Syair Seorang Pendosa yang Mengetuk Pintu Rahmat
Aku datang bukan membawa cahaya amal yang membuat langit bangga menyebut namaku.
Aku datang dengan langkah yang letih, dengan hati yang penuh bekas luka, dan tangan yang masih berbau oleh dosa-dosa yang berkali-kali kubiarkan tumbuh di ladang kelalaianku sendiri.
Aku hanyalah seorang pendosa, yang setiap fajar berjanji untuk berubah, lalu pada senja kembali tersandung oleh kelemahan yang sama.
Namun, di antara gelap yang mengurung jiwaku, masih ada satu cahaya yang tak pernah padam:
Bukankah Engkau Tuhan yang membuka pintu ampunan lebih luas daripada luasnya samudra, lebih tinggi daripada bentangan langit, dan lebih dekat daripada urat nadi yang mengalirkan kehidupan ke dalam tubuhku?
Maka ketika dunia terasa sesak, dan dada dipenuhi kecemasan yang tak bernama, aku kembali mendengar suara firman-Mu yang lembut namun mengguncang seluruh jiwaku:
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu..."
Betapa agung kalimat itu. Sebab ternyata, jalan menuju ketenangan bukanlah hilangnya seluruh badai, melainkan hadirnya Engkau di tengah badai itu sendiri.
Aku pernah mengira bahwa penderitaan adalah ujian terberat.
Kini aku mengerti, yang lebih berat adalah hati yang kehilangan kemampuan mengingat-Mu.
Betapa sering aku mencari jalan keluar ke segala arah, sementara Engkau telah membuka pintu yang paling dekat:
Sabar, agar jiwa tidak roboh di hadapan takdir yang telah Engkau tetapkan.
Shalat, agar hati yang rapuh tetap terhubung kepada Dzat yang tidak pernah tertidur menjaga seluruh makhluk-Nya.
Kini aku memahami mengapa Engkau mengatakan bahwa semua itu terasa berat.
Bukan kerana tubuh ini enggan bersujud, tetapi kerana hati terlalu sering bersujud kepada dunia.
Ketika dunia menjadi kiblat cinta, sabar berubah menjadi siksaan, dan shalat terasa seperti beban.
Namun ketika akhirat memenuhi dada, air mata menjadi dzikir, kesabaran berubah menjadi kekuatan, dan setiap sujud menjelma taman tempat jiwa beristirahat.
Lelaki yang kehilangan hampir segalanya, namun tak pernah kehilangan adabnya dihadapan Tuhannya.
Tak ada keluh kesah yang melampaui batas penghambaan.
Hanya satu bisikan yang lahir dari hati paling sabar:
"Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang."
Begitulah iman. Ia tidak menghapus luka, tetapi menjadikan luka jalan pulang menuju Allah.
Ketika dunia terasa menghimpit, beliau tidak berlari menjauh dari shalat, melainkan berlari menuju shalat.
Kerana beliau mengetahui bahwa sujud bukan tempat melupakan masalah, melainkan tempat menerima kekuatan untuk menghadapinya.
Aku mengingat Sa'id bin Jubair.
Tubuhnya berdiri di hadapan kematian, tetapi ruhnya telah lama berdiri di hadapan Rabb semesta alam.
Bagaimana mungkin manusia menakutinya, sedangkan hatinya telah dipenuhi kerinduan kepada perjumpaan dengan Allah?
Aku mengingat Hasan al-Bashri.
Beliau memandang dunia laksana bayang-bayang sore hari.
Sebentar tampak. Lalu hilang.
Karena itu, kebahagiaan tidak membuatnya lalai, kesedihan tidak membuatnya putus asa.
Sebab matanya selalu melihat kampung akhirat di balik kabut kehidupan dunia.
Kini aku mengerti. Kesabaran bukan lahir dari kuatnya tubuh. Bukan pula dari kerasnya hati.
Kesabaran lahir dari keyakinan.
Semakin dekat hati kepada hari pertemuan dengan-Mu, semakin kecil seluruh luka dunia.
Kehilangan bukan lagi kehancuran. Tangis bukan lagi kelemahan. Musibah bukan lagi kutukan.
Semuanya hanyalah jalan panjang menuju rumah yang abadi.
Aku tidak meminta hidup yang bebas dari ujian. Aku hanya memohon hati yang tidak berpaling dari-Mu.
Aku tidak meminta jalan yang selalu mudah. Aku hanya memohon kaki yang tak lelah melangkah menuju sajadah.
Aku tidak meminta dunia selalu memenuhi harapan. Aku hanya memohon agar harapan terbesar dalam hidupku selalu tertuju kepada-Mu.
Kerana orang yang mengenal-Mu boleh jadi tetap menangis. Tetap jatuh. Tetap terluka.
Namun ia tak pernah benar-benar kalah. Sebab ia tahu kepada siapa seluruh air mata harus mengalir, kepada siapa seluruh doa harus kembali, dan kepada siapa seluruh perjalanan hidup akan berakhir.
Aku hanyalah seorang pendosa. Bukan penghuni langit. Bukan pula ahli ibadah yang amalnya menjulang.
Aku hanyalah hamba yang berkali-kali jatuh, namun berkali-kali pula mengetuk pintu rahmat-Mu.
Jika dosa mengajariku rendah hati, biarlah sabar menjadi tungganganku.
Jika air mata mengingatkanku kepada-Mu, biarlah shalat menjadi rumah tempat aku pulang.
Jika harapan masih tersisa di dadaku, biarlah semuanya hanya tertuju kepada ampunan-Mu.
Hingga kelak, ketika seluruh langkah berhenti, ketika seluruh suara dunia terdiam, dan aku berdiri sendiri di hadapan-Mu...
Semoga Engkau tidak memandang betapa banyak dosaku.
Tetapi Engkau memandang betapa sering aku kembali.
Sebab tujuan akhir seorang hamba bukanlah menjadi manusia tanpa cela. Melainkan menjadi jiwa yang tak pernah lelah pulang kepada Rabb-nya,
hingga napas terakhirnya menjadi saksi, bahwa ia wafat dalam rindu kepada Allah.