“Sometimes people don’t want to hear the truth because they don’t want their illusions destroyed.”
— Friedrich Nietzsche
Today's Document

Discoholic 🪩
No title available

Andulka

Janaina Medeiros
cherry valley forever
Three Goblin Art
taylor price
Peter Solarz
Cosimo Galluzzi

roma★

if i look back, i am lost
tumblr dot com

★
AnasAbdin
No title available

No title available

No title available
sheepfilms
will byers stan first human second

seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from Canada

seen from United States

seen from Italy
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Russia
seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
@cizzkeq
“Sometimes people don’t want to hear the truth because they don’t want their illusions destroyed.”
— Friedrich Nietzsche
Thomas Cooper Gotch - "The Lantern Parade" (c. 1918)
Monolog Tanah Pada Cakrawala
Kita adalah dua musim yang dipaksa bertemu dalam satu penanggalan.
Ia datang dengan sisa-sisa badai di bahunya; seorang pria yang tidak pernah dijanjikan surga, namun memiliki tatapan sehangat fajar. Aku mengenalnya saat riuh takbir mulai menyurut, saat bulan sabit baru saja hendak berpulang. Di balik sejarahnya yang berkelok dan liar, aku menemukan sebuah telaga—ketulusan yang begitu jernih hingga membuatku pening.
Namun, di antara tawa dan ribuan pujian yang ia tawarkan, ada jurang yang menganga.
Ia adalah putra mahkota dari istana yang tak pernah mengenal musim kemarau. Di tangannya, dunia terasa begitu ringan, sementara di pundakku, dunia adalah deretan angka yang harus dihitung dengan napas tertahan. Kami adalah dua kutub yang dipisahkan oleh kasta kenyamanan. Di dekatnya, aku merasa seperti naskah lama yang berdebu di tengah galeri yang serba berkilau. Aku menciut, aku merasa seperti tamu tak diundang di antara lingkaran kawan-kawannya yang bicara tentang langit, sementara aku masih belajar cara berpijak di bumi yang retak.
Ia mencintaiku dengan cara yang meluap, seolah-olah aku adalah seluruh tujuannya. Namun, mampukah ia tetap memuja saat aroma kesederhanaan dari duniaku mulai tercium? Aku takut, bagi mereka yang terbiasa dengan kemilau mutiara, diriku hanyalah kerikil yang tak sengaja terbawa pulang; sebuah pilihan yang dianggap keliru dalam silsilah yang selalu mereka jaga kesempurnaannya.
Aku terus membangun benteng, menjaga jarak agar ia tak terlalu jauh merasuk. Sebab aku takut, ketakutanku adalah racun. Aku takut perasaan ini hanyalah kembang api yang meledak indah lalu hilang menjadi abu, persis seperti luka-luka yang kulewati sebelumnya. Aku takut, jika pada akhirnya, akulah yang akan menjadi sembilu bagi hatinya yang (ternyata) tulus.
Menerimanya berarti bersiap untuk jatuh, entah jatuh ke pelukan atau jatuh ke dasar jurang perbedaan. Aku diam, memendam sedih yang ganjil, sambil bertanya-tanya: Sampai kapan langit bersedia merunduk untuk menyentuh tanah yang sunyi?
Dalam sesal yang melahap hari
Pernahkah kau berpikir untuk dirimu sendiri?
Menemui luka yang bahkan tak bisa dirawat
Untuk duduk meniupnya pun bahkan tak sempat
Waktu ?
Tentu saja ia tertawa terbahak
Aku tersungkur menatapnya dengan mata membelalak
“Don’t lie, because the same people who believe your lies are also the ones who believe in you.”
— Unknown
You should understand that I am merely a body often steered by recklessness and haste. Unwittingly, I seem to have lit a fuse between the two of you. An anomaly that never crossed my mind: how could she possibly find me there? That space was my most personal corner, a place inhabited only by me, my shadow, and the crumbs of stories I made for myself.
She came knocking on my door with overflowing rage. I was paralyzed, drowning in questions about what she was actually accusing me of. I replied briefly—just the bare minimum—because my head was busy weighing words. I didn't want my speech to become fuel for her wild assumptions.
I let the screen dim in ambiguity, leaving a throbbing weight against my temples. Should I speak up? Yet, she didn't ask, she was too busy judging based on her own narratives.
After letting the chat freeze for a while, I decided to provide a minimal explanation. For the rest of this mess, I’ll let her seek answers directly from the man involved.
My mind is restless. I suddenly look like the villain in someone else's story. Yet I am not at fault, nor is that woman. I never intended to disturb her peace. All my past resentment was a current I poured out privately toward that one man alone—not for public consumption, and certainly not to hurt her.
I fell silent, mourning both my misfortune and hers. How is it possible for the same man to make two sincere hearts fall into the same pit? I truly never imagined she would find that specific "place" of mine.
After this storm, will that man hate me? Will he despise me in silence, or curse my name within his mind? If so, perhaps that is the best gift for him. Isn't hatred the most instant way to forget? Let him hate me until there's nothing left, so he can quickly erase my footprints. Because if I knew he had truly discarded me from his memory, perhaps I could be a little more... at peace? Yes, perhaps that’s the only way.
Honestly, I am tired of wondering why I still feel this much resentment toward that one human being.
Malam ini, seharusnya hanya ada aku, pensil, dan garis-garis yang perlahan membentuk nyawa di atas kertas. Aku sedang merayakan kembalinya jemariku yang sempat kaku, menari mengikuti sisa-sisa inspirasi yang baru saja kutemukan kembali. Namun, sebuah notifikasi tiba-tiba meledak di layar, menghancurkan konsentrasi yang susah payah kubangun.
Sebuah pesan dari seseorang yang tak kukenal, pemilik baru dari masa laluku.
Ia datang dengan protes, merasa terusik oleh sebuah unggahan yang sebenarnya adalah caraku berterima kasih pada luka. Padahal, slide terakhir di postinganku hanyalah sebuah pengakuan jujur: bahwa pria itu, dengan segala kekacauan yang ia bawa dari September hingga November, adalah alasan mengapa aku kembali menggambar hari ini. Aku tidak sedang merayakan "dia", aku sedang merayakan "diriku" yang telah bangkit.
Aku terdiam, memandangi layar dengan penuh tanda tanya. Bagaimana bisa ia sampai ke sini? Sejauh apa ia harus menggali hanya untuk menemukan hal yang bisa menyakiti perasaannya sendiri?
Rasanya aneh. Ia menyebut pesanku sebagai "bahan candaan", padahal bagiku, itu adalah monumen keberhasilanku untuk tidak lagi merasa sakit.
Pensilku tergeletak diam. Mood gambarku menguap, berganti dengan rasa heran yang hambar. Ternyata, sehebat apa pun kita mencoba lari dan berkarya, selalu ada orang yang hobi narik kita balik ke drama yang nggak penting. Capek banget.
“They say love is pain. Well, darling, let’s hurt tonight.”
— OneRepublic
Ego Sang Tuan Tanah
Di bawah kubah langit yang terbuka, aku berdiri di pelukan alam yang riuh oleh simfoni pepohonan dan napas liar para penghuninya. Aku terdiam, menyimak langkah-langkah muda para mahasiswa yang sedang menimba ilmu. Di antara mereka, udara dipenuhi oleh rasa ingin tahu, pertanyaan yang melesat dan jawaban yang membumi.
Hingga sebuah tanya memecah keheningan, “Ibu, bolehkah hewan ini saya bawa pulang? Saya ingin merawatnya.”
Dosenku menatapnya tenang lalu bertanya balik, “Untuk apa?”
Mahasiswa itu termangu, seolah suaranya tertahan di kerongkongan. Aku pun ikut hanyut dalam tanya yang sama. Di telapak tangannya, ia menggenggam seekor bintang laut kecil. “Untuk saya masukkan ke akuarium di rumah, Bu,” jawabnya pelan.
Dengan tutur kata yang mengalun bijak, dosenku berbisik pada nuraninya, “Tidak perlu. Biarkan ia hidup di alamnya, biarkan ia kembali ke habitat aslinya. Terkadang, sesuatu jauh lebih indah jika dibiarkan di tempat yang semestinya. Ia jauh lebih bernapas di sana.”
Kalimat itu menghantamku telak. Sebagai asistennya kala itu, aku hanya bisa terpaku, membiarkan pikiranku berkelana dalam labirin tanya. Mengapa manusia selalu merasa berhak merampas kebebasan demi sebuah kepemilikan? Mengapa keindahan harus disandera dalam kotak kaca?
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Burung-burung saling bersahutan, kawanan Macaca sedang asyik bersenda gurau, dan tupai-tupai lincah melompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Semuanya tampak begitu harmonis.
Semesta ini begitu megah dalam kemerdekaannya. Lantas, mengapa tangan manusia begitu gatal ingin menggenggamnya hingga sesak? Detik itu juga, aku merasa jatuh cinta lebih dalam pada makna "alam" yang sesungguhnya.
Fragmen yang Hilang
Di bawah pendar lampu meja belajar yang hangat, aku terdiam menghadap selembar kertas kosong. Namun, pikiranku jauh lebih kosong dari kertas itu. Saat aku sedang bergelut dengan imajinasi yang tak kunjung turun ke jemari, Ibu datang.
Kami hanyut dalam obrolan, hingga ia mulai membuka lembaran-lembaran masa kecilku. Aku tertegun. Di setiap cerita yang ia suapkan, aku hanya bisa mengerutkan kening. "Apa momen itu benar-benar ada, Bu?" tanyaku dalam hati. Aku asing dengan diriku sendiri di masa lalu. "Mungkin Ibu cuma mimpi," candaku membela diri. Tapi Ibu menatapku heran, seolah tak percaya anak yang ia besarkan bisa kehilangan begitu banyak potongan puzzle hidupnya.
Lalu, aku tenggelam dalam tanya, ke mana perginya aku yang dulu?
Aku mencoba memancing memori itu keluar. Aku ingat menonton Naruto di sore hari, atau duduk bersisian dengan kakakku saat Harry Potter menghiasi layar TV. Aku ingat menonton Dae Jang Geum di drama Jewel in the Palace bersama Ibu. Tapi ingatan itu hanya berupa siluet. Aku ingat wajah tokohnya, tapi aku kehilangan alur ceritanya. Aku ingat pernah ada di sana, tapi aku lupa bagaimana rasanya.
Bahkan yang lebih menyakitkan, aku gagal memanggil kembali wajah kakak-kakakku saat mereka masih muda. Ingatanku hanya potongan klip pendek tanpa konteks seperti sebuah foto yang blur dan buram.
Momen perayaan ulang tahun, tawa saat bermain, semua raib. Aku hanya tahu itu "pernah terjadi" karena orang lain mengatakannya, bukan karena aku merasakannya. Saat keluargaku tertawa mengenang masa lalu, aku justru merasa jengkel. Ada rasa lelah yang luar biasa saat dipaksa menggali sesuatu yang sudah tertimbun semen.
Tiba-tiba, pikiranku melayang pada film Inside Out.
Mungkinkah para Forgetters di dalam kepalaku terlalu bersemangat bekerja? Apakah mereka melakukan kesalahan besar dengan menyedot terlalu banyak bola memoriku? Aku membayangkan ribuan bola memori berwarna-warni itu kini sudah berubah menjadi abu-abu, terkubur di dasar jurang gelap “Memory Dump”.
Mengapa mereka membuang begitu banyak? Apa yang tersisa dariku jika fondasi masa laluku saja sudah runtuh dan terlupa?
Aku tidak tahu. Aku beranjak dewasa dengan membawa tas yang terasa ringan, karena hampir semua isinya telah jatuh di sepanjang jalan yang aku lalui.
Tanduk yang Tak Lagi Menyentuh Langit
Satu malam, dua malam
Langkahku tertatih membelah kelam
Gemuruh suara rimba bersautan
Rumput basah dan daun kering merayap di kaki yang telanjang
Membawa hati yang gundah, mencari arah yang hilang
Ke mana kawananku pergi?
Mengapa aku dibiarkan mati dalam sepi?
Kutanyakan pada burung hantu
“Mereka mendapat utusan dari sang Dewa”, bisiknya padaku
Aku terdiam, hatiku semakin gundah
Mengapa dewa tidak mengutusku?
Lantas aku berlari menuju sungai yang tenang
Berharap aku menemukan jawaban
Aku terpaku, melihat bayang diriku di permukaan sungai
Cahaya bulan di permukaan air seolah menghakimi
Memperlihatkan sosok yang kini aku benci
Apakah ini kutukan yang harus kujalani?
Apakah langit telah menutup pintu pengampunan?
Aku adalah rusa yang cacat dan pendosa
Bulu suci kusam oleh debu dan rasa hina
Dewa tak lagi mau menunggangi jiwa yang fana
Sebagai hukuman atas noda yang tak terlihat mata
Menangis aku di hadapan bayang Sang Shinroku
Terasing dalam hukuman yang membeku
Menanti waktu, hingga dewa kembali memanggil namaku.
— Dinda, 16 Februari 2026
Labirin Dusta dan Rindu Palsu
Di ambang pintu, kau datang lagi Membawa bingkisan kata manis yang basi Katanya, aku adalah tujuan yang kau cari Katanya, kau akan berjuang sekuat hati.
Namun di balik punggungmu, ada bayang yang kau simpan Sebuah rahasia yang kau bungkus dengan sapaan Kau tawarkan rindu saat jemarimu menggenggam bunga yang lain Kau buat aku merasa penting, di atas sandiwara yang kau main.
Aku benci bagaimana matamu masih terlihat jujur Sedang di dalamnya, harga diriku telah lebur. Aku benci melihatmu tertawa dengan cahaya yang baru Sementara aku di sini, merapikan pecahan hatiku yang biru.
Kini aku tahu, "usaha" yang kau sebut hanya cara untuk kembali menyakiti Dan rindu yang kau ucap, hanyalah racun yang kau balut gula hati. Sakit ini milikku, tapi hinanya adalah milikmu.
Kau wariskan seluruh gelapmu kepadaku, lalu kau melangkah pergi menuju terang yang baru. Kini, gelap itu telah menetap di nadiku sebagai sembilu Menjadikan trauma yang berakar, sementara kau menari di atas kebahagiaan yang kau curi dari sisa-sisa waras diriku. Betapa curangnya kamu, sembuh dengan cara menghancurkanku.
— Dinda
Batas di Tiga Januari
Di balik dinding yang sunyi dan mati rasa, Aku belajar berdamai dengan sisa badai.
Lalu kau datang, melangkah melampaui batas yang tak seharusnya, Membawa pengakuan di saat hatiku masih berupa tanah yang gersang.
Januari baru saja membalik lembar pertamanya, Dan kau, teman dekat dari dia yang pernah bertahta, Meletakkan hati di atas meja yang belum sempat kusapu bersih.
"Ada rasa," katamu, bagiku, itu adalah alarm bahaya.
Aku bisa saja bermain dengan hatimu yang hangat, Membiarkanmu masuk sebagai pelarian dari sepi yang menjerat.
Tapi aku bukan pencuri yang suka merampas apa yang salah, Pun bukan penipu yang membiarkanmu berharap dalam pasrah.
Kukatakan "Tidak" dengan bahasa paling halus yang kupunya, Bukan karena aku ingin melukaimu tanpa sisa, Tapi karena aku tak ingin membangun istana di atas tanah sengketa. Kau adalah sahabatnya, dan aku adalah masa lalu yang masih tersisa.
Lebih baik kuberikan pedang kenyataan yang tajam sekarang, Daripada membiarkanmu tenggelam dalam janji yang mengambang.
Aku menutup pintu, bukan karena benci, Tapi karena aku terlalu menghargai diriku juga posisimu di sana.
Mati rasaku adalah urusanku, Dan aku tak akan membiarkanmu menjadi korban dari hatiku yang belum utuh kembali.
— Dindadlee
Ini cerita dari para peneliti yang pernah bekerja denganku waktu magang, mereka yang sehari2nya berkutat di bidang ekosistem dan konservasi. Untuk bisa melakukan eksplorasi ke hutan, mereka sering harus “kejar-kejaran” dengan industri. Banyak dari mereka ingin melakukan penelitian demi pelestarian dan upaya konservasi, tapi ketika akhirnya sampai di lokasi yang dituju, kawasan itu sudah rusak total karena kebutuhan industri. Sedih banget, pasti.
Kadang, meski wilayahnya sudah hancur, mereka tetap berusaha mencari apa pun yang tersisa. Puing kecil tumbuhan, ranting yang masih bisa diselamatkan, buah yang jatuh, atau bagian tanaman lain yang mungkin masih bisa dihidupkan kembali.
Bayangin aja, tempat yang sangat ingin mereka eksplorasi demi penelitian, tiba2 berubah begitu cepat menjadi kawasan industri atau pemukiman. Dan perubahan itu terjadi dalam waktu yang benar-benar singkat. Nggak heran rasanya campur aduk, sedih, kecewa, sekaligus merasa kehilangan.
Satu detik, dua detik.
Aku memandang lilin-lilin yang kehabisan cahaya.
Menaruh khawatir pada kejora yang perlahan ditusuk jantung hatinya. Dikoyak oleh hujan, sambil menertawai aku yang masih nestapa. Ia bilang tak perlu gundah, trauma hanya memasak sedikit mimpi buruk.
Namun, engsel pintu itu macet lagi. Maka kupersilahkan ia menemuiku setelah melayang di antara kunang-kunang dan kidung kesepian.
— Dinda
Permasalahan eksploitasi hutan di Sumatra akhir2 ini bikin aku teringat masa2 skripsian. Dulu awal kuliah aku tumbuh sebagai anak mikrobiologi, hari2ku hanya di laboratorium, ruangan dingin, steril dan semuanya terukur.
Tapi sekitar semester lima, aku mulai jatuh cinta dengan ekologi, dan semuanya berubah, aku meninggalkan PDH mikrobiologiku dan beralih menjadi anak ekologi. Ada sesuatu dari cara alam bekerja yang bikin aku pengen belajar lagi dan lagi. Pelan2, kuliah yang dulu terasa berat malah jadi hal yang aku tunggu. Aku semacam ketagihan belajar, karena setiap materinya ngebuka pandangan baru tentang dunia yang sebelumnya nggak pernah bener2 aku lihat.
Belajar tentang konservasi lingkungan bikin mataku kebuka tentang banyak hal: spesies yang terancam, habitat yang terus menyempit, dan masalah2 yang sering luput dari perhatian. Aneh ya, hal yang menyedihkan justru bikin aku makin ingin tahu, bikin aku makin tertarik dan ingin terlibat lebih jauh.
Pada akhirnya, magang di bidang konservasi adalah keputusan impulsif yang justru mengarahkan aku ke tempat yang tepat. Dari sanalah topik skripsiku lahir. Waktu itu aku meneliti satu spesies pohon yang statusnya “endangered”. Ironisnya, aku belum pernah melihat pohon itu secara langsung. Hanya membaca, menganalisis, dan berharap suatu hari aku bisa bertemu dengan spesies itu di habitat aslinya, sebelum ia benar2 punah di alam liar.
Alam ternyata bukan cuma tempat untuk diteliti, tapi juga tempat yang mengembalikan aku pada diriku sendiri.
aku hanya ingin dicintai dengan tulus, apakah aku berlebihan?
aku hanya ingin mereka sabar, apakah aku berlebihan?
aku hanya ingin ucapanku dimengerti, apakah aku berlebihan?
aku hanya ingin didengarkan, apakah aku berlebihan?
aku hanya ingin mereka menunggu dengan sabar, apakah aku berlebihan?
aku hanya ingin sedikit ketenangan, apakah aku berlebihan?
aku hanya ingin mereka percaya padaku, apakah aku berlebihan?
apakah aku berlebihan?