Keputusan terbesar ini pun aku pilih
Meninggalkan sumber penghidupan dan kembali mencari
Mencari apa yang bisa menghargai
Mencari rasa dari pada materi fana
Idealis ? atau naif ?
Aku berpasrah pada pemilik dunia

blake kathryn
occasionally subtle

Product Placement
I'd rather be in outer space 🛸
Three Goblin Art

Discoholic 🪩

if i look back, i am lost
Acquired Stardust

Andulka

titsay
Cosimo Galluzzi
art blog(derogatory)

No title available
cherry valley forever

pixel skylines
Jules of Nature
Alisa U Zemlji Chuda
No title available

Origami Around
wallacepolsom

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from South Korea
seen from Malaysia
seen from Japan

seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from TĂĽrkiye

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Poland
seen from United States

seen from Italy

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Indonesia

seen from Canada
@greedyorca
Keputusan terbesar ini pun aku pilih
Meninggalkan sumber penghidupan dan kembali mencari
Mencari apa yang bisa menghargai
Mencari rasa dari pada materi fana
Idealis ? atau naif ?
Aku berpasrah pada pemilik dunia
10 Tahun yang lalu , atau mungkin lebih . Aku memainkan Piano Tiles dan menemukan lagu ini. Aku unduh dari youtube dan mendengarkannya dari waktu ke waktu . Seiring berjalannya waktu aku mulai lupa akan lagu ini.
Entah mengapa sekitar 2 minggu yang lalu aku mulai ingat kembali melodinya dan mulai bersiul dengan nada nada ini. Mencari kembali apa judulnya dan mulai mendengarkannya dari hari ke hari tanpa tau ada apa di baliknya dan tanpa mengerti lirik,maksud dan tujuannya . Dan aku merasa lagu ini tentang sesal , keterkejutan , ketakutan hanya menebak dari melodinya.
5 menit yang lalu aku mulai mencari lirik dan artinya . Dalam hati yang memang sedang merasakan sesal paling hebat aku membaca arti lirik lagu ini. Entah mengapa aku merasa memang lagu ini sedang cocok sekali denganku. Mungkin lagu ini adalah titik balik kehidupanku setelah ini. Semoga saja dalam sesal yang merayap masuk , aku tidak hina kemudian membusuk.
Angin pada kelam senja menuju sirna
Mengantar debu pada pekatnya gulita
Dalam raih jemari nestapa
Apa lagi yang bisa diukir luka ?
Pada kerut dahi berbilas peluh
Sakit,sesal,pelik mengisi penuh
Mengharap maaf dari relung dalam
Amarah siapa yang bisa diredam ?
Murka
Terka hamba pada Tuhannya
Ampun
Kata maaf mulai terhimpun
Dalam ngarai
Harap Debu dosa terurai
Memohon seberkas cahaya
Menerangi terakhir kali sebelum sirna
Akulah Debu dan Gulita Ngarai
Kisah Lusuh berdoa Damai
Pada kertas yang mungkin akan kalian remas
Penaku bercerita dengan suara paling keras
Pada lembaran tanggal yang kalian buang
Disitu tinta dan cita beradu dengan lantang
Mari kembali , mengisi hampa kala gulita
Memperlambat laju waktu menuju sirna
Menikmati goresan pada halaman
Mengisi ruang jiwa dengan harapan
Dalam langkah menuju entah
Semoga aku terselamatkan dan pijakku menyelamatkan
Dalam sesal yang melahap hari
Pernahkah kau berpikir untuk dirimu sendiri?
Menemui luka yang bahkan tak bisa dirawat
Untuk duduk meniupnya pun bahkan tak sempat
Waktu ?
Tentu saja ia tertawa terbahak
Aku tersungkur menatapnya dengan mata membelalak
Akankah aku mampu menafsirkan puisi 'Bunga Terakhir’ sebaik penulis aslinya? Aku tak bisa seindah dan sedalam itu menuliskan isi kepalaku. Sayangnya, ia tak menyadari keindahannya sendiri.
~
Aku mengenal seorang penyair, tapi ia sendiri tak menyadarinya. Orang-orang pun tak menyangka. Siapa yang mengira, pria yang suka membingkai mendung menjadi gurau jenaka di gudang pengap, bertopeng tenang meskipun badai berputar-putar di kepalanya, sedang gusar mencuri waktu agar pena di sakunya sedikit bernapas lega. Pena itu seakan ingin melompat dan menumpahkan segalanya di atas kertas apa pun—entah itu lembaran nota yang lusuh atau sobekan kalender yang bulan-bulannya telah lama tanggal. Dunia telah mematahkan setiap orang, dan di atas sobekan kalender itu, di atas nota tagihan dan buku tulis kecil yang muat di kantongnya, ia menyusun ulang patahan-patahan itu agar tak terlalu tajam menusuk jantungnya.
Ia diberkahi dengan hati dan kalimat selembut belaian Ibunda, namun di sisi lain ada cengkeraman kuat dan beban seratus kilogram yang menindih punggungnya, menyisakan rasa nyeri yang kadang muncul sewaktu-waktu. Ia berjalan mendaki, meniti tangga portabel menuju mulut truk besar yang siap melahap muatan raksasa. Itu menyakitkan. Setiap langkahnya adalah puisi-puisi yang seharian meronta di dalam kepala. Peluhnya berjatuhan, menyapu debu di lantai gudang, lalu hilang dengan cepat di balik serat-serat bajunya yang mulai basah.
Lelaki itu tak pernah benar-benar mencintai daratan yang keras dan berdebu. Di atas tanah, manusia menginjakkan kaki mereka sambil menahan semua beban yang dipikulnya. Gravitasi memicingkan matanya begitu kejam sehingga menarik langkahnya hingga tersungkur. Ia lebih memilih mencuri pandang ke arah langit, diam-diam merapal sajak yang dirangkai di tempat, tepat saat ia berkendara di jalanan yang rapat. Kadang ia mengeja makna puisi-puisinya di sela istirahatnya yang singkat, dan di malam dengan kehampaan yang pekat.
Kebebasan menggantung di langit biru. Awan-awan yang berarak terlihat seperti barisan puisinya yang tenang, yang tak perlu dipanggul dan tak perlu menjatuhkannya. Ia hanya hanya perlu menyerahkan senyuman tulusnya dan langit menerimanya begitu saja. Kadang ia membayangkan dirinya adalah sepotong awan itu, berjalan tanpa menyentuh bumi, menguap tanpa meninggalkan rasa nyeri di seluruh sendi.
Selain langit yang menjadi naungan hangat, ada dua cermin raksasa yang selalu memanggil jiwanya dari batas ufuk: laut yang tak bertepi dan danau yang menyimpan rahasia yang tak pernah ia bagi. Ia mencintai air dengan cara yang barangkali sulit dipahami oleh orang lain. Bagi mereka, air hanyalah penghilang dahaga; bagi lelaki itu, air adalah tempat persembunyian paling aman yang bisa menerima dirinya bahkan jika hanya udara kosong yang bisa ia tawarkan.
Saat ia berdiri di tepian, matanya yang lelah menangkap kilauan cahaya yang menari-nari di atas permukaan. Dalam imajinasinya, ia tidak hanya sedang menatap air, ia sedang menatap sebuah pelukan, sebuah rumah, tempat ia mengisi kosong yang entah kapan penuhnya. Kekosongan yang secara misterius menghantuinya.
Ia membayangkan dirinya melangkah perlahan, membiarkan sepatu bututnya terendam, lalu terus masuk hingga air mencapai pinggang, dada, dan akhirnya melewati pundaknya. Di sanalah keajaiban itu terjadi. Di dalam dekapan air yang dingin dan sunyi, beban seratus kilogram yang seolah telah menyatu dengan tulang punggungnya perlahan-lahan luruh. Gravitasi yang selama ini menjadi musuh bebuyutannya mendadak tak berdaya.
Aku menyebutnya sebagai bintang paling terang di jagat raya. Tetapi, apakah itu cukup membuatnya menyadari cahayanya sendiri? Seorang penyair yang rendah hati tak mau seenaknya mengumumkan kehebatannya berpuisi. Aku tahu, ia masih harus bangun pagi dan pulang petang agar keberadaannya masih diperhitungkan. Syair-syair saja tak akan mengisi perut sampai kenyang, pikirnya. Maka ia harus menyangga dunia dengan kedua lengan dan punggungnya yang telah lama berdecit sehingga membuatnya ketakutan.
Kadang aku ingin bertanya, apakah punggungnya baik-baik saja? Apakah dadanya masih bergemuruh karena kesedihan yang tak mampu ia bendung seharian penuh. Tetapi lidahku kelu, aku tak tahu pasti masih sudi kah ia menjawab kekhawatiranku? Gusar rasanya menyadari jika semakin lama aku semakin mirip dengan seorang Ibu yang cerewet menanyainya apa saja, bahkan menodongnya dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh yang mestinya ku kubur saja selamanya.
Pada setiap kata yang meronta
Aku harap kalian sabar tanpa kehilangan makna
Jika ikhlas adalah "Harga" untuk bebas
Maka jangan heran jika
Yang sukar itu syukur
Memisahkan Ruang Menulis dengan Ruang Memposting
Kadang, akhir terbaik sebuah tulisan memang berhenti di tubuh penulisnya sendiri, tidak perlu dijadikan konsumsi siapa pun.
Malam tadi, aku menulis sesuatu yang panjang. Sebenarnya, landasan aku menulis itu jelas—aku ingin mengurai sesuatu yang menyala di kepalaku. Juga sudah kebiasaanku memposting apapun yang kucoba urai dalam diriku ke laman ini.
Namun, kutimbang ulang mengapa aku jadi konsisten melakukannya. Aku seolah baru menyadari satu pergeseran kecil dalam kebiasaanku menulis. Aku tidak lagi selalu menulis hanya untuk diriku sendiri. Ada bayangan pembaca di kepala. Ada kemungkinan dilihat, ditanggapi, dimaknai. Dan tanpa kusadari, bayangan itu ikut memengaruhi apa yang kutulis. Aku memilih kata yang aman, menyusun emosi agar layak, menahan bagian tertentu agar tidak terlalu telanjang.
Sebagian tulisan muncul dari tempat yang terlalu dekat—jarak nol aku menyebutnya. Di mana emosiku masih panas, luka yang sering kali masih basah, keputusan yang baru saja diambil, dari rasa yang bahkan belum sepenuhnya menemukan bahasanya sendiri. Menuliskannya perlu. Tapi mempublikasikannya belum tentu.
Menulis untuk diri sendiri (tulisan yang selesai di aku) dan menulis untuk dibaca orang lain (tulisan yang siap hidup tanpa aku) adalah dua kerja yang berbeda, rupanya. Yang satu adalah kerja merawat batin, yang lain adalah kerja berbagi makna. Keduanya sah, tapi tidak selalu bisa dilakukan bersamaan.
Tulisan dari jarak nol sering kali masih minta untuk dipahami. Ia membawa harapan kecil agar pembaca menangkap maksud yang tepat, agar tidak salah tafsir, agar tidak disalahpahami. Dan di situlah keraguanku muncul. Jika sebuah tulisan masih membutuhkan penjelasan tambahan, mungkin ia memang belum siap hidup tanpa aku.
Sedangkan menulis untuk dibaca orang lain, ia bukan hanya soal niat, tapi juga soal jarak. Jarak yang memungkinkan teks itu berdiri sendiri tanpa perlu dibela. Jarak di mana emosi sudah turun suhunya, dan kepentingan personal tidak lagi menjadi pusat. Sehingga tulisan bisa bernapas lebih lapang dan tidak menyeret pembaca ke pergolakan yang sebenarnya sudah selesai di tubuh penulisnya.
Reading this make me really wanna write again but for myself :)
Biggest regret and fear then come the purest tear
Does the tear ask for forgiveness ?
And the fear run from the loneliness
Moving on boneless
Walk away faceless
Dan sekali lagi hal hal yang membuatku ingin terjun semakin dalam menyelami ngarai . Semakin hilang pandangan pada sekitar , semakin pudar suara terdengar . Terimakasih
"All my life I've been chasing setting suns"
A song that describe just a tiny part of life.
Will you see it from my eyes ?
Long journey to the shore
Just to heal part of my core
Hard way to go
Just to realize something that I can't let go
Chasing setting Sun
Is it the reason why I always run ?
To see the beauty
Is that why I should done my duty ?
Dalam hal yang mereka sebut sebagai Dunia
Pernahkah terlintas sekali saja hendak kemana?
Mengapa begitu jauh untuk merengkuh? Mengapa begitu lelah berjalan ke antah berantah?
Jika tanya tanpa sebuah jeda diperbolehkan, bukankah milyaran mata akan menyaksikan
Betapa kecilnya hal yang dibanggakan, dibanding Dunia yang orang lain rasakan
Jika semua kata sifat adalah relatif , maka bukankah semua batasan adalah fiktif ?
Maka benar dalam sebuah salah akankah menjadi Sia
Dan sebuah salah dalam benar apa juga akan menjadi Sia
Sedang , apa Itu Benar ?
Mengapa dalam setiap kehilangan, Aku kembali menemukanmu ?
Mempertanyakan kehadiran waktu , campur tangannya pada setiap sirna
Sesal pada setiap hal yang tak kekal
Resah pada setiap hal yang dilalui pasrah
Mengapa dalam setiap kehilangan , Aku kembali menemukanmu?
Mempertanyakan kehadiran ruang , campur tangannya pada setiap hilang
Kalut pada setiap hal nirwujud
Harap pada setiap kehadiran yang tak pernah tetap
Mengapa dalam setiap kehilangan , Aku kembali menemukanmu?
Mengapa dalam banyaknya benang merah , pada dirimu aku mengarah?
Mengapa dalam trilyunan takdir , selalu Engkau yang hadir ?
Mengapa dalam setiap kehilangan , Aku kembali menemuimu ?
Dalam bait ini harap menyatu
Mencoba meraih hati dalam belenggu
Entah dari apa rantai penyangganya
Mungkin asal muasal segala duka
Kepada sang pemilik muram
Bolehkah kuberi ia cahaya temaram
Pelita yang mungkin tak mampu obati
Namun melawan gulita yang ia singgahi
Dalam perjalanan yang ia lalui
Hanya "membaik" yang ia kehendaki
Apakah menurutmu membaik adalah hal remeh?
Sehingga selalu menganggap dirimu aneh?
Bukankah "Mundur" juga sebuah langkah
Satu cara untuk melihat ke segala arah
Memperluas jangkau pandang
Mencegahmu dari menghilang
Entah dilahap hening sunyi
Entah tenggelam dalam caci maki
Dalam "Baik" yang engkau cari
Temukan langkah yang kau nikmati
.
.
.
.
.
.
Untuk Penyihir tanpa tongkatnya
Abiyyu (Arabic: "Brave", "Valiant")
A – A lion’s roar in youthful grace, B – Bold in word, in heart, in face. I – In fire he forges fearless will, Y – Yearns for truth and justice still. Y – Yonder trials he does defy, U – Unafraid beneath the sky.
Reading all of this acrostics making me feel goosebumps
BIRU