Setelah bertemu sang perempuan, kekasihnya, seorang laki-laki menyentuh ketinggian dengan udara yang dipenuhi dupa arang kedukaan. Sang lelaki melayang di antara awan-awan sementara hatinya ia lelang di pasar gelap. Ia selalu tak pernah berdamai dengan kepastian, ia selalu berbenturan. Entah kekasihnya, —sang perempuan jelita yang terjerat waktu— menyadarinya atau tidak.
"Cintai aku dan ikat aku.", kata sang kekasih.
Sang lelaki yang selalu dimahkotai kepala yang mendung, seketika berkata.
"Aku membutuhkan alasan untuk bertahan hidup dan aku menemukannya dalam dirimu."
"Tidak! Aku ingin kau memilikiku seutuhnya, sekarang juga!", kekasih pun menggugat.
Sang lelaki meringkuk menyerah ke dalam skenario yang berjalan di dalam kepalanya. Giris. Amigdalanya sedang menyiapkan respon untuk melindungi hatinya.
Sang perempuan menunggu dengan matanya yang menyorot bulan hingga berwarna kecoklatan. Sang lelaki —dengan segala gemuruh yang ada di dalam rongga dadanya— tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Aku memilihmu, mana tanganmu yang mungil itu, aku ingin menggenggamnya."















