Hello.
Lanjut ya cerita foto ini. Saya sengaja tidak lanjut ceritanya di instagram, takutnya nyampah. Padahal foto ini penuh kenangan dong. Dan yang lanjut baca pasti penasaran banget sama saya waktu kecil dulu. Hehe. Hayoo ngakuk.
Sekali lagi, setting foto ini ada di Takalar, rumahnya Datok yang kalau tidak salah waktu itu tahun 2002 kelas 2 SD.
Waktu itu, saya senang sekali karena sepupuku dan keluarganya baru balik dari Bandung setelah ayahnya menjalani pendidikan Tentara entahlah spesifik dunia tentara, pendidikan apalah itu namanya.
Oiya, saya kenalkan dari ujung kiri sampai ujung kanan untuk tahu sejauh apa waktu telah mengubah. :â)
Adik yang digendong itu namanya Tayong (agak aneh namanya, maklum orang Makassar sejak kecil panggilannya adalah Pakdaengangnya sendiri. Keluarga dekat tidak tahu nama aslinya malah hehe) dia sekarang sudah SMP, lho.
Lanjut. Kakak yang menggendong Tayong itu namanya Kakak Simba(sama dengan namaku hehe) sekarang dia sudah punya anak. Dulu, alasan saya masuk pesantren karena kakaknya yang masuk Akmil. Kata Mama, liat Kakakmu di Takalar, âanak pesantren ji juga tapi bisa masuk Akmil.â Maklumlah ya orang tua biasanya cuma liat satu orang. Terlepas dari representatif pesantren bagaimana. Oiya, Kakak Simba dulu ini juga sekaligus sebagai Kakak Kelas dan Kakak kamarku dulu di Pesantren. Dia kelas 2 SMA, saya kelas 1 SMP. Sengaja dikasih satu kamar sama Mama. Supaya tidak âtakbangka(kagetan) Mondokâ katanya supaya ada yang jaga adeknya juga wkwkwk. Oiya, aneh juga sih. Dulunya manggil âKakak Simbaâ setelah sepondok, pinggilnya Kakak Uni. Sumpah, seandainya tidak sepondok, saya benar-benar tidak akan tahu nama umum yang digunakan kebanyakan orang Indonesia. Duh.
Next, Kakak di samping Kakak Simba itu namanya Kakak Nginga. Kalau tidak salah saat itu dia masih SMA. Pas saya sudah naik ke kelas IV, Kakak Nginga sempat tinggal di rumah saya untuk kuliah. Saya ingat sekali dulu. Hal-hal menyenangkan waktu Kakak Nginga tinggal bersama saya. Dulu suka sekali tanya âKakak di kuliahta ada ACnya? Tingkat berapa, Kakak?â Atau kalau ada PR susah ditanya âKakak kalau minus bisa dua kalikah? {minus minus (â). Hahaha semuanya pertanyaan polos sekali. AndâŠ. The best part that I like most is⊠Liat-liat Kakak makeup-an pas mau ke kampus. Liat caranya pake jilbab juga. Duh, sukaaaknyaa. Itu semua yang saya suka pas kecil tinggal sama Kakak Gadis cantique.
And⊠Next baju kuning yang hampir kembaran sama saya itu⊠Hijrah, Adikku. Dulu Mama suka sekali memakaikan kami baju yang kembaran. Sampai-sampai kalau bertamu di rumahnya orang, saya dikira kembar. Padahal tidak. Nah, makanya saya tidak suka kalau baju saya kembaran sama Adekku. Apalagi kalau ada yang bilang oh Dg. Ngati(Hijrah) tawwa putih cantik, kalau Dg. Simba(saya) hitam manis. Awkward bangat pas dibilang begitu. Sama saja Adekku cantik saya jelek. Hikshiks (tapi iya sih. Tapi ga terlalu iya)
Lanjut. Yuhuu itu yang Adik baru belajar merangkak, Adikku lagi. Ali Gazali biasa dipanggil Sija atau Gali katanya, di Pesantrennya dipanggil Ali. Wkwkwk. Saya sayaang sekali Adikku yang satu ini. Maklum umurnya jauh, 5 tahun. Waktu kecil suka marah-marah sendiri kalau disuruh jaga adek. Tapi entah darimana rasa sayang ini. Haha. Kalau ada yang panggil âGali lobang tutup lobang,â aih⊠Saya yang maju duluan. Sekarang dia sudah kelas 1 SMA, sudah penghapal. Duh, kusayangnyaâŠ. Adikku ini.
Nah, terus Ibu yang diapit saya dan adikku itu, Mamaku. Tidak usah panjang lebar di sini. Saya sudah tulis banyak tulisan tentang beliau. Tiga kata buat Mama âYOU, ME, LOVE.â Terus Ibu yang pakai baju dinas itu, Aji Tioâ, beliau itu Datok rasa Tante. Silsilahnya sebagai Nenek, tapi masih muda. Jadi yaudah rasa Tante. Wkwkwk.
Well, last but not least. Adik yang paling ujung itu Dg. Caya(Pia) sepupuku yang baru saja tiba dari Bandung saat itu. Itulah alasan kami ngumpul lagi di rumah Datok. Hehe. Dulu, saya senang sekali setiap Pia pulang. Entah karena ketemunya sekali setahun atau bagaimana. Setiap pulang pasti disuruh berpelukan ala âtingkiwingkiâ (saya, Pia, Hijrah, dan Dua saudara Pia) kalau Mama atau Tante(Ibu Pia) sudah bilang âberpelukaanâŠ..â (Nada ala tingkiwingki) kami dalam sekejap unite as one. Hqhqhq. Intinya suka sekalii kalau Pia bersaudara pulang ke Makassar. Apalagi saat foto ini diambil, Pia dan sekeluarga sudah menetap di Makassar. Kalau tiba di Makassar, pasti kami ngumpul lagi, jalan-jalan(bukan ke Mall ya), berenang lagi. Kolam renang kostrad jadi tempat andalan. Atau manjat pohon jambu dan pohon belimbing bintang. Ingat sekali dulu, kalau mau manjat pohon belimbing bintang kalimat awal yang dilantangkan âini buah kesukaannya Datok Empo(Ayah dari ibu kami. Beliau sudah meninggal pas saya umur 1 tahun)â itu maksudnya, untuk mengingat kembali mendiang Datok kami dan tersirat untuk mengambil satu untuknya walaupun beliau sudah tidak ada. Dulu, Pia-lah yang menjadi jawara dunia permanjatan sedunia setelah Kakak Izza dan Kakak Isra. Dia bisa berhasil mencapai ranting bagian atas yang tidak bisa saya capai. Hijrah? Tidak usah ditanya. Dia yang paling âjabeâ dulu. Dia sebagai penangkap buah di bawah pohon bersama Fira dan Sasa(Adik Pia). Sekarang Pia sudah kuliah semester 3. Duh, how time flies. Sudah sibuk. Oiya, dulu setiap liburan pasti ngumpul sepupu-sepupu dari Mama. Sekarang jarang. Sekali lagi karena kesibukan. Tapi semoga kesibukan kita yang akan membawa nama baik keluarga. Aamiin. Thatâs all about my childhood and family, Guys. Walaupun belum semua yang tertuang, semoga dapat mewakili. Bye.