini dan kita menemukan kisah baru dan lebih baru lagi untuk kita menambahkan lebih banyak kursi di beranda kita. Tentunya untuk anak cucu yang mencintai kita.
Tetapi, ini kursimu.
Dariku; seseorang yang akan memijiti pundakmu di kala jingga mulai menampakkan keindahannya. Seperti cinta kita.
1 April 2018
#30harimenuliskreatifmalkasastra
Jeda
Aku ingin berterima kasih padamu karena telah mengajarkanku apa artinya menunggu dan menanti tanpa mengenal waktu. Juga membuatku memahami percaya itu tak cukup hanya sebatas harap, Tapi lebih kepada keteguhan untuk siap berjuang.
Ternyata aku lebih sering mengeluh, aku bosan menjadi aku yang terus-terusan mengalah. Aku jenuh menjadi aku yang biasa saja ketika tak dipedulikan. Aku benci menjadi aku yang mencintaimu tanpa harus memilikimu secara utuh.
Cintaku egois, tentu aku ingin menang. Aku ingin mendapatkanmu, begitu kau sebaliknya. Namun, cintaku tak bisa kupaksakan untuk kau terima ataupun kau balas. Singkatnya, cintamu bukan untukku.
Baiklah, jika sekiranya begini.
Biarkan aku ikhlas tanpa harus tergesa-gesa.
Biarkan aku rela tanpa mundur secara paksa.
Biarkan aku menikmati jedaku, jeda yang hanya memperkirakan aku untuk kembali atau memutuskan pergi.
Tidak ada yang salah jika kau tak mencintaiku, kau manusia punya hak atas rasamu sendiri dan aku juga punya wewenang jika sekalipun aku harus mengubur dalam-dalam perasaanku.
Kini, aku ingin jeda.
Darimu, dari matamu, dari tarikanmu, dari sambutanmu, dan dari cintaku yang sudah rapuh.
Izinkan aku, jeda mencintaimu.
Selanjutnya?
Kau tahu, aku merasa menjadi seseorang yang penuh dosa. Menjadi seseorang yang sudah tak lagi diberi kesempatan. Aku terasing oleh kata maaf.
Jika begini, kau nyaman. Baiklah, akan kuturuti. Namun, beri aku peluang untuk sekadar memenuhi janjiku kepada-Nya. Bukan hal mudah menjadi aku yang terlibat pada sifat gegabah.
Maaf, aku kelewatan.
Maaf, aku mengecewakan.
Maaf, aku tidak bisa membalas perasaan.
Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya namun aku selalu berharap kau juga bisa melepas egomu.
Kau tahu, kau juga sedang membuat kesalahan, yaitu; mempersulit jalan seseorang yang ingin memperbaiki kesalahan.
"Jika pada akhirnya aku pergi, bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi.
Hanya saja, aku ingin membuang sedikit demi sedikit perasaan ini.
Daripada tetap bertahan tapi kita selalu saling menyakiti."
-Cesaarann
Untukmu yang sedang patah hati
Mungkin, sewaktu-waktu kita perlu untuk menikmati perih sehabis ditinggal atau sehabis mengetahui bahwa cinta tak terbalaskan.
Kita juga perlu menghabiskan beberapa waktu untuk sekadar terus-terusan bertanya perihal "Mengapa?"
Tidak masalah, manusia ada saatnya melemahkan diri agar tahu bahwa sejatinya dirinya kuat.
Namun, maksimalkan saja waktu itu dalam beberapa hari, jangan sampai berkepanjangan. Kau juga pantas bahagia, bukan melulu setia dengan menghadapi luka.
Patah hati bisa dirasakan siapa saja, bisa diciptakan oleh siapa saja namun bahagia untuk diri sendiri harus atas dasar kesadaran diri sendiri.
Baiklah, mungkin kau tidak setuju dengan pendapatku. Tapi, kau harus cukup percaya satu hal saja.
Untukmu yang sedang patah hati, yang pergi bukan berarti tidak baik, yang tidak membalas cintamu bukan berarti juga tidak baik, mereka hanya merasa tidak pantas untukmu sebab kau terbaik. Cukup lakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan, lalu melupalah dengan menemukan seseorang yang setara denganmu. Takdir terus berputar, dan ada saatnya berhenti di permukaan jika benar dialah yang tidak akan lagi-lagi hilang.
Percaya, Tuhan memberi yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.
Maka, tersenyumlah, patah hati bukan hal yang bisa mewajibkan seseorang untuk melupakan siapa dirinya.
Kau terbaik!
Cesaarann,
Kota Hujan.
Ternyata sulit
Siang ini aku jengah terhadap apa-apa saja yang melirikku. Dari tanaman bunga yang baru mekar, dari rerumputan yang sedikit tinggi, dari pepohonan yang daunnya sebentar-sebentar jatuh dan dari matamu yang enggan lagi melihatku.
Ternyata sulit, sulit sekali. Ketika mendapati diri sendiri tidak bisa mencintai dan diri sendiri pula tak bisa menerima kau marah akan keputusanku. Apa salahnya, dengarkan aku sebentar? Apa salahnya tetap di sisi meski perasaan tidak saling memiliki? Apa salahnya aku jika tidak mencintaimu?
Baiklah, katakan saja aku salah. Membiarkanmu menghidupkan harapan sedangkan aku tetap dengan pendirian tidak bisa mencintaimu.
Namun, apakah harus kau menjauh dengan aku yang masih ingin merasakan obatnya rindu meski hanya sebatas teman.
Teman.
Teman.
Hanya teman, ternyata sulit berteman terhadap lawan jenis tanpa salah satunya punya perasaan.
Ya, kita ternyata sulit.
Hujan
Pagi ini langit sedang tidak sehat, kesedihan tengah ia tumpahkan di beberapa bagian di bumi, termasuk di depan mataku.
Gemuruh bergelegar tak karuan, seolah meracau tentang kesakitan. Aku yang tengah menyaksikan ikut terbawa suasana. Kekesalan memuncak, bagaimana tidak, jika separuh diriku kau bawa pergi berbahagia bersamanya.
Tidak, ini bukan perihal ketidakikhlasan. Hanya saja, sulit untukku membandingkan di mana letak pilihan dan di mana letak ketidakpastian.
Kau memulai dengan membawa senyuman, menggenggam seakan takut kehilangan, memeluk agar aku selalu mendapatkan kehangatan, namun di akhir kisah yang menurutmu berakhir, kau tinggalkan aku begitu saja tanpa sepatah kata tentang cinta. Yang ada hanyalah, kau membiarkan aku bertanya-tanya dan menjawab semuanya sendiri. Pecundang!
Dan kini, apa aku yang salah?
Apa aku yang terlalu berharap?
Apa hanya aku yang mencinta?
Langit semakin memecah kegaduhannya, seolah menyamai hatiku yang patah. Hujan semakin lebat, menciptakan genangan yang naik-surut, memaksa mataku melihatnya lalu memberi isyarat; tenanglah, hatimu baik, bukan milik yang tidak baik. Tenanglah, sekarang boleh saja kau ikut menangis bersama langit pagi, namun esok berjanjilah untuk tidak mengabadikan luka lagi, sebab hujan yang kau temui esok atau esok lagi bukan hanya tentang perihnya ditinggal pergi tetapi lebih dari itu. Temukan cinta sejati yang siap menafkahi bukan hanya sekadar janji.
Dan aku diam, berharap hujan mengerti.
Tentang rapuh
Di beberapa bagian dari diriku sedang bersembunyi, sedang malu mengakui betapa leburnya diri. Di sudut-sudut mataku terlihat beberapa titik genang air mata, oleh sebab hati yang merasa patah. Juga di ruangan-ruangan yang ada bekas jejakmu, tengah berdiskusi, bersiap membetahkan posisi agar nyaman oleh rasa kecewa yang tak terkendali atau membiarkan tubuhnya mengikuti langkahku yang rela jika begitu saja mati.
Aku ingin kau mau.
Kau mau aku ingin.
Aku ingin menjadikanmu pencapaian yang memuaskanku tidak hanya sementara.
Aku ingin menjadikanmu bagian-bagian terlampaui yang pernah aku raih.
Aku ingin menjadikanmu tepian dari sekian banyak terjang yang menenggelamkanku demi memilikimu.
Aku ingin.
Aku mau, aku merasa berhak atas hakku mendapatkanmu selamanya, tidak sebentar-sebentar merasa lelah.
Aku mau, aku menjadi seseorang yang tangguh. Yang saat kau memperkenalkan pada Teman-temanmu, kau bangga atas nama kepemilikanku.
Aku mau, kita bahagia. Selalu siap menghadapi suka duka bersama, selalu tersenyum meski kecewa, selalu aku dan kamu saja tanpa ada dia, dia dan dia yang mengubah segalanya.
Aku mau.
Aku ingin kau mau.
Kau mau aku ingin.
Jangan lagi datangi aku.
Bukan.
Bukan karena aku membencimu.
Juga bukan karena kau tidak baik untukku.
Kau baik, sangat baik. Aku yang tidak baik.
Perkara memaksakan hati bukanlah hal mudah, mungkin bisa saja karena terbiasa, sayangnya aku tidak sejahat itu pada hatiku.
Aku tidak ingin karena terbiasa jadi mencintaimu, yang aku ingin seseorang yang aku cintai itu karena aku menganggapnya luar biasa, berani memperjuangkannya, bukan malah takut menjadikannya seseorang yang berarti dalam hidupku.
Maaf, aku tidak mencintaimu. Tidak ingin. Bahkan sekali saja.
Tetaplah menjadi yang terbaik seperti sebelum kau mengenalku.
Temukan yang terbaik, yang bukan sepertiku.
Temukan yang juga mencintaimu.
Jangan lagi datangi aku.
Di tengah hiruk pikuk keramaian. Aku menemukanmu bersembunyi mencari kedamaian. Entah dengan cara apa, bisanya aku menyebut itu kau. Padahal nyatanya, akulah yang sedang merintih kepedihan.
-Cesaarann
Diam saja.
Lalu waktu kembali mempertemukan kita, di kala rindu sudah tak membabi buta.
Lalu waktu kembali menjemput kita, di kala menunggu sudah menjadi kebosanan yang terbiasa.
Lalu waktu kembali memperlihatkan kepada kita, bahwa sudah tidak ada lagi cinta.
Sudah, diam saja.
Aku ingin menjadi yang bukan kau minta.
Kau tahu, bukan aku yang mencintaimu jika harus melakukan apa-apa yang kau minta sedang aku sangat terpaksa melakukannya.
Kau tahu, bukan aku yang mencintaimu jika harus menuruti semua kehendakmu termasuk mencintai orang lain selain kamu.
Kau tahu, bukan aku yang mencintaimu jika kalimat aku ingin bersamamu terlalu mudah kuutarakan di depan matamu.
Bukan aku. Aku mencintaimu bukan ingin menjadi yang mencintaimu.
Paham?