Aku dibesarkan untuk selalu menahan diri. Rasa sedih, sakit, terluka, marah, merasa tidak adil, kecewa, dan semua rasa yang memiliki padanan kata maupun tidak, harus disimpan dalam diri, tak patut diungkapkan.
Sebab tumbuh seperti itu, sampai begini tua aku tak mampu mengungkapkan dengan benar apa yang berada dalam diriku. Kulakukan apa yang menurut orang harus kulakukan. Soal apa yang kurasa, itu wajib kutelan sendiri. Sampai mati.
Seseorang pernah mengatakan orang-orang hanya ingin dikabulkan dan dipuaskan keinginannya. Itu benar. Orang-orang seperti kamilah yang kemudian menderita tapi tetap menahan diri untuk tampak baik-baik saja.
Sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa saya sangat sedih. Itu saja. Tapi di sini, perasaan semacam itu terbiasa dikurung. Dan saya menjadi semakin tak berdaya.
Sebab lama menghilang. Mari kita mulai lagi meski berantakan.
Dalam KBBI, Yog.ya.kar.ta berarti ibu kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dikenal dengan Kota Gudeg.
Dalam otakku, Jogja berarti rumah, juga keluarga.
Jogja. Kota satu ini adalah satu-satunya kota yang bisa membuatku rindu, ingin kembali, juga menetap. Memiliki rumah di kota ini adalah impianku.
Serupa rumah, aku hapal jalan-jalan, toko-toko murah, tempat-tempat wisata, juga tempat-tempat nongkrong. Serupa rumah, aku memiliki keluarga tak sedarah. Jogja, kota yang bukan hanya menyimpan banyak kenangan, juga memiliki sebagian jiwaku.
Beberapa orang dekat yang tak tahu bagaimana aku hidup di Jogja, sulit mengerti ikatan yang kumiliki dengan kota ini. Bahkan jika seandainya aku tak bisa bertemu teman dan harus ke mana-mana sendiri, kembali ke kota ini tetap menggembirakan untukku. Dan entah bagaimana, entah kenapa, gawai menjadi nomor ke sekian, sebab menikmati Jogja adalah prioritas.
Menikmati Jogja bukan hanya sekadar pergi ke tempat wisata, bukan sekadar wisata kuliner. Menikmati Jogja adalah juga soal berinteraksi dengan orang-orang di dalamnya, soal mengikuti kegiatan literasi, soal menikmati jalanan Jogja.
Kamu ingin menerbitkan buku secara indi? Kamu bisa menghubungi Indie Book Corner, Diandra Kreatif, dan beberapa penerbit indi lainnya.
Kamu ingin belanja murah? Bisa lo ke Sakola, toko belanja yang terkenal karena setiap hari ramai bukan main, segala jenis kebutuhan fashion ada di sana, dan yang pasti murah. Bisa juga ke pasar tradisional Bringharjo, di sana kamu tak hanya bisa belanja soal fashion, tapi juga jajanan pasar yang enak-enak.
Kamu ingin belajar nulis? Bisa main ke komunitas-komunitas di Jogja. Ada Yayasan Iboekoe, KUTUB, Forum Lingkar Pena, Klub Buku Yogyakarta, dan masih banyak lagi.
Kalau soal wisata, dan kuliner, pasti sudah banyak referensi kan ya.
Oh ya, yang pasti kalian belum pernah ke Jogja kalau belum ke angkringan. Ya, angkringan ini ada setiap sudut kota Jogja. Harganya murah, juga banyak macamnya.
Kamu memintaku menulis satu kalimat untukmu, Sayang? Mana bisa aku melakukannya. Satu kalimat tak cukup jika menulis untukmu.
Sayang, bukankah kita sudah mengikrarkan masa depan bersama dengan tanah, langit, juga semesta sebagai saksi? Cobalah untuk tenang. Cobalah untuk percaya. Aku lebih suka melihatmu tertawa.
Kamu tahu, Sayang, kamu itu panas, membara, menggebu-gebu. Melelehkan jiwaku yang dingin terlalu lama. Bahkan kadang membuatku tak mengenali diriku sendiri sebab ada kehangatan yang konstan menyelimuti jiwaku. Di sini, tepat di jantungku.
Pras, sudahkah kau lihat langit hari ini?
Kuhanyutkan sepotong awan untukmu.
Awan berwarna putih dengan gelombang di sudutnya.
Awan itu telah kumantrai.
Mantra kerinduan.
Mantra itu akan bekerja jika kau mendongak ke langit.
Awan kerinduan itulah yang akan menemukanmu.
Ia akan memelukmu seperti aku memelukmu.
Ia akan mencumbumu seperti aku mencumbumu.
Ia akan bersandar padamu lama seperti biasa aku bersandar di dadamu.
Pras, sudahkah kau lihat langit hari ini?
Pras, sudahkah kau tersenyum hari ini?
Aku rindu tawamu.
Seperti yang lainnya, sewajarnya saya akan berdoa: Semoga saya, kamu, dan semua orang bahagia. Semoga dibalik masa sulit, ada jalan keluar. Semoga setelah pertengkaran, ada ikatan yang semakin erat. Semoga kita saling mengasihi, semoga kita bahagia.
Aku mainan nametest pagi ini. Dan yang muncul aku adalah perempuan yang seperti penyihir.
Aku sepakat. Aku mengejar dan berusaha mewujudkan apa yang aku inginkan. Sampai dapat atau sampai aku tahu kapan harus berhenti. Aku melakukannya sendiri, dengan kedua tanganku, dengan ramuan-ramuan, dengan sihir yang ada padaku. Kusihir seseorang yang kucintai agar ia mencintaiku lebih.
Seperti halnya penyihir, ia tak disukai banyak orang. Juga ia dikenal sebab sikapnya yang tak biasa. Aku bisa mengubah wajahku seperti siapapun, semau diriku.
Pras, aku ingin memelukmu belakangan ini. Tidak, sebenarnya setiap hari aku ingin kau memelukku. Kubuatkan teh panas dan sarapan pagi untukmu. Bayangan semacam itu seringkali hadir.
Pras, kau bilang bersabar. Aku bersabar. Aku menikmati hidupku, waktuku dengan teman, pekerjaan, keluarga, juga kesendirian. Tapi rasanya ingin segera bersamamu ketika mendadak aku merasa gusar karena sesuatu atau hal-hal tak menyenangkan lainnya. Seperti halnya aku juga ingin mendekapmu ketika salah satu dari kita meragukan janji.
Pras, kamu sedang bekerja. Pun aku begitu. Tapi pikiranku tak di sini, pikiranku di kamu.
Pada langit kutitipkan rindu. Orang dibuat bosan sebab diselimuti kabut rindu yang tak sudah-sudah.
Aku suka caramu tertawa. Juga suara serak ketika bangun tidur. Aku luluh karena perhatianmu, juga kasihmu. Kadang kamu mudah memutuskan sesuatu dalam keadaan marah. Tapi aku mencintaimu. Aku tetap merindumu.
Pernikahan.
Perasaan menjadi semacam gado-gado, campur aduk. Tapi bukan kamu jika tidak bisa meyakinkanku. Aku menantimu.
Sapaan pertama. Entah apa yang mendorongku untuk menyapamu pertama kali. Kita tak dekat, tak pernah dekat. Ingatan tentangmu hanya candaan teman-teman karena kita duduk sebangku di acara reuni dan tawaranmu mengantarku pulang di pertemuan tak sengaja 6 tahun lalu.
Mas, mari habiskan sisa hidup bersama.
Menulis Hidup @chusnarizqati - Tumblr Blog | Tumgag