I'm not as good as you think. Through the things you see in me, may you find Allah in the end.
Monterey Bay Aquarium
cherry valley forever

#extradirty
NASA
Show & Tell

Origami Around

shark vs the universe

Janaina Medeiros
we're not kids anymore.
KIROKAZE

⁂

titsay
I'd rather be in outer space 🛸

oozey mess

if i look back, i am lost
Game of Thrones Daily

No title available
Cosmic Funnies
ojovivo

No title available

seen from Malaysia
seen from India

seen from Türkiye
seen from France

seen from Singapore
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Russia

seen from Malaysia

seen from South Africa
seen from Canada

seen from United States
seen from Canada

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Canada
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@chameleonchamel
I'm not as good as you think. Through the things you see in me, may you find Allah in the end.
Halo akak giza, adakah tips supaya mudah memaafkan?
Wkwkwkwk. Salah sih nanya ini ke Giza, soalnya Giza juga masih punya beberapa hal yang belum bisa termaafkan sebab masih ada beberapa prasyarat untuk memaafkan sesuatu (yang padahal mah nggak mesti ada juga, cuma diada-adain) biar segala yang sudah terjadi dapat masuk akal.
Cuma ada sih beberapa jalur ampuh atas beberapa hal yang berhasil termaafkan. Intinya, jangan terlalu berusaha mencari alasan di balik tindakan orang lain, soalnya sering kali apa yang orang lain perbuat terhadap kita memang bukan dengan niat untuk menyakiti, lebih ke.. karena dia sedang memilih dirinya sendiri, sedang melindungi dirinya sendiri, atau sedang berjalan menuju arah yang dia mau. Rasio/penalaran manusia juga beda-beda soalnya.
Kita mungkin memang terkena dampak dari keputusan itu, tapi bukan berarti kitalah pusat dari semua alasan itu. Jangan-jangan kita sendiri juga mungkin pernah melakukan hal buruk semacam itu ke hidup orang lain tanpa kita sengaja/sadari.
Kalaupun nunggu permintaan maaf, beberapa orang justru nggak akan pernah reach out kamu lagi, sebab mereka nggak punya kematangan untuk menghadapi kenyataan bahwa mereka udah berbuat salah/dzalim sama kamu. Kamu nggak pantas menemui orang macam itu lagi. Mereka kekurangan rasa tanggung jawab, mereka mungkin akan bikin narasi buatan tentang kamu agar mereka nggak merasa buruk tentang diri mereka sendiri.
Atau simply, sebenarnya nggak mesti ada pihak yang salah. Nggak semua luka butuh jawaban. Luka itu muncul karena persepsi subjektifmu saja. Terimalah kenyataan bahwa setiap orang punya hidupnya masing-masing. Barangkali/mudah-mudahan itu bisa jadi titik awal dari detachment yang paling baik.
— Giza, sepanjang hidup adalah rentang waktu tazkiyatun nafs
Knowledge
Kalo baca media sosial, sering nemu komentar "akademisi harus membumi biar masyarakat lebih cerdas", "akademisi harus bisa menjelaskan satu konsep dengan bahasa yang mudah biar semua orang paham.
Ada yang perlu kita pahami tentang bagaimana kita mengakses knowledge dan mendapatkan knowledge tersebut. Kadang suatu hal tidak dapat kita pahami bukan karena istilahnya susah tapi karena kita nggak punya imajinasi tentang konsep di balik istilah tersebut.
Intinya mah tidak semua pengetahuan bisa dijelaskan lewat kata. Beberapa jenis pengetahuan justeru baru terbentuk setelah: paparan berulang, pengalaman, konteks sosial, kegagalan, observasi jangka panjang.
Lantas apa aja sih jenis pengetahuan itu?
Procedural knowledge (knowing how)
Procedural knowledge adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Pengetahuan ini practical dan dihasilkan oleh pengalaman berulang dalam melakukan sesuatu. Contoh: ngoding, debugging, balancing game, wawancara pasien dan menentukan diagnosa (bagi dokter), memimpin rapat, memasak, memainkan musik dan sebagainya.
Semua orang mungkin bisa memahami alur debugging hanya dengan membaca definisi dan penjelasan debugging lewat AI. Tapi real skill terbentuk dari akumulasi procedural knowledge setelah melakukan suatu kerjaan berulang-ulang.
Procedural knowledge itu bukan sekadar tahu langkah-langkah tapi kemampuan melakukan adaptasi secara realtime saat realita tidak sesuai teori.
Misalnya pada kasus debugging. Semua orang mungkin bisa membaca:
apa itu bug,
cara memakai debugger,
definisi stack trace,
langkah troubleshooting dari AI atau tutorial.
Tapi real debugging skill muncul ketika seseorang:
sudah melihat banyak jenis error,
pernah salah asumsi berkali-kali,
memahami dependency,
mengenali smell tertentu,
dan bisa mempersempit kemungkinan secara intuitif.
Kadang senior engineer bahkan bisa berkata:
"Kayaknya ini masalah object pool" atau "kayaknya ini masalah lifecycle data". Padahal belum membuka kode sama sekali.
Karena otaknya sudah merekam banyak kesalahan sampai tahu polanya. Makanya procedural knowledge sering terasa seperti reflek. Padahal itu hasil dari pengulangan banyak keberhasilan dan kegagalan yang sangat panjang.
Dan ini juga kenapa AI punya keterbatasan. AI bisa menjelaskan langkah, membantu struktur, memberi checklist, membantu reasoning. Tapi untuk membentuk procedural knowledge yang kuat tetep perlu doing, observing, failing, correcting, embodied repetition.
Karena dunia nyata selalu menghasilkan buanyak jenis kegagalan. Entah karena kasus ekstrim, kondisi yang belum sepenuhnya kita pahami, salah timing dan banyak lagi. Dan procedural knowledge berkembang justru saat seseorang terus bersentuhan dengan hal-hal menyebalkan yang membuat kita gagal.
2. Tacit knowledge (knowing without fully being able to articulate)
Ini bentuk knowledge yang kita tahu tapi sulit dijelaskan secara eksplisit. Orang menyebutnya intuisi.
“we know more than we can tell.” — Michael Polanyi
Contoh:
membaca suasana ruangan,
tahu timing bercanda,
feeling bahwa architecture code mulai busuk,
feeling pacing narasi terlalu panjang,
intuisi senior clinician,
intuisi game designer tentang “game feel”.
Tacit knowledge sering muncul setelah exposure panjang. Mirip procedural knowledge tapi Tacit knowledge itu sisi ghaibnya. Ini kayak game designer senior yang bilang:
"Combatnya nggak enak dirasain"
"Tapi ini udah sesuai semua parameternya. Apa yang harus di-adjust?"
"Coba kamu main beberapa game yang combatnya enak dan ga enak deh. Nanti kamu bisa ngerasain sendiri wkwk"
Bukan gatekeeping. Kadang memang sulit dipaketkan jadi aturan eksplisit. Tacit knowledge ini akan pelan-pelan bisa berubah jadi pengetahuan yang mudah dijelaskan. Caranya? dengan membaca. Jadi kita punya vocabulary tentang apa yang kita alami dan rasakan. Itulah kenapa orang perlu baca buku, mengobservasi pengalaman, dan mungkin suatu saat memberi nama pada pola pengalamannya.
3. Embodied Knowledge (knowledge stored through bodily experience)
Embodied knowledge adalah pengetahuan yang dipahami melalui tubuh dan pengalama sensori.
Contoh:
atlet memahami ritme tubuh,
musisi memahami ritme
animator memahami weight,
UI/UX designer memahami cognitive fatigue,
orang yang pernah miskin memahami survival tension secara visceral.
Embodied knowledge sering tidak bisa dipahami penuh lewat teori saja. Misalnya:
membaca tentang panic attack ≠ pernah mengalami tubuh panic,
membaca tentang crunch game dev ≠ mengalami burnout produksi.
Tubuh menyimpan pattern. Makanya saat menghadapi suatu masalah, beberapa orang bisa lebih tenang, lebih sensitif atau mungkin lebih cepat membaca resiko. Karena tubuh mereka pernah mengalami pola tertentu berulang kali. Ada banyak embodied knowledge kita hasilkan dari pengalaman trauma atau rasa sakit yang diproses dengan baik. Embodied knowledge ini juga biasanya membantu kita lebih berempati ke orang lain. Karena empati itu bukan cuma dibentuk dari pemahaman konsep tentang penderitaan tapi juga emosi yang pernah dirasakan tubuh atas pengalaman yang mirip.
4. Pengetahuan kontekstual (knowledge tied to environment and situation)
Ini juga jenis pengetahuan yang kita dapat dari exposure berulang terhadap suatu masalah. Sehingga kita bisa memahami bahwa tidak ada solusi yang fit untuk semua problem. Solusi dan masalah itu punya konteks. Dan pengetahuan kontekstual membantu kita menganalisa itu dengan baik:
Contoh:
strategi bisnis yang berhasil di US belum tentu berhasil di Indonesia,
UX untuk hardcore gamer ≠ casual player,
kebijakan ekonomi negara maju ≠ negara berkembang,
leadership startup kecil ≠ korporasi besar.
Makanya orang yang sudah expert di suatu bidang malah sering bilang:
“depends”
“lihat konteks”
Karena contextual knowledge melawan oversimplification. Contextual knowledge juga membantu kita lolos dari jebakan Dunning-Krueger Effect.
5. Experiential Knowledge (knowledge from lived experience)
Ini knowledge yang muncul setelah kita melakukan observasi dan refleksi terhadap suatu pengalaman. Experiential knowledge sering menghasilkan perubahan perspektif.
Misalnya:
sebelum memimpin tim: “tinggal bikin aturan.”
setelah memimpin tim: “manusia tidak bergerak seperti flowchart. Aturan tidak bisa dijalankan bukan karena tim nggak patuh tapi bisa aja karena aturan menambah beban mereka
Semua jenis pengetahuan ini tidak bisa kita peroleh dari interaksi dengan konten ataupun AI. Karena konten dan AI biasanya dominan: declarative knowledge, summary, abstraction, explanation. Ada banyak pemahaman mendalam muncul dari pengulangan, kegagalan, embodied exposure, obstacle dan jam terbang.
Orang yang benar-benar matang di bidang tertentu sering terlihat lebih humble, lebih lambat bicara, lebih hati-hati, lebih observasional. Karena mereka bukan cuma punya informasi tapi juga wisdom setelah banyak berurusan dengan dunia nyata. Ini yang kadang bikin influencer terasa lebih loud. Di sisi lain, lemahnya pemahaman kita terhadap suatu bidang juga kadang membuat kita asing terhadap suatu istilah. Sehingga para ahli yang bicara menggunakan istilah di bidang mereka, kita selalu anggap elitis.
Kita perlu belajar untuk lebih humble dan tidak terlalu bergantung pada media sosial dan AI. Hiduplah di dunia nyata dan rasakan pengalaman-pengalaman kamu sehingga kamu juga bisa mengambil pembelajaran. Baca buku karena buku yang disusun dengan baik biasanya dihasilkan dari pengalaman dan embodied knowledge penulisnya. Gunakan AI hanya untuk brainstorming. Gunakan media sosial untuk raising awareness aja. Sisanyaaaa baca buku dan get a life.
Sacrifice The Queen
Sejak mulai bermain catur, aku punya gaya pandang baru dalam membaca realitas, salah satunya saat meng-capture dinamika Nabi Ibrahim. Untuk pengetahuan umum, di catur tuh ada yang disebut taktik dan strategi.
Strategy is the long-term, high-level plan designed to achieve a specific, overarching goal (the "what" and "why"), while tactics are the concrete, short-term actions and steps taken to execute that plan (the "how"). Strategy focuses on direction and positioning, whereas tactics focus on day-to-day execution and immediate wins.
Dari yang aku berhasil capture, Nabi Ibrahim tampaknya adalah pribadi yang strategis, end-to-end (hulu ke hilir), dan idealism-oriented. Sejalan kan ya, dengan perannya membangun sebuah pondasi dan kerangka peradaban yang terarah.
Untuk perbandingan, Nabi Musa mengalami dinamika yang berbeda. Pendekatan beliau lebih taktikal, task based, dan present-oriented, kelihatan dari cara beliau merespons perintah-perintah Allah secara real-time di situasi yang dinamis dan penuh pressure. Perbedaan ini juga bisa kita lihat kok dari doa-doa mereka.
Disclaimer: Aku menggambarkan Ibrahim sebagai sosok yang "strategis" dan Musa sebagai sosok yang "taktikal" bukan berarti meniadakan dimensi lain dari keduanya ya. Ibrahim tentu aja punya ketajaman taktis dalam bertindak, sebagaimana Musa juga punya kerangka strategi dalam misinya. Klasifikasi ini semata-mata pendekatan analitis untuk menyorot kecenderungan dominan dalam kisah masing-masing, supaya kontrasnya lebih terlihat dan mudah dipahami.
Nah tadinya kupikir ujian terberat seorang strategis adalah jika harus menghadapi worst scenario. Namun aku salah gengs wkwkwk.
Soalnya sebagai orang yang cukup relate secara kognitif dengan Ibrahim, menurutku ketakutan akan worst scenario itu bisa direduksi dengan memperbaiki pertimbangan dan pengambilan keputusan, melakukan persiapan, atau merencanakan alternatif. Mirip-mirip di catur lah, takut melakukan blunder/bad moves atau takut moves-nya lawan ternyata brilliant/good bisa diatasi dengan deep calculation. Dan aku yakin, Ibrahim adalah seorang deep calculator yang bisa handle worst scenario yang datang dari luar.
"Sacrifice the queen!" mungkin itulah perintah Allah pada Ibrahim, dalam metafora catur.
Queen sacrifice baru bisa disebut brilliant/best/good moves kalau bisa ngasih keuntungan yang lebih besar daripada nilai queen itu sendiri. Biasanya ada 4 kondisi, entah itu menuju skakmat lawan, menang materi, menang posisi, atau seenggaknya itu satu-satunya langkah yang menyelamatkan posisi. Dan pemain catur profesional manapun nggak akan mau melakukan queen sacrifice tanpa kalkulasi 4 kondisi tadi. Yang ada malah blunder entar.
Ibrahim 2x mengalami ini. Pertama, saat meninggalkan Hajar dan Ismail ke lembah Bakkah (Mekkah sekarang). Kedua, saat diperintah menyembelih Ismail.
Back to Ibrahim as strategist, dengan beliau menikahi Hajar pun artinya Hajar sudah menjadi his most important piece (Sarah dan Luth juga sih btw). Ketambahan lagi dengan lahirnya Ismail, di catur mah ini bisa diibaratin jadi pion promosi. Jadi kebayang yah betapa Ibrahim hampir all-in seluruh grand design-nya ke situ.
Sekarang di peristiwa pertama, Allah suruh Ibrahim sacrifice his queen, and also his promoting pawn. Jujurly, menurutku ini tuh nggak masuk akal dalam kalkulasi Ibrahim.
Bentar tiba-tiba nangis wkwkwk. Kenapa ya mendalami cerita ini tuh selalu menggetarkan akal budi, kek setiap movement-nya tuh obvious. Aku yakin Ibrahim nangis waktu itu, mungkin di momen after ninggalinnya. Kalo dibayangin mah ekstrem banget situasinya, baik secara kognitif maupun emosional.
Secara kognitif, "jika Ismail adalah awal penggenapan janji, bagaimana mungkin jalurnya justru diarahkan ke tempat yang tampak tidak menopang kehidupan? Bagaimana aku bisa menilai movement ini relevan ketika bidak-bidak andalanku justru dipisahkan dari pusat permainan?"
Secara emosional, "Ya Allah tempat ini tidak ramah kehidupan. Aku tidak melihat sebab yang cukup untuk menjaga mereka. Bagaimana aku bisa memastikan keselamatan orang yang aku sayangi, ketika aku tahu bahkan variabel-variabel di lembah ini mostly mengarahkan mereka pada kematian?"
Nah aku ingat salah satu komentar coach caturku waktu aku masih awal-awal main. Kata beliau, "aku lihat-lihat game Giza, pelajaran hari ini adalah jangan takut korbanin." Yah namanya juga pemain amatir wkwkwk masih sayang sama semua pionku. Di bayanganku, Ibrahim saat itu, diperjalankan Allah dari fase "gimana caranya mempertahankan semua pionku?" menuju fase, "kalau Sang Pemilik papan meminta pengorbanan ini, berarti ada jalur kemenangan yang belum saya lihat."
Maka beliau percayakan kalkulasi ini kepada Allah. Ditinjau dari doa beliau di QS 2 : 126 dan QS 14 : 35-38 mah sih, beliau masih bisa bayangin, "oh mungkin ada kompensasi posisi" alias masih ada harapan di situ. Walaupun dipikir-pikir secara duniawi lembah itu nggak menguntungkan, Ibrahim masih belum kehilangan orientasi strategisnya.
Masuklah ke ujian kedua.
Di sini posisinya Ismail had already been promoted to a queen. Blueprint peradaban semakin jelas dan lengkap, dari opening, midgame, sampai endgame. Udah kebayang gitu si idealisme tersebut kek apa dan gimana mencapainya.
Dan untuk kedua kalinya, Allah perintahkan lagi, "sacrifice the queen!"
Dua peristiwa itu mirip bentuknya, tapi menurutku beda kedalaman ujiannya. Masalahnya, di catur, pengorbanan menteri yang dianggap jadi good move itu hampir pasti dilakukan oleh pemain yang udah kebayang step selanjutnya bakal apa. Atau minimal ada feeling, "ini bakal worth it".
Sedangkan Ibrahim saat itu disuruh korban menteri (lagi), sambil harus tetap punya cita-cita untuk menang, sambil nggak tau gimana merekonstruksi rencana yang variabel utamanya tiba-tiba nggak ada. Gap antara realitas - idealitas yang sebelumnya udah dikalkulasi, malah disuruh dikosongin. Terputus aja gitu. Gimana coba fill the blank-nya?
Rupanya ujian terberat seorang strategis adalah saat diminta untuk menghapus rencana terbaik yang dia udah invest banyak di situ, tanpa tau alasannya.
Oke lah, di perintah pengorbanan yang pertama, blank-nya belum total kosong. Masih ada harapan/ekspektasi. Masih diam-diam bergantung ke hasil akhirnya.
Sedangkan di perintah pengorbanan yang kedua, Ibrahim literally nggak dikasih akses ke langkah berikutnya. Buat orang yang strategis dan terbiasa kalkulasi langkah, nggak dikasih variabel untuk deep calculating lagi tuh menyebalkan. Lalu dengan apa kita dapat mendebat keputusan itu ketika kita bahkan nggak bisa pretelin proses decision making-nya Allah? Di titik itu, Ibrahim bener-bener dipaksa melepas kebutuhan untuk memahami mekanisme kemenangan tersebut.
Ini penting karena langkah-langkah yang sebelumnya diperintahkan Allah dan dilakukan Ibrahim seolah sedang mengonstruksi masa depan melalui Ismail. Kalau Ismail mati (apalagi di tangan Ibrahim sendiri) sebelum punya keturunan, jadinya kontradiktif kan? Soalnya perintah penyembelihan itu sama aja dong kayak membongkar bangunan yang sedang disusun-Nya sendiri. Kalau Ibrahim nggak sopan, mungkin bakal mikir, "Allah mah aneh." Tapi kan enggak gitu ya?
Jadi situasinya, ada 2 identitas Ibrahim yang diuji di sini. Masing-masing identitas diuji melalui logika internalnya sendiri sampai batas ekstrem.
Pertama, identitas sebagai nabi, yang bahkan diuji melalui identitas ini sendiri. Maksudnya adalah, nabi yang harus menaati perintah Allah ini adalah nabi yang sama yang harus bercita-cita tinggi. Lantas bagaimana ketika ketaatan itu tampak mengancam kesinambungan proyek kenabian yang sedang beliau bangun?
Kedua, identitas sebagai ayah, yang juga diuji melalui identitas ini sendiri. Maksudnya adalah, ayah yang pengen anaknya selamat dengan menaati perintah Allah, adalah ayah yang sama juga yang pengen sang anak tetap hidup, atau setidaknya nggak mati di tangannya sendiri.
Bayangin pergolakan kognitif-emosional-spiritual Ibrahim di rentang mimpi pertama, kedua, dan ketiga. Like.. peristiwa itu sebagai "mimpi" aja pun rasanya nggak mau deh keulang.
Terus Ibrahim ngapain? Ya udah, tetap laksanakan perintah sambil percaya bahwa janji Allah tetap benar (bahwa akan ada kelanjutan, peradaban, dsb.) dan cara terjadinya janji itu sepenuhnya bukan urusan dia.
Menariknya, nggak ada doa dengan pengharapan spesifik saat melaksanakan perintah menyembelih Ismail.
Kan waktu ninggalin Hajar dan Ismail di Bakkah, kita masih mendengar doa-doa yang spesifik ya, kayak minta keamanan, minta rezeki, minta hati manusia condong kepada mereka, dan minta dijauhkan dari penyembahan berhala. Artinya di sana Ibrahim masih mengartikulasikan harapan supaya Allah menjaga mereka dengan cara ini, ini, dan ini.
Tapi di kisah penyembelihan mah nggak ada, Al-Qur’an nggak mencantumkan monolog emosional kayak gitu. Ibrahim nggak lagi meminta skenario alternatif, nggak lagi menyebut outcome yang diharapkan, maupun mencoba merumuskan bentuk penyelamatan. Beliau bahkan nggak tahu lagi harus meminta bagaimana. Zero expectation. Beliau bener-bener berlepas diri dari ketergantungan terhadap makna yang dibangun dari objek itu. Penyerahan total. That's so crazy, man!
(aduh kenapa yah agak familiar dengan perasaan ini, dengan scalability yang lebih kecil sih wkwk that's why kayaknya aku bisa menulis ini dengan baik.. karena bisa eskalasi konteksku kalo ditarik ke scope konteks Ibrahim yang lebih megah dan luhur)
Dan justru malah Ismail yang berdoa, "mudah-mudahan kau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Ah, betapa indahnya kalimat itu. Bayangin betapa nangis bangganya Ibrahim. Bangga pada Hajar yang telah mendidiknya dengan sangat baik hingga Ismail punya rasa hormat sedalam itu kepada ayahnya dan kepada Allah. Bangga pada Ismail bahwa risalah itu benar-benar sudah hidup di dalam diri anak ini.
TAPI JUGA JADI MAKIN SEDIH DAN NYESEK. Kek.. serius nih Ya Allah.. anak sesholeh ini, anak se-"udah jadi" ini justru harus dieliminasi dari rencana semegah itu, (apalahh aku nangis lagi), dan kalau ngedidik anak baru yang lain pun belum tentu nyampe kualitasnya segini, apalagi usia Ibrahim semakin tua juga (dan ingat ya, belum ada Ishaq juga saat itu).
Qur'an merangkum dinamika ini melalui dua pernyataan Ibrahim yang sangat mirip. Di surat Al-An'am : 78 (إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ) dan di surat Az-Zukhruf : 26 (إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ). Tapi kedua ayat itu pakai mufrodat yang berbeda untuk frasa "berlepas diri".
Ust. Nouman Ali Khan bilang, barii’ (بَرِىٓء) adalah kata sifat. Seseorang yang 'tidak terkait' disebut barii’ (بَرِىٓء). Sedangkan kata yang digunakan dalam Surat Az-Zukhruf adalah baraa' (بَرَآء). Dan baraa' (بَرَآء) dalam bahasa Arab bukan 'seseorang yang tidak terkait', tetapi gagasan 'ketidakterkaitan' itu sendiri. Levelnya udah berbeda. Mudahnya, di film Cars, alih-alih mengatakan, "I am really fast," Lightning McQueen justru mengatakan, "I am the speed itself."
Dalam satu kasus, Ibrahim berkata, "aku tidak terkait dengan itu". Di kesempatan lain, dia berkata, "aku adalah konsep 'ketidakterkaitan'/detachment/disassosiation itu sendiri." Nah kalau lihat timeline, barii' vs baraa' ini adalah before vs after beliau menjadi nabi.
Jadi setelah kenabian, seakan dirinya menjadi manifestasi dari "berlepas diri" itu sendiri. Maka, sejak itulah hidup Ibrahim sendiri dibentuk menjadi proses pelepasan terus-menerus. Cocok ya, dengan benang merah kisah beliau dalam Qur’an, mulai dari syirik (udah jelas lah ya harus berlepas diri dari itu mah), ayahnya, kaumnya, negerinya, istrinya, anaknya, kontrol atas rencananya, bahkan logika dan perasaannya sendiri. Setiap ujiannya adalah pendalaman makna baraa’ itu sendiri.
Di kemudian hari kita mengenal istilah al-wala wal-bara. Pada Ibrahim, dua-duanya berjalan beriringan. Semakin dalam bara'-nya, semakin total pula wala'-nya. Artinya kita nggak akan bisa berserah total untuk sesuatu, kalau kita belum bisa berlepas total dari sesuatu yang lain. Pantesan aja beliau disebut khalilullah karena hatinya telah dikosongkan dari tandingan-tandingan loyalitas itu.
Grandmaster Ginger di chess(dot)com mengatakan,
"A queen sacrifice means we have to bravely give up our most important piece in order to create some magic on the board."
Queen sacrifice sebagai brilliant move memang sangat sulit ditemukan. Wajar aja kalau di momen penyembelihan, Ibrahim pun nggak nemu kalkulasi sejauh itu dengan variabel-variabel yang juga masih se-hidden itu.
Namun magic on the board itu datang kemudian. Ismail diganti dengan sembelihan lain, Ishaq lahir, Ka'bah pun dibangun. Dan rangkaian al-wala' wal-bara' satu keluarga itu akhirnya diabadikan dalam satu rukun Islam yakni ibadah haji.
Siapa sangka, ribuan tahun kemudian, jutaan manusia masih berlari kecil mengikuti jejak Hajar, masih menyembelih hewan kurban untuk mengenang kepatuhan Ibrahim dan Ismail, dan masih menghadap Ka'bah yang berdiri di lembah yang dulunya tak bisa ditaruh ekspektasi apa-apa. Satu keluarga ini pun selalu disebut oleh milyaran manusia dalam sholat.
Masih sangat banyak yang bisa diperas dari cerita ini. Belum kubahas bagaimana perspektif Hajar dan Ismail sebagai subjek sekaligus objek ujian. Belum pula kubahas Ismail dan Ishaq sebagai dua operator yang menjalani misi spesifik berbeda dengan spesifikasi berbeda. Tapi ini dulu aja. Kekeliruan datangnya dari Giza, kesempurnaan dan kemegahan datangnya dari Allah.
— Giza, overwhelmed banget sama kemegahan kisah-kisah ini, gokil juga udah lama nggak processing sesuatu sekenceng ini. Thanks to seseorang yang menginspirasinya bermain catur. Also thanks to Hikaru Nakamura, streamer catur yang menyenangkan untuk ditonton.
Mari berterima kasih atas batas yang kita bangun agar selamat—bahkan, terutama—dari satu sama lain. Sebab jika batas melebur, yang tak diundang pun mudah tinggal.
Seperti rayap dalam kayu yang membuatnya tak mampu menopang cita-cita. Cukup untuk meruntuhkan. Seperti lubang di lambung kapal yang membuatnya tak mampu berlabuh di tujuan. Cukup untuk menenggelamkan. Seperti karat pada besi yang menggerogoti bulatnya tekad. Cukup untuk melemahkan. Seperti benalu pada pohon yang menyerap habis sumber daya. Cukup untuk membuatnya mati konyol di tengah jalan.
Kesemuanya jelas bukan proses yang kita kehendaki, sebab aku dan kamu tampaknya lebih dari siap melihat satu sama lain memenangkan kehidupan dan kematian. Terima kasih telah bercita-cita tinggi sehingga kita tidak jatuh dalam kehinaan. Terima kasih telah memandang ketetapan Tuhan dengan cara yang baik sehingga kita dapat melangkah dengan ketenangan.
Merdekalah—aku tahu berlepas diri bukan hal yang baru bagi kita. Berkaryalah—aku tahu kita masih dengan sukacita melakukannya hingga hari ini. Berkaryalah, lagi—aku tahu hal-hal yang tak diundang tadi tidak dapat menghentikan kita.
Semoga dedikasi kita pada Sang Kuasa bersemi di setiap musim. Semoga Allah senantiasa murnikan masing-masing dari kita. Semoga Allah luruskan cara kita merasa, berpikir, dan berlaku. Semoga Allah menambahkan kasih sayang yang berkelimpahan.
— Giza, dengan hormat dan terima kasih
Semoga setiap "enggak apa-apa, bismillah" bisa meluaskan hati kita sehektar demi sehektar :")
write something pls..
hajimemashite!
nama: chameleonchamel
usia: 25 tahun
cita-cita: menjadi seperti buroq
dōzo yoroshiku onegaishimasu 😌🙏🏻
Kesedihan bisa dibagi, kesabaran tidak.
Ada kutipan yang sempat lewat di linimasa, katanya, "kalau kamu lagi struggle kerja, ceritanya sama yang lagi kerja. Kalau lagi struggle skripsian, ceritanya sama yang lagi skripsian. Kalau udah nikah, ceritanya sama yang udah nikah." Dan seterusnya.
Kupikir itu menarik soalnya kalimat itu (kayaknya) lahir dari kesadaran bahwa orang-orang lebih gampang saling ngerti kalau ada di struggle yang sama atau di jalur kesabaran yang sama. Karena level understanding-nya nggak jauh beda, kemungkinan untuk disepelekan, disalahpahami, atau di-judge itu jadi kecil.
Ungkapan untuk empati sering banget kita denger, kayak, "I'm happy for you," atau "I'm sorry for you" dan semacamnya. Kita bisa marah untuk orang lain. Kita bisa ikut sedih atas nestapa orang lain meski kita nggak mengalaminya. Tapi kita nggak pernah bisa ikut bersabar atas ujian orang lain yang nggak sedang kita hadapi. Kita nggak pernah benar-benar bisa memikul beban ujian orang lain. Dan orang lain pun nggak bisa melakukannya untuk kita.
Karena nggak ada yang bisa melangkah menggantikan kaki orang lain, hal terbaik yang bisa dilakukan mungkin cuma menemani, menguatkan, dan mendoakan. Soalnya tetep aja, yang berdiri di garis depan mah, orang itu sendiri. Yang bernegosiasi dengan rasa pahit setiap malam dan bangun untuk melanjutkan hidupnya, tetap orang itu sendiri.
Kesedihan mencari telinga. Kesabaran menuntut punggung. Dipikir-pikir pahit dan getir. Mungkin karena itulah orang-orang yang sedang diuji terbiasa menengok ke belakang alias melihat orang-orang yang pernah sampai lebih dulu, "oh, ternyata bisa ya dilewati."
Bahkan kadang kalimat "sabar ya," bisa terdengar menyebalkan ketika keluar dari orang yang nggak sedang memikul ujian itu. Terlalu ringan untuk beban yang sedang berat-beratnya. Aku sampai sadar, betapapun seseorang jago akrobat diksi, perasaan getir dan pahitnya mah cuma bisa dijembatani oleh orang yang pernah di titik yang sama.
Yang bikin sabar kerasa makin berat juga karena sebagian besar ujian susah didekati/di-approach secara kognitif. Maksudnya, nggak bisa dijelasin dengan sebab-akibat yang rapi. Terlalu banyak variabel luar yang nggak bisa dikontrol dan dipelajari, belum lagi kalau ada hidden variabel. Terlalu banyak yang bahkan nggak kita tau harus mulai dipikirin dari mana. Logika juga udah cape duluan kali.. karena mentok di tengah jalan. Dalam beberapa momen, pikiran sampai nggak cukup kuat untuk menopang hati.
Terus apa yang bisa kita andelin di titik itu?
Iman emosional (ini mah terminologi pribadi Giza aja), yang sifatnya cenderung afektif juga fluktuatif. Kalau sering denger orang Sunda mah, bilangnya, "muntang ka Allah." Semacam.. kepercayaan karena ingin ditemani Allah aja. Entah kenapa, selalu ada rasa aman saat punya kebergantungan semacam ini, meski nggak paham, lagi di bawa kemana atau mau ditunjukkin apa sama Allah. Di sisi lain, iman rasional (ini juga terminologi pribadi Giza aja), yang sifatnya kognitif bukan berarti nggak guna. Itu juga justru jadi jangkar buat kita tetep waras.
Sebagai orang yang gampang marah/sedih untuk orang lain, aku akhirnya cuma bisa bayangin, "berapa lama ya orang ini udah sabar?" Soalnya si gue mah pasti bebeledagan. Misal hari ini gue day 1 bersabar, besoknya pasti bukan day 2, tapi ngulang lagi day 1 karena gagal sabar di hari pertama wkwk.
Lebih tinggi dari empati, aku ingin sekali menaruh hormat pada orang-orang yang tetap menghormati ketetapan dari Tuhannya, betapapun ujian itu terasa seperti menggenggam bara api. Karena kalau aku yang di posisi itu, belum tentu bisa.
Hormat juga berarti aku sadar batas bahwa perjuangan sebagian orang nggak minta ditafsirkan, apalagi dijadiin pelajaran cepat saji. Selain itu, juga berarti membiarkan seseorang memikul ujiannya dengan caranya sendiri, tanpa aku paksa masuk ke dalam kerangka pikirku.
Sejujurnya dengan ini, jadi ngerti struggle-nya Hajar. Pahit dan getirnya mungkin nggak kerasa heroik atau spektakuler seperti ibadah-ibadah aktif lainnya kayak perang atau dakwah. Tapi bayangin, di gersangnya hari-hari tanpa pengakuan, Allah sendiri yang menghargai kesabaran itu. Kalimat Hajar pun jadi nyata, "sungguh Allah takkan menyia-nyiakan iman kami."
Aku tahu, ke depannya, cepat atau lambat, struggle-ku juga akan semakin berat. Semoga Allah tetap karuniakan rahmat berupa ketenangan dan kesabaran di titik itu, meski akan ada banyak hal yang nggak masuk akal. Soalnya menurutku kesabaran adalah topik yang cukup susah didekati secara kognitif kalau aku belum ngerasain itu. Beda dengan hal-hal lain yang kupikir masih relatif mudah. Dan bahkan mungkin kalau udah ngerasain, aku nggak perlu lagi terlalu ngeteoriin sabar.
Untuk siapapun yang sedang diuji, dengan hormat, Giza ingin bilang, "seperti doa Ismail, mudah-mudahan Tuhan mendapatimu, serta kau mendapati dirimu sendiri, sampai akhir, termasuk orang-orang yang sabar. Dan mudah-mudahan pahala dan kebaikanmu memanjang di dalam waktu, seperti buah kesabaran Hajar."
Kalimat itu, mudah-mudahan berguna juga untukku jika diuji dengan yang lebih berat daripada hari ini.
Mari saling menjaga agar perjuangan orang lain tidak kita perkecil hanya karena kita tidak hidup di tubuhnya. Mari saling menyertai dan menjadi agen tawashou bilhaq wa tawashou bisshabr untuk satu sama lain. Lagi-lagi, dunia sudah kejam dan (selain Allah) kita hanya punya satu sama lain untuk selamat.
— Giza, menghormati perjalanan hidup manusia lain.
Tuhan Tidak Tendensius
Ada saat di hidup kita, ketika satu kejadian pahit terasa cukup buat bikin kita yakin bahwa Allah sedang melawan kita dan memihak orang lain. Misalnya, doa yang tak kunjung dikabulkan, orang terdekat yang tiba-tiba pergi, takdir menyenangkan orang lain yang keliatan lebih effortless, atau kegagalan yang meruntuhkan semua harapan dan rencana. Tampaknya, semua hal dibuat sulit hanya untuk kita dan orang lain tidak. Jelas geer murahan yang tidak reliabel, yang kita klaim sebagai fakta, padahal itu bias dari sampel tunggal bernama hidup kita.
Agak ngeri juga ya, nantangin by one sama Tuhan Semesta Alam :v
Kita pernah jadi peneliti tolol yang semena-mena bikin kesimpulan besar dari sampel tunggal (yakni pengalaman pribadi). Dalam penelitian, kalau cuma punya sample size = 1, hasilnya nyaris tidak bisa dipakai buat generalisasi, sebab pengalaman pribadi hanyalah satu data point dari "big data" ciptaan Allah. Sedangkan Allah punya akses ke seluruh populasi baik itu masa lalu, masa kini, masa depan, yang kelihatan, maupun yang tersembunyi. Jadi keputusan Allah selalu berdasarkan n = ∞.
Kalau n (jumlah sampel) kecil, maka akurasi rendah, hasilnya bias, dan margin of error besar. Sebaliknya, kalau n besar maka akan mendekati populasi, hasil makin akurat dan representatif, kesimpulan makin bisa dipercaya.
Sekarang, kita punya dua kasus.
Pertama: "kalau kita terluka, maka Allah jahat". Ada banyak bias di pernyataan ini. Negativity bias (satu sakit bisa "menghapus" seribu nikmat sehat sebelumnya), availability bias (pikiran cepat banget mengakses pengalaman yang paling segar/menyakitkan karena data itu yang paling gampang muncul di memori), egocentric bias (semua hal ditafsirkan dengan diri sendiri sebagai pusat), ditambah jumping to a conclusion. Kurang bodoh apa?
Kedua: "kalau kita bahagia, maka Allah sedang berpihak pada kita." Lebih enak sih kedengarannya, tapi tetap pakai cara pikir yang sama dangkalnya. Ada banyak bias juga di pernyataan itu. Confirmation bias (kita suka "menemukan bukti" sesuai keinginan hati), self-serving bias (klaim seolah-olah semesta revolve around me), egocentric bias, lagi, (tolok ukur "Allah baik" diambil dari kenyamanan pribadi, pusatnya ego lagi), dan overgeneralization.
Sama-sama geer, cuma kali ini geernya dibungkus syukur palsu, soalnya lagi-lagi penilaiannya subjektif, bergantung pada mood dan pengalaman sesaat. Plus, dua-duanya pakai ukuran diri sendiri sebagai standar mutlak. Dua-duanya pakai sampel tunggal untuk menilai "populasi" sebesar Allah. Cara pikir kaya gitu memang aneh/keliru, karena pakai logika manusia bias untuk menilai Zat yang tidak terbatas.
Jadi, apa bukti Allah itu baik?
Kalau pakai logika sampel tunggal (n = 1), kita bakal jatuh ke jawaban sepotong, "karena aku pernah senang, karena doa aku pernah dikabulkan, karena aku sehat hari ini." Jawaban itu rapuh karena besok kalau sakit lagi, logika yang sama bisa dipakai untuk bilang "Allah jahat".
Kalau pakai logika populasi (n = ∞), maka Allah punya seluruh data, dan kebaikan-Nya mencakup seluruh aspek. Jadi bukti "Allah baik" tidak berdiri pada 1 pengalaman, tapi pada keseluruhan realitas.
Allah dan Kerangka Empirisme
Jadi, bukti Allah baik bukan cuma soal empiris. Dan sebenarnya Allah tidak bisa didekati secara empiris. Kenapa? Karena Allah bukan objek sains.
Objek sains itu:
Terdefinisi (ada kesepakatan jelas tentang apa itu)
Bisa diukur (kalau bisa diukur, berarti ada batasnya)
Ada di ruang dan waktu (bisa kita jangkau untuk diuji)
Sejak awal, Allah sudah mendefinisikan dan memperkenalkan diri-Nya sebagai Sang Maha. "Maha" artinya tak terbatas, dan yang tak terbatas itu tidak bisa diukur.
Sekarang bayangkan, logika macam apa yang ingin coba mengukur sesuatu yang Maha? Penggaris macam apa yang ingin kita pakai? Manusia jelas tidak punya instrumen yang valid untuk menakar sifat atau keputusan Allah. Pada kerangka apa kita ingin menguji Tuhan? Perkara bodoh dan dangkal, kan?
"The absence of proof is not proof of absence."
Ketika kamu merasa tidak punya pengalaman pribadi yang bisa dipakai sebagai evidence kebaikan Allah, jangan berhenti di situ. Ketiadaan bukti bahwa "Allah baik" di hidupmu, bukanlah bukti Allah tidak baik.
Bisa jadi datanya ada, tapi kita belum sadar atau belum punya syukur di hati. Atau bukti itu baru akan muncul nanti, atau Allah sengaja sembunyikan demi hikmah yang lebih besar.
Terus gimana kalau belum nemu bukti itu?
Sadar posisi bahwa kita terbatas. Kita hidup dengan "sample size = 1" yang artinya data yang kita pegang itu sangat sedikit dibanding "populasi" realitas yang Allah pegang. Selanjutnya, latih cara dan gaya pandang. Carilah tanda yang mendekatkan diri untuk mengenal-Nya.
Itu sebabnya, saat Allah memerintahkan Iqra' (bacalah), Dia tidak bilang "iqra' rabbaka" (bacalah Tuhanmu) Tapi "iqra' bismi rabbik" (bacalah atas nama Tuhanmu)
Artinya, Allah nyuruh kita membaca ciptaan-Nya, tanda-tanda-Nya, ayat-ayat di alam (kauniyah) dan dalam wahyu (qauliyah), untuk mengenal Allah, bukan untuk "mengukur" Allah dengan keterbatasan alat sensori dan persepsi kita.
Maka itulah pentingnya kenalan sama Allah sebelum menerobos realitas. Supaya dalam kedukaan dan keterlukaan pun, kita tetap memiliki rasa hormat kepada Allah, bahwa Allah Maha Bijaksana atas setiap pengambilan keputusan-Nya. Supaya sabar lebih dapat didahulukan daripada marah, menuntut, dan protes. Supaya tidak jadi orang sotoy dan menggurui Allah.
Dan dalam kebahagiaan pun sama. Supaya kita tidak buru-buru merasa semua nikmat adalah hasil usaha sendiri, atau geer bahwa Allah lebih sayang pada kita dibanding orang lain. Supaya syukur lebih didahulukan daripada sombong, bangga diri, atau meremehkan cara hidup yang lain.
Allah al-Wakil bertindak atas dasar populasi total, yang mempertimbangkan semua variabel, semua waktu, semua konsekuensi. Keputusan-Nya mencakup keseluruhan realitas, bukan cuma fragmen hidup seseorang saja. Jadi jangan buru-buru menyimpulkan Allah tidak baik hanya karena hidupmu belum terasa "dibuktikan" oleh-Nya.
Kalau pengen dipihak oleh Allah, gimana? Banyak caranya di Qur'an, salah satunya bersabar. Kalimatnya jelas, "inna Allaha ma'a shabirin".
Sabar adalah jenis sikap yang sangat bergantung pada kerangka waktu. Artinya, kita tidak menyerah terhadap Allah. Kita tidak buru-buru mundur saat mengenal Allah meski belum paham. Kita tidak mengedepankan logika, nafsu, ego, dan apapun yang sifatnya menambah kesombongan, meski belum dapat hasil. Lagian, makin sombong kita, makin tidak dikenali kita sebagai hamba. Makin susah mengenal diri as human being. Dan makin susah pula berteman dengan sesama human.
Banyak orang cepat kecewa lalu mundur dari iman hanya karena satu episode pahit. Sabar juga berarti tidak kabur hanya karena logika sesaat belum nyambung, dan menahan diri dari dorongan instan yang biasanya bikin kita nge-judge Allah. Banyak tafsiran lainnya lagi soal sabar, baca-baca aja di mana-mana.
Akhir kata, mari kita benahi pemahaman tentang qadha dan qadar, serta konsep diri sebagai manusia yang punya akal dan kemampuan memilih. Supaya ngerti betapa objektif dan tidak memihaknya Allah dalam penyusunan algoritma qadha dan qadar dan penempatan manusia di dalamnya.
Kedua pemahaman ini, jika dikombinasikan, bisa melahirkan sikap haunan, seperti Nabi Adam dalam doanya, rabbana dzalamna anfusana dst.
Life’s path is no fixed line; it is shaped by co-contributors who navigate its branching roads.
(Artinya, bukan Tuhan yang jahat, elu aja yang dzalim ke diri sendiri. Output lu itu bergantung input dan decision making yang lu pilih sendiri. Jangan salahin Tuhan kalo hasilnya malapetaka dan bencana. Stop ngerasa jadi korban di masalah yang lu buat sendiri.)
— Giza, tulisan ini isinya kayak marah-marah tapi jujur emang berangkat dari rasa kesel sama orang-orang masa kini yang asbun soal Allah padahal ga kenal Allah. Iqra lagi sono, jangan cinta-cintaan mulu. Giliran terluka nyalahinnya Allah.
Dapat kaidah bagus dari kitab الطب النبوي karya Imam Ibn Qoyyim Al Jauziyah
وكل روح تميل إلى ما يناسبها
"Every soul incline toward what suits it, setiap jiwa akan cenderung kepada apa yang sesuai dengannya"
Kaidah ini terdapat pada bahasan soal anjuran berminyak wangi, karena malaikat sangat menyukai dan dibenci oleh syaithan.
Dijelaskan, jika jiwa itu baik maka dia akan menyenangi wewangian yang baik, tapi jika jiwanya buruk maka dia senang terhadap bau yang buruk
Kemudian beliau mengutip ayat 26 dalam QS An Nur :
فٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ
Maka penting untuk kita menjaga jiwa selalu dalam fitrahnya yaitu kebaikan, agar selalu bersemangat melakukan hal-hal baik, dijaga dalam lingkungan yang baik, dipertemukan dengan seseorang yang baik
*catatan : kitab tersebut milik Mas Ipar, yang telah lulus dari Madinah, semoga Allah menjaga keluarganya selalu
Raw(r) lagi
mau cerita random tapi lewat screenshots, so here we go
1. ngakak bener, ternyata ini visualisasi dari kata-kata yang selama ini rangorang ucapkan pas idul fitri 😭
2. insight baru, interesting enough
3. waktu itu sempet nangis kejer karena ketakutan dan kesel sama ayah karena dihadapkan dengan (pertanyaan) realita kehidupan
4. sempet ditanya tentang ini sama temen, terus ngerasa jawabanku waktu itu sangat tidak bijak and i realized i still have much to learn
5. one of my favorite keluarga di ig, salah satu yang bikin aku pengen sayang sama kucing. bapaknya pilot dan compassionate sama keluarganya, salut banget sama laki model begini. ibunya warm, suka banget sama gaya dan kata-kata yang dipilih buat menyampaikan apa yang ada di hati dan pikirannya. tapi again ya saya cuma liat dan nilai dari apa yang nampak aja ya yeorobun 🥲🙏🏻
6. the caption/the words represent what's on my mind as i grow older, also when i watch "when life gives you tangerine" yang bikin w nangis every single episode, lumayanlah buat melunakkan hati 👍🏻
7. 💔
8. buat rangorang yang masih menyimpan namaku dalam hati dan pikirannya sebagai teman, terima kasih banyak-banyak. aku sadar diri kalau berteman sama aku yang freak ini sangat tidak mudah 🙏🏻 sering ngerasa not deserve to be loved, to be cared for, and not deserve any kindness in this world, tapi thanks to Allah yang sudah menghadirkan berbagai bentuk kasih sayang-Nya dan salah satunya adalah teman yang baik
cuma bisa 10 gambar ternyata, sampe disini dulu aja berarti 🤍🐯
Tidak ada yang tetap di dunia ini kecuali perubahan. Jangan menolak perubahan hanya karena Anda takut kehilangan yang telah dimiliki.
-Buya Hamka
Raw(r)
hari kamis kemaren aku dateng ke sidang magisternya kating, terus di akhir tuh kaprodi pascasarjana mempersilahkan salah satu evaluator buat menyampaikan semacam nasihat/petuah gitu evaluator ini tuh beliau salah satu dosen kimia fisik, dulu aku kuliah kimia komputasi sama beliau, dan beberapa matkul lain juga yang banyaknya ngga terlalu inget apa isi kuliahnya 🥲🙏 tapi aku inget beliau tuh salah satu yang merekomendasikan aku buat jadi delegasi waktu ada akreditasi internasional prodi s1 cuma karena katanya bahasa inggrisku bagus waktu bacain soal di lomba yang diadain sama himpunan untuk anak sma wkwkwk padahal mah itu kan cuma bacain teks ya jadi mudah ngga sih? kalau disuruh ngomong tanpa teks mah beda cerita lah ahahah, tapi aku jadi sedikit percaya diri waktu itu karena kata katingku, beliau itu kuliah PhD nya di UK jadi penilaiannya jangan dianggap sepele gitu katanya yha mon maap itu baru intermezzonya ya, karena pas denger nasihat beliau tuh aku jadi me-recall impresiku selama ini kaya gimana gitu ke beliau tuh. dulu salah satu kating yang pernah jadi sc-ku di salah satu acara himpunan pernah bilang dia tuh semacam ngefans/kagum kali ya sama beliau, meanwhile aku ngerasa ngga relate saat itu karena matkul beliau tuh agak di luar kemampuan aku buat memahami saat itu ya (((kimia fisik atuh da))), membahas persamaan schrodinger etc. yang sampai sekarang juga ternyata masih belum mengerti 🤧 tapi again itu karena sempitnya pandangan aku juga sih ngenilai dosen dari cara mengajarnya aja hehe (atau simply karena emang belum ketemu moment buat kenal lebih aja kali ya), tapi intinya pas denger beliau ngomong nasihat buat kating s2 yang selesai sidang kemarin, aku jadi... doa terbaik buat bapak beliau bilang, "atom (unsur) itu akan berubah bergantung pada kondisinya, baik dalam asam atau basa. tapi apa coba yang ga berubah? intinya (inti atomnya). kita juga sama, mau dimanapun kita berada, mau S.Si., mau M.Si., atau PhD. sekalipun, inti kita gaboleh berubah. inti kita tuh apa coba? nilai (value) yang kita pegang." walaupun mungkin ceritanya biasa aja, bahkan isi nasihatnya juga biasa aja, gapapa. soalnya buat aku nulis yang sekarang ini tuh, buat mendobrak diri dan menyuburkan rasa syukurku sama Allah dulu, lagi, dan seterusnya
so so soooo much khayr behind delays.
Tahapan Dalam Belajar Skill Baru
Ketika kamu pertama kali belajar sesuatu, motivasi kamu meningkat. Rasanya skill baru ini tidak sesulit yang orang-orang bilang.
Ini adalah tahap "Hand holding honeymoon".
Setelah berjalan beberapa lama, kamu mulai menemukan masalah-masalah yang sulit dipecahkan. Muncul skenario-skenario yang ngga dijelasin dari text book atau tutorial.
Kamu berada pada "cliff of confusion". Di sini, confidence kamu mulai menurun.
Semakin kamu menggali ke dalam topik yang kamu pelajari, rupanya masalah yang kamu temukan semakin kompleks, sementara petunjuk jalan keluar semakin sedikit.
Di sini kamu mulai frustrasi, hilang arah, dan mungkin putus asa.
Inilah "desert of despair".
Kalau kamu cukup persisten untuk menemukan dukungan dan solusi yang kamu butuhkan, kamu akhirnya akan sampai pada tahap di mana kompetensi dan kepercayaan diri kamu meningkat lagi,
Kamu sudah jauh lebih pandai dari sebelumnya, confidence level kamu berada pada titik yang sehat.
Kamu berada pada tahap "upswing of awesome".
Gimana cara melalui semua itu?
Di awal, eksplor banyak pilihan sumber pembelajaran. Tujuannya untuk mencari pembelajaran yang kamu bisa komit sampe akhir.
Cari temen belajar. Gabung ke komunitas. Tujuannya supaya punya akuntablitas (lebih bertanggung jawab menyelesaikan pembelajaran) dan belajar dari orang lain.
Start small dan bangun kebiasaan belajar. Daripada belajar 1x sepekan, lebih baik belajar setiap hari meski sedikit demi sedikit.
Milikilah tujuan yang jelas dan bener-bener kamu inginkan. Kenapa kamu mau belajar ini? Apa yang ingin kamu capai? Mau jadi orang seperti apa kamu?
Pastikan sumber pembelajaran kamu bisa mengantarkan kamu sampai tujuan. Pelajari dengan kritis kurikulumnya. Cek kredibilitas dan portofolio sumber pembelajaran kamu.
Fokus. Selama belajar, mungkin kamu akan nemu hal-hal menarik lainnya. Kalau kamu masukin tanpa meregulasi diri, itu bisa jadi rabit hole yang membawa kamu semakin dalam, tapi semakin jauh dari jalan utama. Jadi sadari dan batasi sampai sedalam apa kamu mau mengikuti rabit hole itu.
Ikutin best practices. Cari gimana orang-orang di industri melakukan sesuatu dan ikutin aja dulu. Nanti ada masanya kamu bisa bikin cara kamu sendiri yang menurut kamu lebih baik, tapi itu bukan sekarang.
Sekian dan terima kasih.
Sumber gambar.
Living in silence
Jika hal ini membuatmu berprasangka, maafkan aku.
Di usia ini, keinginan untuk posting-posting itu sudah semakin berkurang. Hanya sesekali saja, itupun jarang dan seringkali dihapus setelah beberapa jam.
Dan juga semakin jarang buka-buka post orang lain di sosmed manapun. Entahlah sudah tidak lagi penasaran. Walaupun sesekali membuka untuk tahu kabar keluarga atau teman lama. Tetapi ini jarang sekali.
Dan dua hal itu membuatku sangat tenang.
Tidak merasa berkewajiban membuka post atau like dan agar aku juga tidak berharap mereka akan melakukan hal yang sama.
Just living in silence, hidup dalam hening.
Aink juga lagi gini, paling ke Ig buat posting tanaman sama hewan🤣🌵
Ngomong2 posting, aing malah kebalikannya.. agak nyesel jaman dulu pas di luar negri gak sering ngepost IG. Banyak memori yang udah mulai hilang,, tapi waktu itu dark ages banget juga sih.. jadi nggak kepikiran juga aja.
Sekarang posting di IG buat sekedar mengingatkan kalo tahun2 aing tuh nggak berlalu begitu saja tanpa ada jejak. Supaya gak merasa “taun lalu udah lewat aja tapi rasanya nggak ngapa2in.” Soalnya ternyata aing tipe yg walaupun pada saat itu udah in the moment, tp kalo gak tercatat bisa gampang hilang dari memori.
Kalo liat progress2 w yang gue sematkan di highlight di setiap milestone, jadi teringat aja kalo ternyata tahun yg berlalu gak kosong2 amat..
Ya walaupun yg liat dikit. Folower aing di IG juga dikit wkwkw. Gapeduli.
Kadang mau nulis di buku harian kan, tapi kalo lagi pergi2 gak selalu ada akses kesana. Paling gampang IG.
lagi-lagi balik ke niat/tujuan kali yaa
sering ada di fase tulisan pertama, tapi kadang kepikiran juga kaya tulisan terakhir
tapi lebih seringnya, pas mau ngeposting sesuatu-ovt-lupa/terdistraksi hal lain-gajadi ngepost👍🏻arrghhh