December Tears
Kalau boleh jujur, aku lelah berada di zona abu-abu, terjebak di zona ini seperti sebuah keharusan yang terjadi. We are more than friends but less than a lover. Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya tiap hari? Ia mengantarku pulang, menemaniku ke tempat kerja, makan bareng, melakukan hal bodoh bareng, sampai moment favoritku ketika hujan lebat dan kita terjebak di kemacetan ibukota sambil deeptalk about life. Setelah itu selalu ada kecupan dan pelukan hangat dari dia setiap kali aku akan turun dari mobilnya. Ofc I feel something between us...
Ada sedikit cemburu saat aku mendengar ia jalan bareng dan nonton bareng teman organisasinya hingga larut malam. Karena Jakarta saat malam hari itu, indah banget. Beruntung temannya bisa menghabiskan waktu bersama dia sambil menikmati Jakarta di malam hari. Aku kapan ya...
Namun juga ada sedikit lega ketika ia selalu mengabariku kabarnya dan kemana ia akan pergi tiap harinya. Selalu melegakan namun serasa ada yang mengganjal tiap diri ini bilang "Hati-hati di jalan". Memangnya aku siapa...














