Terik mentari sore itu tak menyurutkan Tata menarik motornya yang tetiba mogok. Wajahnya basah, entah karena keringat atau air mata yang menetes sejak dia menyalakan motornya di parkiran kampusnya tadi. Dalam hati dan pikirannya hanya fokus pada satu kata. Pulang. Sejatinya jarak gedung kuliah dengan rumah kosnya tidak jauh. Paling lama hanya 20 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Namun rasanya, rasa dongkol yang mengendap di kalbu serta rengekan motor manjanya membuat perjalanan pulang semakin berat dan terasa jauh. Belum. Sebenarnya belum saatnya pulang bagi Tata. Ia masih harus mengikuti kelas asistensi dan berbagai kegiatan diluar kampus lainnya. Waktu pun masih menunjukkan pukul 4 sore, sangat jarang baginya untuk berpapasan dengan panas matahari di perjalanan pulang. BRAK! Dengan kasar Tata menutup pintu kamar kosnya. Beruntung tidak ada yang mendengar karena kala itu masih sepi penghuni. Air mata dan peluhnya masih menetes membuat semakin mengkilap mukanya. Lemas, ia bersandar ditembok diatas kasurnya. Memandangi layar telepon genggam 5 inchi berwarna coklat, yang berada ditangannya. "Aku mau pulang!" Ucapnya pada seseorang diujung telepon. "Nduk, ada apa?" "Aku... Kangen.." Suaranya mulai lirih. Air mata masih mengalir di kedua mata Tata, meskipun tidak bersuara. "Biar ibuk aja yang kesana, ya?" Perempuan diujung telepon itu merasakan gelisah yang sama. "Ndak usah! Tata yang pengen pulang. Pokoknya pulang! Nggak mau disini, sumpek! Pengen di rumah aja! Nggak ketemu sama orang-orang disini. Mereka jahat buk! Nggak pernah hargai Tata. Semuanya merasa paling benar! Sedangkan aku? Selalu salah! Tata nggak mau jadi kayak mereka, tapi mereka nggak pernah dengerin Tata! Aku mau gini, salah! Mau gitu, salah! Semuanya harus seperti yang dikatakan mereka. Tata lelah buk, ketemu sama orang-orang yang kayak gitu. Tata lelah melawan terus. Tata nggak punya teman lagi disini. Capek buk! Sumpek!!" Suaranya kembali meninggi, airmata tak habis-habisnya keluar. "Nduk, ibuk bukannya nggak mau kamu pulang. Ibuk juga kangeeenn banget sama Tata. Tapi ingat, siapa dulu yang pengen kuliah di ibukota? Yang katanya menantang? Ingat nduk, boleh jadi hubunganmu sama teman, kerabat, atau siapapun disekitarmu itu rusak. Buruk. Nggak ada baik-baiknya sama sekali. Its okay, dear.. Asalkan cuma satu. Kuatkan hubunganmu sama Kekasihmu. Kekasih Hakiki. Karena hanya Dia yang bisa mengadakan yang mustahil ada, dan meniadakan yang mustahil tiada. Itu. Kekuatan, jurus mandraguna, yang tiada yang bisa menyangka seberapa besar kekuatanNya." "Terus, aku harus gimana buk? Rasanya, buat berangkat kuliah saja aku sudah tak ingin, disatu sisi, tak tahan terus-terusan di kamar." "Nduk, kuncinya, tiketnya, nomor teleponnya cuma satu. Sembahyang! Jangan sampe putus, kalo bisa malah ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Percuma kamu pinter nulis, ngomong, atau pinter segalanya tapi ndak sembahyang. Percuma, kamu cantiknya kayak katie perry pun kalo nggak sembahyang. Percuma, kamu kaya raya seantero langit, kalo nggak sembahyang. Apa gunanya? Lha wong Kekasihmu itu lho, bisa ngasih kamu segalanya. Orang-orang yang musuhin kamu, kalo kamu punya hubungan baik sama Kekasihmu itu, disentil saja udah jumpalitan." "Buk.." Suara Tata mulai lirih lagi, airmata sudah mulai kering. "Udah, kamu mandi, ambil air wudhu, sholat taubat. Jangan lupa perbanyak dzikir, sholawat. Itu resepnya ya nduk. InsyaAllah, semua akan lancar. Tinggal kamu pasrah, sabar, tabah. Ibuk nggak pernah putus doain kamu. Dan keluarga kita. Boleh jadi nduk, kamu putus hubungan sama mas itu." "Buk.. Udah..." "Iya, ibuk ngerti kok. Kamu sudah putus sama mas-mas mu itu? Seharusnya kamu bersyukur, karena sekarang kamu bisa fokus sama Kekasih kita yang Hakiki. Hubunganmu sama Dia, yang nggak boleh sampe putus." "Ibuk, aku kangen ibuk." Tata sudah kehabisan kata. "Ibuk juga, apalagi bapak. Tapi kami, nduk, pengen liat kamu pulang itu sambil bahagia. Pulang karena bahagia, bukan pulang sambil cemberut tanda nyerah sama kehidupan kamu disana. Selalu kamu ingat, kamu itu gantholane athine ibuk sama bapak." "Ibuk... Terima kasih." "Udah, hubungi Kekasihmu sekarang juga." "Hah?! Ohh.." Tata hampir salah paham. "Wassalamualaikum ibuk, Tata tutup dulu ya." Gemericik air seiring Tata membasuh tubuhnya untuk wudhu. Matanya masih merah, kantung matanya masih tebal. Namun setidaknya hati dan pikirannya telah disejukan. حسنا اللّٰه و نعم الو كيل...