Pak Dokter, Saya Mau Kamu Abadi
di sekitaran dekat rumah saudara saya, ada sebuah praktek dokter yang sederhana. disana gak ada pamflet praktek dokter yang biasa di pasang untuk menandakan adanya praktek dokter disana lengkap dengan nama, gelar dan spesialisasi.
waktu itu saya nemenin saudara saya kesana. tempatnya biasa aja, gak ada pernak-pernik lucu atau konsep wah yang membuat praktek dokter itu bagus. tapi begitu sampai sana, saya takjub, itu udah jam 9an malam. tapi pasien masih puluhan sepertinya yang ngantri. sampai saya gak dapat tempat duduk. super rameeeee kirain ada pengajian malah -,-. yang datang pun dari berbagai usia, daerah sampai katanya pernah didatangi dari Belanda, kalangan, dari bermobil alphard sampai tukang becak pun ada, jenis kelamin, jenis penyakit dan lainnya. saya heran, apasih yang membuat dokter ini bisa sebegini rame? entahlah saat itu tante saya cuman bilang “berobat sama dia bagus.”. ya udah saya gak ambil pusing.
pusingnya saya adalah ketika giliran saudara saya ini masuk, malah yang boleh masuk hanya yang sedang sakit dan ibunya saja. saya dan adiknya yang sakit itu ya menunggu di luar. padahal tadinya pingin tahu kayak apa sih wajah dokter dan cara dia mengobatinya kenapa sampai serame itu.
itu kejadian udah lama. setahun lalu mungkin lebih.
sekarang, barusan aja saya nemu artikel yang menulis tentang si dokter ini. saya baca. awalnya saya gak tahu itu dokter yang dekat dengan rumah saudara saya itu tapi setelah saya baca alamat prakteknya dan namanya yang tidak asing bagi saya barulah teringat dan…
maklum pelupa. tapi tumben aja kali ini ingat.
saya baca dan saya takjub. dokter yang kata saudara saya itu tegas ternyata memang benar. baik hati dan ikhlas memasang tarif. tidak ada tarif khusus atau apalah-apalah itu. cukup masukkan ke amplop dan sudah lah seikhlasnya saja. banyak dari cerita orang yang mengaku sembuh dan ampuh ketika berobat dengan beliau. ada orang yang hampir operasi usus buntu tapi ketika berobat ke dokter ini gak di operasi dikasih obat yang bisa jadi obat itu racikan dia sendiri karena beliau juga farmakolog ataupun dikasi resep obat yang mana harga obat tersebut tidak mahal dan alhamdulillah sembuh.
entah, saya heran dengan dokter berpenampilan sangat sederhana dan islami ini yang juga salah satu guru besar di universitas negeri di kota saya, darimana dia bisa menghidupi semua keluarganya dan anak-anaknya bahkan ada yang menjadi dokter juga dan sarjana lain. tidak berdagang katanya, tapi bagaimana mungkin masih bisa tetap hidup baik-baik saja dengan pasien yang bahkan ada yang membayar hanya 5000 rupiah????!!
well, saya tahu sebenarnya jawabannya; rezeki sudah ada yang ngatur. tapi entah saya terlalu melogikakan gimana bisa baik-baik saja hidupnya. belum lama saya memikirkan itu, saya sampai di bacaan yang cukup menampar saya,
“Allah sudah mengatakan bahwa dia itu Arrahman Arrahim (Maha Pengasih dan Maha Penyayang) dan Allah Khairurrazikin (pemberi rezeki yang paling canggih, paling baik, tak ada duaNya). Dari kecil sudah disampaikan dan hingga sekarang masuk di otakku, masuk di keyakinanku, bahwa langkah, rezeki, pertemuan, maut, hanya Allah yang tahu. Aku tak tahu Allah itu telah mempersiapkan berapa banyak rezeki samaku dan seberapa untuk kau. Dan aku tidak akan mati, kau juga tidak akan mati sebelum rezeki yang diberi Allah itu kita habiskan.“
begitu kata beliau yang saya kutip dari sebuah website resmi.
lagi. saya mikir. apa sih yang membuat dokter itu sebegitu yakin bahwa dia tidak apa-apa dengan menjalani hidup seperti itu dan sesederhana itu. tapi saya berkesan dengan prinsip hidup beliau,
“Aku yang penting tak ada utang, itu saja prinsipku.”
dokter yang pernah menempuh pendidikan gelar Ph. D di Australia pada tahun 1987 ini cukup membuktikan bagi saya bahwa beliau udah tua.
hari ini saya di tampar abis-abisan. bahwa Allah itu tidak main-main dengan rezeki hambaNya.
karena saya tahu umurnya yang sudah tua saya harap dokter seperti ini harus hidup abadi. kasian pasien dia yang puluhan bahkan ratusan setiap hari. kalau pun tidak abadi izinkan dia hidup sampai ratusan tahun dengan sehat selalu. entahlah saya gak reka dokter seperti ini sewaktu-waktu “dipanggil” untuk selamanya.
“Kalau aku boleh kasih nasihat sama kawan-kawan dokter, jangan tiru aku. Kalau pun mau, kau harus yakin dulu dengan ke-islaman. Bahwa Islam itu rahmatan lil `aalamin.”